Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pagi itu dimulai dengan suara notifikasi. Bukan dari nomor tak dikenal. Tapi dari grup sekolah.
Tautan baru.
Bukan blog lama.
Platform berbeda.
Akun berbeda.
Tapi pola yang sama.
Arcelia Virellia duduk di tepi tempat tidurnya, membaca dengan ekspresi datar. Kali ini bukan tuduhan langsung. Melainkan “analisis anonim” tentang pergerakan saham perusahaan keluarga Virellia.
Ditulis dengan rapi. Terlalu rapi untuk sekadar siswa iseng. Ini bukan gaya Selena. Ia berdiri, mandi cepat, lalu turun untuk sarapan.
Di meja makan,
Suasana terlihat lebih ringan dari beberapa hari lalu. Papa Alveron tampak sedikit lebih segar.
“Audit tahap pertama selesai,” katanya. “Kita lolos.”
Elvarin langsung bersorak kecil. Bang Kaiven tersenyum. Arcelia ikut tersenyum, tapi pikirannya masih pada tautan itu.
“Pa,” katanya pelan, “kalau ada orang yang mencoba menjatuhkan reputasi lewat opini publik, apa itu efektif?”
Papa Alveron menatapnya. “Kalau dilakukan konsisten dan sistematis? Sangat.”
Sistematis, berarti ini terencana.
Di sekolah,
Suasana kembali bergelombang. Beberapa siswa mulai membicarakan analisis baru itu.
“Katanya ada investor besar yang mundur.”
“Katanya ada tekanan dari luar negeri.”
Rumor berkembang seperti api kecil yang terus diberi angin.
Kaelion Ravert menghampiri Arcelia di lorong.
“Kau lihat postingan baru?”
“Sudah.”
“Bukan Selena.”
“Aku tahu.”
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas.
“Ini terlalu profesional,” lanjut Kaelion pelan. “Bukan tulisan remaja.”
Arcelia mengangguk.
“Dan terlalu cepat muncul setelah blog ditutup.”
Itu artinya, orang yang sama sudah menyiapkan cadangan.
Siang itu,
Arcelia kembali ke perpustakaan. Ia membuka platform baru tersebut. Menganalisis gaya tulisan. Struktur argumen. Istilah bisnis yang digunakan. Beberapa istilah terlalu teknis. Tidak umum dipakai siswa.
Ia membuka profil anonim itu.
Tidak ada foto.
Tidak ada identitas.
Tapi waktu unggah selalu malam hari. Sekitar pukul 23.00–01.00. Jam sibuk orang dewasa.
Bukan jam tidur siswa biasa. Ini bukan permainan sekolah lagi.
Sore hari,
Bang Kaiven menjemput Arcelia lebih awal. “Papa ingin bicara Dek,” katanya singkat.
Mobil melaju pelan melewati jalan kota.
“Kita kehilangan satu proyek properti,” lanjut Bang Kaiven. “Pihak investor bilang mereka ‘khawatir reputasi’.”
Arcelia menatap ke luar jendela. Berarti opini itu sudah sampai ke lingkaran bisnis. Cepat sekali.
Di rumah,
Papa Alveron duduk di ruang kerja.
Ia memanggil Arcelia masuk.
“Kamu sudah melihat analisis yang beredar Nak?”
Arcelia mengangguk. “Itu bukan tulisan anak sekolah.”
Papa Alveron menatapnya lebih tajam. “Kamu tahu sesuatu?”
Arcelia ragu sepersekian detik. “Aku tahu ini terkoordinasi Pa.”
Hening.
Papa Alveron menyandarkan tubuhnya. “Ada perusahaan besar yang juga mengincar proyek kita.”
“Siapa Pa?”
Papa Alveron tidak langsung menjawab.
“Terlalu dini untuk menyebut nama.”
Tapi Arcelia bisa melihat satu hal, papanya sudah mencurigai sesuatu. Dan itu berarti ancaman ini nyata.
Malam itu,
Arcelia menerima pesan dari nomor tak dikenal lagi.
Unknown:
Kali ini bukan soal keluarga Ravert.
Ini soal posisi. Ia membaca ulang perlahan.
Unknown:
Kalau Virellia terus naik, yang lain harus turun. Siapkah kau melihat keluargamu ditekan lebih jauh?
Tangannya mengepal. Ia membalas untuk pertama kalinya.
Arcelia:
Siapa kamu?
Beberapa menit berlalu.
Balasan masuk.
Unknown:
Seseorang yang tidak ingin kalian menjadi nomor satu.
Itu bukan jawaban. Tapi cukup untuk memastikan satu hal, ini persaingan bisnis tingkat atas. Bukan drama pribadi.
Arcelia berdiri di balkon malam itu. Angin terasa lebih dingin. Kota tetap terang seperti biasa. Tapi ia tahu, di balik lampu-lampu itu ada orang-orang yang sedang menghitung langkah.
Ia menatap ponselnya.
Kalau ini perusahaan pesaing… berarti serangan berikutnya bukan hanya opini.
Kaelion mengirim pesan hampir bersamaan.
Kaelion:
Ayahku menerima tawaran proyek besar hari ini. Proyek yang sama dengan yang kalian incar.
Arcelia terdiam.
Berarti, keluarga Ravert mungkin bukan musuh langsung. Tapi mereka juga bagian dari permainan.
“Pemain ketiga…” gumamnya pelan.
Seseorang di luar dua keluarga. Seseorang yang memanfaatkan situasi. Arcelia menarik napas panjang. Kalau ini perang reputasi, maka ia tidak bisa hanya bertahan. Ia harus mulai mencari siapa yang berdiri di belakang layar.
Dan kali ini, taruhannya jauh lebih besar dari sekadar nama baik sekolah. Taruhannya adalah masa depan keluarga Virellia.
Malam itu,
Arcelia Virellia tidak langsung tidur. Ia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi tempat tidur, ponsel masih di tangan. Pesan terakhir dari nomor tak dikenal itu seolah berputar di kepalanya.
Ini soal posisi. Berarti benar, ini persaingan tingkat atas. Bukan sekadar fitnah remaja. Ia membuka kembali data yang ia kumpulkan. Blog lama. Platform baru. Jam unggah. Pola istilah bisnis. Lalu ia berhenti pada satu hal.
Semua artikel selalu muncul beberapa jam sebelum rapat penting perusahaan.
Bukan setelah.
Sebelum.
Artinya, si penyerang tahu jadwal internal. Jantung Arcelia berdetak lebih keras. Ada kebocoran.
Keesokan paginya,
Suasana rumah terasa berbeda. Televisi di ruang keluarga menyala, menampilkan berita ekonomi pagi. Nama Virellia Group disebut sekilas dalam segmen analisis pasar.
Mama Mirella mematikan TV perlahan. “Tidak semua yang diberitakan itu benar,” katanya lembut.
Papa Alveron tersenyum tipis. “Kita tidak bisa mengontrol semua narasi.”
Bang Kaiven terlihat lebih tegang dari biasanya. “Rapat tender dipercepat ke minggu depan.”
Arcelia yang sedang menuang air berhenti sejenak. Dipercepat. Berarti tekanan makin kuat.
“Lia,” panggil Bang Kaiven, menggunakan nama panggilannya, “kamu tidak perlu ikut memikirkan ini.”
Arcelia mengangkat wajahnya. “Aku bukan orang luar Bang.”
Hening sebentar.
Papa Alveron menatap putrinya lama, lalu berkata pelan, “Kalau kamu melihat sesuatu… beri tahu Abangmu.”
Bukan melarang. Bukan mengusirnya dari urusan ini. Itu tanda kepercayaan.
Di sekolah,
Suasana terasa biasa. Terlalu biasa. Itu justru mencurigakan.
Kaelion Ravert berjalan di sampingnya.
“Ayahku menerima tawaran proyek yang sama,” katanya pelan.
“Apa mereka tahu kita juga mengincarnya?”
“Tidak secara langsung.”
Arcelia berhenti melangkah.
“Kalau pesaing kita tahu jadwal rapat dan tender, berarti ada orang dalam yang membocorkan.”
Kaelion menatapnya.
“Kau mencurigai siapa?”
“Aku belum tahu.”
“Tapi kau yakin ada.”
Arcelia mengangguk pelan.
Sore itu,
Setelah latihan, Arcelia pulang lebih cepat. Ia langsung menuju ruang kerja kecil Bang Kaiven di rumah.
“Bang.”
Bang Kaiven mendongak dari laptopnya.
“Aku mau lihat jadwal rapat dan waktu artikel-artikel itu muncul.”
Bang Kaiven menyipitkan mata sedikit, tapi tidak menolak. Ia membuka kalender internal perusahaan. Arcelia membandingkan dengan waktu unggah artikel anonim.
Pola itu jelas.
Setiap artikel muncul 3–5 jam sebelum keputusan penting.
Bang Kaiven menghela napas pelan. “Berarti ini bukan serangan acak dong Dek.”
“Ada yang tahu nggak jadwal kita Bang.”
Bang Kaiven menutup laptopnya perlahan. “Lingkaran rapat hanya dihadiri orang-orang tertentu.”
“Siapa saja?”
Kaiven menyebut beberapa nama manajer senior dan konsultan eksternal. Arcelia menghafalnya dalam diam.
Malam itu,
Pesan baru masuk lagi.
Unknown:
Kalian terlihat tegang hari ini. Rapat mendadak memang melelahkan, ya?
Darah Arcelia terasa mendidih. Itu bukan ancaman lagi. Itu ejekan. Berarti si pengirim tahu rapat hari ini. Berarti kebocoran masih aktif. Ia tidak membalas.
Sebaliknya, ia meneruskan pesan itu ke Bang Kaiven.
Beberapa menit kemudian, Bang Kaiven mengetuk pintu kamarnya.
“Kita akan ubah jadwal rapat tanpa pemberitahuan luas,” katanya serius. “Hanya Papa dan aku yang tahu gimana Dek? .”
“Uji coba Bang?” tanya Arcelia.
Bang Kaiven mengangguk.
“Kalau artikel tetap muncul… berarti sumbernya lebih dekat.”
Lebih dekat. Kata itu terasa berat.
Dua hari berikutnya terasa panjang.
Rapat palsu dijadwalkan. Tidak ada pemberitahuan resmi. Hanya informasi internal terbatas. Arcelia menunggu. Menahan napas. Dan tepat pukul 22.40 malam, artikel baru muncul.
Topiknya menyebut “rapat krusial Virellia Group besok pagi.”
Padahal rapat itu tidak pernah ada. Bang Kaiven langsung masuk ke kamar Arcelia dengan wajah tegang.
“Informasi rapat palsu itu hanya diketahui tiga orang.”
“Papa. Kamu. Dan…?” tanya Arcelia pelan.
“Dan satu konsultan eksternal.”
Hening.
Itu berarti, pemain ketiga bukan hanya pesaing di luar. Ada tangan dari dalam yang menjual informasi.
Arcelia duduk perlahan. “Berarti ini bukan cuma soal menjatuhkan kita,” katanya pelan. “Ini soal sabotase Bang.”
Bang Kaiven mengangguk.
Di luar kamar, rumah terasa sunyi. Tapi di dalam, permainan berubah tingkat. Bukan lagi perang opini. Melainkan pengkhianatan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Arcelia merasa marah. Bukan karena namanya diserang.
Tapi karena ada seseorang yang berani mengkhianati keluarganya dari dalam. Dan kali ini, ia tidak berniat hanya mengamati.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....