NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - Di Antara Dua Tanggal

...“Hadiah itu sederhana. Tapi di dalamnya, ada versi diriku yang pernah sangat ingin tetap tinggal.”...

Happy Reading!

...----------------...

Lulus sekolah ternyata tidak membuat segalanya terasa lega. Hari-hari terasa lebih panjang dari biasanya—alarm pagi masih berbunyi, tapi tidak lagi diikuti terburu-buru memakai seragam atau mencari buku yang tertinggal.

Ada jeda yang terlalu tenang, terlalu rapi… sampai terasa asing.

Seragamnya masih tergantung di balik pintu kamar, belum sempat ia pindahkan. Seolah menunggu hari yang sudah tidak akan pernah datang lagi.

Ada ruang kosong yang perlahan muncul di antara hari-hari yang dulu selalu dipenuhi jadwal, tawa teman, dan rutinitas yang terasa membosankan—namun kini diam-diam dirindukan.

Persiapan masuk kuliah mulai memenuhi waktunya. Berkas pendaftaran, daftar ulang, memilih jurusan, hingga mencari informasi tentang kehidupan baru yang sebentar lagi akan dijalani. Semua terlihat sibuk, namun di saat yang sama… terasa sunyi.

Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang terus berputar di pikirannya.

Bulan ini selalu terasa berbeda bagi Shaira. Bulan di mana usianya bertambah… dan beberapa hari setelahnya, Raven juga.

Jarak ulang tahun mereka tidak terlalu jauh. Shaira lebih dulu, lalu selang beberapa hari kemudian, giliran Raven. Hal kecil yang dulu terasa lucu—yang membuat mereka sering saling meledek soal siapa yang lebih tua—kini terasa ganjil saat harus diingat sendirian.

Dan mungkin karena itulah, Shaira memutuskan satu hal.

Ia ingin memberi Raven sebuah kado.

Bukan sebagai tanda masih memiliki. Bukan pula sebagai cara untuk kembali. Lebih seperti… ucapan terima kasih. Penutup yang baik. Sesuatu yang ingin ia berikan sebelum benar-benar melangkah ke arah masing-masing.

Keputusan itu terdengar sederhana. Namun prosesnya ternyata tidak.

Shaira mengumpulkan uangnya sendiri. Sedikit demi sedikit. Dari membantu Mama mengurus bisnis kecil di rumah—membalas pesan pelanggan, mencatat pesanan, dan sesekali ikut membungkus paket di ruang tengah yang selalu dipenuhi aroma kardus dan selotip.

Awalnya ia hanya ingin mengisi waktu luang setelah lulus. Tapi setiap kali Mama menyelipkan upah ke tangannya sambil berkata ringan, “Buat jajan,” ada rasa hangat yang tumbuh pelan di dalam dadanya.

Tidak besar. Namun cukup membuatnya merasa bangga—karena untuk pertama kalinya, ia ingin memberikan sesuatu dari hasil usahanya sendiri.

Selama bersama Raven, laki-laki itu sering membelikannya banyak hal. Dari makanan kecil yang tiba-tiba muncul di mejanya, hingga hal-hal sederhana yang bahkan tidak pernah ia minta. Shaira hampir tidak pernah mengeluarkan uang ketika bersama Raven. Dan entah kenapa, kenangan itu membuatnya ingin memberikan sesuatu yang benar-benar berasal darinya.

Setelah uangnya terkumpul, Shaira mulai mencari hadiah yang tepat.

Ia memilih baju koko. Sederhana, tetapi bermakna.

Shaira tahu Raven cukup rajin beribadah. Di kepalanya, hadiah itu terasa seperti doa kecil—semoga Raven selalu berada dalam kebaikan, dalam ketenangan, dan dalam jalan yang benar.

Proses mencari baju itu sendiri dipenuhi kejadian tak terduga.

Awalnya, Shaira berniat pergi sendiri. Namun sang Mama tiba-tiba mengajaknya ikut mencari pakaian untuk keperluan keluarga. Tanpa rencana, Shaira memanfaatkan momen itu untuk sekalian mencari hadiah untuk Raven.

Mereka masuk ke beberapa toko. Shaira bolak-balik melihat rak pakaian, menyentuh kain satu per satu, mencoba membayangkan mana yang kira-kira cocok untuk Raven.

“Cari buat siapa sih?” tanya Mama santai.

Shaira sempat ragu sepersekian detik.

“Raven.”

Mama mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Justru Mama yang akhirnya menemukan baju yang menarik perhatian Shaira.

Warnanya lembut. Tidak mencolok. Modelnya sederhana, tetapi terlihat rapi.

“Mama rasa yang ini bagus,” kata Mama sambil mengangkatnya.

Mama tidak bertanya apa-apa lagi. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Shaira terasa lebih penuh.

Shaira menyentuh permukaan kainnya pelan, meremas ujung lengan baju itu di antara jarinya, mencoba membayangkan bagaimana baju itu akan jatuh di bahu Raven.

Shaira menatap baju itu cukup lama. Ada perasaan aneh yang muncul—seolah baju itu memang terasa pas.

“Ambil yang ini aja,” katanya pelan.

Beberapa detik, Shaira hanya berdiri memandangi baju itu sebelum akhirnya membawanya ke kasir—dengan perasaan campur aduk antara gugup, harap, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

...----------------...

Proses berikutnya justru terasa lebih menegangkan: membungkus kado.

Shaira tidak pernah benar-benar mahir dalam hal itu. Kertas kado yang dipilihnya sempat sobek sedikit saat dilipat. Selotip menempel tidak rapi. Beberapa sudut terlihat miring.

Untungnya, Nara datang membantu.

Ia masuk kamar tanpa mengetuk, membawa plastik jajanan dan ekspresi terlalu penasaran untuk ukuran manusia normal.

“Kita lagi bikin misi rahasia ya?” tanyanya sambil duduk bersila di lantai. “Ini vibe-nya kayak adegan cewek-cewek di film yang mau confess tapi pura-pura nggak confess.”

“Bukan confess,” jawab Shaira cepat.

“Iya iya, bukan. Cuma ngasih kado yang lo kumpulin uangnya berbulan-bulan sambil galau tiap malam. Beda tipis.”

Shaira melempar gulungan selotip ke arahnya. Nara tertawa.

Mereka duduk di lantai kamar, dikelilingi potongan kertas, pita, dan gunting yang entah sudah berapa kali jatuh. Selotip sempat menempel di rambut Shaira.

Nara menahan tawa saat mencoba melepaskannya pelan.

“Diam. Jangan gerak. Ini momen penting. Kalau rambut lo ikut kebawa, nanti lo botak sebelah.”

Shaira memutar bola mata.

Beberapa lipatan kertas terlihat miring. Sudutnya tidak rata. Nara memiringkan kepala, menatap hasilnya dengan serius berlebihan.

“Ini bukan jelek,” katanya akhirnya. “Ini artistik. Konsepnya handmade emotional damage.”

Shaira mendesah. “Ini hasil tangan pemula.”

“Justru itu yang bikin beda. Kalau terlalu rapi, nanti dia mikir lo udah move on banget. Ini masih ada rasa.”

Shaira terdiam sebentar.

Nara lalu menyenggol lengannya pelan. “Sha… lo nggak lagi berharap kan?”

Pertanyaannya ringan. Nadanya tidak menghakimi. Tapi tepat.

Shaira menggeleng kecil.

Nara mengangguk. “Oke. Kalau gitu kita bungkus ini sebagai penutup. Bukan pembuka.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Shaira merasa sedikit lebih yakin.

Shaira menatap kado yang sudah selesai dibungkus. Tidak sempurna. Tapi terasa hangat. Ada usaha di dalamnya. Ada cerita di setiap lipatan yang tidak rata.

...----------------...

Masalah berikutnya muncul saat Shaira memikirkan cara memberikan kado itu.

Awalnya, ia berencana menitipkannya kepada Keno. Shaira sempat mengira Raven akan berada di Balikpapan saat hari ulang tahunnya. Keno memiliki rumah di sana, sehingga terasa sebagai cara yang paling aman.

Namun rencana itu berubah mendadak.

Raven ternyata berada di rumah.

Tanpa benar-benar tahu harus bagaimana, Shaira akhirnya mengambil keputusan yang terasa sangat nekat—menitipkan kado itu kepada kakak Raven.

Ia mengirim pesan kepada kakaknya, menjelaskan maksudnya dengan hati-hati. Namun balasan tidak langsung datang.

Shaira menunggu.

Satu jam.

Dua jam.

Hingga malam semakin larut.

Shaira beberapa kali membuka layar chat, lalu menutupnya lagi tanpa benar-benar membaca ulang pesannya—seolah takut melihat status “terbaca” tanpa balasan.

Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Bagaimana jika kakaknya merasa hal ini aneh? Bagaimana jika ia menolak? Bagaimana jika pesan itu justru mengganggu?

Shaira hampir menyerah… sampai akhirnya balasan itu datang, tepat pagi sekali.

Kakak Raven bersedia membantu.

Shaira membaca pesan itu berulang kali, memastikan ia tidak salah memahami. Napasnya terasa jauh lebih ringan, seolah beban yang sejak semalam menggantung di dadanya akhirnya terlepas perlahan.

Rencananya, kado akan dikirim menggunakan kurir pada siang hari. Namun rencana itu kembali berubah. Tiba-tiba, kakak Raven memberi tahu bahwa mereka sekeluarga—termasuk Raven—akan pergi ke Balikpapan pagi itu juga.

“Bisa malam ini atau sekarang,” tulisnya.

Shaira memilih malam. Entah kenapa terasa lebih aman. Ia tidak memiliki persiapan apa pun jika harus melakukannya pagi-pagi seperti ini.

Hari itu terasa sangat panjang. Ia menunggu lagi. Berkali-kali mengecek ponsel. Berkali-kali membuka percakapan yang sama, memastikan semuanya masih sesuai rencana.

Menjelang magrib, Shaira memberanikan diri mengirim pesan lagi, menanyakan apakah kakak Raven sudah berada di rumah.

Balasan datang cukup cepat.

“Masih di jalan dari Balikpapan.”

Shaira tertawa kecil membaca pesan itu—campuran gugup dan pasrah. Penantian terasa semakin panjang, tetapi ia tidak memiliki pilihan selain menunggu.

Hingga akhirnya, larut malam, pesan yang ditunggunya muncul.

Mereka sudah sampai di rumah.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Shaira benar-benar merasa lega.

...----------------...

Shaira memutuskan mengantarkan kado itu sendiri tanpa kurir.

Nara menemaninya, seperti biasa. Ia langsung menyambar helmnya.

“Baik. Kita akan menjalankan operasi: Titipan Tanpa Nama.”

“Kenapa harus dikasih nama operasi segala?”

“Biar dramatis. Hidup lo terlalu tenang, Sha.”

Sepanjang perjalanan, Nara sesekali melirik Shaira dari belakang.

“Lo pucat.”

“Gue biasa aja.”

“Lo kalau biasa aja nggak mungkin napasnya kayak orang mau sidang skripsi.”

Shaira tidak menjawab.

Perjalanan menuju rumah Raven terasa berbeda malam itu. Lampu jalan memantul samar di kaca spion motor. Jalan yang pernah ia lalui berkali-kali kini terasa asing—seolah setiap tikungan menyimpan kenangan yang ia kenal, tapi tidak lagi bisa ia datangi. Detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.

Saat mereka sampai di depan rumah, kakak Raven sudah berdiri di depan pintu. Seolah memang menunggu.

Ia tersenyum ramah saat menerima kado tersebut.

“Terima kasih ya, Kak, sudah mau membantu,” kata Shaira gugup.

“Iya, santai saja,” jawab kakak Raven ringan.

Sesederhana itu. Namun bagi Shaira, bantuan itu terasa sangat berarti.

Shaira dan Nara kembali ke motor. Mereka keluar dari area perumahan dengan perasaan lega yang bahkan belum sempat benar-benar dirasakan…

Sampai tiba-tiba—

Dari arah berlawanan, sebuah motor masuk ke blok perumahan itu.

Raven.

Semua terjadi terlalu cepat.

Motor mereka berpapasan. Hanya beberapa detik. Namun terasa seperti waktu menahan napas.

Mata Shaira refleks terangkat. Tatapan mereka bertemu.

Raven terlihat sedikit membelalak—seolah mencoba memastikan apa yang ia lihat benar.

Angin malam menyapu rambut Shaira yang sedikit terlepas dari helmnya.

Tidak ada kata. Tidak ada gerakan tangan. Hanya dua orang yang pernah sangat dekat… bertemu dalam kecepatan yang tidak memberi kesempatan untuk berhenti.

Dan di dalam hati, Shaira hanya bisa menertawakan kepanikannya sendiri.

Ia memang tidak menuliskan nama di kado itu. Hanya ucapan ulang tahun sederhana. Shaira benar-benar berniat membuatnya anonim.

Namun semesta, seolah memiliki rencana lain.

Motor terus melaju. Mereka melewati Raven begitu saja. Dan mungkin, itu adalah jarak paling dekat yang tidak pernah benar-benar bisa mereka ulangi.

...----------------...

Shaira — Memberi tanpa berharap adalah caraku belajar melepaskan.

1
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Dibuat terombang ambing sm Author nya nih🙏😌

Jdi ngerasa kalimat ini tuh memang benar deh :
" Masa lalu pemenangnya " 🙏😌

Dari ak sii, mungkin krna Shaira wktu lalu jawab confes(mungkin) si Alden kyk 'nggak(belum) mau sm dia, makanya skrg jdii ada jarak🙏😓

Bingung mendeskripsikan,
Pesan ak : Ravenn balik lgi ga lo!😭
Lilyyanaa
tim raven sih aku🥲😍
Lilyyanaa
lahhh kocak luu alden
SarSari_
ini kyaknya diem2 suka, tapi gengsi buat ngakuin...

hai kak aku mampir lagi...🤗
Lilyyanaa
aw lucu sih…🤭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Berasa dunia milik kalian berdua😭

Senyum" sndiri ak baca nya🙏😍
Dilo: emg gemeshh mereka
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Alden ga memaksa Shaira buat 'jalanin' bareng dengannya..

iya ga si..?

Ngerti brrti ya🙏😍

Cm.. ini masih awal, masih blm kenal lama, Shaira wajar kn bilng takut..🙏

Aku sndiri aja takut🙏😌

Raven?..
masih bingung plih yg mna😭
Dilo: HAHAHAH bener buangett, kecepatan kl mau milih soalnya alden... hehe/Chuckle/
total 1 replies
Lilyyanaa
eh bagus loh cwo bgnii… ga bkin risih👍
Lilyyanaa
modusnyaa keliatan bgt
Lilyyanaa
haloo aldenn
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Benar.. 😌

Dari awal Alden komunikasi sm Shaira, spertinya tipe cwok soft spoken?🙏❤


Btw, Cieee doi akhirnya muncull😌
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Wkwkw/Curse/
total 2 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Terdengar singkat..
tapi sangat cukup nyesek buatku,
serius.. bener" nyesek in dada..?
kenapa ya😭
huaa sakit ini dada😭
serius sumpah😭
ak nangis.. hha.. nyesek😭

Ngebayangin shaira pegang fto nya, trus bilng gitu..🙏😭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Truee/Sob/
total 2 replies
Lilyyanaa
asikk, ga sabar bab selanjutnya🤭 gimana kira-kira doi barunya
Dilo: hihi ketemu besok yah/Slight/
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Hmm...
Doi baru shaira masih mistery/Slight/
Dilo: /Chuckle//Chuckle/ oke si doinya ntar
total 1 replies
Lilyyanaa
fotonyaa pas yaa pake baju abu haha lucuu cantik bgt shaira
Dilo: /Joyful//Kiss/iyakan cantikk..
total 1 replies
Lilyyanaa
sempat”nya ngelucuu
Lilyyanaa
sedih bacanya🥲🥲🥲
Lilyyanaa
tumben jujur, kmren” bilangnya gatau
Dilo: denial kak...😭
total 1 replies
Lilyyanaa
lucu bgt lg wkwkkwkw😭🤣
Lilyyanaa
dikit banget atau dikit banyak?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!