Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Tetap sama.
Mereka mendorong kasur Cila pelan-pelan ke ruang rawatnya. Roda kasur berdecit pelan, crr… crr…, bergema di lorong rumah sakit yang sunyi, lampu neon di langit-langit berkelip sesekali, menambah nuansa tegang. Aki dan Chika melangkah lebih dulu, menahan napas, menatap wajah Cila yang tertutup selimut biru.
Aki mencondongkan tubuh, menyingkirkan helai rambut Cila yang jatuh di pipinya, dan dengan lembut menyentuh pipi Cila. “Sayang… akhirnya… kau tetap hidup di dunia ini…” Suaranya serak, matanya menyala campur lega dan takut.
Chika, sambil menunduk sedikit, menepuk tangan Aki dengan gemas, berkata dengan nada setengah berdeham, “Hehehe… bagaimana, Hanna? Hanna?” Matanya mencari-cari teman-teman yang biasanya mengikuti mereka di belakang. Namun lorong kosong, hanya sunyi, dan tak ada tanda kehidupan.
Chika menatap ke sekeliling, matanya melebar. “Aki… kemana mereka?”
Aki menoleh, menatap lorong di depan pintu, bulu kuduknya berdiri. Tubuh-tubuh teman dan keluarga mereka… semua diam, glitch aneh terlihat di kaki dan tangan mereka seperti patung yang disolder. “Apa… apa maksud semua ini? Mengapa mereka tiba-tiba… seperti ini?”
Tiba-tiba, Chika menjerit, mata terbelalak. “Aki!! Cila… bukak mata!!”
Aki menatap Cila. Matanya yang biasanya damai kini terbuka… tapi kosong. Senyum lembut muncul di bibirnya, tapi tatapannya dingin, menembus, hampir… mengerikan. “Loh… Cila…?” Aki tergagap, langkahnya mundur perlahan.
Dunia di sekitar mereka mendadak gelap. Lampu lorong redup, bayangan memanjang menekuk di dinding, suara detak jantung mereka sendiri terdengar keras di telinga. Dalam hitam itu, mereka tersedot keluar dari rumah sakit.
Chika menggeleng, menatap langit Jakarta yang aneh malam itu, cahaya lampu jalan memantul di trotoar basah. “Lho… bukannya barusan kita di ruang rawatnya Cila?”
Aki menunduk, kedua tangan menepuk kepala, rambutnya sedikit berantakan, napasnya terengah. “Atau… mungkin… semua ini… terjadi karena kita melawan takdir dunia ini. Cila seharusnya… mati setelah operasi…”
Chika menelan ludah, matanya berkaca-kaca. “A… apa!! Jadi…?”
Aki menatap jauh ke depan, gelisah, suaranya bergetar. “Chika… barusan… yang kamu serang tadi… kemungkinan roh yang ingin mengambil nyawa Cila… kita sudah… melewati batas. Kita sudah… salah…”
Tiba-tiba, di depan mereka, kepala-kepala tanpa tubuh muncul mengambang perlahan: Hanna, Kenzi, Adhit, Indi, mama Cila, dan bunda Aki. Mata mereka kosong, tubuh glitch, perlahan berputar. Chika menjerit, suara pecah di lorong malam. “Aki!! Kepala mereka!! Mana… tubuh mereka!!”
Aki mundur beberapa langkah, jantungnya berdetak kencang, tangan gemetar. “T-tunggu… mengapa… mengapa semua ini terjadi? Mengapa…?!”
Suara langkah kaki terdengar dari lorong gelap di belakang mereka. tap… tap… tap… Lambat, ritmis, menakutkan. Chika dan Aki menoleh, wajah pucat.
Dari bayangan, Cila berjalan pelan, stabil, meski baru selesai operasi. Matanya kosong tapi senyumnya lembut, suara tipis dan datar. “Aki… Chika… sebegitu kalian menyelamatkan hidupku… hihihi… makasih ya…”
Chika menunduk di belakang tubuh Aki, jantungnya berdegup kencang, napas tersengal. Aki, tangan menepuk bahu Cila pelan, tapi matanya menatap tajam. “Cila… apa maksud semua ini…”
Cila tersenyum, mencondongkan kepala sedikit. “Ga ada kok… hanya saja… aku tahu… kalian melewati batas dunia ini… Aki…”
Tiba-tiba, leher Cila bergerak dengan sendirinya, krak…, terdengar suara tulang yang patah. Tubuhnya roboh ke pangkuan Aki. Matanya kosong, senyum tetap melekat, tapi kehidupan meninggalkannya perlahan.
Aki menjerit, suaranya pecah, menembus lorong kosong. “Tidak… tidak… tidak!!!”
Chika, gemetar hebat, memeluk lengan Aki. “Aki! Bagaimana ini!! Mengapa semua ini terjadi!!”
Angin malam seolah berputar di lorong, lampu neon berkedip cepat, suara gemeretak dan glitch memenuhi udara. Bayangan tubuh tanpa kepala bergerak perlahan, menatap mereka dengan tatapan kosong, seperti mengingatkan bahwa takdir dunia ini tidak bisa dilawan begitu saja.
Hati mereka berdua tercekam, dingin merayap ke tulang, rasa takut bercampur kesedihan yang dalam. Mereka tahu… dunia ini tidak akan pernah sama lagi.
---
Aki terduduk di lantai lorong rumah sakit yang sunyi. Lampu neon di atas kepala berkedip tak menentu, menimbulkan bayangan memanjang ke dinding. Tubuhnya membungkuk, kepala tertunduk, tangan menggenggam rambutnya sendiri. Napasnya berat, terengah-engah, dan air mata jatuh membasahi pipi. “Kenapa… kenapa semua ini terjadi…? Kenapa takdir ini begitu kejam?” gumamnya, suara pecah dan serak.
Chika berdiri di sampingnya, wajah pucat, tangan gemetar, mencoba menenangkan Aki. “Aki… jangan putus asa… kita bisa… kita bisa cari jalan…”
Aki menatap Chika, matanya merah, berkilat dengan kemarahan dan kesedihan. Perlahan, ia meraih tangan Chika dan menggenggam erat. “Chika… aku… kita harus… kembali… kembali ke saat operasi Cila. Aku… aku harus memperbaikinya… aku tak bisa membiarkannya mati….”
Chika menelan ludah, menatap tangan mereka yang tergenggam, dan berkata lirih, “Oke… Aki… aku akan ikut… tapi hati-hati…”
Dalam sekejap, dunia di sekitar mereka berubah. Lantai dan dinding rumah sakit bergetar, suara alarm hantu bergema di telinga, wrrr… wrrr… wrrr…. Lampu neon menyala redup dan berkedip cepat, lalu mereka muncul tepat di depan ruang operasi, tubuh mereka kembali ke usia 17 tahun.
Aki dan Chika menatap kasur operasi Cila, wajah Cila yang masih takut tampak di selimut biru. Aki menarik napas panjang, matanya menatap tajam. “Kali ini… aku tidak akan gagal…”
Mereka masuk ke ruang operasi, Chika berdiri di samping, Hero Sword disimpan rapi di pinggang. Aki fokus, setiap gerakan presisi, menyelamatkan nyawa Cila. Hidungnya bergetar, keringat membasahi dahi, napasnya tersengal.
Hampir saat katup jantung Cila ditukar, dunia bergetar lagi. Ruangan glitch, cahaya berkedip, bayangan gelap menyelimuti sudut. Chika menatap sekeliling, matanya melebar, jantung berdetak kencang. “Aki… ini sama seperti sebelumnya… roh itu…”
Namun Aki menunduk, tangan tetap bekerja, fokus penuh. Detik demi detik berlalu dengan menegangkan, darah jantung Cila stabil di monitor. Setelah beberapa menit terasa seperti abad, operasi selesai.
Cila tersenyum lembut, matanya tertutup, dan tiba-tiba, vwoooosh…, mereka terlempar keluar dari rumah sakit. Malam itu, Jakarta terlihat aneh, jalan basah, lampu berkelap-kelip, bayangan panjang di lorong. Mereka menatap tubuh teman dan keluarga glitch di luar, kepala mereka mengambang, tubuh hilang.
Cila berjalan, mata kosong, senyum datar, suara lirih. “Aki… Chika… kalian menyelamatkan hidupku…”
Tapi tiba-tiba lehernya krak…, patah begitu saja, dan tubuhnya jatuh ke pangkuan Aki. Aki menjerit keras, tubuhnya gemetar, air mata deras membasahi wajahnya. Chika menggenggam lengan Aki, menjerit putus asa.
Mereka kembali ke titik awal, percobaan kedua. Operasi ulang, Cila terselamatkan, tapi dunia makin glitch. Lampu, dinding, bahkan monitor operasi terkadang menampilkan wajah aneh, glitch, bayangan hitam. Setiap kali mereka keluar dari ruang operasi, adegan yang sama terjadi: Cila tersenyum, dunia glitch, tubuhnya patah atau jatuh, kepala teman dan keluarga glitch di lorong, horor itu berulang tanpa ampun.
Percobaan ketiga, keempat… hasilnya sama. Setiap kali mereka berhasil menstabilkan jantung Cila, entah bagaimana takdir tetap memaksa kematian. Aki frustasi, gemetar hebat, tangannya mencengkeram rambut, menjerit ke langit-langit rumah sakit yang gelap.
Hingga percobaan kelima, berbeda dari sebelumnya. Saat mereka keluar dari ruang operasi, malam yang sama, lorong gelap, glitch memenuhi udara, tiba-tiba terdengar crash…. Dari lantai atas, Cila jatuh bebas, tubuhnya menabrak lantai keras. Aki berlari, merengkuh tubuhnya, napasnya tersengal, wajahnya membeku, air mata mengalir deras.
“Tidak… tidak… tidak!!” jerit Aki, menggenggam tubuh Cila yang tak bergerak. Tangannya gemetar, tubuhnya bergetar hebat, suara detak jantungnya terdengar memecah keheningan lorong gelap. Chika berdiri di sampingnya, menunduk, menutupi wajah dengan tangan, tubuhnya menggigil hebat.
Ruangan terasa berat, gelap, glitch di setiap permukaan, bayangan kepala teman dan keluarga mereka berkedip di dinding. Lampu berkedip dan mati sesaat, click… click… click…, hanya terdengar napas Aki yang tercekat dan tangisan Chika yang pecah.
Aki menunduk, memeluk tubuh Cila, wajahnya menempel di dadanya, menangis keras, suara pecah memenuhi lorong. “Kenapa… kenapa aku tidak bisa menyelamatkanmu… kenapa dunia ini… begitu kejam…”
Chika, menggigil di sampingnya, memeluk Aki, menunduk, suaranya gemetar. “Aki… aku… kita… kita harus… tetap berjuang…”
Tapi malam itu, mereka berdua tahu… bahwa takdir dunia ini terlalu kuat, dan setiap langkah mereka di dunia nyata selalu dibayangi batas yang tidak boleh dilampaui.
Hujan deras mengguyur kota malam itu, menetes deras ke tubuh Aki dan Cila yang tergeletak di jalan depan rumah sakit. Lampu jalan berkelap-kelip, memantul di genangan air, menciptakan refleksi yang pecah-pecah, seperti dunia sendiri ikut menangis bersama mereka. Aki masih memeluk tubuh Cila yang mulai mendingin, genggamannya kuat, namun tubuhnya gemetar hebat. Suara hujan duuur… duuur… menimpa atap dan jalan aspal, seolah menyelimuti kesedihan mereka dalam simfoni kelam.
Aki menunduk, wajahnya menempel di dada Cila, napasnya tersengal, suaranya pecah saat berkata, “Gagal… kita gagal, Chika… Aku… aku sudah mencoba sekuat tenaga… tapi… tapi dia tetap mati…” Suaranya terputus-putus, gemetar hebat, dan air mata mulai tumpah deras ke pipi Cila.
Chika, berdiri di sampingnya, wajah pucat, matanya basah, kaki sedikit gemetar, perlahan terduduk di aspal yang basah. Tangan gemetar menutup wajahnya, menahan tangis. “Aki… kamu yang kuat… aku… aku tahu kamu sudah berjuang…” Suaranya pecah, terdengar tersedu-sedu, tetapi bergetar dengan ketulusan.
Aki menggeleng pelan, tubuhnya bergetar hebat, genggamannya di tubuh Cila tak melepas sedikit pun. “Tidak… aku… aku sudah melakukan segalanya… segala cara… tapi takdir ini terlalu kuat… dia… tetap mati…!” Tangisan Aki pecah, suara memecah hujan, berbaur dengan dentuman deras air yang membasahi mereka. Ia memukul-mukul jalan, hampir membiarkan kemarahannya meledak di genangan air dan kilat yang menyambar di langit.
Chika, tanpa ragu, merunduk di samping Aki, meletakkan tangannya di kepala Aki, memeluknya erat. Rambutnya yang sedikit basah menempel di pipi Aki. “Aki… aku di sini… kita… kita masih bersama…” Suaranya lirih tapi mantap, seolah mencoba menyalurkan kekuatan lewat pelukan. Air matanya mengalir deras ke punggung Aki, tapi ia menahan diri agar tidak kehilangan kontrol.
Aki menunduk lebih dalam, air mata bercampur dengan hujan yang membasahi rambut dan wajahnya. Gemetar, tangannya masih menekan tubuh Cila, seakan bisa menahan kematian itu hanya dengan kekuatan fisik. Napasnya berat, bergumam antara tangisan dan kata-kata putus asa: “Kenapa… kenapa dunia ini begitu kejam… kenapa aku tak bisa menyelamatkanmu…?”
Chika tetap di sana, perlahan mengusap punggung Aki, mencoba menenangkan. “Aki… dengar… aku tahu ini sakit… aku juga sedih… tapi… kita sudah berusaha. Kita… kita tidak bisa mengubah semuanya sendiri… Tapi… kita masih punya satu sama lain… kita harus tetap hidup…” Suaranya bergetar, tetapi nada hangatnya menembus kesedihan yang pekat.
Aki menepuk-nepuk kepala Chika dengan tangan gemetar, mencoba menguatkan diri meski napasnya tersengal. “Chika… aku… aku tak tahu… aku hanya… aku hanya ingin dia tetap ada… tapi… semua… tetap sama…” Suara Aki pecah, tubuhnya hampir roboh.
Setelah beberapa menit, keduanya akhirnya pasrah. Aki melepaskan genggaman di tubuh Cila, duduk bersandar di aspal basah, rambutnya lembap menempel di wajah, tubuhnya gemetar. Chika tetap di sampingnya, zirah Gurial Tempest yang ia kenakan berkilap basah oleh hujan, tangan mengusap punggung Aki lembut, menyalurkan ketenangan di tengah kekacauan emosi.
Suasana malam itu terasa hening, hanya suara hujan rintik… rintik… dan napas berat Aki yang terengah-engah. Lampu jalan yang berkelap-kelip membuat bayangan mereka memanjang di aspal, seperti lukisan kesedihan hidup dan kehilangan yang mendalam. Chika berkata lirih, “Aki… kita… kita harus pulang… kembali ke Gigri… kembali ke ruangan bawah tanahmu… tempat kita bisa menenangkan diri… dan merencanakan langkah selanjutnya…”
Aki mengangguk perlahan, wajahnya tertunduk, masih basah oleh air mata dan hujan. Tubuhnya menunduk, kepala menempel di tangan, sementara Chika mengusap punggungnya, berbisik, “Aku di sini, Hero-ku… kita masih bersama… jangan menyerah…”
Mereka akhirnya bangkit perlahan, melangkah pulang, air hujan membasahi seluruh tubuh, tapi di hati mereka, rasa kehilangan tetap membekas. Setiap tetes hujan seolah menggambarkan kesedihan dan frustrasi Aki, dan kesetiaan Chika yang tetap menemaninya. Sampai di ruang bawah tanah Aki di kota Gigri, Aki meletakkan tubuhnya di kursi, tangan menutup wajahnya, masih menangis keras, sementara Chika tetap di sampingnya, zirah Gurial Tempest basah, membelai punggung Aki dengan lembut, menyalurkan ketenangan di tengah kekacauan batin yang belum reda.