NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Tawaran Raja

Jubah Ungu dan Rantai Emas

Sisa pendaran matahari terbenam yang merah darah masih membekas di cakrawala saat Elara berdiri di depan cermin besar Paviliun Mawar. Gaun ungu yang diberikan Valerius kini melekat sempurna di tubuhnya, membalut luka-luka yang masih berdenyut di balik kain sutra yang sangat halus. Ia mengusap permukaan kain itu, merasakan teksturnya yang sejuk, namun di dalam batinnya, ia merasa seolah sedang mengenakan kulit ular yang licin dan beracun. Ia baru saja mengisolasi sisa-sisa energi pelacak milik Valerius menggunakan kemampuan Void-nya yang kini telah mencapai stabilitas di tingkat 0.8.

"Tuan Putri, Anda terlihat... sangat berwibawa," bisik Rina sambil merapikan sisa-sisa benang di bagian pinggang gaun. "Tapi saya takut. Tatapan para penjaga di luar berbeda sejak pengumuman itu terdengar."

Elara menatap pantulannya sendiri, pada mata kelabu yang kini memiliki kilatan ungu tipis jika diperhatikan dengan saksama. "Tentu saja berbeda, Rina. Mereka tidak lagi melihat tawanan yang bisa mereka ludahi. Mereka melihat ancaman yang telah diberi kursi di meja majikan mereka."

"Apakah ini benar-benar aman?" Rina mendekat, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian kamar. "Banyak orang di istana ini yang masih setia pada Selir Utama Elena. Mereka tidak akan membiarkan Anda menjadi penasihat kaisar begitu saja."

"Keamanan adalah ilusi yang hanya dipercayai oleh orang lemah," Elara mengambil belati kecil yang ia sembunyikan di balik korsetnya, memastikan senjata itu tidak menonjol. "Aku tidak mencari keamanan. Aku mencari akses. Dan Valerius baru saja memberikan kunci gerbangnya kepadaku."

"Tuan Putri, utusan kaisar sudah menunggu di koridor utama," suara seorang pengawal terdengar dari balik pintu, nadanya jauh lebih kaku dan formal daripada sebelumnya, tanda bahwa status baru Elara mulai merembes ke dalam kesadaran para prajurit.

Elara menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan aroma lavender dari parfum istana yang menyengat, mencoba menutupi bau hangus permanen yang ia rasakan di saraf penciumannya akibat trauma api penjara. "Ayo, Rina. Mari kita lihat seberapa besar nyali para menteri itu saat mereka melihat seorang 'hantu' duduk di antara mereka."

Langkah kaki Elara bergema di koridor marmer yang panjang. Setiap denting sepatu hak tingginya terasa seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran tempat ini. Saat ia mendekati pintu besar ruang dewan, ia bisa merasakan kepadatan mana yang berbeda. Ada sihir pelindung yang aktif, dan di baliknya, puluhan aura manusia yang penuh dengan kebencian, kecurigaan, dan ketamakan.

Pintu jati raksasa itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang berat. Di dalam, ruangan itu diterangi oleh ratusan lilin aromatik yang asapnya membuat kepala Elara sedikit berdenyut. Di ujung ruangan, di atas takhta yang tinggi, Valerius duduk dengan posisi yang angkuh, namun matanya langsung terkunci pada sosok Elara begitu wanita itu melangkah masuk.

"Maju, Elara dari Asteria," suara Valerius bergetar memenuhi ruangan, memberikan tekanan otoritas yang membuat beberapa menteri tua bergeser gelisah di kursi mereka.

Elara berjalan dengan dagu terangkat. Ia melewati barisan menteri dan jenderal militer. Di sisi kanan, ia melihat Panglima Vane, pria dengan tubuh kekar dan medali militer yang berdenting di dadanya. Aura Vane terasa berat, seperti logam panas—sebuah tanda bahwa ksatria tingkat dua ini adalah lawan fisik yang tangguh.

"Yang Mulia," Elara membungkuk dengan gerakan yang sangat anggun, namun tetap menyimpan ketegasan yang tidak tunduk sepenuhnya. "Aku memenuhi panggilanmu."

"Apakah ini sebuah lelucon, Yang Mulia?" Seorang menteri tua dengan janggut putih panjang tiba-tiba berdiri, suaranya melengking karena marah. "Menjadikan seorang tawanan perang, seorang putri dari kerajaan yang telah kita ratakan, sebagai Penasihat Agung Urusan Mistis? Ini adalah penghinaan bagi seluruh dewan!"

Valerius tidak segera menjawab. Ia menopang dagunya, menatap menteri itu dengan tatapan yang mematikan. "Apakah kau baru saja mempertanyakan kebijakanku, Menteri Kael?"

"Bukan kebijakan Anda, Yang Mulia, tapi kelayakan wanita ini!" Menteri Kael menunjuk Elara dengan jari gemetar. "Dia baru saja keluar dari penjara bawah tanah! Bagaimana mungkin dia memahami seluk-beluk keamanan mistis kekaisaran kita?"

Elara memutar tubuhnya perlahan, menatap menteri itu dengan ketenangan yang mengintimidasi. "Menteri Kael, jika aku tidak salah ingat, kau adalah orang yang bertanggung jawab atas logistik kristal mana di sektor utara, bukan?"

Menteri itu tersentak. "Apa hubungannya dengan masalah ini?"

"Hubungannya adalah," Elara melangkah mendekat, suaranya tetap lembut namun tajam seperti sembilu, "ketika aku berada di penjara, aku memiliki banyak waktu untuk menganalisis aliran energi di istana ini. Dan aku menemukan bahwa pasokan kristal mana ke gudang militer berkurang lima belas persen setiap bulannya, sementara kekayaan pribadi keluarga Anda di perbatasan meningkat dengan jumlah yang hampir sama."

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Valerius menyipitkan matanya, auranya mulai memanas. "Apa benar begitu, Elara?"

"Struktur molekul mana yang tersisa di dokumen logistik yang aku 'pinjam' dari pelayan tidak bisa berbohong, Yang Mulia," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman predator. "Energi itu memiliki jejak tanda tangan sihir keluarga Kael. Apakah Anda ingin aku melakukan audit mendalam di depan semua orang sekarang juga?"

Menteri Kael terduduk lemas, wajahnya sepucat kertas. Ia tidak berani mengeluarkan satu kata pun lagi. Di sudut lain, Panglima Vane mengepalkan tangannya, menatap Elara dengan rasa hormat yang muncul dari rasa takut.

"Cukup," Valerius bangkit dari takhtanya. "Elara telah membuktikan bahwa matanya lebih tajam daripada seluruh departemen pengawasan kalian. Mulai hari ini, setiap laporan mistis dan keamanan internal harus melalui mejanya sebelum sampai kepadaku. Siapa pun yang menghalanginya, akan dianggap menghalangi kaisar."

Valerius turun dari podium, mendekati Elara hingga jarak di antara mereka sangat tipis. Ia bisa mencium aroma lavender dari tubuh Elara, namun di bawahnya, ia merasakan getaran dingin yang asing. "Kau melakukannya dengan baik, Elara. Lebih baik dari yang aku harapkan."

"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang penasihat, Yang Mulia," sahut Elara, suaranya mengandung subteks yang hanya dipahami oleh mereka berdua—bahwa ia baru saja membersihkan duri di jalan Valerius demi mendapatkan kepercayaannya.

"Ikut aku," perintah Valerius. "Ada sesuatu yang harus kau miliki jika kau ingin bekerja di bawah namaku."

Valerius membawa Elara keluar dari ruang dewan menuju sayap barat istana, tempat yang dikenal sebagai area terlarang bagi siapa pun kecuali kaisar dan penyihir agung. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi hitam yang diukir dengan simbol-simbol kuno yang berdenyut pelan.

"Ini adalah Perpustakaan Terlarang," ucap Valerius sambil mengeluarkan sebuah kunci perak panjang dari balik jubahnya. "Di dalamnya terdapat catatan tentang seluruh sihir kuno, termasuk teknik-teknik yang digunakan oleh kerajaanmu dulu, Asteria."

Elara merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini adalah target utamanya. Di perpustakaan ini, ia yakin bisa menemukan cara untuk meningkatkan Void-nya melampaui batas manusia dan mencari tahu kelemahan sihir hitam yang digunakan Elena.

"Kenapa kau memberiku akses ke sini?" tanya Elara, matanya menatap kunci perak itu.

Valerius menatapnya dengan intensitas yang menakutkan, sebuah obsesi yang mulai mengaburkan kewarasannya sebagai pemimpin. "Karena aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang tahu lebih banyak dariku. Aku ingin kau menjadi bayanganku, Elara. Jangan khianati kepercayaanku, atau aku sendiri yang akan memastikan kau terbakar lebih hebat dari sebelumnya."

Valerius menyerahkan kunci perak itu. Saat tangan mereka bersentuhan, Elara merasakan sengatan panas yang membuat perutnya mual—sebuah reaksi fisik spontan terhadap pria yang pernah membantainya. Ia segera menarik tangannya, menyembunyikan getarannya di balik lengan gaun ungunya.

"Aku akan menggunakannya dengan bijak, Yang Mulia," ucap Elara sambil menundukkan kepala, menyembunyikan kilatan kemenangan di matanya.

"Masuklah. Pelajari apa pun yang kau butuhkan. Besok, aku ingin laporan pertama darimu tentang struktur pertahanan sihir di perbatasan utara," Valerius berbalik dan pergi, meninggalkan Elara berdiri sendirian di depan pintu perpustakaan yang legendaris itu.

Elara memasukkan kunci ke dalam lubang pintu. Suara mekanisme kunci yang berputar terasa seperti musik di telinganya. Saat pintu terbuka, aroma debu tua, kertas kering, dan energi mana yang stagnan menyambutnya. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup otomatis di belakangnya.

"Analisis dimulai," gumam Elara.

Ia mengangkat tangannya, membiarkan energi Void-nya merayap keluar dari ujung jemarinya. Cahaya ungu tipis mulai menerangi rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Di sini, di jantung pengetahuan kekaisaran, ia akan menemukan cara untuk merobek topeng keadilan Valerius dan menghancurkan setiap pilar yang menopang takhta berdarah ini.

Ia berjalan menyusuri lorong-lorong gelap, merasakan resonansi dari buku-buku sihir kuno. Setiap langkahnya adalah pemetaan. Setiap embusan napasnya adalah sinkronisasi. Elara tahu, tawaran raja ini bukan sekadar posisi politik; ini adalah tali gantungan yang disiapkan Valerius untuknya, namun ia akan memastikan bahwa pada akhirnya, leher Valerius-lah yang akan terjerat oleh tali tersebut.

Labirin Pengetahuan

Elara melangkah lebih dalam ke dalam keheningan Perpustakaan Terlarang, di mana suara langkah kakinya diredam oleh karpet beledu merah yang sudah memudar warnanya. Cahaya ungu dari energi Void di ujung jemarinya menari-nari di atas punggung buku bertulang kulit naga dan gulungan perkamen kuno yang sudah menguning. Di tempat ini, waktu seolah berhenti berputar; udara terasa berat oleh konsentrasi mana yang stagnan, membawa aroma apek kertas tua yang bercampur dengan bau tajam logam dingin—aroma khas dari segel-segel sihir pelindung yang masih aktif.

"Analisis struktur ruang... aktif," batin Elara.

Ia memejamkan matanya sesaat, membiarkan sirkuit energinya yang telah mencapai tingkat 0.8 merayap melalui lantai dan dinding. Ia tidak hanya melihat rak buku; ia melihat aliran mana yang membentuk jaring-jaring pengaman di seluruh ruangan ini. Ini adalah Third Option yang ia rencanakan: ia tidak akan hanya membaca buku, ia akan memetakan seluruh sistem saraf sihir istana melalui pusat data ini. Setiap buku di sini terhubung dengan frekuensi sihir tertentu di dalam kekaisaran, dan dengan menyentuhnya, Elara bisa merasakan denyut nadi pertahanan Valerius.

Jemari Elara berhenti pada sebuah gulungan besar dengan segel perak berbentuk bunga lili yang sudah patah—lambang keluarga kerajaan Asteria yang telah dijarah. Ia merasakan sengatan emosi yang tajam di dadanya, sebuah resonansi antara jiwanya dan objek dari masa lalunya. Ini adalah catatan tentang teknik "Pemisah Jiwa", sebuah sihir terlarang yang dulu hanya boleh dipelajari oleh para ratu Asteria.

"Mereka mencuri segalanya," bisik Elara, suaranya bergetar oleh amarah yang ditekan. "Mereka mengambil sejarah kami dan menjadikannya barang rampasan di gudang berdebu ini."

Ia membuka gulungan itu. Alih-alih membacanya secara manual, ia meletakkan telapak tangannya di atas teks kuno tersebut. Energi Void-nya mulai berpendar, menyerap informasi secara molekuler. Dalam hitungan detik, seluruh isi gulungan itu tersalin ke dalam memorinya. Ia bisa merasakan bagaimana teknik itu bekerja—cara memisahkan kesadaran dari rasa sakit fisik—sebuah pengetahuan yang sangat ia butuhkan untuk mengatasi trauma api yang masih sering melumpuhkan sarafnya.

"Siapa di sana?"

Suara itu datang dari balik rak buku besar di ujung lorong. Elara segera memadamkan cahaya Void-nya, membiarkan kegelapan merangkul sosoknya. Ia menarik belati dari balik gaun ungunya, tubuhnya merapat ke rak buku, napasnya diatur agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Melalui indra sensorik Void-nya, ia mendeteksi sebuah kehadiran yang tidak asing—aura yang tenang namun memiliki ketajaman seperti mata pisau.

"Aku tahu kau di sana, Penasihat Baru," suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat.

Elara melangkah keluar dari bayangan, belati tetap siaga di tangannya. Dari balik kegelapan, muncul sosok Kaelen. Jenderal itu mengenakan jubah hitam penyamaran, namun matanya yang tajam tetap tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang mendalam saat melihat Elara dalam balutan gaun ungu yang mewah.

"Kaelen? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Elara, suaranya rendah namun penuh otoritas.

"Ada jalan rahasia yang digunakan para pelayan untuk membersihkan tempat ini sebulan sekali. Aku menggunakan celah itu," Kaelen mendekat, matanya menatap kunci perak di tangan Elara. "Jadi, kabar itu benar. Valerius benar-benar memberimu kunci tempat ini. Dia benar-benar telah jatuh ke dalam perangkapmu."

"Ini bukan perangkap, Kaelen. Ini adalah pertukaran," Elara menyimpan kembali belatinya. "Dia menginginkan bayangan Aurelia, dan aku memberikannya ilusi itu sebagai ganti dari kekuatan yang ada di ruangan ini."

Kaelen meraih tangan Elara, namun terhenti saat melihat warna kehitaman yang semakin jelas merayap di nadi pergelangan tangan wanita itu. "Lihat dirimu, Elara! Sihir ini... sihir Void ini membunuhmu secara perlahan. Kau terlihat semakin pucat setiap kali kita bertemu. Apakah takhta ini sebanding dengan nyawamu?"

"Nyawaku sudah hilang sepuluh tahun yang lalu di atas tumpukan kayu bakar, Kaelen," Elara menarik tangannya dengan dingin, sebuah gestur martabat yang tidak mengizinkan kelemahan. "Apa yang kau lihat sekarang hanyalah instrumen pembalasan. Jika tubuh ini harus hancur untuk memastikan Valerius kehilangan segalanya, maka biarlah ia hancur dengan cara yang paling spektakuler."

"Kau menjadi persis seperti mereka," bisik Kaelen, suaranya dipenuhi kepedihan. "Dingin, penuh perhitungan, dan tanpa ampun."

"Memang itulah yang diperlukan untuk menang di istana ini. Jika aku tetap menjadi Aurelia yang penuh kasih, aku akan mati lagi di hari pertama aku menginjakkan kaki di sini," Elara menatap Kaelen dengan tatapan yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Berapa banyak informasi yang kau dapatkan dari luar?"

Kaelen menarik napas panjang, mencoba menekan emosinya. "Faksi militer Elena sedang bergerak. Mereka merasa terancam dengan penunjukanmu. Panglima Vane tidak hanya diam; dia sedang mengumpulkan para penyihir tingkat dua untuk melakukan 'inspeksi' pada setiap kebijakan yang kau keluarkan. Mereka akan mencarimu, Elara. Mereka akan mencari celah untuk membuktikan bahwa kau menggunakan sihir hitam."

"Biarkan mereka mencari," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Mereka mencari sihir hitam yang kasar seperti milik Elena, sementara aku menggunakan Void—kekuatan yang tidak bisa mereka deteksi kecuali aku mengizinkannya. Justru akulah yang akan menemukan celah mereka."

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Valerius memintaku membuat laporan tentang pertahanan utara. Dia pikir aku akan memberikan saran militer biasa," Elara mengambil sebuah peta besar dari meja di tengah perpustakaan. "Tapi aku akan memberikan sesuatu yang lain. Aku akan menyisipkan algoritma sihir di dalam laporan itu yang, jika diaktifkan, akan melemahkan segel pelindung di kediaman para menteri yang korup. Kita akan menjatuhkan mereka satu per satu, mulai dari Kael hingga Vane."

"Dan Elena?"

"Elena sudah jatuh, tapi dia belum hancur," Elara mengepalkan tangannya di atas peta. "Aku ingin dia melihat bagaimana seluruh dunia yang dia bangun direbut oleh wanita yang paling dia benci. Aku ingin dia merasakan keputusasaan yang sama saat dia menyulut api di sel penjaraku."

"Tuan Putri... ada langkah kaki mendekat!" bisik Kaelen tiba-tiba, indra ksatria tingkat duanya menangkap getaran dari koridor luar.

"Pergilah lewat jalan rahasia itu sekarang!" perintah Elara.

Kaelen menatap Elara untuk terakhir kalinya, sebuah tatapan yang penuh dengan janji kesetiaan yang tak terucapkan, sebelum ia menghilang di balik rak buku besar dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Elara segera mengambil sebuah buku acak tentang sejarah astronomi dan duduk di meja utama, berpura-pura sedang mempelajari isinya dengan serius.

Pintu perpustakaan terbuka dengan suara dentuman yang cukup keras. Panglima Vane masuk dengan wajah yang merah padam, diikuti oleh dua pengawal bersenjata mana-inlaid. Ia menatap Elara yang sedang duduk tenang di bawah cahaya lampu kristal yang redup.

"Masih terjaga di jam seperti ini, Penasihat Agung?" tanya Vane, suaranya penuh dengan nada sarkastik yang tidak disembunyikan.

"Pengetahuan tidak mengenal waktu, Panglima," sahut Elara tanpa mengangkat wajahnya dari buku. "Atau apakah ada aturan baru yang melarang penasihat kaisar untuk membaca di perpustakaan yang kuncinya diberikan langsung oleh kaisar sendiri?"

Vane mendengus, langkah sepatunya yang berat berdentum di atas lantai kayu. "Aku datang untuk mengingatkanmu, jangan berpikir bahwa karena kaisar terobsesi padamu, kau bisa mengatur militer sesukamu. Kami telah menumpahkan darah untuk kekaisaran ini, sementara kau hanya seorang tawanan yang pandai bersilat lidah."

Elara menutup bukunya perlahan, lalu berdiri dan menatap Vane tepat di matanya. Ia melepaskan sedikit aura Void-nya, menciptakan tekanan udara yang tiba-tiba menurun di sekitar mereka. "Darah yang kalian tumpahkan adalah darah rakyatku, Panglima. Dan soal mengatur militer... aku tidak mengaturnya. Aku hanya membetulkan apa yang kalian rusak dengan ketamakan kalian. Jika kau punya masalah dengan itu, silakan sampaikan langsung pada Yang Mulia."

Vane terdiam, ia bisa merasakan tekanan aneh yang keluar dari tubuh wanita di depannya—sebuah kekuatan yang terasa kosong namun sangat masif. Ia mengepalkan tangannya, namun tidak berani melakukan tindakan fisik. "Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan di posisi ini, Elara. Istana ini punya cara untuk melenyapkan orang-orang yang terlalu sombong."

"Aku sudah pernah melenyap sekali, Panglima," bisik Elara saat Vane berbalik untuk pergi. "Dan percayalah, kembali dari kematian membuatku jauh lebih sabar daripada yang bisa kau bayangkan."

Setelah Vane pergi, Elara terduduk kembali di kursinya. Tubuhnya bergetar hebat. Penggunaan aura Void barusan telah menguras banyak energinya yang belum pulih benar. Ia menyentuh punggungnya, merasakan luka bakarnya kembali berdenyut panas, seolah-olah api itu mencoba untuk keluar kembali.

"Satu per satu," gumamnya pada keheningan perpustakaan.

Ia mengambil kunci perak di atas meja, menggenggamnya begitu erat hingga telapak tangannya memerah. Ia tahu bahwa mulai besok, setiap kata yang ia ucapkan adalah langkah catur yang mematikan. Tawaran raja yang ia terima bukan hanya posisi, tapi panggung untuk pertunjukan berdarah yang akan segera dimulai. Ia akan menggunakan perpustakaan ini untuk membedah setiap rahasia kekaisaran, sampai tidak ada satu pilar pun yang tersisa untuk menopang langit Valerius.

Elara bangkit dan berjalan menuju jendela kecil di bagian atas perpustakaan. Di luar, istana tampak megah dengan lampu-lampu yang menyala, namun di mata Elara, itu hanyalah sebuah makam besar yang sedang menunggu untuk ditutup. Ia memejamkan mata, membiarkan energi Void-nya beresonansi dengan kegelapan malam, bersiap untuk konfrontasi politik yang lebih kejam di esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!