Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: JANTUNG DIGITAL
Sementara dunia luar masih terpaku pada fenomena alam yang aneh—dari salju di musim panas hingga suhu yang mendadak stabil secara misterius—sebuah peperangan jenis baru sedang berlangsung di dalam kabel-kabel serat optik yang melintasi dasar samudera. Di dalam pusat saraf The Blood Fortress, Julian duduk di tengah lingkaran hologram yang melayang. Jantung kristalnya berdenyut dengan irama yang sinkron dengan aliran data global. Di matanya, dunia bukan lagi kumpulan daratan, melainkan aliran angka, transaksi saham, dan kode-kode militer yang saling tumpang tindih.
"Ayah, pedang Bastian mungkin bisa menghancurkan gunung, dan racun Rehan bisa membusukkan hutan, tapi hari ini... aku akan menunjukkan bahwa satu baris kode bisa meruntuhkan sebuah kekaisaran tanpa setetes darah pun tertumpah," ucap Julian pelan. Suaranya bergema di aula benteng yang sunyi.
Arkan berdiri di belakangnya, menatap layar utama yang menampilkan indeks saham dunia. "WHA (World Hunter Association) masih memiliki taring karena mereka menguasai bank-bank pusat dan pendanaan Hunter global. Potong jalur pasokan mereka, Julian. Biarkan mereka menyadari bahwa zirah emas mereka tidak ada harganya jika mereka tidak bisa membeli energi untuk mengaktifkannya."
"Melaksanakan, Sovereign," jawab Julian dengan senyum dingin.
Wall Street, New York – Pukul 09.30 Waktu Setempat.
Bel pembukaan perdagangan saham baru saja berbunyi. Namun, alih-alih angka-angka hijau yang biasanya muncul, seluruh layar di bursa saham mendadak berubah menjadi warna merah pekat. Bukan merah penurunan pasar biasa, melainkan warna merah darah yang berdenyut.
Seketika, seluruh saldo akun milik WHA dan organisasi afiliasinya di seluruh bank dunia berubah menjadi angka nol. Tidak ada jejak peretasan, tidak ada virus yang terdeteksi. Seolah-olah, uang itu tidak pernah ada di sana sejak awal.
"Apa yang terjadi?! Mana uang operasional untuk Tim Kelas S?!" teriak seorang eksekutif WHA di kantor pusatnya. "Kita harus mengirimkan suplemen mana ke perbatasan Abyss, tapi kartu kredit organisasi kita ditolak!"
Di seluruh dunia, sistem logistik Hunter lumpuh total. Senjata-senjata canggih yang membutuhkan langganan energi mana dari satelit mendadak mati. Para Hunter yang sedang bertempur di lapangan mendapati zirah mereka menjadi berat dan tidak berfungsi karena 'lisensi digital' mereka telah dicabut oleh sistem pusat yang kini dikuasai Julian.
Seoul, SMA Gwangyang – Pukul 11.00 Pagi.
Arkan sedang duduk di kantin bersama Liora. Di televisi kantin, berita darurat menyiarkan kekacauan finansial global. Para jurnalis panik, menyebutnya sebagai 'The Red Monday'.
"Arkan, lihat! Katanya sistem perbankan dunia kena hack!" Liora menunjuk televisi dengan wajah cemas. "Ayahku bilang, tunjangan Hunter Kelas C-nya bulan ini tidak cair. Kalau begini terus, keamanan kota bisa kacau karena Hunter tidak mau bekerja tanpa bayaran."
Arkan menyesap susu kotaknya dengan tenang. "Mungkin ini saatnya dunia belajar untuk tidak terlalu bergantung pada angka di layar, Liora. Uang tidak bisa membunuh monster, keberanianlah yang melakukannya."
Liora menatap Arkan dengan dahi berkerut. "Kamu bicara seperti filsuf tua lagi. Tapi... kamu benar. Anehnya, meskipun bank dunia kacau, toko roti di depan sekolah kita tetap bisa transaksi pakai tunai. Seolah-olah kekacauan ini hanya menyerang orang-orang besar."
Arkan tersenyum tipis. 'Tentu saja, Liora. Karena Julian hanya memburu mereka yang mencoba memburuku.'
Tiba-tiba, Alice Pendragon masuk ke kantin. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak sangat tertekan. Ia berjalan lurus ke arah meja Arkan dan Liora. Ia membanting sebuah tablet ke meja.
"Kau pelakunya, kan?" bisik Alice pada Arkan, suaranya gemetar karena marah. "Keluargaku di London jatuh miskin dalam satu jam! Seluruh aset Pendragon disita oleh bank tanpa alasan hukum! Kau ingin menghancurkan kami secara finansial?"
Arkan mendongak, wajahnya menampilkan ekspresi bingung yang sangat polos. "Alice, aku bahkan tidak tahu cara pakai kartu kredit. Bagaimana aku bisa menghancurkan keluargamu?"
"JANGAN BERCANDA!" teriak Alice, menarik perhatian seluruh kantin. "Aku tahu Crimson Eclipse punya otak di belakang mereka! Katakan pada tuanmu, bermain dengan ekonomi adalah tindakan pengecut!"
Liora berdiri, membela Arkan. "Alice, jaga bicaramu! Arkan bersamaku sepanjang pagi. Dia tidak menyentuh komputer sama sekali! Jangan salahkan orang lain atas masalah keluargamu!"
Arkan memegang tangan Liora, menenangkannya. "Sudahlah, Liora. Dia sedang stres."
Arkan menatap mata Alice melalui kacamatanya. Di balik lensa itu, ia mengirimkan sinyal Blood-Link yang sangat tajam yang hanya bisa dirasakan oleh Alice. Ini baru permulaan, Alice. Jika kau terus menghubungi Abyss, aku tidak hanya akan mengambil uangmu, aku akan mengambil nama keluargamu dari sejarah.
Alice tersentak, ia mundur selangkah dengan wajah pucat pasi. Ia merasakan tekanan mental yang begitu besar hingga ia hampir pingsan di tempat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia lari keluar dari kantin.
The Blood Fortress – Himalaya.
Julian tertawa kecil saat melihat rekaman Alice di sekolah. "Dia sangat mudah ditebak, Ayah."
"Cukup dengan peringatannya, Julian," Arkan memberikan perintah melalui frekuensi jauh. "Sekarang, fase kedua. Gunakan dana yang kau ambil dari WHA untuk mendirikan 'Yayasan Sovereign'. Berikan bantuan tunai langsung kepada para Hunter kelas bawah dan warga sipil yang terdampak Abyss. Kita akan mengambil alih loyalitas publik dari pemerintah."
"Dimengerti, Ayah. Dalam tiga jam, seluruh dunia akan memuja nama Crimson Eclipse sebagai penyelamat ekonomi, bukan perusak," jawab Julian.
Julian mulai menggerakkan jarinya lagi. Secara ajaib, di seluruh dunia, dana-dana bantuan mulai mengalir ke panti asuhan, rumah sakit, dan para Hunter Kelas C dan D yang selama ini dianaktirikan oleh sistem. Nama Crimson Eclipse, yang tadinya ditakuti sebagai teroris, kini mulai dianggap sebagai 'Robin Hood' modern.
Malam harinya di apartemen Arkan.
Arkan duduk di meja belajarnya, mengerjakan tugas sejarah. Melalui jendela, ia melihat Seoul yang tenang. Kekacauan ekonomi tadi siang tidak terasa di sini, karena Julian telah menyuntikkan dana stabilitas ke pasar lokal Korea secara rahasia.
'Bastian, bagaimana situasi di Amerika?' tanya Arkan.
'Sempurna, Tuan. Tanpa biaya operasional dari WHA, markas 'Black Diamond' ditinggalkan oleh para penjaganya. Saya baru saja mengambil alih gudang persenjataan mereka tanpa perlawanan berarti,' jawab Bastian dengan nada bangga.
'Hana? Rehan?'
'Eropa dalam genggaman, Tuan. Para bangsawan yang mendanai pemburuan kita kini sedang sibuk mengemis di jalanan,' lapor Rehan.
Arkan menutup bukunya. "Uang adalah darah dari peradaban manusia," gumamnya. "Dan hari ini, aku baru saja melakukan transfusi darah terbesar dalam sejarah."
Ia mematikan lampu kamarnya. Besok adalah hari di mana Alice Pendragon mungkin akan melakukan langkah terakhirnya. Arkan tahu, saat seseorang kehilangan segalanya, mereka akan menjadi sangat berbahaya atau sangat patuh. Dan Arkan lebih suka Alice yang patuh.
"Tidurlah yang nyenyak, dunia," bisik Arkan. "Karena besok, harga diri kalian tidak akan lagi diukur dengan emas, tapi dengan seberapa setia kalian pada Sang Sovereign."