Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Setelah menyelesaikan beberapa dokumen, Ashley keluar dari ruang kerja ayahnya saat malam semakin larut. Ia berjalan menyusuri lorong sepi dan melewati kamar ayahnya yang pintunya sedikit terbuka. Ashley masuk diam-diam, lalu duduk di samping ranjang, menatap wajah pria tua yang tengah tertidur itu.
Ashley menundukkan kepala dan menghela napas lelah. Suara serak ayahnya tiba-tiba memecah kesunyian.
"Ash, kau di sini?"
"Hm. Apa aku membangunkanmu?"
"Tidak apa-apa. Lagipula, aku memang tidak bisa tidur."
"Haruskah kupanggilkan dokter?"
"Tidak perlu. Dia pasti sedang beristirahat sekarang. Ini bukan hal serius."
"Kurang tidur akan memperburuk proses penyembuhanmu."
"Yah, aku pun sudah tidak berharap untuk hidup lebih lama lagi."
"Jangan bicara begitu, atau aku akan—"
"Ugh, iya, iya... cerewetmu itu persis sekali seperti ibumu," potong Andrew. "Jadi, kau baru saja selesai mengurus dokumen untukku?"
"Hm. Aku hanya menyelesaikan hal-hal yang mendesak."
"Lalu, apa ada hal lain?"
"Tidak ada. Semuanya masih di bawah kendali."
"Baguslah. Apa ada pergerakan dari para pemegang saham?"
Ashley sedikit terkejut. "Hah? Mengapa instingmu tajam sekali?"
"Ahahaha! Itu adalah kemampuan dasar seorang pebisnis. Jadi, apa yang terjadi?"
"Sekretarismu melaporkan bahwa mereka sudah mulai bergerak. Aku yakin beberapa dari mereka tetap mendukung Danny dan akan berusaha membawanya kembali dengan cara apa pun."
"Yah, di antara kau dan Kay, Danny memang memegang saham paling besar. Tapi saham itu sudah kuambil kembali setelah mengusirnya."
"Berapa banyak sahamnya?" Ashley menatap ayahnya lekat.
"Sepuluh persen."
"Berarti, saat ini kau memegang lima puluh persen setelah mengambil bagian Danny?"
"Iya. Dan belakangan ini aku didesak untuk segera menunjuk pewaris baru."
"Oh, jadi itu sebabnya kau berakhir berbaring di ranjang sepanjang hari?"
"Itu karena usiaku tidak lagi muda, Ash."
"Iya, iya. Jadi, apa kau sudah memutuskan?"
"Belum. Baik kau maupun Kay memenuhi kriteria. Namun, aku tidak yakin Kay tertarik pada perang pewaris ini."
"Aku yakin dia akan tertarik. Bagaimanapun, bisnis kosmetiknya adalah anak perusahaan Giotech."
"Hm, kau benar... Kalau begitu, begini saja..."
***
Keesokan harinya, Ashley dan Kevin kembali ke kediaman mereka setelah memastikan kondisi Andrew membaik. Perjalanan di helikopter hanya diisi keheningan dan hamparan awan putih. Baik Kevin maupun Ashley tidak membuka percakapan sedikit pun.
Begitu helikopter mendarat, Ashley langsung turun dan memasuki mansion, meninggalkan Kevin di belakang.
"Hm, sejak kemarin malam raut wajahnya terlihat tidak bagus. Apa terjadi sesuatu?" gumam Kevin. Sang pilot yang baru saja turun tanpa sengaja mendengarnya.
"Mungkin Nyonya hanya khawatir tentang kesehatan Tuan Besar Giovano, Tuan."
"Hm, kuharap begitu. Semoga suasana hatinya tidak hancur. Terima kasih karena telah terbang dengan aman," ucap Kevin sebelum menyusul masuk.
"Ya ampun, beliau memang orang yang berhati hangat di tengah lautan air es ini," gumam si pilot takjub.
Kevin memasuki mansion dan disambut sapaan hormat para pelayan.
Di koridor menuju kamar, ia berpapasan dengan Ashley yang sudah berpakaian rapi seolah hendak pergi lagi.
"Hm? Mau pergi ke suatu tempat?"
"Bekerja. Perusahaan sudah kutinggalkan terlalu lama," jawab Ashley singkat sambil menuruni tangga tanpa menoleh ke arah Kevin.
"Padahal baru dua hari. Harusnya dia istirahat sedikit lagi," gumam Kevin seraya melanjutkan langkah ke kamarnya.
Setelah Ashley pergi, Kevin melakukan rutinitasnya seperti biasa. Ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil buku komik yang dibelinya bulan lalu. Setelah itu, ia memutuskan menonton film di bioskop pribadi mansion.
"Karen, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," suara aktor pria menggema di ruangan sunyi itu.
"Ada apa, Robert? Apa kau sudah memutuskan untuk melamarku?" sahut aktris wanita dengan nada riang.
"Tidak. Kita putus saja. Aku sudah menemukan wanita lain yang lebih pintar darimu." Musik latar tiba-tiba berubah sedih. Sang aktris terdiam di tengah suasana restoran yang ramai.
"Tunggu, kau bercanda, kan? Apa hari ini ulang tahunku? Eh, bukan, ulang tahunku bulan Juni."
"Kuharap kau bahagia dan menemukan pria lain." Si aktor pergi meninggalkan restoran, sementara sang wanita menangis dalam diam.
The End.
"Ugh, orang gila mana yang membuat film dengan akhir sedih begini?" gerutu Kevin sambil mengunyah berondong jagungnya.
Kevin keluar dari bioskop dan menatap jendela. Langit sudah gelap meski baru jam lima sore. Udara terasa semakin dingin, sepertinya hujan akan segera turun. Dan benar saja, tak lama kemudian hujan deras menghantam kaca jendela, dibarengi suara petir yang menggelegar.
Berbarengan dengan itu, sebuah mobil memasuki gerbang mansion. Ashley turun dari kursi belakang setelah seorang pelayan membukakan payung untuknya. Kevin yang melihatnya dari balkon tangga memperhatikan kebiasaan Ashley saat masuk ke rumah.
Setelah melepaskan sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman, Ashley menatap Neena.
"Bawakan essentials oils ke kamarku. Yang aroma lavender."
Setelah Neena mengangguk, Ashley berjalan menaiki tangga. Ia sempat memberikan satu tatapan tajam pada Kevin sebelum masuk ke kamarnya.
"Hm, mood-nya belum kembali, ya?" gumam Kevin. Ia turun ke ruang tamu, duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Waktu berlalu hingga jam makan malam tiba. Seorang pelayan menghampiri Kevin untuk memberitahunya. Kevin berjalan menuju aula makan di mana Ashley sudah menunggu. Berbagai menu sudah tertata rapi di atas meja.
Setelah semua asisten dapur dan pelayan keluar, Kevin dan Ashley ditinggalkan sendirian. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, setidaknya ada tiga atau empat pelayan yang berjaga di sisi ruangan. Namun kali ini, suasana benar-benar sepi.
Hanya suara denting alat makan yang terdengar. Di tengah kecanggungan itu, Kevin memberanikan diri.
"Makan malamnya enak, ya..."
Ashley langsung meletakkan garpunya. Tatapannya sangat serius. "Kevin, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."
"Oh, ada apa?" Kevin akhirnya mengerti mengapa mereka hanya berdua saja di sana. Ia mengambil gelas dan meminum airnya sebelum Ashley melanjutkan.
"Berikan aku seorang anak," ucap Ashley tanpa keraguan.
Terkejut bukan main, Kevin menyemburkan air yang tengah diminumnya. Ia terbatuk-batuk karena tersedak.
"Jorok," komentar Ashley sambil menatap datar suaminya yang masih menyeka mulut.
"Apa...? Kau bilang apa tadi?"