"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : MENUA BERSAMA, BERTUMBUH BERSAMA
Namun kehidupan, seperti musim, selalu menyimpan kejutan yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.
Beberapa bulan setelah makan malam lengkap itu, rumah kembali memiliki ritmenya sendiri. Tidak seramai dulu, tetapi juga tidak sesepi yang pernah kami bayangkan. Naomi mulai aktif mengadakan pameran kecil. Daniel sesekali pulang dengan cerita tentang dunia kerja dan proyek-proyek teknologi yang membuat matanya kembali berbinar seperti masa remaja.
Aku dan Maria belajar menikmati waktu berdua dengan cara yang baru.
Kami berjalan pagi lebih jauh dari biasanya. Kadang sampai ke taman kota tempat dulu kami mengajak Naomi dan Daniel bermain ayunan. Kini ayunan itu diisi anak-anak lain, sementara kami duduk di bangku panjang, berbagi termos teh dan cerita ringan.
“Aneh ya,” kata Maria suatu pagi. “Dulu kita ingin mereka cepat besar supaya lebih mudah diatur. Sekarang kita ingin waktu melambat.”
Aku tersenyum. “Manusia memang jarang puas dengan waktu.”
Maria tertawa kecil, lalu menatapku lebih lama dari biasanya.
“Kesehatanmu bagaimana akhir-akhir ini?”
“Lebih baik,” jawabku jujur. “Aku belajar mendengar tubuhku.”
Dan itu bukan kalimat kosong. Aku benar-benar mulai belajar berhenti sebelum lelah menumpuk. Aku belajar berkata “cukup” pada pekerjaan. Aku belajar bahwa tidak semua peluang harus diambil.
Suatu hari, Daniel datang dengan ide yang tak terduga.
“Pa, aku mau bangun startup kecil. Bukan cuma kerja kantoran.”
Aku menatapnya, melihat keberanian yang dulu pernah kumiliki.
“Risikonya besar,” lanjutnya. “Tapi aku merasa ini waktunya.”
Maria langsung terlihat khawatir. “Kamu sudah pikir matang-matang?”
Daniel mengangguk. “Sudah. Kalau gagal, aku masih bisa bangun lagi.”
Aku diam sejenak, mengingat masa mudaku—saat memilih cinta, saat memilih usaha, saat memilih tetap berdiri meski tidak yakin.
“Apa yang kamu cari?” tanyaku.
“Kesempatan untuk mencoba sebelum terlambat,” jawabnya.
Kalimat itu menancap dalam dadaku.
Sebelum terlambat.
Aku mengangguk pelan. “Kalau begitu, lakukan dengan tanggung jawab. Jangan terburu-buru mengejar besar. Kejar kuat.”
Daniel tersenyum lega.
Malam itu, setelah ia pulang, Maria berkata pelan, “Kamu tidak menahannya.”
“Aku tidak ingin anak kita hidup dengan penyesalan karena ketakutanku,” jawabku.
Maria menggenggam tanganku. “Kamu benar-benar berubah.”
Aku tahu perubahan itu bukan terjadi dalam semalam. Ia lahir dari kehilangan, dari sakit, dari jarak, dari doa-doa panjang yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun.
Tahun-tahun berikutnya berjalan lebih tenang, tetapi tidak tanpa ujian.
Penyakit jantungku sempat kambuh ringan. Tidak sampai rawat inap lama, tetapi cukup membuat Naomi pulang dengan wajah panik.
“Papa harus lebih hati-hati,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku tersenyum. “Papa tidak kebal, Nak. Tapi Papa juga tidak menyerah.”
Ia menggenggam tanganku seperti dulu waktu kecil ia takut petir.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam—anak-anak, betapapun dewasanya mereka, tetap membawa cinta yang sama seperti saat pertama kali memanggil kita “Papa” dan “Mama.”
Suatu malam di rumah sakit, ketika Maria tertidur di kursi pendamping, aku memandang wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis halus usia.
Perempuan itu telah berjalan bersamaku melewati begitu banyak musim.
Aku teringat hari ketika aku pertama kali memegang tangannya, penuh ambisi dan ketidaksabaran. Kini tanganku menggenggamnya dengan rasa syukur yang jauh lebih matang.
Aku berbisik pelan, meski ia tidak mendengar,
“Terima kasih sudah tetap tinggal.”
Beberapa waktu kemudian, kabar bahagia datang.
Naomi resmi dilamar.
Pria yang dulu ia perkenalkan kini berdiri di ruang tamu kami, dengan wajah tegang dan penuh hormat.
“Aku ingin menjaga Naomi,” katanya mantap.
Aku menatapnya lama. Bukan untuk menguji, tetapi untuk membaca ketulusan.
“Aku tidak menyerahkan anakku,” kataku pelan. “Aku mempercayakan dia. Itu berbeda.”
Ia mengangguk, mengerti.
Hari pernikahan Naomi menjadi salah satu hari paling sunyi sekaligus paling penuh dalam hidupku.
Ketika aku berjalan bersamanya menuju pelaminan, tangannya menggenggam lenganku erat.
“Papa,” bisiknya, “terima kasih sudah selalu percaya.”
Aku tersenyum, meski pandanganku mulai kabur oleh air mata.
“Ayah tidak selalu benar,” jawabku, “tapi Ayah selalu berusaha mencintaimu dengan benar.”
Saat aku menyerahkan tangannya, bukan kehilangan yang kurasakan.
Melainkan kelengkapan.
Lingkaran itu kembali berputar—lebih utuh, lebih tenang.
Daniel pun perlahan menemukan jalannya. Startup kecilnya tidak langsung sukses. Bahkan sempat hampir tutup.
Namun ia bertahan.
Suatu sore, ia duduk bersamaku di teras.
“Pa, aku baru paham. Ternyata membangun sesuatu itu lebih sulit daripada mengeluh tentangnya.”
Aku tertawa pelan. “Kedewasaan memang mahal.”
Ia menatapku serius. “Aku banyak belajar dari Papa.”
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak merasa perlu merendah atau mengalihkan pujian itu.
Aku hanya berkata, “Terima kasih sudah memperhatikan.”
Usia terus berjalan.
Rambutku kini hampir sepenuhnya putih. Langkahku tidak secepat dulu. Tetapi hatiku justru terasa lebih ringan.
Aku tidak lagi dihantui kebutuhan untuk membuktikan apa pun.
Aku belajar bahwa warisan terbesar bukanlah harta atau nama besar.
Melainkan cara kita memperlakukan orang yang kita cintai.
Suatu malam, ketika rumah kembali tenang setelah acara keluarga kecil, Maria duduk di sampingku.
“Kita sudah melewati banyak ya,” katanya.
Aku mengangguk.
“Kalau kamu diberi kesempatan mengulang hidup, apa yang ingin kamu ubah?”
Aku berpikir lama.
“Tidak banyak,” jawabku akhirnya. “Mungkin hanya satu—aku ingin lebih cepat mengerti bahwa cinta bukan sesuatu yang perlu ditakuti.”
Maria tersenyum.
“Kamu sudah mengerti sekarang.”
Aku memandang langit yang sama seperti bertahun-tahun lalu, ketika aku masih dipenuhi kecemasan tentang masa depan.
Kini, masa depan tidak lagi terasa seperti ancaman.
Ia hanya kelanjutan dari hari ini.
Dan hari ini cukup.
Aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang kumiliki.
Namun aku tahu satu hal yang pasti:
Aku tidak lagi hidup untuk menghindari kehilangan.
Aku hidup untuk merawat apa yang masih ada.
Jika suatu hari nanti nafasku berhenti, aku ingin dikenang bukan sebagai lelaki yang kuat—
Tetapi sebagai lelaki yang hadir.
Yang memilih tinggal ketika keadaan sulit.
Yang belajar meminta maaf.
Yang memberi restu meski hatinya berat.
Yang mencintai tanpa syarat, meski sempat takut.
Usia memang tidak pernah datang dengan suara.
Namun jika didengarkan dengan hati yang tenang, ia selalu membawa pesan yang sama:
Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita berjalan—
Melainkan dengan siapa kita memilih berjalan.
Dan selama Maria masih menggenggam tanganku,
Selama anak-anakku masih menyebut namaku dengan hangat,
Selama aku masih mampu mengucap syukur di setiap pagi—
Aku tahu,
Perjalanan ini, dengan segala luka dan bahagianya,
Telah menjadi kisah yang layak untuk disyukuri.