Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK FINAL: BIKIN ES SERUT DARI JURUS LONG CHEN
Bayangan hitam itu mendarat tepat di antara Feng dan Long Chen. Tidak ada suara benturan. Tidak ada pasir yang berhamburan. Namun, segala suara riuh di stadion tiba-tiba hilang seolah disedot oleh ruang hampa.
Sebuah kubah berwarna ungu pekat langsung mengembang dari tubuh pria bertudung itu, mengurung seluruh arena. Di luar kubah, ribuan penonton, Wasit, hingga Patriark terlihat mematung. Gerakan mereka menjadi sangat lambat, seperti terjebak di dalam air kental.
"Sistem! Apa yang terjadi?!" batin Feng panik. Jantungnya berdebar sangat kencang.
SISTEM MERESPON DENGAN LAYAR MERAH MENYALA: PERINGATAN DARURAT! KUNCI DIMENSI TINGKAT TINGGI DIAKTIFKAN. SEMUA PENGGUNA QI DI DALAM RADIUS INI MENGALAMI KELUMPUHAN SEMENTARA.
"Terus kenapa saya masih bisa bergerak?!"
SISTEM: KARENA TUAN TIDAK MEMILIKI QI SAMA SEKALI. KUNCI INI HANYA MENYERANG JALUR ENERGI SIHIR. SECARA TEKNIS, BAGI DIMENSI INI, TUAN HANYALAH SEBUAH BATU KOSONG.
Feng menelan ludah. "Batu kosong yang sebentar lagi bakal ditumbuk jadi kerikil!"
Di seberang Feng, Long Chen yang sedang merapalkan jurus tiba-tiba tercekik. Aura esnya tertahan. Wajah tampannya berubah pucat pasi. Namun, harga diri sebagai murid jenius nomor satu membuatnya menolak menyerah. Long Chen menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah, membakar sisa energi murninya untuk melawan tekanan dimensi itu.
"Sihir hitam murahan!" raung Long Chen dengan mulut berdarah. Dia mengira kabut gelap dan tekanan ini adalah ulah Feng. "Kau kira trik licik seperti ini bisa mengalahkan es milikku?! Rasakan ini! BADAI ES NERAKA!"
Long Chen menusukkan pedangnya ke tanah.
KRAAAK! KRAAAK!
Bongkahan es raksasa setinggi rumah meledak dari bawah pasir, melesat ke arah Feng dan pria bertudung itu. Suhu di dalam kubah mendadak turun drastis. Napas Feng berubah menjadi uap putih. Hawa dinginnya langsung menusuk tulang.
Pria bertudung abu-abu itu hanya mendengus pelan. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Long Chen. "Bocah berisik. Nyamuk sepertimu tidak pantas ikut campur."
Pria itu hanya menjentikkan jarinya pelan. Namun, gelombang energi yang keluar dari jentikan itu luar biasa mengerikan.
DUAARR!
Setengah dari bongkahan es raksasa Long Chen hancur lebur menjadi serpihan salju. Long Chen ikut terpental ke belakang, menabrak dinding kubah ungu dengan keras hingga memuntahkan darah segar.
Feng mundur beberapa langkah, kakinya gemetar. Dia menatap tumpukan es yang berserakan di depannya, lalu menatap pria misterius itu.
"Kek," panggil Feng dengan suara sedikit bergetar. "Kakek salah arena ya? Tempat pendaftaran panti jompo sekte ada di bangunan sebelah kiri, Kek."
Pria itu perlahan membuka tudung kepalanya. Wajahnya penuh keriput kering seperti mayat hidup, dengan sepasang mata merah menyala tanpa pupil. Dia tersenyum, memperlihatkan gusi hitam tanpa gigi.
"Bagus. Kau masih bisa bercanda di depan kematian," suara kakek itu terdengar parau dan menggema langsung di kepala Feng. "Tubuhmu adalah kanvas yang sempurna. Tidak ada Qi, tapi fisikmu bisa menahan racun dan menghancurkan baja. Saat rohku masuk ke dalam tubuhmu, aku tidak perlu repot membuang energi bawaanmu."
SISTEM MENGELUARKAN ALARM BISING: PERINGATAN! TARGET BERSANGKA INGIN MENGAMBIL ALIH TUBUH TUAN! PROSES PENGHANCURAN JIWA AKAN DIMULAI DALAM 60 DETIK!
"Sistem! Kasih solusi dong! Jangan cuma jadi komentator!" teriak Feng dalam hati. "Gimana cara pecahkan kubah ungu ini biar Patriark bisa masuk?!"
SISTEM: KUNCI DIMENSI INI SANGAT TEBAL. TUAN BUTUH LEDAKAN TENAGA FISIK SEBESAR 500% UNTUK MEMBUAT RETAKAN.
STATUS KALORI SAAT INI: 10%. TUAN BUTUH ASUPAN ENERGI TINGGI DETIK INI JUGA.
Feng melihat ke sekeliling dengan putus asa. "Asupan energi dari mana?! Di sini cuma ada pasir sama bongkahan es!"
SISTEM: ES MENGANDUNG AIR. JIKA DITAMBAHKAN PEMANIS BUATAN TINGKAT TINGGI, GULA AKAN DIUBAH MENJADI LEDAKAN KALORI INSTAN.
Mata Feng langsung berbinar. "Gula? Oh iya! Bekal kabur tadi malam!"
Feng buru-buru merogoh saku dalam jubah kusamnya. Tadi malam, saat dia berencana kabur dari sekte, dia sempat mampir ke dapur kantin VIP dan mencuri sebotol besar sirup merah kental rasa stroberi hutan.
Tanpa membuang waktu, Feng berlari ke arah bongkahan es raksasa sisa jurus Long Chen yang masih berdiri tegak di tengah arena.
Pria tua itu mengangkat alisnya, bingung melihat buruannya malah berlari mendekati balok es alih-alih mencoba menyerang atau kabur.
"Mau lari ke mana kau, Bocah?" Kakek itu mengangkat tangannya. Tali-tali bayangan hitam melesat mengejar Feng.
"Tunggu sebentar, Kek! Saya haus!" balas Feng.
Sesampainya di depan balok es, Feng mengepalkan tangan kanannya.
"Jurus Ketuk Pintu: Versi Penghancur Es!"
BUK! BUK! BUK!
Feng meninju balok es itu dengan kecepatan penuh. Pukulannya sangat terukur, tidak menghancurkan es itu menjadi bongkahan besar, melainkan menyerutnya menjadi butiran salju halus yang menumpuk di atas pasir.
Hanya dalam tiga detik, sebuah gundukan es serut raksasa terbentuk di depan Feng.
Tali bayangan kakek itu hampir mencapai kaki Feng. Tapi Feng bergerak lebih cepat. Dia mencabut sumbat botol sirup merahnya dengan gigi, lalu menyiramkan seluruh isi botol itu ke atas gundukan es salju tersebut.
Warna merah cerah langsung mewarnai es itu, menguarkan aroma manis stroberi yang sangat kuat ke seluruh kubah.
Long Chen yang baru saja sadar dari pingsannya dan berusaha merangkak bangun, menatap pemandangan itu dengan mulut menganga lebar.
"K-kau..." Long Chen menunjuk Feng dengan jari gemetar, matanya merah karena marah dan terhina. "Kau merusak jurus pusaka keluargaku... hanya untuk membuat es serut?!"
"Jangan cerewet, Mas! Ini demi keselamatan bersama!"
Tanpa menggunakan sendok, Feng meraup es serut merah itu dengan kedua tangannya dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Dia menelan es dingin manis itu secara rakus, persis seperti orang kelaparan yang tidak makan seminggu.
"Ugh! Dingin banget!" Feng memegangi kepalanya. "Otak saya beku!"
SISTEM MERESPON DENGAN KILATAN HIJAU TERANG:
GULA KONSENTRASI TINGGI TERDETEKSI!
MEMULAI PEMBAKARAN KALORI INSTAN.
STATUS TENAGA FISIK: 100%... 300%... 500%!
PERINGATAN: KONDISI OVERCHARGE! OTOT TUAN BERADA DI BATAS MAKSIMAL SEBELUM MELEDAK. SALURKAN SEKARANG!
Tubuh Feng langsung memancarkan uap merah yang sangat panas, menetralkan hawa dingin di dalam kubah. Otot-otot di balik jubahnya mengembang padat. Matanya bersinar terang. Rasa dingin di kepalanya langsung hilang, digantikan oleh tenaga gila yang meronta minta dilepaskan.
Kakek misterius itu menyipitkan mata merahnya. "Trik rendahan apa ini? Energi tubuhmu melonjak tanpa ada Qi sedikit pun? Menarik sekali."
Kakek itu mengibaskan tangannya. Puluhan tali bayangan hitam melesat mematuk ke arah dada Feng seperti sekawanan ular kobra.
Tapi Feng yang sedang overcharge gula tidak tinggal diam. Dia butuh sasaran empuk untuk melontarkan pukulan agar getarannya bisa meretakkan kubah ini. Dan sasarannya sudah ada di dekatnya.
Feng menoleh ke arah Long Chen yang masih bersimpuh di tanah.
"Mas Long Chen! Maaf ya, saya pinjam badanmu sebentar buat jadi palu!" teriak Feng.
"Hah? Apa maksud—"
Sebelum Long Chen selesai bicara, Feng melesat ke arahnya dan langsung menampar dada Long Chen dengan telapak tangannya.
PLAAAK!!!
Tamparan itu tidak mengandung niat membunuh, tapi tenaga fisik murni dari 500% kalori es serut stroberi itu mengalir sepenuhnya ke tubuh Long Chen.
Tubuh Long Chen langsung terpental ke udara bagaikan peluru meriam. Dia meluncur deras, melewati tali-tali bayangan sang kakek, dan menghantam dinding kubah ungu itu dengan benturan yang luar biasa keras.
DUUUAAARRR!!!
"GAAAHHH!" Long Chen menjerit singkat sebelum akhirnya pingsan total. Tubuhnya merosot jatuh ke pasir.
Namun, efek dari benturan tubuh Long Chen dan tamparan Feng membuahkan hasil. Dinding kubah ungu yang menyekap mereka mulai menunjukkan retakan besar yang menjalar seperti sarang laba-laba. Cahaya matahari dari luar mulai menerobos masuk melalui celah retakan tersebut.
Di luar sana, Patriark dan Tetua Agung Yue yang sejak tadi berusaha menghancurkan kubah langsung merasakan kelemahan pada pelindung tersebut.
"Kubahnya retak! Serang titik itu bersama-sama!" teriak Patriark. Pedang emas raksasa terbentuk di langit, siap menghancurkan sisa pertahanan kubah.
Di dalam, kakek misterius itu mendecakkan lidah kesal. Rencananya untuk menculik Feng dalam diam hancur berantakan hanya karena semangkuk es serut dan satu tamparan nyasar.
"Bocah licin," geram kakek itu. Aura hitam yang jauh lebih mematikan mulai menyelimuti tubuh tuanya. Wajahnya yang keriput perlahan berubah menjadi wujud iblis bertanduk. "Sepertinya aku harus mematahkan kedua kakimu dulu sebelum menyeretmu pergi!"
SISTEM MENGELUARKAN PERINGATAN MERAH DARAH:
KUNCI DIMENSI AKAN HANCUR DALAM 10 DETIK.
NAMUN TARGET BERSANGKA SEDANG BERSIAP MELUNCURKAN SERANGAN FISIK FATAL! TUAN TIDAK BISA MENGHINDAR!
Kakek itu melesat maju. Lantai arena hancur berkeping-keping setiap kali kakinya memijak. Kecepatannya melampaui batas nalar. Tangan keriput yang kini berubah menjadi cakar hitam tajam mengarah tepat ke leher Feng.
"Sial! Sepuluh detik itu lama banget!" Feng menyilangkan kedua tangannya, bersiap menahan hantaman maut yang entah bisa dia tahan atau tidak.
Jarak cakar kakek itu tinggal satu jengkal dari leher Feng. Bau kematian yang sangat pekat menusuk hidung pemuda itu.
Tepat pada detik yang paling menegangkan itu, sebuah suara raungan kecil namun sangat nyaring terdengar dari arah retakan kubah di atas mereka.
"KYUUUUK!!!"
Sebuah bayangan perak bulat meluncur turun dari celah retakan dengan kecepatan supersonik. Benda itu menghantam kepala sang kakek iblis dengan suara TENG! yang sangat keras, persis seperti panci besi dipukul pakai palu godam.
Kakek itu terpental mundur dua langkah, memegangi kepalanya yang berasap dengan wajah syok berat.
Di pasir arena, menggelinding sesosok naga perak buncit yang sedang memeluk mangkuk makannya. Asap hitam masih keluar dari hidungnya, tapi matanya melotot garang menatap sang kakek iblis.
"Buntel?!" Feng terbelalak. "Katanya kau sakit perut di asrama?!"
Buntel mengusap hidungnya dengan sombong, lalu bersendawa keras, mengeluarkan percikan api dan serpihan besi. Dia sengaja datang menyusul tuannya karena mencium bau bahaya, atau mungkin... karena dia mencium sisa bau es serut stroberi di arena.
Kakek iblis itu menggeram marah, mengusap kepalanya yang benjol. "Naga peliharaan rendahan... Berani sekali kau memukul kepalaku!"
Namun, kemarahan kakek itu terhenti.
PRANGGG!
Kubah ungu itu akhirnya hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul godam. Cahaya matahari siang kembali menyinari seluruh arena. Suara riuh penonton yang panik dan teriakan para panitia langsung memenuhi telinga.
Di langit, Patriark Sekte Pedang Langit melayang turun dengan jubah emas yang berkibar hebat. Di belakangnya, puluhan Tetua dengan pedang terhunus siap mengepung arena.
"Siapa pun kau yang berani mengacaukan turnamanku," suara Patriark menggema dengan kemarahan seorang kaisar. "Bersiaplah meninggalkan nyawamu di sini!"
Feng jatuh terduduk di pasir, memeluk Buntel yang sama-sama kelelahan. Pemuda Level Nol itu menghela napas panjang, menatap Patriark dan kakek iblis yang kini saling berhadapan.
"Syukurlah," gumam Feng sambil mengelap sisa sirup di bibirnya. "Akhirnya bos-bos besar yang bertengkar. Saya cuma mau minta tiket makan gratis saya sekarang."