NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Rangga duduk di meja kerjanya yang sunyi, hanya diterangi lampu temaram.

Tangannya yang biasanya tegas saat menandatangani kontrak bernilai miliaran, kini gemetar hebat saat memegang pena di atas halaman kosong buku harian cokelat milik Linggar.

Ia mulai menuliskan setiap untaian kata yang menyesakkan dadanya.

“Linggar. Aku sudah membaca semuanya. Setiap kata yang kamu tulis adalah tamparan bagiku. Aku pria paling bodoh yang pernah kamu temui. Aku mencintaimu, Linggar. Bukan foto itu, bukan bayangan itu, tapi kamu—wanita hebat yang selalu ada di sampingku. Tolong, beri aku kesempatan untuk menebus semua luka ini.”

Setelah selesai, dengan harapan yang tersisa di sudut hati, ia segera memacu mobilnya kembali ke rumah sakit.

Ia tidak berani mendekati kamar perawatan, maka ia menunggu di kantin rumah sakit dan mengirim pesan kepada Nadya.

Tak lama, Nadya muncul. Wajahnya tampak lelah dan tatapannya masih dingin saat menemui Rangga yang duduk gelisah di pojok kantin.

Rangga segera berdiri dan menyodorkan buku harian itu.

"Nad, tolong berikan ini pada Mbakmu. Aku hanya ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya."

Nadya menerima buku itu, namun ia tidak langsung pergi.

Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah sangat dikenal Rangga. Amplop yang beberapa kali ia robek di kantor.

"Mas..." suara Nadya terdengar datar namun tajam.

"Mbak Linggar sudah sadar sepenuhnya. Dan dia menitipkan pesan ini untuk Mas."

Nadya meletakkan amplop itu di atas meja kantin yang dingin.

"Mbak meminta agar surat pengunduran dirinya kali ini tolong benar-benar ditanda tangani. Dia bilang, dia sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di dekat Mas. Melihat wajah Mas hanya akan membuatnya mengingat betapa rendahnya dia di mata Mas selama ini."

Dunia Rangga seolah runtuh untuk kesekian kalinya.

Surat pengunduran diri itu terasa jauh lebih berat daripada beban mana pun yang pernah ia pikul.

"Nad, tolong katakan padanya. Aku tidak akan menandatanganinya. Aku tidak mau kehilangannya," rintih Rangga.

"Keputusan Mbak sudah bulat, Mas," balas Nadya sambil berbalik pergi.

"Kalau Mas memang mencintainya seperti yang Mas tulis di buku itu, tolong lepaskan dia. Jangan buat dia semakin menderita dengan ego Mas."

Rangga hanya bisa terpaku menatap amplop putih itu.

Di saat ia baru saja ingin memulai segalanya dengan jujur, Linggar justru memilih untuk mengakhiri segalanya selamanya.

Nadya melangkah perlahan memasuki kamar perawatan, aroma obat-obatan yang tajam menyambutnya.

Ia melihat Linggar sedang melamun menatap jendela, matanya kosong meski raga itu telah kembali bernapas tanpa bantuan mesin.

"Mbak, ini buku harianmu. Tadi Mas Rangga menitipkannya," ucap Nadya lembut sambil meletakkan buku cokelat itu di atas pangkuan Linggar.

Setelah Nadya keluar untuk membelikan air mineral, Linggar perlahan membuka halaman buku tersebut.

Jarinya gemetar saat melihat tulisan tangan Rangga yang tegas namun tampak berantakan, mencurahkan segala penyesalan dan pengakuan cintanya. Namun, bukannya merasa tersentuh, hati Linggar justru terasa semakin perih.

Ia teringat jelas tawa Rangga saat mencium pipi Laura.

Ia teringat rasa malu yang luar biasa saat harus bolak-balik sepuluh kali membuat kopi di bawah tatapan menghina rekan-rekan kantornya.

Dengan tangan gemetar, Linggar meraih pena. Di bawah surat Rangga, ia membalasnya dengan kata-kata yang jauh lebih tajam dari sembilu:

"Cinta? Pak Rangga, jangan mengotori kata itu dengan rasa bersalahmu. Anda mencintai 'Nadya' yang cantik dan sempurna, bukan aku. Bagimu, aku hanyalah sekretaris yang 'bukan siapa-siapa' dan 'kotor'. Sepuluh cangkir kopi itu adalah bukti bahwa Anda menikmati penderitaanku. Tolong, tanda tangani surat pengunduran diriku dan biarkan aku pergi dengan sisa harga diri yang masih kumiliki."

Linggar menangis sesenggukan, dadanya sesak mengingat perkataan karyawan admin tempo hari yang menyebutnya "sekretaris yang tidak lagi disayang".

Ia menuliskan setiap hinaan yang ia dengar di kantor, setiap pasang mata yang mengejeknya, dan setiap rasa sakit saat ia dibiarkan kedinginan di bawah hujan.

Kemudian Nadya kembali memberikan buku harian itu.

Rangga mencengkram erat kedua tangannya saat membacanya.

Segera ia menuju ke perusahaannya untuk memanggil karyawannya.

Sesampainya di gedung Steward’s Group, suasana mendadak mencekam.

Rangga datang dengan aura yang sangat gelap. Ia tidak masuk ke ruangannya, melainkan berdiri di tengah-tengah area open space kantor, tempat para staf biasa berkumpul.

"Semua karyawan, kumpul di sini sekarang!" suara Rangga menggelegar, membuat beberapa staf menjatuhkan alat tulis mereka karena terkejut.

Rangga mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah rekaman suara rahasia dan menyebutkan beberapa nama karyawan yang selama ini sering merundung Linggar di pantry maupun di lorong.

"Siska, Beni, dan kamu Ardi," Rangga menunjuk mereka satu per satu dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan di belakang sekretarisku? Kalian pikir kalian punya hak untuk menghina seseorang yang bekerja sepuluh kali lebih keras dari kalian?"

Siska mencoba membela diri, "Tapi Pak, kami hanya—"

"DIAM!" potong Rangga kasar.

"Kalian dipecat. Detik ini juga. Kemas barang-barang kalian dan keluar dari gedung ini sebelum petugas keamanan menyeret kalian!"

Rangga berdiri tegak, napasnya memburu. Ia sedang menghancurkan orang-orang yang melukai Linggar, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa orang yang paling pantas ia pecat dan ia benci adalah dirinya sendiri.

Nadya melangkah masuk ke lobi Steward’s Group dengan wajah yang kaku.

Ia tidak memedulikan tatapan beberapa karyawan yang masih syok melihat drama pemecatan massal yang baru saja terjadi.

Dengan langkah pasti, ia menuju ruangan CEO dan mengamb buku harian cokelat itu di atas meja kerja Rangga yang dipenuhi tumpukan dokumen.

"Mbak Linggar sudah membalas suratmu, Mas," ucap Nadya dingin.

"Setelah ini, tolong jangan cari dia lagi. Berikan dia ketenangan yang pantas dia dapatkan."

Rangga jatuh terduduk di kursinya, menyadari bahwa luka yang ia goreskan sudah terlalu dalam hingga kata "maaf" pun terasa seperti penghinaan baru bagi Linggar.

Sementara itu, di kamar rumah sakit yang sunyi, Linggar bersandar pada bantal dengan napas yang masih terasa berat.

Tangannya yang masih terpasang infus meraih ponselnya.

Dengan tekad yang sudah bulat untuk meninggalkan masa lalunya di Jakarta, ia mencari sebuah nomor di daftar kontaknya: Pak Richard.

Richard adalah mantan atasan Linggar sebelum Rangga mengambil alih perusahaan.

Pria paruh baya itu sudah menganggap Linggar seperti putrinya sendiri karena dedikasi dan kebaikan hati wanita itu selama bertahun-tahun.

"Halo, Pak Richard..." suara Linggar terdengar serak dan bergetar.

"Linggar? Ya Tuhan, saya dengar kamu masuk rumah sakit. Bagaimana keadaanmu, Nak?" suara Richard di seberang telepon terdengar sangat khawatir.

Linggar menahan isak tangisnya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Tapi, saya ingin meminta bantuan. Apakah Bapak masih membutuhkan asisten di Yogyakarta? Saya ingin mengundurkan diri dari Steward's Group."

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum Richard menjawab dengan nada yang hangat dan penuh perlindungan.

"Linggar, pintu rumah dan kantor saya di Yogyakarta selalu terbuka untukmu. Kamu sudah saya anggap keluarga. Setelah kamu sembuh total, datanglah ke sini. Kamu akan bekerja langsung menjadi asisten pribadiku. Lupakan Jakarta, mulailah hidup baru di sini."

Mendengar tawaran itu, Linggar akhirnya bisa mengembuskan napas lega untuk pertama kalinya.

Ia melihat ke arah jendela, membayangkan kota Yogyakarta yang tenang sebagai tempat untuk menyembuhkan hatinya yang telah hancur berkeping-keping.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!