NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Penolakan dan Kepastian

Pagi itu, perpustakaan kota terasa lebih sepi dari biasanya. Cahaya matahari musim semi yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar, menyinari partikel debu yang menari-nari di udara. Lia duduk di kursi favoritnya, namun jemarinya gelisah, terus membolak-balik halaman buku tanpa benar-benar membacanya.

Di seberangnya, Devan duduk dengan gelisah. Ia tidak memakai jaket kulitnya yang garang, melainkan hanya kaos hitam polos yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Di atas meja, bukannya ponsel atau kunci motor, terdapat sebuah kotak kecil berwarna beludru hitam dan setangkai mawar merah segar.

"Lia," suara Devan memecah keheningan, terdengar serak dan penuh tekanan.

Lia mendongak, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. "Ya, Devan?"

Devan menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang lebih besar daripada saat ia menghadapi puluhan lawan di pelabuhan. "Aku sudah memikirkan ini berhari-hari. Sejak pertama kali aku melihatmu menjatuhkan buku di sini, hidupku berubah. Kamu adalah cahaya di tengah kegelapan duniaku."

Devan menggeser kotak kecil itu ke arah Lia. "Aku ingin kita bukan sekadar 'ketua geng dan gadis yang dilindungi'. Aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya. Lia, maukah kamu menjadi pacarku?"

Lia terpaku. Kalimat yang selama ini ia harapkan keluar dari bibir Devan akhirnya terucap. Namun, alih-alih senyum bahagia, gumpalan kesedihan justru muncul di dada Lia. Ia menatap kotak itu, lalu menatap Devan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tidak, Devan. Aku tidak bisa," bisik Lia pelan, suaranya bergetar.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Devan. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang penuh harapan seketika meredup, digantikan oleh kepedihan yang mendalam. "Kenapa? Apa karena aku seorang ketua geng? Apa karena kejadian di pelabuhan itu membuatmu sadar kalau aku terlalu berbahaya untukmu?"

Lia menggeleng cepat, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Bukan karena itu, Devan. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa melakukannya."

"Aku tidak mengerti," Devan mengepalkan tangannya di atas meja.

"Lihatlah dirimu, Devan," Lia menunjuk plester di wajah Devan dan luka-luka di tangannya. "Setiap kali kita bersama, kamu terluka karena melindungiku. Kamu harus membagi fokusmu antara memimpin Black Roses dan memastikan aku tetap bernapas. Aku tidak mau menjadi alasan kamu kehilangan nyawamu. Jika aku menjadi pacarmu, aku akan menjadi titik lemah yang permanen bagimu. Aku lebih baik menjauh daripada melihatmu hancur karena aku."

Lia berdiri, hendak melangkah pergi. Namun, Devan dengan cepat menyambar tangannya, menariknya kembali hingga mereka berdiri sangat dekat di antara rak-rak buku yang tinggi.

"Dengarkan aku, Lia!" Devan menatap mata Lia dengan intensitas yang membakar. "Kamu pikir menjauh darimu akan membuatku aman? Kamu salah. Tanpamu, aku tidak punya alasan untuk tetap hidup dengan benar. Kamu bukan kelemahanku, Lia. Kamu adalah kekuatanku. Saat aku di pelabuhan, saat aku hampir menyerah, bayangan wajahmu yang menungguku adalah satu-satunya hal yang membuatku bangkit kembali."

Devan memegang kedua pipi Lia dengan tangannya yang besar dan hangat. "Jangan takut padaku atau duniaku. Takutlah jika kita harus menjalani hidup ini sendirian tanpa satu sama lain. Aku lebih baik mati melindungimu daripada hidup seribu tahun tapi tidak memilikimu."

Lia terisak, pertahanannya runtuh total. Ia menyadari bahwa ketakutannya hanyalah bentuk lain dari egonya yang ingin melindungi diri dari rasa sakit. Ia melihat ketulusan yang begitu murni di mata pria yang dianggap iblis oleh dunia luar ini.

"Janji kamu tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu?" tanya Lia di sela tangisnya.

Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya diberikan khusus untuk Lia. "Aku janji. Karena sekarang, aku punya alasan untuk selalu pulang."

Lia akhirnya mengangguk, lalu menubruk dada Devan, memeluknya dengan segala rasa rindu dan lega yang membuncah. Devan membalas pelukan itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang memeluk seluruh dunianya.

"Jadi, itu artinya 'iya'?" goda Devan di telinga Lia.

Lia melepaskan pelukannya sedikit, menghapus air matanya, lalu tersenyum manis—senyum paling cantik yang pernah Devan lihat.

"Iya, Devan. Aku mau jadi pacarmu."

Di tengah keheningan perpustakaan itu, sang ketua geng motor yang paling disegani akhirnya resmi memiliki hati sang gadis culun. Devan mengambil kotak beludru itu, mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bunga mawar kecil yang elegan, dan memakaikannya di leher Lia.

"Mulai sekarang," bisik Devan sambil mengecup kening Lia, "kamu adalah Ratu dari Black Roses. Dan tidak akan ada satu pun duri yang berani melukaimu."

Lia memegang liontin itu, merasa beratnya tanggung jawab sekaligus manisnya kepastian. Cerita mereka baru saja dimulai, sebuah babak baru di mana cinta dan bahaya akan berdansa bersama di bawah raungan mesin motor dan aroma kertas buku tua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!