Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Tara, Anak yang Dipilih
Tara tumbuh di rumah besar dengan halaman luas dan pagar tinggi.
Sejak kecil, ia terbiasa dengan segala sesuatu yang rapi: jadwal makan yang teratur, kamar yang selalu wangi, lemari penuh pakaian baru, dan keluarga besar yang hadir di setiap perayaan. Namanya sering dipanggil dengan nada bangga—oleh tante, om, kakek, nenek, dan tentu saja, ayahnya.
“Anak Papa memang pintar.”
“Cucu kesayangan Oma.”
“Lihat, Tara itu anggun sekali.”
Kata-kata itu mengalir begitu saja, seperti sesuatu yang sudah seharusnya.
Dan Tara menerimanya.
Di rumah itu, foto-foto keluarga tertata rapi di dinding. Foto ulang tahun, foto liburan, foto kelulusan. Wajah Tara selalu berada di tengah, tersenyum cerah. Di sampingnya, ayah dan ibu tersenyum dengan bangga.
Tidak ada foto yang disembunyikan.
Tidak ada nama yang dihapus.
Tara tidak pernah merasa ada yang kurang.
Setidaknya, sampai ia mulai cukup dewasa untuk menyadari bahwa kebahagiaan kadang menyimpan bayangan.
Ayah Tara adalah pria yang dihormati keluarga besar.
Ia datang dari garis keturunan yang “baik”, kata Oma. Punya pekerjaan mapan, jaringan luas, dan masa depan yang jelas. Pernikahannya dengan ibu Tara dirayakan besar-besaran. Tidak ada penolakan, tidak ada pengusiran.
Semua berjalan seperti yang diharapkan.
Tara lahir di tengah tepuk tangan.
“Anak pertama, perempuan lagi,” kata Oma saat itu dengan mata berbinar. “Cantik. Sehat. Sempurna.”
Kata *sempurna* itu melekat.
Tara tumbuh dengan ekspektasi yang mengiringi setiap langkahnya. Ia belajar untuk menjadi anak yang baik, murid yang berprestasi, cucu yang sopan. Ia tahu caranya tersenyum di waktu yang tepat, tahu kapan harus diam, tahu bagaimana menjaga nama keluarga.
Ia pandai.
Dan semua orang menyukainya.
Namun, di balik semua itu, Tara sering memperhatikan satu hal kecil yang tidak pernah dibahas.
Ayahnya.
Ada waktu-waktu tertentu ketika ayahnya tampak jauh. Tatapannya kosong, senyumnya tidak sepenuhnya hadir. Biasanya itu terjadi saat ayahnya sendirian di ruang kerja, atau saat ponselnya bergetar dengan nama yang tidak pernah Tara lihat jelas.
Jika Tara bertanya, ayahnya akan menjawab singkat.
“Urusan kerja.”
Dan Tara akan mengangguk.
Karena di rumah itu, tidak semua hal perlu ditanyakan.
Pagi itu, Tara bersiap berangkat sekolah. Seragamnya rapi, rambutnya tergerai sempurna. Ia menuruni tangga dengan langkah ringan.
“Tar, sarapan dulu,” panggil ibunya dari ruang makan.
Tara duduk dan mulai makan. Ayahnya sudah siap dengan setelan kerja, membaca berita di ponsel.
“Papa jemput kamu nanti?” tanya ibunya.
Ayahnya menggeleng. “Papa ada rapat.”
Tara mengangguk. “Nggak apa-apa.”
Ia sudah terbiasa.
Sebelum berangkat, Tara mencium tangan ayah dan ibunya. Ritual kecil yang selalu ia lakukan. Ayahnya mengusap kepalanya.
“Belajar yang baik,” ucapnya.
Tara tersenyum. “Iya, Pa.”
Ia melangkah keluar rumah dengan perasaan tenang.
Ia tidak tahu bahwa di waktu yang sama, ada seorang gadis lain yang berangkat sekolah dengan sepeda tua dan hati yang berat—dengan ayah yang sama.
Di sekolah, Tara adalah pusat perhatian.
Teman-temannya berkumpul di sekitarnya, membicarakan hal-hal ringan: tugas, gosip, rencana akhir pekan. Tara mendengarkan sambil tersenyum, sesekali menimpali.
Ia menikmati itu.
Sampai matanya menangkap sosok di bangku dekat jendela.
Gadis itu.
Kiandra.
Tara tidak tahu kenapa, tapi sejak pertemuan pertama, ia merasa terganggu. Bukan karena Kia melakukan sesuatu. Justru karena Kia terlihat tidak peduli.
Tidak mencari perhatian. Tidak berusaha masuk ke lingkaran mana pun. Tatapannya tajam, sikapnya dingin.
Dan entah kenapa, itu membuat Tara merasa… tersaingi.
“Anak baru itu aneh,” ujar salah satu temannya.
Tara menoleh. “Kenapa?”
“Dingin. Kayak nggak butuh siapa-siapa.”
Tara mengangkat bahu. “Biarin.”
Tapi matanya kembali melirik ke arah Kia.
Ada sesuatu di wajah gadis itu yang terasa familiar. Garis rahang yang tegas. Tatapan mata yang keras. Seperti… bayangan yang pernah ia lihat di wajah ayahnya.
Tara mengerutkan dahi.
Ia mengusir pikiran itu.
Sore hari, Tara dijemput ibunya. Mereka singgah di sebuah restoran untuk makan malam bersama ayah.
Restoran itu nyaman. Lampu hangat, musik lembut. Tara duduk sambil memainkan sedotan minumannya.
“Papa kelihatan capek,” katanya.
Ayahnya tersenyum tipis. “Sedikit.”
Ibunya menepuk tangan ayah Tara. “Kamu harus jaga kesehatan.”
Ayahnya mengangguk.
Saat itulah, tanpa sengaja, Tara melirik ke luar jendela.
Dan ia melihat seorang gadis berdiri di seberang jalan.
Seragamnya sama. Rambutnya terikat asal. Wajahnya terlihat pucat.
Gadis itu menatap ke arah restoran.
Ke arah ayahnya.
Tara membeku.
Ada sesuatu di tatapan itu—bukan kagum, bukan penasaran. Tapi luka yang begitu jelas, bahkan dari jarak sejauh itu.
“Pa…” suara Tara tercekat. “Itu…”
Ayahnya menoleh sekilas, lalu wajahnya berubah.
Hanya sesaat. Tapi Tara menangkapnya.
“Siapa, Pa?” tanya Tara pelan.
Ayahnya menarik napas. “Tidak siapa-siapa.”
Gadis itu berbalik dan pergi.
Tara menelan ludah. Dadanya terasa aneh.
“Papa kenal dia?” tanyanya lagi.
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ibunya melirik suaminya dengan kening berkerut.
“Tara, makan dulu,” ucap ayahnya akhirnya.
Nada itu menutup percakapan.
Namun di kepala Tara, pertanyaan itu justru semakin keras.
Malamnya, Tara berdiri di depan cermin kamar. Ia membuka ikatan rambutnya, menatap wajahnya sendiri.
Wajah yang sering disebut mirip ayahnya.
Ia teringat tatapan gadis sore tadi. Tatapan yang tidak ramah. Tatapan yang menyimpan kemarahan.
“Siapa kamu?” gumam Tara.
Ia meraih ponselnya, membuka media sosial sekolah. Mencari nama Kiandra.
Dan ia menemukannya.
Beberapa foto sederhana. Tidak banyak unggahan. Tidak banyak senyum.
Namun semakin Tara menatap foto itu, semakin perasaan tidak nyaman itu tumbuh.
Garis wajah itu.
Tatapan mata itu.
Terlalu mirip untuk sekadar kebetulan.
Beberapa hari kemudian, Tara mendengar bisik-bisik di rumah.
Oma berbicara dengan ibunya di dapur. Suara mereka pelan, tapi Tara menangkap potongan kata.
“…masa lalu…”
“…jangan sampai Tara tahu…”
“…itu sudah selesai…”
Tara berdiri diam di balik pintu.
Jantungnya berdebar.
Ia melangkah mundur sebelum ketahuan.
Di kamarnya, Tara duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napas.
Apa yang tidak boleh ia tahu?
Tentang apa?
Tentang siapa?
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tara merasa tidak sepenuhnya aman dengan kenyataan yang ia kenal.
Ayah Tara mengetuk pintu malam itu.
“Tara?” panggilnya.
“Masuk, Pa.”
Ayahnya duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya terlihat lelah.
“Kamu akhir-akhir ini sering melamun,” ucapnya.
Tara menatap ayahnya. “Papa pernah bohong sama aku?”
Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”
“Jawab aja,” kata Tara pelan.
Ayahnya menatap lantai cukup lama. “Papa tidak pernah berniat menyakiti kamu.”
Itu bukan jawaban.
Tara mengepalkan tangan. “Ada hal tentang Papa yang aku nggak tahu?”
Ayahnya mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.
Ada penyesalan di sana. Ketakutan. Dan sesuatu yang belum siap diucapkan.
“Kalau suatu hari kamu tahu,” kata ayahnya akhirnya, “Papa harap kamu bisa mengerti.”
Tara menahan napas. “Tentang apa?”
Ayahnya berdiri. “Tidur. Kamu sekolah besok.”
Dan lagi-lagi, pintu ditutup sebelum jawaban datang.
Malam itu, Tara tidak bisa tidur.
Ia memandang langit-langit kamar, memikirkan semua potongan kecil yang tidak masuk akal.
Gadis di seberang jalan.
Wajah yang mirip.
Bisik-bisik Oma.
Ayah yang menghindar.
Untuk pertama kalinya, Tara merasa statusnya sebagai “anak yang dipilih” tidak membuatnya kebal dari rasa takut.
Ia dipilih.
Tapi dipilih dari antara apa?
Dan siapa yang tidak dipilih?
Di sisi lain kota, Kiandra menatap langit-langit kamar yang sama sunyinya.
Dua gadis itu bernaung di bawah darah yang sama—tanpa saling tahu.
Satu tumbuh dengan pengakuan.
Satu tumbuh dengan penolakan.
Dan ketika kebenaran akhirnya terbuka, keduanya akan menyadari:
dipilih atau tidak, luka tetap bisa lahir dari cinta yang setengah-setengah.
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya