NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 SISIK SANG ULAR

Matahari telah melewati puncaknya, dan bayangan-bayangan di Tebing Kehendak mulai memanjang, tampak seperti jari-jari hitam yang mencoba mencengkeram kaki sang Pendaki. Abimanyu kini berada di sebuah lorong sempit, sebuah celah di antara dua dinding cadas raksasa yang begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas dingin dari batu di kedua pundaknya. Di sini, pandangan luas Sang Elang tidak lagi berguna. Di sini, dunia menyempit menjadi garis lurus yang menyesakkan.

Ia melangkah dengan hati-hati, tangannya meraba permukaan batu yang basah oleh rembesan air tanah. Tiba-tiba, sebuah desisan halus, lebih tenang dari embusan angin namun lebih tajam dari petikan dawai, menghentikan langkahnya.

Di sebuah ceruk yang gelap, melingkar dengan anggun di atas tumpukan kerikil yang halus, ia melihatnya: Sang Ular.

Kulitnya tidak terbuat dari daging biasa, sisik-sisiknya berkilau dengan warna zamrud dan perak, tampak seperti perisai kecil yang tumpang tindih dengan presisi yang mengerikan. Ular itu tidak menyerang. Ia tidak menunjukkan taringnya. Ia hanya menatap Abimanyu dengan mata vertikal yang tenang, sebuah mata yang tampak telah menyaksikan lahir dan matinya ribuan peradaban tanpa pernah merasa bosan.

"Kau melangkah dengan kaki yang kaku, Pendaki," desis sang ular. Suaranya tidak datang dari udara, melainkan seolah-olah merambat melalui getaran tanah yang dipijak Abimanyu. "Kau berjalan seolah-olah dunia ini adalah penggaris panjang yang memiliki titik awal dan titik akhir. Kau masih membawa bau 'garis lurus' dari Lembah Nama."

Abimanyu menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin. "Aku mendaki untuk mencapai puncak," jawabnya, suaranya bergema di lorong sempit itu. "Setiap langkahku adalah kemajuan. Aku telah meninggalkan masa lalu di bawah sana."

Sang Ular tertawa—sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan daun-daun kering. Ia mulai mengurai lingkarannya, bergerak dengan gerakan gelombang yang sangat lentur, seolah-olah tulang-tulangnya terbuat dari cairan baja.

"Kemajuan?" tanya sang ular dengan nada mengejek. "Lihatlah sisik-sisikku. Setiap sisik adalah sebuah momen. Dan lihatlah bagaimana tubuhku melingkar. Di mana kepalaku berakhir dan di mana ekorku bermula? Kau menyebutnya masa lalu, kau menyebutnya masa depan. Tetapi bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan bumi, segalanya adalah Lingkaran yang Kembali."

Abimanyu terdiam. Ia teringat akan teori-teori sejarah yang ia ajarkan dulu—garis linear kemajuan manusia, evolusi peradaban yang selalu menuju ke atas. Namun di hadapan ular ini, teori itu tampak seperti mainan anak-anak yang rapuh.

"Segala sesuatu yang lurus adalah kebohongan," lanjut sang ular, kepalanya kini sejajar dengan wajah Abimanyu. "Segala sesuatu yang jujur adalah melingkar. Waktu itu sendiri adalah sebuah lingkaran yang bengkok. Jika kau mendaki cukup tinggi, kau hanya akan menemukan dirimu kembali di titik awal, tetapi dengan mata yang berbeda. Apakah kau siap untuk menghidupi hidupmu kembali, ribuan kali, tanpa ada yang berubah sedikit pun? Itulah beban terberat, namun itulah tarian yang paling mulia."

Ular itu meluncur melewati kaki Abimanyu, bergerak melalui celah-celah batu yang bahkan tidak bisa dimasuki oleh ujung jari manusia. Ia masuk ke dalam kegelapan, lalu muncul kembali dari arah yang tak terduga.

"Kau terlalu kaku, Sang Profesor," bisik ular itu di dekat telinga Abimanyu. "Pikiranmu masih terbuat dari beton universitas. Jika batu ini runtuh, kau akan patah. Tetapi lihatlah aku. Aku tidak memiliki kaki untuk berdiri, namun aku bisa mencapai tempat yang tak bisa dicapai oleh Elangmu. Rahasiaku? Aku tidak melawan bentuk dunia, aku menyesuaikan diri dengannya untuk menaklukkannya."

Abimanyu menatap jemarinya yang lecet dan kaku. Selama ini, ia menganggap kekuatan adalah tentang ketegasan, tentang berdiri tegak seperti tiang pancang. Ia menganggap integritas intelektual adalah tentang memegang satu prinsip secara kaku hingga akhir.

"Kelenturan bukanlah kelemahan," sang ular seolah membaca pikirannya. "Kelenturan adalah kecerdasan tertinggi dari materi. Hanya kayu yang kering yang akan patah tertiup badai, rumput yang melengkung akan tetap hijau setelah badai berlalu. Kau ingin melampaui Manusia Kertas? Maka kau harus belajar menjadi cair. Kau harus berani membengkokkan logika lamamu agar tidak hancur oleh realitas baru."

"Lembah Nama mengajarkan kami untuk mendefinisikan segalanya dalam kotak-kotak yang rapi," kata Abimanyu pelan. "Kami takut pada lingkaran karena lingkaran tidak memiliki 'hasil akhir' yang bisa diukur dengan statistik kependudukan atau indeks sitasi."

"Karena mereka takut pada keabadian," jawab sang ular. "Mereka ingin segala sesuatu selesai agar mereka bisa beristirahat. Mereka ingin 'target' agar mereka bisa berhenti bergerak. Tetapi di Tebing Kehendak, tidak ada kata istirahat. Yang ada hanyalah pengulangan yang kreatif. Kau harus menjadi seperti sisik-sisikku: setiap bagian adalah unik, namun setiap bagian adalah bagian dari keseluruhan yang tak terputus."

Abimanyu mulai mencoba menggerakkan tubuhnya dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi memaksakan ototnya untuk melawan batu, melainkan mencoba merasakan tekstur batu itu, mencari aliran alami dari setiap retakan. Ia mulai bergerak bukan sebagai pejuang yang menyerang, melainkan sebagai penari yang merespons irama gunung.

"Mata Elang akan menunjukkanmu tujuan," sang ular memberikan nasihat terakhirnya saat ia mulai merayap kembali ke dalam lubang gelap di dasar tebing. "Tetapi Sisik Ular akan menjagamu agar tetap hidup selama perjalanan. Jangan benci lingkaranmu, Abimanyu. Cintailah setiap pengulangan, cintailah setiap penderitaan yang kembali, karena itulah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kau lebih kuat dari waktu."

Ular itu menghilang sepenuhnya ke dalam perut bumi, meninggalkan aroma tanah basah dan kesunyian yang dalam. Abimanyu berdiri sendirian di lorong sempit itu, namun ia tidak lagi merasa sesak.

Ia menyadari bahwa pendakian ini bukanlah sebuah garis lurus menuju "pencerahan" yang sekali jadi. Ini adalah proses melingkar di mana ia harus terus-menerus menghancurkan dan membangun kembali dirinya sendiri. Setiap langkah yang ia ambil adalah pengulangan dari langkah sebelumnya, namun dilakukan dengan kesadaran yang lebih tajam.

Ia melihat ke bawah, ke arah sepatu kulitnya yang kini telah robek dan berubah bentuk mengikuti lekuk kakinya. Sepatu itu telah kehilangan bentuk aslinya dari pabrik, ia telah menjadi "lentur" karena penderitaan.

"Aku bukan lagi penguasa garis lurus," gumam Abimanyu. "Aku adalah pengikut Lingkaran. Aku akan mengalir melalui cadas ini seperti air, aku akan melingkar seperti ular, dan aku akan bangkit kembali setiap kali aku jatuh."

Abimanyu melanjutkan pendakiannya melalui lorong sempit itu. Ia tidak lagi berjalan dengan hentakan kaki yang berat. Gerakannya kini lebih halus, lebih sunyi, dan lebih mematikan bagi keraguan yang mencoba menghambatnya. Ia telah memiliki mata Elang untuk melihat puncak, dan kini ia memiliki sisik Ular untuk menelusuri jurang.

Di atas sana, langit mulai berubah warna menjadi jingga yang membara, dan Abimanyu tahu bahwa ujian berikutnya tidak lagi datang dari binatang simbolis, melainkan dari sisa-sisa kemanusiaan yang masih tertinggal jauh di bawah sana—sebuah penglihatan tentang mereka yang memilih untuk tidak pernah mendaki.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!