Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Pria itu gigih bahkan memaksa Berlian dan Maura untuk mengikutinya.
"Hhhmmm baiklah. Kami ikut. Lumayan lah dapat makan gratis di resto semahal ini," gurau Maura. Berlian menyenggol lengan Maura, membuatnya terhuyung.
Kini Berlian dan Maura berada di dalam ruang VIP sepuluh, ruangan yang berhadapan dengan VIP delapan.
"Anda?" Berlian tertegun melihat pria setengah baya yang ditemuinya beberapa hari yang lalu bersama Dom.
"Duduk lah!" suruhnya.
"Kamu mengenalnya?" tanya Maura berbisik dan dijawab anggukan Berlian.
Maura menatap kagum pria yang masih terlihat aura ketampanannya meski mulai termakan usia.
"Dom mana?" tanya nya.
Berlian menggaruk kepala nya yang tak gatal.
Mana Berlian tau jadwal rinci Dominic.
"Bilang ke dia, suruh cepat pulang. Banyak yang perlu dia urus di sini," seru nya.
Berlian mengangguk.
Seorang pelayan datang, memberikan buku menu ke Berlian dan Maura.
"Pesanlah sesuka kalian!" serunya.
"Siap tuan," Maura merespon cepat.
Berlian menyenggol lengan sahabat yang tak ada jaimnya sama sekali.
"Mumpung gratis," seru Maura sembari nyengir kuda.
Berlian tersenyum kikuk, merasa nggak enak dengan tuan Wiranata.
"Santai aja," sela tuan Wiranata.
"Tuh kan, tuan besar aja ngebolehin," tukas Maura.
"Maaf tuan, teman saya ini memang suka malu-maluin," kata Berlian.
Tuan Wiranata terkekeh.
Sambil menunggu makanan datang, tuan Wiranata memulai obrolan.
"Oh ya Berlian, sejak kapan kenal Dom?" tanya nya.
Berlian tertawa jika mengingatnya.
.
POV Berlian
Berlian terlambat bangun. Padahal harus bersiap tes wawancara di perusahaan yang lama diincar.
Malamnya harus menyelesaikan setrikaan segunung, agar paginya tinggal fokus untuk wawancara. Malah berakhir bangun kesiangan.
Sejak kuliah, Berlian bercita-cita untuk kerja di perusahaan itu. Dan hari ini Berlian mendapat kesempatan emas.
"Apes banget gue, mana jam delapan harus berada di sana," Berlian bangun dan mandi tergesa.
Melewatkan sarapan pagi, Berlian harus segera berangkat.
Berlian menunggu lift terbuka, "Lama amat sih," gerutunya. Berlian tekan lagi tombol naik.
"Alhamdulillah, akhirnya," plong hati Berlian saat lift terbuka.
Berlian langsung masuk tanpa memperhatikan tanda di atas pintu lift.
Saat pintu hampir tertutup, sebuah tangan menahan dan pintu batal tertutup.
"Cepatlah tuan, saya keburu telat," kata Berlian tergesa.
Dua orang pria ber jas rapi sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka sempurna.
Ekspresi berbeda didapati Berlian dari dua orang pria itu.
Satunya seakan menyuruh keluar dari lift, satunya lagi mengamati Berlian dari ujung kepala sampe ujung kaki.
"Tuan-tuan, masuk nggak?" tanya ulang Berlian.
Keduanya kompak masuk beriringan.
Suasana sunyi tercipta.
"Maaf tuan, saya turun lantai delapan," bilang Berlian pada pria yang berada dekat tombol lift.
"Anda mendengar saya?" ulang Berlian karena tak ada respon.
"Maaf Nona, tapi lift ini disetting langsung ke lantai teratas," ujar pria sebelah Berlian.
"Ooopsss, perusahaan macam ini? Lift nggak bisa berhenti di tiap lantai," sahut Berlian.
Pria di depan Berlian membalikkan badan, gemas kali mendengar wanita cerewet di belakangnya.
"Karena lift ini untuk pimpinan tertinggi perusahaan Nona. Oh ya siapa nama anda?" serunya dengan tatapan tajam.
"Berlian Putri Wiranata," kata Berlian percaya diri.
Tragedi lift terlewat karena setelah sampai lantai teratas, Berlian musti turun dua lantai melewati tangga.
"Capek banget nih kaki, mana pakai heel's lagi," gerutu Berlian.
Belum juga pantatnya menyentuh kursi, nama nya dipanggil untuk wawancara.
Berlian menata hati dan menyiapkan mental dengan menghirup nafas dalam-dalam.
"Semangat Berlian," ujarnya untuk menyemangati diri sendiri.
Berlian kaget, saat pria yang bersamanya di lift sedang duduk di antara empat pewawancara yang lain.
'Kok bisa dia lebih dulu sampai di sini?' tanya Berlian dalam benak.
Wawancara untuk Berlian dipegang langsung oleh pimpinan tertinggi, tak ada yang bisa membantahnya.
Tragedi salah lift itu lah pertemuan Berlian dengan Dominic, dan saat itu juga Berlian diterima di perusahaan milik Dom.
.
Berlian tersenyum simpul jika mengingat ekspresi Dom waktu itu.
Berlian tersentak kala tangan Maura menyentuh kening nya, "Nggak demam kan?"
"Apaan sih?" tangan Maura diturunkan oleh Berlian dari keningnya.
"Teman saya ini memang gini tuan. Kadang tersenyum sendiri, kadang menangis sendiri. Mana nggak ngajak saya lagi. Saya kan jadi bingung," ucap Maura panjang.
Berlian tergelak.
Tuan Wiranata pun ikutan mengurai senyum.
Obrolan terjeda saat makanan yang dipesan datang.
"Berlian, apa kamu kenal tuan Adrian Kusuma?" tanya tuan Wiranata saat Berlian sedang mengunyah makanan.
Berlian menghentikan kunyahannya.
"Kenapa menanyakan hal itu Tuan?" tukas Berlian.
"Hhhmmm kebetulan saat aku balik dari toilet tadi, aku melihat tuan Adrian ngobrol sama kamu di depan?" tanya tuan Wiranata.
"Tuan mengenalnya?" seru Berlian.
"Tentu saja. Kamu juga mengenalnya?" tanya balik tuan Wiranata.
"Dia ayahku," bilang Berlian lirih.
Meski tak diakui sebagai anak kandung, toh Berlian hidup bersama mereka selama puluhan tahun.
"Hhhmmmm," tuan Wiranata mengangguk bijaksana.
Berlian meneruskan makan.
Tatapan tuan Wiranata tak lepas memandang Berlian.
Berlian yang merasa diperhatikan, "Ada yang salah tuan?" tanya Berlian.
"Oh nggak...nggak. Silahkan lanjut makannya," sahut tuan Wiranata mempersilahkan.
"Makasih," balas Berlian.
"Kalau longgar mampirlah ke perusahaan W, kamu bisa belajar dari sana," tuan Wiranata memberi tawaran.
"Makasih tuan. Dengan senang hati. Tapi ada tuan Dom, selaku atasan saya dan pemilik perusahaan Wijaya," tolak Berlian dengan halus.
"Ha... Ha... Benar juga. Kenapa aku bisa melupakan sosok cerdas Dom," pria setengah baya itu tertawa lepas.
Ponsel tuan Wiranata berdering
"Bentar," tuan Wiranata meraih ponsel dan melihat siapa yang menghubungi nya.
"Wah, panjang umur banget nih anak," ucap tuan Wiranata dan menunjukkan layar ponsel ke arah Berlian.
Ada nama Dominic Alexander di sana.
Tuan Wiranata menggeser layar ponsel yang dipegang.
"Uncle, berani sekali makan siang dengan Berlian," belum juga ada sapa pembukaan, Dom sudah ngomel tak karuan.
Berlian menautkan alis, 'Darimana dia tahu?' tanya Berlian dalam benak.
"Makanya jangan keseringan pergi, kalau tak ingin kekasih hatimu uncle sabotase," pria setengah baya itu tertawa lepas.
Menurut Berlian, Tuan Wiranata ini memang satu versi dengan Dom. Jika saling mengobrol satu sama lain, maka balok es itu akan mencair. Lain hal nya kalau tak akrab, jangan harap mendapatkan tawa mereka berdua. Dan Berlian sering mendapatkan kesempatan langka itu.
"Awas saja kalau uncle berani, perusahaan uncle akan ku sabotase balik," bala Dom.
"Ha ... Ha....," tawa lepas kembali terdengar.
"Uncle, jika ingin bicara sebaiknya nunggu aku balik," bilang Dom.
"Baiklah, akan aku pertimbangkan," balas tuan Wiranata.
Panggilan itu berakhir, menyisakan kekepoan pada Berlian. 'Apa yang akan mereka bicarakan? Wah, pasti tak jauh dari tema bisnis,' pikir Berlian.
"Oh ya Berlian, datanglah bersama Dom saat Dom sudah balik sini," ucap tuan Wiranata dengan tatapan teduh.
Berlian mengangguk, 'Terserah tuan Dom saja,' batin Berlian.
Pertemuan di resto itu menyisakan banyak tanya di benak Maura.
.
.
Ditunggu like, komen, subscribe nya guysss
💖