Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: MEMAAFKAN BAGAS
#
Tiga hari setelah kejadian di gang itu, aku dapet telepon dari Pak Budi.
"Satria, kamu bisa dateng ke kantor polisi sebentar? Ada yang mau kami bicarakan soal kasus Bagas."
"Baik, Pak. Saya kesana sekarang."
Aku pamit sama ibu yang lagi nyuci. "Bu, Satria ke kantor polisi bentar ya."
Ibu langsung panik. "Kenapa? Ada masalah apa lagi?"
"Gak ada apa apa, Bu. Cuma diminta dateng. Tenang aja."
Ibu pegang tangan aku erat. Tangannya basah, dingin. "Sat... ibu takut. Ibu takut kamu kenapa kenapa lagi..."
Aku peluk ibu. "Satria gak kenapa kenapa kok Bu. Satria janji."
***
Di kantor polisi, Pak Budi jelasin situasinya.
"Jadi gini, Sat. Bagas itu statusnya sekarang tahanan sementara. Dia bisa kena pasal ancaman dengan senjata tajam. Hukumannya bisa lima tahun penjara."
Jantung aku langsung berdetak kenceng. "Lima tahun, Pak?"
"Iya. Tapi... karena dia masih di bawah umur, belum genap delapan belas tahun, dan ini kasus pertamanya, ada kemungkinan hukumannya diringankan. Apalagi kalo ada testimoni dari korban yang bilang dia mau kasih maaf."
Pak Budi natap aku. "Satria, kamu yakin mau kasih testimoni yang meringankan dia? Padahal dia hampir bunuh kamu."
Aku diem sebentar. mikir.
Bagas. Anak yang dulu nyiksa aku tiap hari. Yang lempar sampah ke muka aku. Yang robek robek buku aku. Yang bikin hidup aku kayak neraka di sekolah.
Tapi... dia juga anak yang sekarang lagi di posisi yang sama kayak aku dulu. Jatuh miskin. Dijauhin. Direndahin.
"Pak... saya mau kasih testimoni yang meringankan dia."
Pak Budi senyum tipis. "Kamu yakin?"
"Yakin, Pak."
"Baiklah. Tapi sebelum itu... kamu mau ketemu dia? Dia dari kemaren minta ketemu kamu. Tapi saya bilang tunggu kamu yang putuskan."
Aku ngangguk pelan. "Iya Pak. Saya mau ketemu dia."
***
Ruang tahanan di kantor polisi itu sempit. Ada jeruji besi. Bau apek.
Bagas duduk di dalam. Bajunya kucel. Rambutnya acak acakan. Matanya bengkak kayak habis nangis.
Waktu dia liat aku masuk, dia langsung berdiri. Tapi gak deket ke jeruji. Cuma berdiri di pojokan. Nunduk.
"Bagas," panggil aku pelan.
Dia angkat kepala dikit. Matanya merah.
"Sat... maaf... maaf banget..."
Suaranya serak. Gemetar.
Aku deket ke jeruji. Berdiri di depannya cuma terpisah besi.
"Kenapa lu minta maaf sekarang? Kenapa bukan dulu waktu lu siksa aku tiap hari di sekolah?"
Bagas nunduk lagi. Tangannya ngepal.
"Aku... aku gak tau Sat. Dulu aku... aku jahat. Aku sombong. Aku gak ngerti... gak ngerti betapa sakitnya jadi lu..."
"Sekarang lu ngerti?"
Dia ngangguk. Air mata netes ke lantai.
"Sekarang aku ngerti... sekarang aku ngerasain sendiri... rasanya dihina... dijauhin... direndahin... rasanya... rasanya sakit banget, Sat..."
Suaranya putus putus. Dia jatuh duduk dilantai. Nangis keras.
"Aku kehilangan segalanya... rumah... mobil... temen temen... bahkan ayah... ayah dipenjara delapan tahun gara gara korupsi yang... yang aku bahkan gak tau dia lakuin..."
Dia angkat kepala. Natap aku dengan tatapan putus asa.
"Ibu sakit... sakit jiwa gara gara stress. Dia sekarang di RSJ. Adik aku yang masih SD... dia berhenti sekolah gara gara gak ada biaya. Dan aku... aku jadi sampah masyarakat yang... yang pengen mati aja rasanya..."
Aku diem. Dengerin dia nangis.
Sebagian dari aku pengen bilang, "Rasain. Lu dulu ngejek aku kayak gitu. Sekarang rasain sendiri."
Tapi sebagian lain dari aku... kasian. Kasian sama dia yang sekarang ada di posisi paling bawah. Yang udah kehilangan segalanya.
"Gas... lu tau kan kenapa gue ngebongkar korupsi itu?"
Bagas ngangguk pelan.
"Gue ngebongkar bukan buat balas dendam. Bukan buat ngancurin keluarga lu. Tapi karena... karena apa yang ayah lu lakuin itu salah. Dia nyuri hak anak anak miskin kayak gue. Dia nyuri masa depan kami."
Bagas nangis makin keras.
"Ayah lu yang salah Gas. Bukan lu. Lu cuma... cuma anak yang gak tau apa apa. Yang nikmatin hasil kerja ayah tanpa tau itu uang haram."
Aku duduk di lantai juga. Berhadapan sama Bagas lewat jeruji.
"Tapi sekarang lu udah tau. Sekarang lu udah ngerasain. Dan sekarang... sekarang lu bisa pilih. Mau jadi orang yang terus dendam dan nyalahin orang lain? Atau mau bangkit dan jadi orang yang lebih baik?"
Bagas angkat kepala. Matanya merah bengkak.
"Aku... aku gak tau gimana caranya bangkit, Sat... aku gak punya apa apa lagi..."
Aku senyum tipis. "Dulu gue juga gak punya apa apa. Tapi gue bangkit. Karena gue percaya... kita gak didefinisikan sama apa yang kita punya. Tapi sama apa yang kita lakuin."
Bagas nangis lagi. Kali ini lebih pelan.
"Sat... aku minta maaf... buat semua yang aku lakuin ke lu dulu... aku jahat... aku brengsek... aku..."
Aku ulurin tangan lewat jeruji.
Bagas natap tangan aku. Ragu.
"Aku maafin lu, Gas. Sekarang... sekarang saatnya lu maafin diri lu sendiri. Dan bangkit. Buktiin kalo lu bisa jadi orang yang lebih baik."
Bagas pelan pelan angkat tangannya. Tangannya gemetar. Dia raih tangan aku.
Genggamannya lemah. Dingin.
Tapi ada sesuatu di genggaman itu. Sesuatu yang... tulus.
Untuk pertama kalinya dalam hidup aku, aku ngerasain Bagas sebagai manusia. Bukan sebagai monster yang dulu nyiksa aku.
Dia cuma anak yang tersesat. Yang kehilangan arah. Yang butuh bantuan.
"Terima kasih Sat... terima kasih udah maafin aku... terima kasih..."
Kami berdua diem gitu. Tangan masih saling genggam lewat jeruji.
Sampe akhirnya Pak Budi masuk.
"Satria, waktunya udah habis."
Aku lepas genggaman. Berdiri.
"Gas... gue bakal kasih testimoni di pengadilan nanti. Gue bakal bilang ke hakim kalo lu masih bisa dibenerin. Kalo lu masih punya masa depan."
Bagas berdiri juga. Nunduk hormat.
"Terima kasih, Sat... makasih banget..."
***
Seminggu kemudian. Sidang pertama kasus Bagas.
Aku dateng ke pengadilan. Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari nemenin.
"Sat, lu yakin mau lakuin ini?" tanya Vanya sebelum masuk ruang sidang.
"Yakin."
"Tapi dia hampir bunuh lu..."
"Iya. Tapi dia gak jadi bunuh aku kan? Dia masih bisa berubah."
Adrian geleng geleng kepala. "Lu terlalu baik sih Sat. Tapi gue dukung lu."
Di ruang sidang, Bagas duduk di kursi terdakwa. Dia pake baju orange tahanan. Mukanya pucat. Kurus.
Di belakangnya ada nenek nya. Satu satunya keluarga yang masih peduli sama dia. Neneknya nangis terus sambil pegang tasbih.
Hakim mulai sidang. Jaksa baca dakwaan.
"Terdakwa Bagas Pradipta didakwa melakukan ancaman dengan senjata tajam kepada saksi korban Satria Bumi Aksara pada tanggal..."
Aku dengerin semua. Jantung dag dig dug.
Giliran aku dipanggil naik ke kursi saksi.
"Saksi Satria Bumi Aksara, silakan berikan kesaksian Anda."
Aku berdiri. Jalan ke depan. Duduk di kursi saksi.
Jaksa mulai tanya.
"Saksi, benar bahwa pada tanggal tersebut terdakwa mengancam Anda dengan pisau?"
"Benar."
"Apakah Anda merasa terancam nyawanya?"
Aku diem sebentar.
"Awalnya... iya. Saya takut. Tapi kemudian... saya ngeliat dia bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai anak yang... yang putus asa."
Jaksa naik alisnya. "Maksud saksi?"
"Bagas itu... dia kehilangan segalanya. Ayahnya dipenjara. Ibunya sakit jiwa. Dia jatuh miskin. Dia dijauhin temen temen. Dia... dia di posisi yang sama kayak saya dulu waktu dia nyiksa saya di sekolah."
Ruang sidang mulai hening.
"Saya ngeliat dia bukan sebagai penjahat. Tapi sebagai korban. Korban dari kesalahan orang tuanya. Dan saya percaya... dia masih bisa berubah. Dia masih muda. Dia masih punya kesempatan."
Hakim bertanya. "Saksi, apa Anda memberikan maaf kepada terdakwa?"
Aku natap Bagas. Dia natap aku dengan mata berkaca kaca.
"Iya, Yang Mulia. Saya memaafkan dia. Dan saya mohon kepada majelis hakim... berikan dia kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan hancurkan masa depannya dengan hukuman yang berat."
Nenek Bagas nangis keras. Dia sujud syukur di lantai pengadilan.
Bagas juga nangis. Dia berdiri. Membungkuk dalam dalam ke arah aku.
"Terima kasih, Sat... terima kasih..."
Hakim ketuk palu. "Baik. Majelis akan mempertimbangkan kesaksian saksi korban."
***
Dua minggu kemudian. Putusan.
Hakim bacain putusannya.
"Majelis hakim memutuskan. Terdakwa Bagas Pradipta terbukti melakukan ancaman dengan senjata tajam. Namun mempertimbangkan usia terdakwa yang masih di bawah umur, serta kesaksian dari korban yang memberikan maaf, maka majelis hakim menjatuhkan hukuman sebagai berikut:"
Semua orang di ruang sidang pada diem. Nunggu.
"Terdakwa dikenakan hukuman pengawasan selama satu tahun dengan wajib lapor setiap bulan kepada petugas Bapas. Terdakwa juga wajib mengikuti program rehabilitasi mental dan konseling. Apabila terdakwa melanggar ketentuan ini, maka hukuman penjara akan diberlakukan."
Palu diketuk.
"Sidang ditutup."
Nenek Bagas langsung nangis lega. Dia peluk Bagas yang juga nangis.
Bagas natap aku dari kejauhan. Dia membungkuk hormat.
Aku senyum. Ngangguk.
Adrian tepuk pundak aku. "Lu luar biasa, Sat."
Vanya juga senyum. "Iya. Lu kasih dia kesempatan kedua yang... yang mungkin gak semua orang rela kasih."
Arjuna nambah. "Semoga dia gak sia siain kesempatan ini."
Nareswari bisik pelan. "Aku yakin dia gak akan sia siain."
***
Diluar gedung pengadilan, Bagas sama neneknya nunggu aku.
Waktu aku keluar, Bagas langsung deket.
"Sat..."
Dia gak tau harus ngomong apa. Cuma berdiri gugup.
Neneknya yang ngomong. "Nak Satria... nenek terima kasih. Terima kasih udah kasih cucu nenek kesempatan. Nenek doain kamu sukses selalu."
Nenek itu peluk aku sambil nangis. Pelukan yang erat. Pelukan seorang nenek yang hampir kehilangan cucunya.
Aku peluk balik. "Sama sama, Nek. Jaga Bagas baik baik ya."
"Iya nak. Nenek janji."
Bagas masih berdiri diem. Nunduk.
Aku deket ke dia. "Gas, ini kesempatan kedua lu. Jangan sia siain."
Dia ngangguk cepet. "Iya Sat. Aku janji. Aku bakal berubah. Aku bakal jadi orang yang lebih baik."
"Bagus. Dan kalau lu butuh bantuan buat bangkit... organisasi kami Mimpi Untuk Semua bisa bantuin. Kami kasih mentoring gratis. Bantuin cari beasiswa. Apa aja yang lu butuhin."
Bagas angkat kepala. Matanya berbinar. "Beneran, Sat?"
"Beneran."
Dia nangis lagi. Kali ini nangis bahagia.
"Terima kasih Sat... terima kasih... aku... aku gak nyangka lu masih mau bantuin aku setelah semua yang aku lakuin..."
Aku senyum. Inget kata kata ayah dulu. Kata kata yang selalu nempel di hati aku.
"Ayah aku dulu pernah bilang... Sat, kamu itu bintang ayah. Jadilah bintang yang bersinar indah. Bersinar bukan cuma buat diri sendiri, tapi buat orang lain juga."
Aku natap Bagas. "Dan aku percaya... kalau kita diinjak, kita harus bangkit buat bersinar. Diinjak untuk bersinar. Itu yang bikin kita kuat."
Bagas nangis sambil senyum. "Diinjak untuk bersinar..."
Dia ulang kata kata aku pelan. Kayak lagi ngapalin.
"Iya Gas. Diinjak untuk bersinar. Lu udah diinjak. Sekarang saatnya lu bersinar."
Kami berdua saling jabat tangan. Kali ini bukan genggaman lewat jeruji. Tapi genggaman di bawah langit terbuka.
Genggaman dua orang yang... yang sama sama pernah jatuh. Tapi sama sama mau bangkit.
***