Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Tetua Bei
Rombongan Keluarga Ao memasuki Kota Yanjing tanpa hambatan berarti. Dengan lambang keluarga besar terpasang jelas di kereta kuda dan pengawal berbaris rapi, para penjaga gerbang hanya melakukan pemeriksaan sekilas sebelum segera membuka jalan. Gerbang batu raksasa itu perlahan terbuka, menelan rombongan ke dalam hiruk-pikuk kota kekaisaran.
Begitu melewati gerbang, suasana langsung berubah. Jalan utama dipenuhi pedagang, pendekar, bangsawan, dan rakyat biasa yang berlalu-lalang. Bangunan tinggi berjajar rapat di kedua sisi jalan, sebagian tampak megah, sebagian lain sudah tua dan kusam dimakan usia. Suara tawar-menawar, derap kaki kuda, dan teriakan penjaja bercampur menjadi satu, membentuk denyut hidup Kota Yanjing.
Tak lama kemudian, rombongan pun berhenti di sebuah persimpangan besar.
“Senior Bei,” kata Ao Lie dengan sikap hormat, “kediaman Keluarga Ao berada di arah timur kota. Jika berkenan, aku sungguh berharap Senior dan… murid Senior bisa tinggal bersama kami selama berada di Yanjing.”
Tatapan Tetua Peng Bei tenang saat ia menggeleng pelan.
“Tidak perlu. Kami punya urusan sendiri.”
Jawaban itu singkat, namun tegas. Ao Lie tidak berani memaksa. Ia hanya menangkupkan tangan sekali lagi, lalu memberi perintah pada pengawalnya. Rombongan pun berpisah di sana. Kereta Keluarga Ao bergerak menjauh, sementara Tetua Peng Bei dan Gao Rui turun dan berdiri di pinggir jalan, menyaksikan hingga rombongan itu lenyap di balik keramaian.
Tanpa banyak bicara, Tetua Peng Bei memimpin langkah menuju bagian kota yang lebih tenang. Ia berjalan dengan mantap, seolah sudah sangat mengenal seluk-beluk Yanjing. Beberapa belokan kemudian, mereka tiba di sebuah penginapan tua namun terawat. Papan kayunya sederhana, tanpa hiasan mencolok, namun aura tenang menyelimuti tempat itu.
Tetua Peng Bei langsung memesan dua kamar, satu untuk dirinya, satu untuk Gao Rui.
Malam itu berlalu dengan sunyi. Kota Yanjing yang ramai seolah menjauh di balik dinding kamar. Gao Rui beristirahat tanpa banyak pikiran, sementara Tetua Peng Bei duduk lama di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela tertutup, pikirannya melayang entah ke mana.
Keesokan paginya, setelah sarapan sederhana, keduanya meninggalkan penginapan.
“Kita ke mana?” tanya Gao Rui datar sambil berjalan di sisi Tetua Peng Bei.
“Ke kediaman Keluarga Nao,” jawab Tetua Peng Bei singkat.
Gao Rui tidak bertanya lagi. Namun di dalam hatinya, ia merasa tujuan ini bukanlah urusan sepele.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kompleks rumah besar yang tampak jauh berbeda dari bayangan keluarga bangsawan. Gerbangnya setengah terbuka, catnya mengelupas, dan beberapa bagian dinding retak parah. Halaman dalam ditumbuhi rumput liar, seolah tempat ini sudah lama ditinggalkan atau dilupakan. Tempat itu… sepi.
Mereka masuk tanpa dihalangi siapa pun. Di dalam, suasana semakin muram. Beberapa bangunan tampak rusak, gentengnya runtuh, kayu penyangga lapuk, dan aroma obat-obatan samar tercium di udara.
Tak lama, seorang perempuan muda muncul dari balik pintu samping. Wajahnya pucat, matanya sembab seolah sering menangis.
“Paman Bei kau kah itu?” tanyanya ragu.
Tetua Peng Bei mengangguk. Perempuan itu menunduk dalam-dalam, lalu berkata lirih,
“Silakan… ikut aku.”
Ia memimpin mereka menuju sebuah ruangan di bagian terdalam kediaman. Pintu kayu dibuka perlahan. Di dalamnya, suasana sunyi dan berat langsung menekan dada.
Di atas ranjang sederhana, terbaring seorang pria tua. Tubuhnya kurus kering, napasnya lemah dan terputus-putus. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya setengah terbuka, kosong, seolah dunia di sekelilingnya sudah memudar. Ia bahkan tidak mampu berbicara.
Tetua Peng Bei berhenti di ambang pintu. Tubuhnya sedikit bergetar. Matanya yang biasanya tenang kini berkaca-kaca.
Ia melangkah mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya yang tua namun kokoh menggenggam tangan pria itu dengan erat.
“Saudara Jiang…” gumamnya pelan, suara itu hampir pecah.
Pria tua itu bereaksi lemah. Bola matanya bergerak sedikit, seolah mengenali suara itu, namun bibirnya hanya bergetar tanpa suara.
Dada Tetua Peng Bei terasa sesak. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang telah lama ia pendam dan kini menghantamnya tanpa ampun. Kenangan lama, hutang yang belum terbayar, dan penyesalan yang tak sempat diucapkan, semuanya bercampur di dadanya.
Gao Rui berdiri di belakang, mengamati dengan mata dingin. Namun sesaat kemudian, alisnya sedikit berkerut. Ia bisa merasakan sesuatu.
Bukan hanya penyakit… melainkan bekas luka dalam yang menggerogoti pria tua itu. Luka itu… jelas bukan luka biasa.
Perempuan muda yang sebelumnya menyapa mereka kembali beberapa saat kemudian. Di tangannya ada nampan kayu berisi dua cangkir minuman hangat.
Ia melangkah pelan, seolah takut suaranya akan mengganggu napas lemah pria di atas ranjang. Nampan itu diletakkannya di meja kecil di sudut ruangan, lalu ia menyerahkan masing-masing cangkir kepada Tetua Peng Bei dan Gao Rui.
“Minumlah, Paman,” katanya lirih. “Ini bisa sedikit menghangatkan tubuh.”
Tetua Peng Bei menerima cangkir itu dengan dua tangan, namun belum langsung meminumnya. Tatapannya masih tertuju pada wajah sahabat lamanya.
Perempuan itu menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara gemetar,
“Keadaan Ayah… masih belum membaik. Bahkan… beberapa hari ini semakin buruk.”
Ia menunduk, jarinya saling meremas.
“Tabib sudah mengatakan lukanya sudah terlalu berat. Obat hanya bisa menahan, bukan menyembuhkan.”
Suasana di dalam ruangan semakin berat.
“Dan… obatnya sebentar lagi habis,” lanjutnya pelan. “Untuk membeli lagi… aku…” Kalimat itu terhenti. Bahunya sedikit bergetar. “Aku sudah tidak punya uang lagi.”
Tetua Peng Bei mengangguk perlahan, seolah sudah menduga hal itu. Tanpa berkata apa pun, ia mengangkat tangan kirinya. Kilatan cahaya redup muncul, dan sesaat kemudian sebuah kantong kain kecil berisi koin logam muncul di telapak tangannya.
Ia menyodorkannya pada perempuan itu.
“Gunakan ini.”
Perempuan itu terkejut. Ia langsung menggeleng keras.
“Tidak, Paman. Tidak perlu. Selama ini Paman sudah terlalu banyak membantu kami. Aku… aku tidak bisa menerimanya lagi.”
Namun Tetua Peng Bei menatapnya dengan mata tegas, namun hangat.
“Ambil.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi mengandung kekuatan yang membuat orang sulit membantah.
“Jika kau masih menganggapku paman,” lanjutnya pelan. “maka terimalah.”
Tangan perempuan itu gemetar saat akhirnya menerima kantong koin tersebut. Air mata menetes di pipinya. Ia menunduk dalam-dalam, tidak mampu mengucapkan terima kasih dengan kata-kata.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Gao Rui, yang sejak tadi mengamati, akhirnya membuka mulut.
“Siapa dia Tetua?” tanyanya pelan kepada Tetua Peng Bei, pandangannya tertuju pada pria tua di ranjang.
Tetua Peng Bei menarik napas panjang. Tangannya masih menggenggam tangan pria itu.
“Namanya Nao Jiang,” jawabnya perlahan. “Ia sahabatku.”
Gao Rui menoleh, mendengarkan dengan saksama.
“Kami sahabat sejak muda,” lanjut Tetua Peng Bei. “Kami pertama kali bertemu puluhan tahun lalu, di kompetisi bela diri antar sekte. Saat itu… kami bertarung di atas arena.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum pahit.
“Namun setelah itu, kami justru menjadi saudara.”
“Nao Jiang bukan berasal dari Sekte Bukit Bintang,” katanya lagi. “Ia berasal dari Sekte Tanah Bambu.”
Nama itu membuat alis Gao Rui sedikit bergerak.
“Beberapa tahun lalu,” suara Tetua Peng Bei merendah, “Sekte Tanah Bambu terlibat pertikaian dengan Sekte Aliran Hitam. Awalnya hanya konflik kecil… namun berubah menjadi perang.”
Kepalan tangannya mengencang.
“Hasil akhirnya… kekalahan telak. Sekte Tanah Bambu dihancurkan.”
Ruangan terasa semakin dingin.
“Nao Jiang saat itu adalah salah satu tetua di sekte itu. Ia tidak sempat dibunuh, namun luka dalam yang ia terima…” Tetua Peng Bei menggeleng pelan. “menghancurkan tubuhnya.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang mengandung penyesalan mendalam,
“Bantuan dari Sekte Bukit Bintang datang… terlambat. Terlalu terlambat.”
“Ketika kami tiba, hampir semua penghuni sekte itu sudah tewas. Orang-orang Aliran Hitam langsung kabur.”
Tangannya menekan dada Nao Jiang perlahan, seolah ingin memastikan ia masih bernapas.
“Aku menemukan Nao Jiang di antara puing-puing,” katanya lirih. “Masih hidup… tapi tubuhnya nyaris hancur.”
Tatapan Tetua Peng Bei menajam, namun basah.
“Aku membawanya ke kota ini. Kota asalnya. Di sinilah ia dirawat… hingga hari ini.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Gao Rui kembali menatap pria tua di ranjang. Luka dalam yang ia rasakan tadi kini terasa semakin jelas. Luka yang bukan hanya merusak tubuh… tetapi juga memutus jalan hidup seorang pendekar.
Di saat itulah Gao Rui menyadari satu hal, Orang bernama Nao Jiang ini… bukan sekadar orang biasa. Ia adalah sisa hidup dari sebuah sekte yang telah dihapus dari dunia.