Lima tahun lalu, Kiara diceraikan Jonathan, alasan perceraian itu tidak lain karena cinta pertama Jonathan kembali. Tanpa Jonathan tau, ternyata Kiara membawa benih darinya.
Setelah Lima tahun kemudian, Kiara dan Jonathan dipertemukan kembali dalam sebuah acara perayaan ulang tahun perusahaan tempat Kiara bekerja. Tak disangka, pertemuan itu menghadirkan kembali cinta yang telah lama menghilang di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersitegang
"Lepasin aku, ngapain narik-narik? nggak usah pegang-pegang!" ucap Kiara seraya menarik paksa tubuhnya dari dekapan sang mantan suami.
"Iya-iya, sorry-sorry, oke, tolong tenangkan dirimu. Aku tahu kamu pasti marah padaku, aku tahu kamu pasti kesal padaku, tapi ayolah, mengalahkan sedikit, ini demi putra kita, Kiara," ucap Jonathan mencoba menenangkan sang mantan istri.
"Apa? putra kita? enak sekali anda bilang putraku adalah putra kita. Dia putraku sendiri, dengar! dia putraku sendiri. Aku yang mengandungnya, mengandungnya sendiri. Aku yang melahirkan dia. Aku pun melahirkan dia sendiri. Jadi jangan pernah coba-coba mengaku, bahwa dia adalah putra anda. Jangan pernah! sekali lagi aku katakan,jangan pernah ngaku-ngaku, jangan pernah!" jawab Kiara dengan tatapan penuh amarah. Bahkan matanya berkaca-kaca. Kiara benar-benar emosi, tampak jelas bahwa saat ini dia sedang menahan amarah yang cukup besar.
Jonathan menghela napas kasar. Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya. Namun tak seharusnya Kiara berkata demikian. Jonathan merasa berhak tau bahwa dia punya seorang putra. Pun dengan sang putra, sang putra juga berhak tahu siapa ayahnya. Kali ini Jonathan tidak bisa Terima dengan keegoisan Kiara.
"Oke, aku memang bersalah. Aku terima marahmu, aku terima makianmu. Tapi kamu jangan limpahkan semua kesalahan padaku. Kita berdua sama sama salah, Kiara. Kita berdua, kita sama sama egois. Jadi bukan aku saja yang salah," ucap Jonathan, berusaha membela diri.
"Heh, oh ya. Anda percaya diri sekali, apa anda lupa dengan ucapan anda sendiri waktu itu, bukankah anda tidak menginginkan seorang anak? Jadi untuk apa ku kasih tau. Lagian, sekali lagi, anak itu adalah anakku. Hanya milikku, anda tidak berhak sama sekali. Tidak berhak, paham!" jawab Kiara, masih dengan emosi yang sama. Kiara memang sangat membenci situasi ini.
"Apapun yang pernah terjadi, aku dan putra kita berhak saling tahu, Kiara. Kami berhak saling tau. Jangan hanya menyalahkan aku soal ini Kiara! Kamu yang menyembunyikan dia dariku. Suka atau tidak suka, aku adalah ayah dari putramu. Sekali lagi aku berhak atasnya juga," balas Jonathan tak mau kalah.
Suasana terus memanas. Baik Jonathan maupun Kiara, mereka sama-sama keras kepala. Jonathan merasa punya hak atas anak itu, sedangkan Kiara, ia tidak sama sekali mengizinkan mantan suaminya ini mendekati sang putra, apa lagi sampai mengakui bahwa putranya adalah anak dari pria ini.
"Nggak, aku ga mau. Nggak bisa begitu. Orang aku ayahnya kok!" balas Jonathan serius.
"Aku tidak peduli. Pokoknya putraku hanya milikku, sekarang aku minta kamu pulang. Jangan coba-coba dekati dia, aku ga suka, aku nggak izin, pokoknya ga izin!" ancam Kiara, serius.
"Heh, jangan coba mengancamku, Nona. Bagian dari keluarga Himawan, harus kembali pada tempatnya. Kamu lupa siapa aku, ha? Kita lihat nanti, kalo benar anak itu adalah anakku, maka aku akan melawan mu habis-habisan, paham! kamu pilih izinkan aku dekat dengan putraku dan kita Damai, atau terus saja melawan, maka aku akan menuntut mu ke pengadilan dan jangan pernah berharap kita bisa Damai, bagaimana?" tantang Jonathan tak mau kalah. Seperti bisa, ia pun mengeluarkan jurus andalannya. Menekan dan mempermainkan emosi lawan, dan itu adalah keahliannya. Jonathan tidak akan pernah mau mengalah soal ini.
"Itulah jahatnya kamu, selalu memakai kekuasaanmu untuk mempermainkan orang lain. Kamu pikir aku takut samamu, dasar pria kasar, galak, menyebalkan, aku nggak akan pernah mengalah darimu, lihat saja nanti. Aku pasti akan membalasmu!" jawab Kiara, penuh emosi.
"Ayo, kamu pikir, aku takut. Aku tidak akan takut pada siapapun, apa lagi sama wanita kecil seperti mu!" Jonathan melirik Kesal pada Kiara. Pun dengan Kiara. Wanita ini juga membalas lirikan itu dengan lirikan penuh permusuhan. Kali ini Kiara tidak akan pernah mengalah pada Jonathan. Kevin adalah miliknya. Kiara tak akan membiarkan Jonathan memilikinya.
"Dasar! pulang sana, ngapain masih di sini? Kamu tu ga ada yang ngundang, dih, pede sekali!" usir Kiara lagi.
"Aku nggak akan pulang, aku datang ke sini untuk putraku, bukan untuk mu. Ngapain aku nurutin kamu!" balas Jonathan, tak mau kalah.
"Putraku- putraku, dih... ngaku-ngaku. Sejak kapan putraku punya bapak menyebalkan seperti mu. Putraku sangat manis dan tampan, dia tidak punya bapak galak seperti mu. Tolong, anda harus sadar diri!" balas Kiara, ketus.
Jonathan ingin membalas ledekan itu, tapi sebelum ia berucap, Soni tiba-tiba datang. Datang dengan napas ngos-ngosan. Membuat Kiara dan Jonathan ketakutan.
"Ada apa Pak Soni? Kenapa buru-buru begitu?" tanya Kiara, takut.
"Nona, sebaiknya anda ke kamar tuan muda, tuan muda kejang, Nona," jawab Soni, ketakutan.
Mendengar jawaban Soni, tentu saja Kiara dan Jonathan berlomba berlarian menuju kamar rawat Kevin. Betapa terkejut nya mereka, karena tim Dokter terlihat sibuk menangani putra mereka. Membuat Jonathan dan juga Kiara gugup. Mereka terlihat ketakutan.
"Ya Tuhan, Kevin. Kevin tolong jangan tinggalin Bunda, Bunda mohon sayang," ucap Kiara dalam isak tangisnya. Kiara menangis dalam dekapan sahabatnya, Sinta. Sedangkan Jonathan mengigit jari jemarinya sambil melihat tim dokter berusaha menyelamatkan sang putra, sumpah saat ini seluruh tubuh Jonathan gemetar, mungkin sangking gugupnya. Ia takut. Sangat takut. Bagaimana tidak? belum juga ia bersua dengan sang putra, tapi sekarang sang putra malah berjuang melawan maut. Melawan maut sendirian.
Demi Tuhan, Jonathan merasa dunianya runtuh. Jonathan tak bisa berbohong, bahwa saat ini dia benar-benar ketakutan.
Bersambung...
ayo dong Thor bikin Jonathan menyesal atas kata²nya, jgn cuma ngomong Kiara jahat,, padahal dia yg sangat jahat