NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dengannya

Ririn mengikuti langkah Kak Dewi menyusuri lorong kantor yang sunyi. Sepatu hak Kak Dewi berdetak pelan di lantai marmer, sementara jantung Ririn berdetak jauh lebih keras. Di depan sebuah pintu berwarna hitam doff, Kak Dewi berhenti.

“Bos ada di dalam,” katanya singkat lalu Dewi mengetuk sekali dan membuka pintu itu berlahan.

“Pak, ini kandidatnya sudah datang,”

Dewi melangkah masuk di ikuti Ririn dari belakang.

Di dalam ruangan itu, seorang pria duduk di balik meja kerja besar posturnya tegap, jasnya rapi, wajahnya dingin. Tatapan matanya langsung mengarah ke Ririn tajam, datar, tanpa kehangatan.

Dan detik itu juga, dunia Ririn seperti berhenti berputar.

Baskara…

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum ramah, lebih seperti ejekan tipis senyum yang menyiratkan sesuatu yang pahit dan lama terpendam.

“Silakan duduk,” katanya datar, dan suara itu Ririn mengenalnya terlalu baik.

Tangan Ririn sedikit gemetar saat dia menarik kursi dan duduk di hadapan meja Baskara. Kepalanya terasa panas, pikirannya kacau dari sekian banyak kantor, dari sekian banyak bos di kota ini kenapa harus dia?

Baskara menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang menilai sesuatu yang dulu pernah dia milik lalu direnggut paksa.

“Jadi,” ucapnya pelan, “kamu melamar sebagai asisten?”

“Iya, Pak,” jawab Ririn, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Pak! Satu kata itu terasa asing sekaligus menyakitkan.

Dewi berdiri di samping, sama sekali tak menyadari badai yang sedang berkecamuk di antara dua orang di ruangan itu.

“Background kamu desain, ya?” tanya Baskara sambil membuka berkas.

“Betul pak.” Jawab Ririn singkat.

“Dan sekarang mau ngurus jadwal, nyatet ide, jadi asisten pribadi?” Kata Baskara nada suaranya datar, tapi ada tekanan di tiap katanya.

Ririn menelan ludah. “Saya… butuh pekerjaan dan saya mau belajar.”

Baskara tersenyum kecil lagi kali ini lebih jelas lebih dingin.

Dulu kamu nolak aku mentah-mentah sekarang kamu duduk di depanku, butuh pekerjaan, pikir Baskara dalam batinnya.

Kenangan lama menghantam Baskara tanpa ampun wajah orang tua Ririn yang keras, kata-kata tentang perbedaan status sosial, tentang Baskara yang nggak selevel dengan Ririn.

“Orang tua kamu tahu kamu melamar kerja di sini?” tanya Baskara tiba-tiba membuat Riri terkejut.

Ririn terdiam sepersekian detik. “Tidak, Pak.” tentu saja tidak orang tua Ririn sudah tiada.

Baskara mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah dia duga sejak awal.

Keheningan menggantung Ririn ingin segara kabur dari tempat itu, Tapi kenyataan menahannya di kursi itu, dia nggak punya pilihan dia butuh pekerjaan dan dia butuh bertahan hidup.

“Aku nggak akan kasih kamu perlakuan khusus,” kata Baskara pelan nadanya dingin.

“Di kantor ini aku bos dan kamu karyawan.” Ungkap Baskara penuh dengan penekanan.

Ririn mengangguk. “Saya mengerti pak."

Baskara menatapnya lama, lalu menoleh kearah Dewi.

“Suruh HR urus kontraknya dia mulai kerja besok.”

Ririn terkejut. “Besok?”

“Iya,” jawab Baskara singkat. “Kalau kamu merasa nggak sanggup pintu keluar ada di belakangmu.”

Ririn mengepalkan tangannya di bawah meja.

“Saya siap pak,”

Untuk kesekian kalinya, Baskara menatap Ririn tanpa senyuman tatapannya tajam, penuh luka lama.

“Bagus,” katanya pelan. “Selamat datang di dunia nyata, Ririn.”

Ririn berdiri dengan kaki sedikit lemas dia tahu, sejak detik itu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan dia tak bisa mundur. Atau kabur dari takdir yang mempertemukannya dengan Baskara mantan kekasihnya.

--------------------------------------

Tanpa sengaja, langkah Baskara terhenti di depan kafetaria kantor. Awalnya dia hanya berniat mengambil kopi, sampai pandangannya tertuju pada satu sosok di sudut ruangan.

Ririn.

Perempuan itu duduk sendiri, menatap kosong ke depan gelas minuman di tangannya seperti sudah lama tak disentuh. Wajahnya terlihat lelah, pucat, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

Baskara terdiam.

Untuk sesaat, rasa kasihan menyelinap ke dadanya. Ririn terlihat jauh berbeda dari yang dulu lebih terlihat rapuh, lebih sunyi tidak ada lagi senyum cerah yang pernah membuatnya jatuh cinta.

Namun bayangan lain langsung menerobos masuk ke kepalanya.

“Kamu itu bukan siapa-siapa.”

“Akhiri hubungan kalian.”

“Kamu nggak selevel sama anak saya.”

Suara itu kembali menggema, tajam dan merendahkan kata-kata dari ibunya Ririn.

Rahang Baskara mengeras, rasa iba yang tadi muncul perlahan tergantikan oleh amarah lama yang tidak pernah benar-benar pergi. Luka itu masih ada dalam dan membekas.

Sejak hari itu, hidupnya berubah.

Dia ingat betul bagaimana dia pulang dengan tangan kosong dan harga diri yang hancur. Bagaimana dia bersumpah dalam hati kalau suatu hari nanti, keluarga Ririn akan melihatnya dengan cara yang berbeda.

Dan sejak saat itu pula, Baskara bekerja tanpa henti.

Lembur menolak libur mengambil resiko yang orang lain tak berani ambil semua demi satu hal, membuktikan bahwa dia pantas bahwa dia bukan laki-laki nggak selevel seperti yang pernah mereka katakan.

Kini, dia berdiri di tempat yang dulu tak pernah dia bayangkan jabatan, kekuasaan, dan kendali ada di tangannya.

Dan ironisnya Ririn kini duduk di bawahnya.

Baskara mengalihkan pandangan sebelum Ririn menyadari keberadaannya tangannya mengepal di saku jas.

“Dia cuman Asisten ku,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Tidak lebih.”

Tapi di dalam dadanya, perasaan itu masih bertarung antara kasihan yang ingin mendekat, dan dendam yang memaksanya membenci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!