cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10 – RETAK PERTAMA
Pagi itu dimulai dengan tawa yang dipaksakan.
Bukan tawa palsu—lebih tepatnya tawa yang datang terlalu cepat, seolah orang-orang ingin mendahului rasa cemas sebelum sempat tumbuh. Di satu sudut barisan, seorang lelaki mengeluh perutnya kosong. Yang lain menimpali, “Perut kosong itu biasa, asal kepala jangan.” Kalimat itu disambut gelak, lalu cepat reda.
Raka berjalan sambil menghitung langkah. Ia tak lagi menatap wajah, melainkan gerak: siapa yang sering menoleh ke belakang, siapa yang melambat ketika orang lain mempercepat, siapa yang bercanda tapi matanya tidak ikut tertawa.
“Kalau hari cerah begini,” kata seorang perempuan sambil mengikat kainnya, “enak jalan jauh. Asal jangan terlalu lurus.”
“Kenapa?” tanya temannya.
“Kalau terlalu lurus, gampang diingat,” jawabnya ringan. Tawa kecil muncul, tapi dua orang di belakang saling pandang. Sandi itu lewat, tipis seperti asap.
Barisan bergerak menyusuri jalan yang diapit semak. Di depan, seorang pemuda bersiul—nada pendek, diulang dua kali. Raka memperhatikan: siulan itu tidak dijawab. Si pemuda berhenti bersiul, lalu menggaruk tengkuknya, seolah lupa. Beberapa langkah kemudian, nenek tua berjalan melewatinya, menyentuh tanah dengan ujung tongkat—dua kali, lalu sekali.
Raka tidak tahu artinya. Tapi ia tahu: siulan dan ketukan bukan kebetulan.
Menjelang siang, mereka berhenti di ladang singkong. Orang-orang duduk, membuka bekal seadanya. Candaan kembali muncul. Seorang lelaki menyodorkan singkong gosong, berkata, “Ini sudah matang dua kali—sekali di api, sekali di nasib.” Tawa meledak, lalu mengempis.
Raka mengunyah pelan. Di seberang, ia melihat seorang perempuan muda—yang kemarin masih ada—hari ini tidak terlihat. Ia menoleh ke kiri, ke kanan. Wajah itu tak ditemukan.
“Mbok, si yang rambutnya dikepang dua ke mana?” tanya seseorang, santai.
“Ah, tadi pagi jalan duluan,” jawab yang lain cepat. Terlalu cepat. “Katanya mau nyusul di depan.”
“Jalan duluan tanpa pamit?” sela orang ketiga, tertawa kecil. “Berani juga.”
Tawa muncul, tapi ada jeda setelahnya. Jeda yang lebih panjang dari biasa. Raka merasakan dadanya menegang. Ia ingat kata-kata semalam: kalau besok jalan dibagi dua…
Nenek tua duduk di dekat api kecil. Ia menatap singkong di tangannya, lalu berkata pelan, “Kalau yang berjalan duluan tidak menoleh, berarti dia sudah tahu jalannya.”
“Kalau salah jalan?” tanya seseorang.
“Biasanya tidak sempat bertanya,” jawab nenek itu. Suaranya datar, tanpa nada ancaman. Tapi orang-orang terdiam.
Siang berlalu dengan obrolan yang makin rapat sandinya. Kata “jalan” dipakai terlalu sering. Kata “air” diulang dengan arti berbeda. “Cari air” bisa berarti benar-benar mencari air, atau memastikan arah aman. “Air keruh” bukan lagi soal sungai.
Raka menyimpan semua itu di kepala, seperti anak menyimpan batu-batu kecil tanpa tahu kapan harus melempar.
Sore, langit menggelap lebih cepat. Angin membawa bau hujan, tapi tidak turun. Barisan melambat. Seorang lelaki di depan berkata, “Kalau hujan tidak jadi, berarti malam panjang.”
“Panjang itu capek,” sahut temannya.
“Capek lebih baik daripada salah tidur,” jawab yang lain. Lagi-lagi, sandi lewat.
Mereka berhenti di dekat rumpun bambu. Api dinyalakan. Orang-orang berkumpul lebih rapat dari biasanya. Ada yang menyanyi pendek—lagu lama tanpa lirik jelas. Anak-anak ikut bergumam. Untuk sesaat, suasana hangat.
Lalu seorang lelaki berdiri. “Tadi pagi kita lengkap, kan?”
Pertanyaan itu ringan, tapi semua orang tahu itu bukan pertanyaan biasa. Beberapa orang saling pandang. Tidak ada yang langsung menjawab.
“Lengkap itu relatif,” kata seseorang, mencoba bercanda. “Kalau nasi, satu butir kurang juga masih kenyang.”
Tawa terdengar, tapi cepat berhenti. Lelaki pertama mengangguk. “Iya. Relatif.”
Ia duduk kembali. Tidak ada yang menyebut nama perempuan muda itu lagi.
Raka menelan ludah. Ia merasa ada benang halus yang ditarik—pelan, nyaris tak terasa—mengikat barisan ini lebih erat sekaligus lebih rapuh.
Malam turun. Api unggun mengecil. Bisik-bisik terdengar lebih sering. Raka mendengar potongan kalimat: “jangan lewat sana”, “yang itu aman”, “kalau ketemu, jangan menoleh dua kali”.
Ia berbaring, memejamkan mata, tapi telinganya terjaga. Di tengah malam, ia mendengar langkah pelan—dua pasang kaki, berhenti tak jauh darinya. Ada suara kain bergesek, lalu desah napas ditahan.
“Kalau dia bangun?” bisik seseorang.
“Tidak,” jawab yang lain. “Tidurnya berat.”
Raka menahan napas. Jantungnya berdetak terlalu keras. Ia merasakan bayangan lewat di dekatnya, seperti angin yang menggeser daun tanpa menyentuh batang.
Beberapa saat kemudian, sunyi kembali. Api tinggal bara.
Pagi datang dengan kabut tipis. Barisan bersiap berjalan. Raka bangkit, matanya menyapu wajah-wajah. Ada satu wajah yang kemarin duduk dekat api—hari ini tidak ada.
“Dia kemana?” tanya seorang anak, polos.
Ibunya menepuk kepalanya. “Sudah jalan duluan.”
“Ke mana?”
Ibunya tersenyum tipis. “Ke tempat yang lebih tenang.”
Raka tahu, “tempat yang lebih tenang” bisa berarti banyak hal. Dan kebanyakan bukan kabar baik.
Nenek tua berdiri di sisi jalan. Ketika Raka lewat, ia berkata tanpa menatap, “Kalau sepatu basah, jangan diperas di tengah jalan.”
Raka mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham.
Barisan bergerak lagi. Lebih rapat. Lebih sunyi. Candaan masih ada, tapi pendek dan berhenti di tengah. Sandi kini bukan selipan—ia jadi kebiasaan.
Raka berjalan, merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Ia tidak lagi hanya ikut. Ia mulai waspada. Retak pertama itu kecil, hampir tak terlihat. Tapi ia tahu: sekali retak muncul, porselen tidak akan pernah utuh kembali.
Dan di barisan yang tampak ramah ini, sesuatu sedang dipilih—bukan dengan teriakan, melainkan dengan diam.