Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pulang Paksa
"Minggir, Dok. Infus sudah lepas, administrasi sudah beres. Saya bukan tahanan kota."
Alea menyambar tas Hermas-nya dari atas sofa, lalu mengenakan kacamata hitam oversized untuk menutupi mata pandanya. Dia sudah mengganti baju pasien yang menyedihkan itu dengan blazer hitam dan celana bahan yang chic. Penampilannya sudah kembali 100% mode CEO, siap menerkam mangsa di lantai bursa.
Rigel masih berdiri santai bersandar di ambang pintu, melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tidak bergeser satu milimeter pun, menghalangi jalan keluar Alea sepenuhnya.
"Siapa yang kasih izin kamu pulang?" tanya Rigel datar.
"Gue sendiri," jawab Alea ketus. Dia sengaja pakai 'gue-lo' biar dokter ini tahu posisinya. "Gue yang punya badan, gue yang tahu batasnya. Lambung gue udah nggak perih, pusing udah ilang. Jadi, bye."
"Hasil lab terakhir bilang leukosit kamu masih tinggi. Asam lambung belum stabil. Kalau kamu pulang sekarang dan makan sembarangan lagi, besok kamu bakal balik ke sini naik ambulans. Dan saya malas ngurus pasien bebal dua kali," balas Rigel tanpa emosi.
Alea mendengus kasar, menurunkan kacamata hitamnya sedikit untuk menatap Rigel sinis.
"Denger ya, Dokter Rigel. Gue ini pebisnis. Waktu gue adalah uang. Tidur di sini bikin gue rugi miliaran. Kasur rumah sakit ini keras, baunya bikin mual, dan WiFi-nya bapuk. Gue butuh tidur di kasur King Kail gue yang harganya dua ratus juta biar bisa sembuh. Paham?"
Rigel menatap Alea lurus-lurus. Wanita ini benar-benar keras kepala. Tapi Rigel juga tahu, menahan Alea secara paksa hanya akan bikin stres pasien meningkat, dan itu justru memperburuk kondisi lambungnya.
Rigel menghela napas pendek. Dia menegakkan tubuhnya.
"Oke," ucap Rigel tiba-tiba.
Alea mengerjap kaget. Dia sudah siap berdebat satu jam lagi. "Hah? Serius?"
"Kamu boleh pulang," kata Rigel, membuat senyum kemenangan terbit di bibir Alea. Tapi senyum itu langsung luntur saat Rigel melanjutkan, "Tapi ada syaratnya."
"Apaan? Minta tanda tangan gue buat koleksi?" cibir Alea.
"Jangan mimpi. Tanda tangan kamu nggak laku di apotek," balas Rigel pedas. "Syaratnya, kamu wajib check up rutin dua hari sekali. Dan harus sama saya. Langsung ke poli saya, atau saya yang datang ke kantor kamu."
Alea mengernyit curiga. "Kenapa harus sama lo? Dokter lain kan banyak. Ada Profesor Budi, ada Dokter Sinta..."
"Karena cuma saya yang tahu seberapa parah kondisi lambung kamu dan seberapa batu kepalanya kamu. Dokter lain bisa mati jantungan ngadepin pasien model begini," potong Rigel tajam. "Gimana? Take it or leave it. Kalau nggak setuju, saya suntik obat tidur sekarang biar kamu bed rest tiga hari."
Alea menelan ludah. Ancaman suntik obat tidur itu terdengar sangat meyakinkan keluar dari mulut Rigel. Lagipula, dia cuma butuh keluar dari sini sekarang. Urusan kontrol nanti bisa dia atur-atur—atau dia suruh sekretarisnya, Zahra, yang wakilin.
Dasar Alea.
"Oke, fine. Deal," Alea mengulurkan tangan. "Dua hari sekali. Puas?"
"Sangat," Rigel tidak menjabat tangan Alea, dia justru menggeser tubuhnya memberi jalan. "Silakan angkat kaki. Jangan lupa resep obatnya ditebus. Kalau sampai saya tahu kamu buang obatnya, saya blender obat itu campur kopi pagi kamu."
"Psikopat," gumam Alea sambil melenggang melewati Rigel.
Langkah kaki Alea terdengar tegas mengetuk lantai koridor. Zahra dan Arka sudah menunggu di lobi dengan mobil. Tapi baru beberapa langkah, Alea berhenti.
Dia merogoh tas tangannya. Ada sesuatu yang mengganjal egonya.
Alea berbalik badan. Rigel masih berdiri di sana, menatap kepergiannya.
Alea berjalan mendekat lagi ke arah Rigel.
"Apa lagi? Ada yang ketinggalan? Otak?" tanya Rigel sarkas.
Alea menahan keinginan untuk melempar sepatunya ke wajah tampan yang menyebalkan itu. Dia mengeluarkan buku cek dari dalam tas, mengambil pena, lalu dengan gerakan cepat membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran cek itu.
Dia menyobek cek itu dan menyodorkannya ke dada bidang Rigel.
"Nih," kata Alea angkuh.
Rigel menunduk, melihat kertas di tangannya. Itu cek tunai. Kolom nominalnya kosong. Artinya, Rigel boleh tulis berapa saja yang dia mau.
"Apa ini?" tanya Rigel, mengangkat alisnya satu.
"Anggap aja tip," jawab Alea santai sambil bersedekap dada. "Buat jasa lo selama dua hari ini. Buat bubur hambar yang lo suapin paksa, buat gendong gue pas di di kantin—meskipun gue nggak minta, dan buat... yah, pelayanan ekstra lainnya."
Alea tersenyum miring, merasa di atas angin. Dia merasa sudah melunasi "hutang budi" dengan cara yang paling dia mengerti: uang.
"Isi aja sendiri nolnya. Mau sepuluh juta? Lima puluh juta? Seratus? Bebas. Gue tahu gaji dokter di sini nggak seberapa. Anggap aja sedekah dari Ratu Saham. Lumayan kan, bisa buat DP mobil baru.”
Alea menunggu reaksi Rigel. Dia berharap melihat mata dokter itu terbelalak kaget, atau mungkin berterima kasih dengan gugup.
Itu yang selalu terjadi pada laki-laki lain selama ini. Mereka mendekati Alea hanya untuk uang. Membuat ayahnya, Gavin, selalu paranoid dengan laki-laki yang ada disekeliling Alea.
Tapi Rigel diam. Wajahnya datar. Sangat datar.
Perlahan, jari-jari panjang Rigel memegang ujung kiri dan kanan cek itu.
KREK.
Suara kertas robek terdengar nyaring di koridor sunyi itu.
Mata Alea membelalak lebar. Mulutnya terbuka.
Rigel merobek cek kosong itu menjadi dua. Lalu dia tumpuk, dan merobeknya lagi menjadi empat. Lalu delapan. Sampai menjadi serpihan kecil seperti sampah confetti.
Rigel membuka telapak tangannya, membiarkan potongan kertas mahal itu jatuh berserakan ke lantai, tepat di ujung sepatu mahal Alea.
"Kamu..." suara Alea tercekat. "Itu cek kosong! Kamu gila ya?! Kamu barusan buang kesempatan jadi kaya mendadak!"
Rigel melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. Aura dinginnya menguar, membuat Alea mundur refleks.
"Simpan uang kamu, Nona Alea," ucap Rigel rendah, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Alea.
Rigel menepuk saku jas dokternya yang berisi stetoskop.
"Saya merawat kamu karena sumpah profesi saya, bukan karena saya butuh recehan dari kamu. Jangan pernah menyamakan dedikasi saya dengan transaksi bisnis kotor kamu."
Rigel memiringkan kepalanya sedikit, memberikan tatapan yang membuat lutut Alea lemas seketika.
"Camkan ini baik-baik," bisik Rigel penuh penekanan. "Harga diri saya nggak semurah saham gorengan kamu."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....