Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Penahan
Gerbang itu tidak seperti pintu mana pun yang pernah kulihat di neraka. Ia tidak terbuat dari obsidian yang merayap atau besi panas yang membara. Ia adalah sebuah anomali, luka menganga di udara yang berdenyut redup dengan rona abu-abu pucat. Mantra kuno berlapis-lapis melingkarinya, menciptakan distorsi visual yang membuat mataku perih. Ia terasa dingin, hambar, dan sangat asing, seolah olah realitas itu sendiri menolak keberadaan siapa pun yang berani melintasinya.
Aku berdiri di titik nol, menggendong Cloudet yang kini telah kembali ke wujud hellhound kecilnya. Bulu hitamnya berdiri tegak. Tubuh kecilnya bergetar hebat di balik jubahku, dan telinganya menempel rapat di kepalanya, mencoba meredam tekanan magis yang mulai menghimpit paru-parunya.
“Tenang,” bisikku, mengusap tengkuknya dengan jari yang juga sedikit gemetar. “Aku di sini. Tidak akan kubiarkan kau jatuh.”
Jover berdiri di sampingku, memegang sebuah kotak hitam berukir perak, segel eksorsis.
Udara di sekitarnya seolah membeku saat ia membuka tutup kotak itu. Di dalamnya, terbaring tiga buah cincin perak kusam yang memancarkan aura penindasan yang sangat pekat. Logamnya tidak memantulkan cahaya, ia justru seolah menghisap warna dari ruangan di sekitarnya. Ukuran mantra yang terukir di sana bukan bahasa iblis, melainkan aksara manusia, kasar, membatasi, dan secara naluriah menjijikkan bagi darah kami.
“Pakai,” perintah Jover. Singkat. Tanpa pilihan.
Aku mengambil satu. Begitu logam dingin itu melingkar di jariku, sensasinya instan dan menyakitkan. Rasanya seperti api di dalam dadaku tiba-tiba disiram air es. Kekuatanku, naluriku, api yang biasanya mendesir di pembuluh darahku semuanya meredup, tertutup lapisan abu tebal yang menyesakkan. Aku merasa berat, tumpul, dan rapuh.
Cloudet meringkih pelan saat aku menyelipkan cincin kecil ke salah satu cakarnya. Efeknya pada hibrida sekecil dia jauh lebih drastis. Ia merengek, matanya membelalak ketakutan saat menyadari api internalnya dipadamkan secara paksa. Ia menyembunyikan wajahnya di dadaku, mencari sisa-sisa kehangatan yang masih tertinggal di balik kulitku.
“Tidak apa-apa,” gumamku lirih, meski hatiku sendiri mencelos melihatnya begitu lemah. “Kau akan terbiasa dengan beban ini.”
Di belakangku, Calona berdiri mematung. Wajahnya adalah potret kemarahan yang tertahan.
“Aku tidak akan memakainya,” suaranya tajam, penuh dengan racun penghinaan. “Aku adalah Ratu Hellhound. Aku bukan makhluk rendahan, Jover! Aku tidak akan pernah menekan api ku demi menyenangkan manusia fana itu!”
Jover menoleh perlahan. Tatapannya tidak mengandung amarah, hanya kekosongan yang membekukan
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau tidak ikut.
Tetaplah di sini dan hadapi konsekuensi pembangkanganmu terhadap kontrak Irina sendirian.”
Calona terkesiap, wajahnya memucat sejenak.
“Apa?”
“Kediaman Irina dilindungi oleh mantra pelumpuh absolut,” lanjut Jover tanpa ekspresi.
“Tanpa cincin penekan ini untuk menyamarkan jati dirimu, frekuensi energimu akan memicu sistem pertahanan mansion. Kau akan jatuh berlutut, lumpuh karena rasa sakit, bahkan sebelum kakimu menyentuh ambang pintu pertamanya.”
Calona mendesis, taringnya memanjang. “Aku bisa melawan mantra manusia—”
“Tidak,” potong Jover dengan nada mutlak. “Dan kau tahu kau tidak akan bisa.”
Keheningan jatuh seberat timah. Aku menatap ibuku, dan untuk pertama kalinya dalam eksistensiku, aku melihat retakan di balik topeng kesombongannya. Ada ketakutan di sana, bukan takut pada kematian, tapi takut pada ketidakberdayaan di depan sosok Irina.
Dengan gerakan kasar yang hampir merusak kotak itu, Calona merampas cincin terakhir dan memasangnya. Seketika, aura apinya yang biasanya berkobar sombong langsung menciut, bergetar, lalu hilang ditelan kegelapan cincin. Wajahnya yang biasanya merona merah api kini pucat pasi, seperti mayat yang berjalan.
“Aku tidak akan melupakan penghinaan ini,” bisiknya dingin ke arah Jover.
Jover tidak menanggapi ancamannya. Ia hanya menatap gerbang yang kini berdenyut semakin cepat. “Gerbang akan terbuka selama satu tarikan napas. Masuk.”
Aku melangkah pertama. Begitu kakiku menyentuh batas dimensi, panas neraka yang sudah menjadi bagian dari jiwaku lenyap total. Digantikan oleh sensasi dingin yang aneh, seolah-olah aku sedang tenggelam dalam hujan yang tidak terlihat. Dunia manusia terasa sangat berat, gravitasi di sini seolah mencoba meremukkan tulang-tulangku karena aku adalah benda asing yang tidak diinginkan.
Cloudet meringkuk lebih dalam, cakarnya mencengkeram kain bajuku hingga nyaris robek.
“Ca… lix,” bisiknya gemetar hebat.
“Aku pegang kau. Jangan lepaskan,” jawabku.
Kami melewati ambang batas itu. Cahaya putih menyilaukan menghantam mataku. Tekanan mantra pelindung kediaman menghantam seperti ombak raksasa, membuat napasku terhenti sejenak. Calona tersandung di belakangku, mengeluarkan geraman rendah saat ia hampir jatuh berlutut, namun Jover menopang lengannya tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.
Lalu, hening.
Keheningan yang sangat berbeda dari neraka. Tidak ada gemuruh api, tidak ada jeritan jiwa yang tersiksa, tidak ada aura predator yang saling beradu. Hanya ada udara yang lembap, bau tanah basah, dan aroma samar besi serta hujan yang baru saja turun.
Aku mengangkat kepala. Langit di atas kami bukan lagi merah darah yang bergolak, melainkan biru cerah yang membentang luas tanpa batas. Sangat jernih hingga terasa menyakitkan untuk dilihat.
Cloudet mengintip pelan dari balik lenganku. Mata kuningnya yang besar membelalak, memantulkan birunya langit. “…Bukan api,” gumamnya lirih, suaranya penuh keajaiban yang menyedihkan.
Di hadapan kami, sebuah mansion mewah yang luas dan megah berdiri dengan angkuh. Kediaman keluarga Grozen. Bangunan itu dikelilingi oleh mantra pelindung yang menyelimuti area sekitarnya seperti kabut tak terlihat. Begitu kami melintasi gerbang utama mansion, cincin di jariku berdenyut hangat, sebuah sinyal bahwa sistem keamanan rumah ini mengenali 'izin' yang kami bawa.
Kepala pelayan berpakaian rapi menyambut kami. Wajahnya datar, punggungnya lurus sempurna, dan langkahnya begitu sunyi hingga ia seolah melayang di atas lantai marmer.
“Silakan,” katanya singkat.
Pintu ruang utama yang berat dibuka. Ruangan itu luas, dengan jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya siang masuk dengan bebas. Dan di sanalah dia berdiri.
Irina.
Wanita berambut pirang pucat itu berdiri anggun di dekat jendela. Gaun putihnya yang berenda halus tampak bersinar lembut. Tangannya secara protektif mengelus perutnya yang sudah membuncit sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh. Matanya yang biru terang memiliki kedalaman yang tidak wajar untuk ukuran manusia biasa; mata itu seolah bisa melihat langsung ke inti jiwa kami.
Ia tersenyum. Sebuah senyuman yang tampak ramah, namun memiliki kekuatan yang sanggup membuat hellhound paling kuat sekali pun merasa harus menahan napas demi menghormatinya.
“Jover,” ucapnya hangat. “Kau kembali tepat waktu.”
Ayah menundukkan kepala. Itu bukan gestur seorang budak, melainkan penghormatan seorang jenderal kepada sekutu yang ia segani.
“Seperti yang Nona minta,” jawab Jover.
Pandangan Irina bergeser. Menatap Calona. Senyumnya tetap ada, namun aku bisa merasakan tekanan halus di udara seperti tangan tak terlihat yang mencekik tenggorokan siapapun yang berani menantangnya.
“Calona,” katanya lembut, namun nadanya membawa otoritas yang membuat ibuku hanya bisa mengatupkan rahang rapat-rapat. “Sudah lama sekali.”
Cincin di jari Calona berkilat redup, menahan ledakan amarah yang ingin ia luapkan. “Nona Irina,” jawabnya, hampir berupa desisan.
Barulah kemudian, mata biru itu turun. Tertuju pada lenganku. Tertuju pada sosok kecil yang sedang mengintip dunia dengan mata kuningnya yang khas.
Cloudet.
Telinga Cloudet bergerak pelan. Ia menatap Irina dengan rasa ingin tahu yang murni, tanpa rasa takut. Ini aneh. Ia biasanya langsung meringkuk ketakutan pada siapapun yang memiliki aura kuat, namun pada wanita ini, ia justru terlihat tenang.
Irina terdiam sesaat, matanya melembut secara drastis saat melihat Cloudet.
“Putri Nivera?” tanyanya pelan, melirik ke arah Ayah.
Aku menegang mendengar nama itu. Nivera, ibu kandung Cloudet, wanita yang keberadaannya selalu menjadi duri di dalam daging bagi Calona.
Jover mengangguk kecil. “Ya. Dia adalah Cloudet.”
Irina melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat mantra di ruangan itu bergetar halus. Cloudet meringkuk secara refleks, namun ia tidak mengeluarkan suara ketakutan. Irina berhenti tepat di depanku dan, yang mengejutkanku, ia berjongkok perlahan di depan kami. Ia tidak tergesa-gesa, memberi ruang bagi Cloudet untuk merasa nyaman.
“Jadi ini Cloudet,” katanya lembut. “Kau memiliki mata yang sangat indah. Persis seperti ibumu.”
Cloudet memiringkan kepalanya, telinganya tegak kembali. “Ibu…?”
Irina tersenyum, sebuah senyum yang tulus. “Ya. Nivera adalah salah satu teman baikku di masa lalu.”
Tangan Irina terangkat, berhenti beberapa inci dari kepala Cloudet, memberi izin bagi Cloudet untuk memutuskan. Aku mengangguk kecil pada adikku, memberikan jaminan bahwa wanita ini aman.
Irina mengelus kepala Cloudet dengan jemarinya yang lembut. Tidak ada benturan energi. Tidak ada rasa sakit dari mantra penekan. Cloudet berkedip, lalu secara perlahan, ia tersenyum lebar. Ia bahkan menyundulkan kepalanya ke telapak tangan Irina.
“Hangat,” katanya polos.
Aku tercengang. “Dia tidak menolak,” gumamku tanpa sadar. “Bahkan padaku pun awalnya ia butuh waktu berminggu-minggu.”
Irina menatapku, matanya berkilau dengan kebijaksanaan yang dalam
“Dia tidak menolak karena dia merasa aman, Calix. Dan alasan dia merasa aman sekarang adalah karena selama ini kau telah menjaganya dengan sangat baik.”
Aku segera memalingkan wajah, merasa telingaku sedikit panas. “Aku hanya melakukan tugasku untuk memastikan ia tidak mati.”
Irina terkekeh tipis
“Tidak, Calix. Apa yang kau lakukan jauh melampaui sekadar tugas.”
Ia berdiri kembali, menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dengan penuh otoritas.
“Mulai hari ini,” katanya tenang, “Cloudet akan tinggal di kediaman Grozen. Di bawah perlindungan mutlak dariku. Dan di bawah pengawasan serta penjagaan darimu, Calix.”
Ia melirik ke arah Calona, yang tampak seolah ingin meledak namun terikat oleh kontrak.
“Seperti yang telah kita sepakati, Jover.”
Jover mengangguk, mengakui tatanan baru ini.
Irina kembali menepuk perutnya dengan penuh kasih. “Anakku yang akan lahir nanti akan membutuhkan teman yang jujur dan kuat untuk tumbuh bersamanya. Dunia ini sangat berbahaya bagi mereka yang spesial.”
Pandangan birunya kembali ke Cloudet yang kini mulai berani turun dari gendonganku untuk menjelajahi lantai karpet yang lembut.
“Dan aku rasa,” katanya lembut, “aku telah menemukan teman yang sempurna.”
Cloudet menatap Irina lama, lalu kembali menatapku. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan taring kecilnya.
“Calix… di sini… hangat.”
Aku menghela napas panjang, beban yang selama ini menghimpit pundakku di neraka seolah terangkat sedikit, meski aku tahu tanggung jawab baru yang lebih besar kini menantiku. Di dunia ini, tantangannya bukan lagi sekadar bertahan hidup dari amarah iblis, melainkan menjaga rahasia besar di tengah-tengah manusia.
“Ya,” jawabku lirih. “Di sini hangat.”
Bersambung