NovelToon NovelToon
I Love You Om Dosen

I Love You Om Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Beda Usia / One Night Stand / CEO
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.

Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.

Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.

Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa harus dengan Om Samudera!

Fajar menyingsing di ufuk timur, namun cahaya yang masuk melalui celah gorden kamar 808 terasa seperti sembilu bagi Carmenita. Matanya perlahan terbuka, kepalanya terasa seberat batu, dan seluruh tubuhnya terasa kaku.

Carmen memijat pelipisnya, mencoba mengumpulkan kepingan memori yang tercerai-berai. "Aduh... kepalaku," rintihnya pelan. Namun, saat ia mencoba bergerak, ia merasakan gesekan kulit yang asing di bawah selimut tebal itu.

Ia menoleh ke samping. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di sana, seorang pria terbaring diam. Carmen menurunkan pandangannya ke balik selimut; ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Rasa perih yang menjalar di area intinya memberikan jawaban pahit atas apa yang telah terjadi.

"Ya Tuhan... apa yang sebenarnya telah terjadi denganku?" bisik Carmen, air matanya mulai luruh membasahi pipi.

Tiba-tiba, pria itu menggeliat. Ia membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi Carmen. Saat wajah itu terpapar cahaya remang pagi, Carmen tersentak hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak tak percaya.

Om Samudera?

Pikiran Carmen kacau. Antara syok, hancur, namun ada secuil rasa bahagia yang ganjil karena pria yang selama ini ia cintai secara diam-diam adalah orangnya. Namun, akal sehatnya segera mengambil alih. Jika Samudera bangun dan melihatnya, hubungan keluarga mereka akan hancur selamanya. Samudera pasti akan sangat membenci dirinya sendiri, atau lebih buruk lagi, membenci Carmen.

"Aku harus pergi... aku tidak boleh di sini," gumamnya gemetar.

Dengan gerakan selembut mungkin, Carmen turun dari ranjang. Setiap gerakan menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa di bagian bawah perutnya, membuatnya hampir terjatuh. Ia memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai dengan tangan gemetar, lalu mengenakannya terburu-buru. Ia sempat menoleh terakhir kalinya ke arah Samudera yang masih terlelap dalam pengaruh obat, lalu keluar dari kamar itu dengan langkah tertatih.

Di lobi hotel, Carmen menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan saputangan. Ia merasa setiap mata memandangnya dengan hina, meski kenyataannya tidak. Saat ia hampir mencapai pintu keluar, sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Carmen! Ya Tuhan... Syukurlah kita bertemu di sini!"

Carmen membeku. Itu Dara, teman satu asramanya

"Bu Mega mencarimu, kau tahu kan ibu Asrama kita yang satu itu super garang dan menakutkan!" seru Dara sambil mendekat.

Carmen tidak sanggup menatap mata Dara. Ia hanya bisa memegangi perut bagian bawahnya yang semakin terasa melilit dan perih. "Aku... aku harus pergi, Dara. Maaf," jawab Carmen pendek dengan suara serak, lalu ia berlari kecil meninggalkan hotel, mengabaikan tatapan bingung temannya.

Sementara itu, di kamar 808, Samudera mengerang. Kepalanya berdenyut hebat seiring dengan kesadarannya yang pulih. Ia duduk di tepi ranjang, menjambak rambutnya yang berantakan.

"Brengsek... kepalaku mau pecah," geramnya.

Namun, saat ia mencoba mengingat kejadian semalam, kilasan-kilasan memori tentang sentuhan, rintihan, dan gairah yang tak terkendali menghantam otaknya. Samudera tertegun. Ia melihat ke sisi tempat tidur yang kosong namun masih menyisakan bekas tubuh seseorang.

"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku telah menodai wanita yang sama sekali tidak aku kenal!" Samudera menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Ia menyibakkan selimut tebal itu, berniat untuk segera bangun dan mandi guna menghilangkan rasa jijik pada dirinya sendiri. Namun, gerakannya terhenti. Matanya terpaku pada noda merah yang mengering di atas sprei putih bersih itu.

"Hah... ada noda darah!" Samudera terengah. "Itu artinya... ini adalah yang pertama untuk wanita itu? Kenapa aku begitu bodoh! Bisa-bisanya aku kecolongan seperti ini!"

Ia mengutuk rekan bisnisnya, mengutuk obat itu, dan terutama mengutuk dirinya sendiri yang tidak mampu bertahan. Saat ia mencoba berdiri, kaki kirinya menginjak sesuatu yang keras namun kecil di atas karpet.

Samudera membungkuk, meraih benda itu. Sebuah jepitan rambut berbentuk kupu-kupu dengan hiasan kristal kecil yang cantik.

"Apa ini? Kenapa ada jepitan kupu-kupu di tempat seperti ini?" Samudera memandangi benda itu dengan saksama. "Atau jangan-jangan... jepitan rambut ini miliknya."

Samudera memejamkan mata, mencoba mengingat aroma atau suara wanita semalam. Ia merasa sangat familiar dengan jepitan itu, namun logikanya masih menolak untuk percaya pada kemungkinan terburuk yang ada di kepalanya.

.

.

Langkah kaki Samudera terasa berat saat ia keluar dari lift menuju lobi hotel. Di belakangnya, Bayu, asisten setianya, mengikuti dengan wajah penuh kekhawatiran setelah akhirnya menemukan sang atasan.

"Tuan Samudera, syukurlah Anda baik-baik saja. Saya mencari Anda ke seluruh sudut hotel sejak semalam setelah kekacauan di acara itu," ucap Bayu dengan nada rendah.

Samudera hanya mengangguk kaku, tangannya terkepal di saku celana, meremas jepitan kupu-kupu yang ia temukan. "Siapkan mobil, Bayu. Kita harus pergi ke toko hadiah sekarang. Dan... kosongkan jadwal saya dua jam ke depan."

"Toko hadiah? Untuk Nona Carmenita?"

"Ya," jawab Samudera singkat. Pikirannya berkecamuk. Ia ingin melupakan noda merah di sprei itu, ia ingin menghapus bayangan wanita asing semalam. Baginya, Carmen adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya yang kelam.

Sambil menatap jalanan dari kaca mobil, memori pahit sepuluh tahun lalu kembali menghantamnya. Hari itu, istrinya berjuang antara hidup dan mati di ruang persalinan, namun ia justru pergi karena panggilan darurat dari Rima, kakak angkatnya. Saat ia kembali, ia hanya menemukan dua nisan. Kehilangan itu membekukan hatinya, sampai Carmen hadir sebagai obat penawar.

"Dia putri kecilku, Bayu. Hanya dia yang aku punya," bisiknya tanpa sadar.

Suasana di kantor asrama sangat mencekam. Bu Mega membanting sebuah foto ke atas meja. Di sana terlihat Carmen, Dara, dan dua pria asing masuk ke sebuah hotel.

"Jelaskan ini, Carmenita! Kamu adalah anak asuh Pak Samudera yang terpandang, tapi kelakuanmu seperti wanita murahan!" bentak Bu Mega.

"Itu tidak seperti yang Ibu lihat..." Carmen berbisik lirih, wajahnya pucat pasi. Tubuhnya masih sangat lemas, dan rasa perih di bawah sana seolah terus mengingatkannya pada dosa yang tak sengaja ia lakukan bersama pria yang kini ia takuti.

"Dara bilang kamu bersama Samudera, tapi di foto ini jelas sekali kamu bersama pria-pria ini! Kamu sudah mencoreng nama baik asrama!" Bu Mega tidak memberi ampun. Tiara, yang berdiri di pojok ruangan, tersenyum sinis penuh kemenangan.

Tepat saat Carmen merasa dunianya akan runtuh, suara deru mobil mewah terdengar di halaman.

Samudera melangkah masuk ke aula asrama dengan karisma yang mematikan. Mengenakan setelan jas abu-abu gelap, ia terlihat sangat gagah. Bayu di belakangnya membawa boneka Teddy Bear jumbo, buket mawar putih, dan sekotak coklat premium.

Para siswi asrama berbisik kagum, termasuk Tiara yang terpana melihat ketampanan pria matang di hadapannya. Bu Mega segera mengubah raut wajahnya menjadi ramah.

"Pak Samudera, selamat datang," sapa Bu Mega manis.

Samudera tersenyum tipis, matanya langsung mencari sosok gadis yang ia rindukan. "Di mana Carmen? Hari ini ulang tahunnya."

Saat matanya menangkap sosok Carmen yang berdiri gemetar di sudut, Samudera merentangkan kedua tangannya dengan lebar. Senyumnya tulus, sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada dunia.

"Carmen... kemarilah, Sayang. Om sudah kembali. Apa kau tidak mau memeluk Om seperti biasanya? Lihat, Om bawa hadiah yang kau inginkan."

Carmen mematung. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan dan rasa malu yang luar biasa. Ia menatap tangan lebar itu, tangan yang semalam menyentuhnya dengan penuh gairah di bawah pengaruh obat. Ia merasa kotor. Ia merasa tidak pantas.

Bukannya berlari memeluk Samudera, Carmen justru melangkah mundur dan bersembunyi di balik punggung Bu Mega, mencengkeram kain baju ibu asrama itu dengan tangan gemetar.

Samudera mengernyitkan dahi, tangannya perlahan turun. "Carmen? Ada apa? Apa kau marah karena Om terlambat pulang?"

Carmen tetap menunduk, air mata mulai menggenang.

'Om, kenapa mesti harus dengan Om? Kenapa mesti Om yang harus merenggut masa depanku?' gumamnya dalam hati, nyaris tak terdengar.

'Meskipun aku mencintaimu, kau tidak akan pernah membalas perasaanku jika tahu siapa wanita semalam. Jadi aku harus bagaimana?'

"Carmenita, kenapa diam saja?" suara Samudera memberat, ada nada khawatir sekaligus bingung di sana. Ia melangkah maju satu langkah, namun Carmen kembali berjingkat mundur, membuat suasana di aula itu tiba-tiba menjadi sangat canggung dan dingin.

Bersambung...

1
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Inooy
yaaah...lg enak2 nya menikmati keromantisan, datang s pengganggu hhuuuu...
hati2 Saaam!! singa betina d samping mu siap menerkam klo kamu melenceng sedikit..🤭
Inooy
aaahh,,manis skali sih kaliaaaann..bikin iri smua orang iiih ☺️
awas lho Sam klo kamu sampe nyakitin Carmen,,dia udh menyerahkan seluruh hidup nya bwt kamu..jangan sampe kamu berpaling dr Carmen,,awas aj klo itu sampe terjadi!!!! 👊
Nar Sih
carmen hti,,jga terus suami mu jgn sampai ada ulet bulu nempel,,yaa😂
Nar Sih
dari nonton film yg romatis trus di lanjut bnran nih adegan nya ☺️☺️
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Rais Raisya
datang lah pelakor lanjut ka
Teh Euis Tea
nah loh bibit pelakor kynya nih
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Teh Euis Tea
yeahhhh akhirnya gaspol juga om sam🤭
Inooy
cieee ada yg gugup niiih,,berasa anak remaja yg lg fallin in love 😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Inooy
aq koq y senyum2 sendiri ngebayangin Samudera yg udh lama menduda, tau2 jd suami 'putri kecil' nya...tiba2 mo hangout k mall d lanjutin nonton d bioskop,,hihihi outfit nya yg kaya gimana yaaa!? 🤔🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/😅😅
total 1 replies
Inooy
hihihi,,yg satu remaja yg benar2 masih fresh..yg satu nya lg remako, remaja kolot alias tua 😂✌️

maka nya Sam jangan bergelut dgn kerjaan aj atuuh,,peka dikit..kan skarang kamu udh punya istri, masih belia bgt lg 🤭..skali kali cari tau pergaulan anak remaja kaya gimana, biar kamu jg ikutan muda lg..biarpun yaaaa kamu jg masih keliatan muda sih dr usia kamu, tp kan klo kamu selalu update tentang kehidupan remaja jd nilai plus bwt kamu...secara istri kamu tuh 'putri kecil' mu yg naik tingkat 😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: iya kak gpp, mungkin dari jaringan, jadi error kak😅
total 5 replies
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Teh Euis Tea
cieeeeee sam udah berani muji, bentar lg es kutub cair nih🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: pasti dong 😁😁
total 1 replies
neny
yeaayyy,,akhir nya terucap jg kata cinta dr samudra,,siap2 bucin nih,,semangat pagi akak💪🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: semangat pagi juga kak 💪😉
total 1 replies
Sry C'cipit Tea
siap2 bucin nya muncul
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good//Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Inooy
Carmeeen, segila gila nya om Sam..dia benar2 ngekhawatirin kamu lho d balik rasa yg kini membelenggu om Sam terhadap kamu...berpikirlah dewasa, om Sam melakukan smua ini demi melindungi mu dr musuh2 orangtua mu yg belum ketauan siapa mereka, d samping jg rasa cemburu nya karena kamu pergi dgn Farel....
wajar klo kamu ingin bebas kaya temen2 kamu yg lain, masalah nya d sini kamu jd incaran musuh2 orangtua mu,,kamu udh lupa ato pura2 lupa tentang kejadian 10 thn yg lalu..d mana orangtua mu d bunuh dgn keji? hanya om Sam yg melindungi mu dr kamu kecil, jd hargailah perjuangan nya melindungi mu..minimal kamu nurut selain om Sam jg suami kamu yg hrs kamu patuhi dn hormati....
Inooy: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 4 replies
Inooy
waduuh 🫢 s om makin protektif dn posesiv ckckck

eeh om,,klo perlakuan mu makin protektiv dn posesiv..yakinkan dulu hati muu, dn jujurlah ama Carmen..jangan perlakuan mu yg selalu ambigu, bikin Carmen bingung tau oom!?
klo kamu jujur om, mungkin Carmen akan membatasi diri karena dia tau siapa pemilik hati nya..jangan hanya memerintah aaaaja, lama2 memberontak tuh Carmen...

jd gemes sendiri nih aq ama om Sam 😬
Rais Raisya
bagus bgt ka crita nya
Inooy
Caar, sadar Caaar..d depan mu burung elang siap menyambaaar 🤭,,kamu jangan bikin masalah dgn mengabaikan nya..apalagi kamu malah asik chatingan ama cowo lain..hadeuuuuhh!!!
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Curse//Curse//Curse/🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!