silahkan baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Semenjak kejadian dihari valentain itu.Aku dan ditya lost contact.Aku berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya terhadap orang orang.Karena rasa sakit hatiku yang mendalam.
"Ta..lama gak nyapa kamu.Kok sendirian di taman.Drian mana?"Tanya danela pelan.
"Gak tau bukan urusan aku."Menjawab ketus.
"Kok tumben ta kamu jutek ke aku?..Cerita kalo ada masalah."
"Gak apa apa.."dengan tatapan kosong menatap danela.
"Sayangggg..Sayang..Ayo ke kantin aku laper.".Dave Berteriak pada danela.
"Ta..Aku pergi dulu ya sama dave ke kantin.Kamu mau dibawain apa?.."
"Gak usah.."Menatap mata Danela dengan dingin.
Dave dan danela ke kantin kemudian mereka duduk berduaan di taman.Sambil melihat anak anak masuk kelas masing masing.
"Sayang..masih inget gak kita dulu gimana pas ketemu?"Tanya dave mengoda.
"Hemm..Gimana ya..Aku lupa."Muka danela merona merah dan salting.
"Dari awal ketemu aku udah suka kamu."Dave meraih tangan Danela.
Drian yang habis melukis didekat taman. Menghampiri Nita dengan membawa minuman dingin.
"Heh..ngelamun aja..Ngelamunin aku ya..Ayo ngaku.".Mengompres kepala Nita dengan air mineral dingin.
"Apaan sih ian?.dingin kali."Sambil memanyunkan bibir.
"Kamu deh..Nih minum..Cemberut aja dari tadi.."
Mengobrak abrik rambut Nita.
"Stop jangan ancurin poniku.But thanks ya buat minumannya."
"Okey.Kamu kenapa akhir akhir ini jutek banget sama aku sama Danela dan smuanya?"
"Gak apa apa..Ah ian aku capek"Menyandarkan kepala ke pundak Drian.
"Ya udah..relaks aja ya..Aku ada disini kok..Disamping kamu.."
"Thanks ya."Memejamkan mata sambil bersandar di bahu Drian.
"Andai kamu tau kalau kamu orang yang selama ini aku cari.Kalau aja kamu tahu kalau aku ini tunangan kecil kamu.Kamu pasti gak bakal kaya gini.".lBerbicara dalam hati sambil memandang Nita yang tertidur pulas di bahunya.
Hari berganti sore.Nita yang tertidur pulas di bahu Drian.Sambil mengamabar sketsa Drian menikmati kebersamaan dengan Nita.
"Nit bangun...yuk pulang..udah bel pulang..kamu ketiduran 2jam.."Menepuk pipi Nita.
"Hemmm..masih ngantuk..diem ah ian.."Menepis tangan Drian.
"Ya udah deh..Aku gendong ya.."Menggendong Nita di punggungnya.
Nita yang tertidur pulas.Masih saja tertidur dan tanpa dia sadari siang telah beganti sore.Dia telah berada di rumah Drian.
"Andai aja kamu tau kalo kamu adalah tunanganku sedari kecil."Berbicara dalam hati sambil mengecup kening Nita dan membaringkannya di kasur tamu rumah.
"Hoamm..Ini dimana ya kok sore banget awannya?"Melihat kaca jendela sambil menguap.
Nita turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar dari lantai 2 terlihat drian yang tertidur di sofa ruang tamu.Nita menghampirinya dan memandang wajahnya.
"Andai aja aku masih sendiri pasti aku pilih kamu ian."Berbicara dalam hati sambil memandang wajah Drian.
"Jangan pergiiiii....jangan pergiii..please..."Drian menitihkan air mata sambil mengigau.
"Ian bangun..ian..kenapa teriak teriak..iann..."Panik sambil menepuk pipi drian.
"Hah..hah..hah.."Sambil terengah engah dan memeluk Nita refleks.
"Kenapa ian?"
"Aku takut ta..takut.."
"Takut apa?"
"Gak tau takut banget.Aku gak bisa jelasin kenapa takut.Tapi please jangan pergi dari aku ya."Mengengam tangan Nita.
"Is ok drian.Gak akan aku tinggalin kamu.Kamu tenang ya."Menepuk punggung drian sambil menenangkannya
"Makasih ya."Mengecup kening Nita.
Sore terlewatkan berganti malam.Awan yang begitu terik berganti menjadi dingin yang menusuk tulang.Nita yang alergi dingin tiba tiba kumat penyakitnya.
"Drian..Dingin banget.."suara nafas layaknya orang terkena asma berbunyi nyaring.
"Nit,kamu kenapa?Kepala kamu panas banget.Nafasmu tersengal sengal."
"Drian sakit...sakit banget.."ngik ngik ngik suara nafas asma makin terdengar nyaring.
"Kamu bawa obat?."Panik sambil memeluk Nita.
"Enggak..Sakit banget.."Nita yang sulit bernafas pingsan.
"Nit bangun...bangunn..bangun..dan mencoba mencek denyut nadinya."Menepuk pipi nita.
"Ta..bangunn.."Menyentuh leher Nita dengan 3jari untuk mengecek aliran nafasnya.
Drian melakukan CPR kepada Nita.Agar aliran darah ke otak tidak pecah.Drian terus melakukan tindakan pertolongan pertama.
"Ian..sakit."Terbangun dengan wajah memerah panas.
"Aku bawa ke rumah sakit ya.Huppp..."Mengendong Nita.
Drian memasukan Nita ke mobil kemudian membawanya ke rumah sakit advent bandung.Nita yang tidak sadarkan diri.Digendong oleh drian yang lekas membawanya ke IGD.Para dokter yang sigap mulai memasangkan selang bantu nafas dan alat detak jantung.
"Suster pasangkan EKG di tubuh pasien."Dokter Micky ahli paru paru.
"Baik dok."Para suster.
"Suster pasangkan masker oksigen."Tegas dokter Mourent ahli penyakit dalam.
"Baik dok."Suster Tiffany mengambilkan masker oksigen.
Drian yang khawatir mengengam terus tangan Nita yang mulai mendingin.Drian menangis sambil terus berdoa disamping ranjang Nita.Dia melihat para dokter sibuk berusaha untuk menyadarkan Nita.
"Please, bangun jangan tinggalin aku.Aku sayang kamu banget."Drian mengengam erat tangan Nita.
"Koko,bisa tenang sebentar tolong beri kami jalan.Karena kami butuh space yang sedikit besar untuk pemasangan alat kejut jantung dan pengukur detak jantung."Tukas para suster.
"Iya dok,Please selamatkan tunangan saya."Berdiri sambil putus asa dan menangis sesengukan.
"Kita akan berusaha semaksimal mungkin ko.Semuanya kita serahkan pada Tuhan yang memiliki mujizat.Suster tolong ambilkan alat kejut jantung dan alat pengukur detak jantung."Dokter Niki ahli jantung menginstruksikan kepada para suster.
"Baik dok."
"1,2,3 naikan tegangan listrik."Dokter Niki Mengesekan setrika listrik kejut jantung.
Tubuh nita masih dingin belum merespon.Nita belum juga sadar.Setelah mencoba alat kejut jantung yang ke 3.Denyut jantung Nita berangsur angsur kembali.Tubuh Nita mulai menghangat dan sedikit demi sedikit mulai bergerak.
"Puji Tuhan..ta kamu sadar."Masih berada dipojok ranjang UGD sambil menangis di sebelah ranjang Nita.
"Syukurlah pasien selamat.Seandainya tadi terlambat kita akan kehilangan dia selamanya."Tegas para dokter yang berada dilokasi.
"Betul ko."Jawab para perawat.
"Suster tolong ganti masker oksigen dengan selang oksigen.Agar pasien lebih mudah bernafas."Tegas dokter Micky ahli paru paru.
"Baik dok."Suster Tiffany mengantikan masker dengan selang oksigen.
"Drian..makasih ya."Lirih suara Nita berbicara pada ian.
"Iya..Jangan tinggalin aku..aku gak sanggup kamu pergi.."Menangis sambil mengenggam tangan Nita.
"Iya..Maaf ya..kamu jadi khawatir.."Membelai rambut Drian sambil bersuara lirih.
"Kamu gak bilang aku kalau kamu punya asma?.Kamu harusnya bilang sama aku.Bikin khawatir aja."Mengecup tangan Nita.
"Maafin aku."Berbisik lirih.
"Koko kita masih harus observasi.Koko bisa melihat dipinggir ranjang."Tegas para dokter.
Drian melihat dokter dan para suster mengamati dengan seksama dan mempelajari pasiennya.
"Besok,pasien sudah bisa dimasukan ke ruang ICU untuk kelanjutan observasi."Tukas dokter Micky ahli paru paru.
"Bisa diberikan kamar ICU yang Vip dok.Jadi saya bisa nemenin dia?"
"Kita,siapkan kamarnya besok pagi ya ko. Besok pagi nona udah bisa masuk ke ruang ICU Vip room."Tegas suster Tiffany sambil mrmbereskan alat yang digunakan para dokter sebelum keluar.
"Makasih,ya dok melakukan yang terbaik untuk orang yang berharga di kehidupan saya."
"Baik,koko kita tinggal dulu."Para dokter meninggalkan Nita dan Drian.
"Semangat ya,makasih sudah percaya kita."Dokter Niki ahli jantung mengengam pundak Drian.
"Iya, dok sama sama."Menengok ke arah dokter Niki.
Dengan panik drian menelepon Oma.Oma dengan sigap datang ke ruang IGD.
Oma:Hallo
Drian:Hikss...Oma.Cepat kesini!
Oma:Kamu kenapa nangis Drian
Drian:Nita sakit oma.Dia di IGD besok pagi masuk ruang ICU
Oma:Apa tunangan kamu masuk IGD.Oma meluncur kesana sekarang
Drian:Iya oma aku tunggu
Dibawah kekalutan.Drian berusaha menghubungi Ditya namun hasilnya nihil.Nomor hp yang dituju tak kunjung tersambung.Oma bergegas ke rumah sakit.
"Driannn..."Bertriak memanggil cucunya.
"Disini oma."Mengancungkan tangan.
"Gimana keadaan tunangan masa kecil kamu?"
"Oma..Aku gak mau kehilangan dia lagi."Memeluk sambil menangis kepada oma.
"Sudahlah drian jangan menangis.Kamu harus sabar dan kuat.Nita pasti sembuh kok.Kamu udah kabarin pacar dia?."
"Nomornya gak kesambung oma."
"Sampai kapan kamu diem aja drian tentang identitas asli kamu ke Nita?"
"Sampai dia, sadar sendiri oma.Atau sampai waktu yang tepat aku akan memberi tahunya."Bersandar dipundak oma.
"Kapan drian?Pasti itu lama.Cinta itu harus dikejar.Jangan cuma diem aja drian.Kamu harapan satu satunya oma untuk melanjutkan bisnis oma.Kamu satu satunya pewaris usaha oma.."
"Tunggu waktu yang pas oma.Aku gak mau dia shock dan ninggalin aku."
"Oma tunggu saatnya drian.Kamu sudah telepon papa mertua kamu?"
"Belum oma.Dia pasti lagi sibuk kerja."
"Ya sudah..Kamu rawat Nita baik baik..Oma pulang dulu ambil baju ganti buat kamu sama Nita."
"Iya oma..Maksih.."
"Tumben bilang makasih biasanya juga kamu gak tau terimakasih sama oma."
"Gak yo oma..Aku kan always makasih sama oma.."
"Iya ya..oma pulang dulu.."
"Hati hati ya oma."
Semalaman drian berada disamping Nita sambil mengengam tangan Nita.Drian berusaha menelepon Ditya walaupun hasilnya Nihil.
Yuk dukung terus author carany like❣
vote dan selalu fav karyanya
maksih kakak*