Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Cahaya putih itu memang menelan segalanya, namun alih-alih terbangun di tempat tidur yang nyaman, aku justru terbangun di sebuah hamparan padang bunga yang asing. Langitnya bukan biru, melainkan berwarna perak dengan dua bulan yang menggantung rendah.
Aku tersentak duduk, napas tersengal. "Kaelen?"
panggilku, suaraku bergema di kesunyian yang aneh.
Ingatanku tentangnya tidak hilang sepenuhnya. Sepertinya, ledakan energi tadi tidak menghapus memoriku, melainkan melempar jiwaku ke sebuah dimensi antara—sebuah ruang hampa yang terletak di antara Lembah Biru dan Dunia Seberang.
"Kau seharusnya tidak berada di sini, Penjaga Kecil."
Aku menoleh cepat. Bukan Kaelen yang berdiri di sana, melainkan sosok wanita tinggi dengan gaun yang terbuat dari jalinan akar dan kelopak bunga yang layu. Matanya putih cemerlang tanpa pupil.
"Siapa kau?" tanyaku sambil mencoba berdiri, meskipun kakiku terasa seperti jeli.
"Aku adalah Gwenna, Penjaga Gerbang yang asli. Ribuan tahun aku tertidur karena segel yang melemah, dan ledakan kekuatanmu tadi membangunkan jiwaku," ucapnya dingin. Ia mendekat, jemarinya yang panjang menyentuh daguku. "Kau tidak menutup gerbangnya, Kazumi. Kau hanya menguncinya dari dalam, dan kau... terjebak di sisi yang salah."
Jantungku mencelos. "Terjebak? Jadi aku tidak bisa pulang? Ayah dan Ibu..."
"Mereka aman di Lembah Biru yang kini tenang. Tapi bagimu, perjalanan baru saja dimulai. Raja Dunia Seberang memang terhisap kembali, namun dia tidak hancur. Dia sedang memulihkan diri di istana bayangannya. Dan Kaelen..." ia menjeda kalimatnya, "dia sedang dihukum karena pengkhianatannya."
"Di mana dia? Katakan padaku!" aku mencengkeram jubah Gwenna, rasa takutku berubah menjadi tekad yang membara.
Gwenna menunjuk ke arah cakrawala yang gelap, di mana sebuah menara hitam menjulang tinggi membelah langit perak. "Di Menara Sunyi. Namun untuk mencapainya, kau harus melewati Hutan Kabut—tempat di mana makhluk-makhluk elemen api yang gagal tadi dibuang. Mereka haus akan darah Penjaga Bunga."
Aku menunduk, menatap telapak tanganku. Cahaya biru itu masih ada di sana, berdenyut pelan di bawah kulitku. Aku mungkin mungil, aku mungkin hanya gadis penyuka bunga dengan tinggi 154 cm, tapi di dalam nadiku mengalir kekuatan yang ditakuti oleh raja kegelapan.
"Aku akan mencarinya," ucapku mantap. "Aku tidak akan membiarkan dia menanggung hukuman sendirian."
Gwenna memberikan sebuah benih kecil berwarna perak kepadaku. "Tanam ini jika kau merasa jiwamu mulai redup. Ingat, Kazumi, di dunia ini, bungamu tidak butuh matahari. Mereka butuh keberanianmu."
Aku mulai melangkah meninggalkan padang bunga perak itu, menuju kegelapan yang menakutkan. Setiap langkah terasa berat, namun bayangan senyum Kaelen sebelum dia menghilang menjadi bahan bakar bagiku.
Di tengah perjalanan, aku mendengar suara gemerisik dari balik semak berduri hitam. Seekor makhluk kecil dengan telinga panjang dan mata yang bersinar merah muncul. Ia tampak terluka, sayapnya yang transparan robek.
"Tolong..." bisiknya.
Aku ragu. Apakah ini jebakan dari Raja Dunia Seberang, ataukah ini awal dari sekutu baru dalam petualanganku yang panjang ini?
Di saat yang sama, jauh di Menara Sunyi, Kaelen yang terantai dengan rantai bayangan mendongak ke arah langit. Ia merasakan getaran kekuatan bunga Han yang sangat ia kenal. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang terluka.
"Kau datang, Kazumi... kau benar-benar datang," gumamnya lirih.
~•°^°•~
Aku tidak tega melihat makhluk sekecil itu menderita. Meskipun Gwenna telah memperingatiku tentang bahaya di dunia ini, rasa sayangku pada kehidupan—sekecil apa pun itu—tetap lebih kuat dari rasa takutku.
Aku berlutut di tanah yang terasa seperti abu dingin, lalu perlahan mendekatkan tanganku pada makhluk kecil bersayap robek itu. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," bisikku lembut.
Makhluk itu gemetar hebat, mata merahnya menatapku dengan penuh kecurigaan. Namun, saat cahaya biru lembut dari telapak tanganku menyentuhnya, ia mulai tenang. Aku menggunakan kekuatan Penjaga Bunga untuk menumbuhkan sehelai kelopak bunga Han yang bercahaya, lalu menempelkannya pada sayapnya yang terluka. Ajaibnya, sayap itu menutup kembali dan bersinar seperti kristal.
"Terima kasih, Penjaga Kecil," suara makhluk itu melengking namun merdu. Ia terbang berputar di atas kepalaku. "Namaku Pippin. Aku adalah peri elemen udara yang dibuang ke sini karena menolak menjadi mata-mata bagi Sang Raja."
"Aku Kazumi. Pippin, kau bilang kau dibuang... apa kau tahu jalan menuju Menara Sunyi?" tanyaku penuh harap.
Pippin mendarat di bahuku, beratnya seringan kapas. "Menara itu dijaga oleh bayangan-bayangan pemakan mimpi, Kazumi. Tapi karena kau telah menolongku, aku akan menunjukkan jalan pintas melalui Lembah Bisikan. Namun hati-hati, di sana suara hatimu akan menjadi nyata. Jika kau takut, ketakutanmu akan menjelma menjadi monster."
Kami mulai berjalan menyusuri hutan yang semakin gelap. Pepohonan di sini tidak memiliki daun, hanya dahan-dahan hitam yang meliuk seperti jemari yang ingin mencengkeram.
"Kaelen... apakah dia masih bertahan?" tanyaku lirih, lebih kepada diriku sendiri.
"Pangeran Kaelen adalah petarung yang hebat, tapi ayahnya sangat kejam," sahut Pippin pelan. "Raja ingin mengambil 'inti cahaya' yang ditinggalkan Kaelen di duniamu melalui kau. Itulah sebabnya kau terjebak di sini. Raja menarik jiwamu agar kau menyerahkan kekuatanmu demi kebebasan Kaelen."
Langkahku terhenti. Jadi ini adalah jebakan? Jika aku menyelamatkan Kaelen, aku mungkin harus menyerahkan kekuatanku dan membiarkan gerbang Lembah Biru terbuka selamanya.
Tiba-tiba, suhu di sekitar kami naik dengan drastis. Udara menjadi panas dan berbau belerang.
"Sembunyi!" bisik Pippin panik.
Dari balik pohon-pohon hitam, muncul sosok-sosok tinggi dengan tubuh yang terbuat dari lava cair yang membeku. Mereka adalah sisa-sisa Prajurit Elemen Api yang tadi gagal di dunia manusia. Mereka tampak lebih mengerikan di sini, mata mereka menyala-nyala karena haus dendam.
"Bau ini... bau Penjaga Bunga," salah satu dari mereka menggeram, suaranya seperti batu yang beradu. "Gadis kecil yang membuat kita terlempar kembali ke neraka ini ada di sini!"
Aku merapatkan punggung ke pohon, tanganku menggenggam benih perak yang diberikan Gwenna. Aku hanya memiliki tinggi 154 cm, berdiri di depan raksasa api ini membuatku tampak seperti serangga. Namun, saat aku memikirkan Kaelen yang sedang disiksa di menara itu, rasa takutku berubah menjadi amarah yang dingin.
"Pippin, terbanglah yang tinggi!" perintahku.
Aku tidak lagi menunggu mereka menyerang. Aku menghantamkan tanganku ke tanah, memanggil kekuatan akar-akar dari Dunia Seberang yang terkubur di bawah sana.
"Tumbuhlah!" teriakku.
Akar-akar hitam berduri mencuat dari tanah, melilit kaki-kaki api mereka. Tapi air di dimensi ini sangat sedikit, kekuatanku terbatas. Api mereka mulai membakar akar-akarku.
"Hanya itu kemampuanmu, Penjaga Kecil?" tawa mereka mengejek, perlahan mengepungku dalam lingkaran api yang panas.
Di saat genting itu, benih perak di tanganku bergetar hebat. Benih itu seolah-olah berteriak meminta dilepaskan.