Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 RTJ
Udara di lorong menuju penjara bawah tanah terasa sepuluh derajat lebih dingin daripada permukaan. Bau lembap tanah bercampur dengan aroma logam dari jeruji besi yang berkarat, namun kini didominasi oleh satu bau yang membuat perut mual: aroma manis yang memuakkan dari bunga Manjusaka yang membusuk.
Long Chen berjalan di depan, tangannya tak sedetik pun melepaskan genggaman pada jemari Lin Xi. Langkah sepatunya yang berat bergema di dinding batu, menciptakan irama yang mencekam. Di belakang mereka, Satu dan beberapa Garda Bayangan mengikuti dengan pedang yang setengah terhunus.
"Berhenti di sini," ucap Long Chen saat mereka tiba di depan sel nomor satu, sel yang seharusnya paling aman di seluruh kekaisaran.
Lin Xi menatap ke dalam. Pemandangan di depannya sanggup membuat prajurit paling tangguh sekalipun membuang muka. Di atas lantai batu yang dingin, jubah zirah Jenderal Zhao tergeletak kempis. Tidak ada tulang, tidak ada daging. Hanya ada cairan hitam pekat yang kental, mengeluarkan uap tipis yang beraroma bunga kematian.
"Jangan mendekat, Xi'er," peringat Long Chen, namun Lin Xi sudah melangkah maju.
"Satu, berikan aku sebatang kayu atau ranting," pinta Lin Xi datar.
Satu dengan cepat mematahkan bagian dari kursi kayu di luar sel dan memberikannya pada Lin Xi. Gadis itu berjongkok, mengamati cairan itu dengan mata yang menyipit tajam. Saat ujung kayu menyentuh cairan hitam itu, kayu tersebut langsung menghitam dan hancur menjadi abu dalam hitungan detik.
"Ini bukan sekadar teknik transmigrasi," bisik Lin Xi, suaranya bergetar halus. "Ini adalah Sari Pati Bayangan. Zhao tidak hanya dibunuh; seluruh keberadaannya, termasuk jiwanya, telah dikonsumsi untuk mengirimkan pesan terakhir."
"Pesan apa?" tanya Long Chen sambil ikut berjongkok di sampingnya, meski matanya tetap waspada memindai sekeliling.
Lin Xi menunjuk ke dinding sel. Di sana, tertulis sebuah karakter dengan cairan hitam yang sama, seolah-olah ditulis oleh tangan yang gemetar namun penuh kemenangan.
"KEMBALI."
Long Chen mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih. "Kembali ke mana? Ke Utara? Ke neraka?"
"Ke tempat di mana semuanya dimulai," jawab Lin Xi pelan. Ia berdiri, merasa kepalanya sedikit pening. "Chen, sosok berbaju merah yang aku lihat di menara tadi... dia bukan manusia biasa. Dia adalah Pemanah Bayangan. Jika dia ada di sini, berarti 'tuan' yang dimaksud Zhao sudah berada di dalam tembok istana ini."
Mereka kembali ke permukaan saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, warna yang mengingatkan Lin Xi pada pertumpahan darah di perjamuan malam sebelumnya.
Long Chen menuntun Lin Xi ke sebuah paviliun kecil di tengah danau buatan, tempat yang cukup terbuka sehingga tidak ada mata-mata yang bisa mendekat tanpa terlihat.
"Kau harus istirahat sebelum persidangan rahasia dimulai," ucap Long Chen lembut. Ia melepaskan jubah ungu luarnya dan menyampirkannya ke bahu Lin Xi yang terasa dingin. "Wajahmu semakin pucat, Xi'er. Aku benci melihatmu seperti ini."
Lin Xi menarik jubah itu, menghirup aroma cendana dan maskulin yang khas dari tubuh Long Chen. Aroma itu sedikit menenangkannya. "Aku baik-baik saja. Hanya saja... Kakek Bai benar. Seseorang menginginkan Qi milikku karena itu adalah kunci."
"Kunci untuk apa?"
"Gerbang Utara," suara Kakek Bai bergema di pikiran Lin Xi, namun kali ini ia meminjam pita suara Lin Xi untuk berbicara pelan sehingga Long Chen bisa mendengarnya.
Long Chen tersentak. "Kakek Bai? Senior, apakah itu Anda?"
"Dengarkan, Pangeran Muda," suara Lin Xi berubah menjadi sedikit lebih berat dan berwibawa. "Gadis ini lahir dengan Nadi Langit Murni. Di tangan yang benar, itu adalah berkah bagi kekaisaran. Di tangan Bayangan Merah, itu adalah tumbal untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di bawah salju abadi Utara. Mereka tidak hanya mencuri Qi-nya; mereka menanamkan 'benih' kegelapan. Itulah sebabnya dia merasa kedinginan setiap malam."
Long Chen menatap Lin Xi dengan tatapan yang hancur. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Xi'er?"
Lin Xi kembali mengambil alih kesadarannya. Ia menunduk, menghindari tatapan mata Long Chen yang penuh luka. "Karena aku tidak ingin kau melihatku sebagai beban. Aku adalah Jenderalmu, Chen. Aku seharusnya melindungimu, bukan membuatmu terjaga setiap malam memikirkan cara menyembuhkanku."
Long Chen meraih kedua bahu Lin Xi, memaksanya untuk mendongak. "Kau bukan alat, kau bukan sekadar Jenderal, dan kau demi langit... kau sama sekali bukan beban! Apakah kau tahu betapa hancurnya aku saat melihatmu jatuh di perbatasan tahun lalu? Aku bersumpah pada diriku sendiri, jika kau kembali, aku akan melepaskan takhta sekalipun hanya untuk memastikan kau tetap bernapas."
Sentuhan Long Chen terasa hangat, kontras dengan dingin yang menjalar di nadi Lin Xi. Untuk sesaat, topeng ketenangan Lin Xi retak. Setetes air mata jatuh, namun ia segera menyekanya.
"Kita tidak punya kemewahan untuk membicarakan perasaan, Chen," bisik Lin Xi. "Persidangan sore ini... itu adalah jebakan. Kaisar tidak memanggilku karena dia curiga. Dia memanggilku karena dia ingin melihat apakah 'benih' itu sudah mekar."
Aula Pertemuan Rahasia - Istana Dalam
Suasana di aula itu sunyi senyap. Hanya ada Kaisar yang duduk di takhta emasnya, Pangeran Pertama yang tampak gelisah, dan beberapa menteri senior. Di sudut ruangan yang gelap, tampak seorang pria tua berpakaian biksu dengan tasbih hitam di tangannya.
Lin Xi masuk dengan langkah tegap, didampingi Long Chen. Meskipun tanpa Qi, aura kepemimpinannya masih terasa. Ia berlutut dengan hormat.
"Hamba, Lin Xi, menghadap Baginda Kaisar."
Kaisar menatapnya dengan mata yang dalam dan sulit dibaca. "Bangkitlah, Jenderal Lin. Aku mengundangmu ke sini untuk mendengar pendapatmu tentang kematian Zhao. Long Chen mengatakan kau menemukan sesuatu yang... tidak biasa."
Lin Xi berdiri, matanya melirik sekilas ke arah biksu di sudut. "Benar, Baginda. Jenderal Zhao adalah tumbal. Ia dikendalikan oleh teknik kultivasi sesat dari Utara yang dikenal sebagai Bayangan Merah. Tujuannya bukan hanya membunuh Baginda, tapi menciptakan kekacauan agar seseorang bisa mengambil alih kendali militer di perbatasan."
"Omong kosong!" Pangeran Pertama tiba-tiba berteriak. "Ayahanda, dia hanya mencoba mengalihkan perhatian dari kegagalannya menjaga perbatasan tahun lalu. Bayangan Merah hanyalah dongeng pengantar tidur!"
"Dongeng yang bisa mencairkan manusia menjadi genangan hitam, Pangeran?" sahut Lin Xi dingin, membuat Pangeran Pertama terdiam dengan wajah memerah.
Kaisar berdeham, suaranya menggelegar di aula. "Cukup. Guru Wu, bagaimana pendapatmu?"
Biksu yang dipanggil Guru Wu melangkah maju. Suara tasbihnya yang beradu menciptakan bunyi klik yang ritmis dan mengganggu. "Baginda, Jenderal Lin benar. Namun, ada satu hal yang ia lupakan. Teknik tersebut hanya bisa aktif jika ada 'pemicu' di dekatnya. Seseorang yang memiliki hubungan darah atau koneksi spiritual dengan sumber kekuatan tersebut."
Guru Wu berhenti tepat di depan Lin Xi. Matanya yang keruh menatap langsung ke dalam mata Lin Xi. "Boleh hamba memeriksa nadi Jenderal Lin? Hanya untuk memastikan bahwa beliau tidak 'terkontaminasi' oleh sisa-sisa energi Zhao."
Long Chen langsung melangkah maju, menghalangi Lin Xi. "Berani-beraninya kau menyentuh tunanganku tanpa izin!"
"Chen-er, mundur," perintah Kaisar dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Ini demi keamanan istana."
Lin Xi bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah momen krusial. Jika Guru Wu menyentuhnya, dia akan merasakan kekosongan Qi yang tidak wajar—atau lebih buruk, dia akan memicu benih kegelapan di dalamnya.
“Gunakan teknik 'Napas Tersembunyi' yang aku ajarkan, Nak,” suara Kakek Bai terdengar mendesak. “Aku akan mencoba menutupi kekosonganmu dengan sisa jiwaku. Tapi ini akan menyakitkan. Sangat menyakitkan.”
Lin Xi mengangguk hampir tak terlihat. "Silakan, Guru Wu."
Tangan keriput biksu itu memegang pergelangan tangan Lin Xi. Seketika, Lin Xi merasa seolah-olah ribuan jarum es ditusukkan ke dalam nadinya. Wajahnya tetap datar, namun keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menggigit bagian dalam pipinya hingga berdarah untuk menahan erangan.
Long Chen menatap dengan tangan yang terkepal pada gagang pedangnya, siap untuk menebas siapa pun jika Lin Xi menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Guru Wu melepaskan tangan Lin Xi. Ia membungkuk pada Kaisar. "Nadi Jenderal Lin... sangat tenang. Terlalu tenang, bahkan. Tidak ada tanda-tanda kontaminasi. Beliau bersih."
Pangeran Pertama tampak kecewa, sementara Long Chen menghela napas lega yang sangat panjang.
"Bagus," ucap Kaisar. "Namun, karena ancaman Utara ini nyata, aku memutuskan. Lin Xi, kau akan kembali ke perbatasan Utara dalam tiga hari. Tapi bukan sebagai Jenderal. Kau akan pergi sebagai utusan perdamaian untuk menyelidiki asal-usul Bayangan Merah."
"Ayahanda, itu bunuh diri!" seru Long Chen. "Kesehatannya belum—"
"Dan kau, Long Chen," potong Kaisar, "akan menemaninya dengan seribu pasukan Garda Bayangan. Jika kau berhasil mengungkap dalang di balik semua ini, posisi Putra Mahkota akan menjadi milikmu secara resmi."
Malam itu, di Paviliun Teratai, suasana terasa sangat berat. Lin Xi duduk di tepi tempat tidur, memegangi lengannya yang masih terasa nyeri akibat sentuhan Guru Wu.
Long Chen masuk tanpa mengetuk pintu. Ia langsung berlutut di depan Lin Xi, membenamkan wajahnya di pangkuan gadis itu.
"Maafkan aku," bisiknya parau. "Aku tidak bisa melindungimu dari perintah Ayahanda."
Lin Xi mengusap rambut Long Chen dengan lembut. "Ini justru yang kita butuhkan, Chen. Kita tidak bisa menemukan musuh jika kita terus bersembunyi di dalam istana. Di Utara, aku memiliki koneksi. Di sana, aku bisa menemukan cara untuk memulihkan Qi-ku tanpa pengawasan mata-mata istana."
Long Chen mendongak, matanya merah. "Kau selalu memikirkan taktik. Pernahkah kau memikirkan betapa takutnya aku kehilanganmu?"
Lin Xi terdiam sejenak, lalu ia membungkuk dan mencium kening Long Chen. Sebuah tindakan yang sangat jarang ia lakukan. "Aku tidak akan mati sebelum aku melihatmu duduk di takhta itu, Chen. Itu adalah janji seorang Jenderal."
"Aku tidak butuh janji seorang Jenderal," sahut Long Chen sambil berdiri dan menarik Lin Xi ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah-olah dunia akan berakhir besok. "Aku butuh janji dari Lin Xi. Gadis yang dulu pernah memanjat pohon bersamaku hanya untuk melihat bintang."
Di luar jendela, seekor burung gagak bermata merah hinggap di dahan pohon teratai, memperhatikan mereka dengan diam sebelum terbang menghilang ke arah pegunungan Utara yang gelap.