Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Transformasi Sang Merpati
Fajar menyingsing di atas reruntuhan Mansion Valerius, namun tidak ada kehangatan yang dibawa oleh sinarnya. Asap masih mengepul dari sudut-sudut bangunan yang hancur, bercampur dengan aroma mesiu dan kematian. Aruna berdiri di tengah halaman, menatap lurus ke arah gerbang yang sudah hancur. Di tangannya, ia masih menggenggam flashdisk perak yang asli—sebuah benda kecil yang ternyata menjadi alasan hancurnya hidupnya dua tahun lalu.
Enzo mendekat, langkahnya berat. Wajahnya yang biasa tenang kini penuh dengan goresan luka dan noda hitam jelaga. "Tuan Dante sudah stabil di ambulans taktis. Dia kehilangan banyak darah, tapi dia bersikeras untuk tidak dibius total. Dia ingin bicara dengan Anda."
Aruna menoleh. Matanya tidak lagi meneteskan air mata. Ada sesuatu yang mati di dalam dirinya malam ini, dan sesuatu yang baru—yang jauh lebih keras—telah lahir. "Tunggu sebentar, Enzo. Ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu."
Aruna berjalan menuju jasad Lukas yang masih tergeletak di atas kap mobil. Pria itu, yang seharusnya menjadi kakaknya, adalah manifestasi dari semua kebohongan Satria. Aruna menatap wajah Lukas tanpa rasa takut. Ia merogoh saku jaket Lukas dan menemukan sebuah ponsel satelit yang masih menyala. Ada satu pesan masuk yang belum terbaca.
“Habisi mereka semua. Bawa disket itu padaku di Menara Obsidian jam 9 pagi. – M.”
Aruna menutup ponsel itu dengan bunyi klik yang tajam. Ia tahu Menara Obsidian adalah markas pusat Marco, sebuah benteng kaca yang tak tertembus di tengah kota. Jika mereka datang ke sana dengan pasukan besar, itu akan menjadi pembantaian massal. Mereka butuh sesuatu yang lebih cerdik.
Ia kemudian melangkah menuju ambulans taktis di mana Dante berbaring. Dante tampak sangat pucat, dikelilingi oleh berbagai peralatan medis canggih. Namun saat melihat Aruna masuk, ia mencoba untuk bangun.
"Jangan bergerak," perintah Aruna, suaranya lembut namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. Ia duduk di samping Dante, memegang tangannya yang terasa dingin.
"Kau... kau baik-baik saja?" bisik Dante, suaranya parau.
"Aku baik-baik saja. Bumi sudah aman bersama Martha di bunker bawah tanah yang terjaga. Sekarang, dengarkan aku, Dante," Aruna mencondongkan tubuhnya. "Marco menunggu Lukas jam 9 pagi ini di Menara Obsidian. Dia belum tahu Lukas sudah mati."
Dante menyipitkan mata. "Kau berencana mengirim Enzo?"
"Tidak. Dia akan mengenali Enzo dalam sekejap. Dia menungguku, Dante. Dia menungguku menyerahkan diri sebagai jaminan agar Bumi tetap hidup. Itulah yang dia pikirkan," Aruna menghela napas panjang. "Aku akan pergi ke sana. Sendiri."
"Tidak! Itu bunuh diri!" Dante mencoba bangkit, namun ringisan kesakitan membuatnya kembali terjatuh. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke kandang singa itu, Aruna."
"Aku tidak masuk ke sana sebagai korban, Dante. Aku masuk ke sana sebagai pembawa berita kematiannya," Aruna mengeluarkan flashdisk itu. "Semua data di sini sudah disalin oleh Enzo ke server rahasia kita. Jika aku tidak keluar dari menara itu dalam satu jam, seluruh isi data ini akan terkirim ke Interpol, agen pajak pusat, dan semua musuh Marco di seluruh dunia. Dia tidak akan punya waktu untuk membunuhku karena dia akan sibuk menyelamatkan nyawanya sendiri dari keroyokan seluruh dunia."
Dante menatap Aruna dengan tatapan tak percaya. Wanita yang dulu ia temukan ketakutan saat melihat luka tembaknya, kini sedang merencanakan pemerasan tingkat tinggi terhadap salah satu gembong mafia paling berbahaya.
"Kau berubah," gumam Dante.
"Duniamu yang mengubahku, Dante. Dan suamiku yang memulai ini. Aku hanya menyelesaikannya," Aruna mencium kening Dante. "Percayalah padaku kali ini. Kau adalah perisai, tapi biarkan aku menjadi pedangnya."
Dante menatap mata Aruna lama, mencari sisa-sisa ketakutan, namun ia tidak menemukannya. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Enzo akan mengantarmu sampai radius satu kilometer. Pasukan sniper terbaikku akan berada di gedung-gedung sekitar. Jika ada satu helai rambutmu yang terluka, aku akan membakar seluruh gedung itu tanpa peduli siapa yang ada di dalamnya."
"Aku tahu," Aruna tersenyum tipis.
Pukul 08:30 pagi.
Aruna berdiri di depan cermin besar di dalam ruang ganti rahasia di bunker. Ia tidak lagi mengenakan baju penuh noda darah. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna putih gading, sangat kontras dengan dunia hitam yang ia masuki. Rambutnya diikat rapi, dan kalung berlian hitam dari Dante melingkar indah di lehernya. Di balik jasnya, Enzo telah memasangkan alat pelacak terkecil dan mikrofon yang tidak terdeteksi oleh alat pemindai biasa.
"Nyonya, ini adalah tombol darurat," Enzo memberikan sebuah cincin kecil yang bisa mengeluarkan sinyal frekuensi tinggi untuk mengganggu sistem komunikasi gedung. "Gunakan hanya jika Anda merasa maut sudah di depan mata."
"Terima kasih, Enzo. Jaga Bumi. Dan jaga Dante," pesan Aruna.
Mobil sedan mewah membawa Aruna menuju pusat kota. Menara Obsidian menjulang tinggi, sebuah monumen kekuasaan yang dibangun di atas darah dan air mata. Saat Aruna turun di lobi gedung, puluhan mata penjaga langsung tertuju padanya. Mereka tahu siapa dia. Dia adalah wanita yang menjadi kelemahan sekaligus kekuatan Dante Valerius.
"Saya ingin bertemu Marco. Saya membawa apa yang dia cari," ucap Aruna dengan suara tenang kepada resepsionis yang merangkap sebagai penjaga keamanan.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan ketat, Aruna dibawa menuju lantai paling atas. Di sana, di sebuah ruangan luas dengan pemandangan seluruh kota, Marco duduk di balik meja kaca raksasa. Pria itu tampak lebih tua dari di layar monitor, namun aura jahatnya tetap terasa kuat.
"Aruna Kirana," Marco menyapa dengan senyum palsu. "Aku sangat menyesal tentang Satria. Dia adalah salah satu orang kepercayaanku. Sayang sekali dia memilih untuk mengkhianatiku demi cinta."
Aruna tidak duduk. Ia berdiri tegak di tengah ruangan. "Jangan sebut namanya dengan mulut kotarmu, Marco. Kau tidak membunuhnya karena dia berkhianat. Kau membunuhnya karena kau takut padanya. Kau takut karena dia memegang rahasiamu."
Marco tertawa, sebuah tawa yang mengguncang perutnya yang buncit. "Lalu, di mana Lukas? Dan di mana benda perak itu?"
"Lukas sudah di neraka, menyapa suamiku. Dan benda yang kau cari..." Aruna meletakkan flashdisk perak itu di atas meja kaca. "Ada di sini. Tapi sebelum kau menyentuhnya, kau harus tahu satu hal."
Marco menghentikan tangannya yang hendak meraih benda itu. "Apa?"
"Satu jam dari sekarang, jika aku tidak mengonfirmasi keselamatanku kepada timku di luar, seluruh isi data ini akan menyebar ke setiap agensi hukum di planet ini. Kau mungkin bisa membunuhku sekarang, Marco. Tapi kau akan mati sepuluh menit setelahnya, baik oleh peluru polisi atau oleh rekan bisnismu yang kau khianati di dalam daftar ini."
Wajah Marco berubah drastis. Warna kemerahan di pipinya menghilang, berganti menjadi pucat yang mengerikan. "Kau menggertak."
"Coba saja," Aruna menantang. "Kau pikir kenapa Dante membiarkanku datang sendiri ke sini? Karena dia tahu, aku lebih berbahaya bagimu daripada seribu pasukannya. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk hilang, Marco. Aku sudah kehilangan suamiku, rumahku, dan ketenanganku. Apa yang kau miliki untuk dipertaruhkan?"
Marco menatap flashdisk itu, lalu menatap Aruna. Ia menyadari bahwa ia telah salah menilai wanita ini. Aruna bukan lagi merpati yang sayapnya patah; dia adalah burung pemangsa yang baru saja belajar mencabik mangsanya.
"Apa maumu?" tanya Marco dengan suara rendah.
"Pertama, bersihkan nama suamiku dari semua catatan kriminal yang kau buat. Kedua, aku ingin aset-aset yang kau curi dari keluarga Kirana dikembalikan. Dan yang ketiga..." Aruna menjeda sejenak, matanya berkilat dingin. "Aku ingin kau menghilang dari kota ini. Selamanya."
Pertempuran mental di ruangan itu sangat hebat. Marco adalah predator tua, namun ia tahu kapan ia terjepit. Namun, sebuah suara dari interkom meja Marco tiba-tiba berbunyi.
"Tuan, ada panggilan dari seseorang yang mengaku memiliki informasi tentang 'rencana kedua' Dante Valerius."
Marco tersenyum licik. "Sepertinya gertakanmu mulai goyah, Aruna. Mari kita lihat siapa yang lebih cepat: datamu yang menyebar, atau rahasiaku yang menghancurkan Dante."
Aruna merasakan jantungnya mencelos. Pengkhianatan lain? Di saat ia merasa sudah menang, dunia mafia selalu memiliki kartu lain di balik lengan baju mereka.