NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau aku melakukannya dengan sengaja… apa kalian tetap memaafkan?

Minggu berganti minggu, lalu bulan berganti bulan, mengalir tenang seperti air yang tak pernah tersentuh batu.

Tanpa disadari, Zoran telah tinggal di desa itu cukup lama, cukup lama hingga rutinitas terasa wajar, dan kewaspadaan perlahan memudar.

Hari ini adalah hari kerja bakti desa.

Kegiatan ini rutin dilakukan sebulan sekali dan diikuti oleh seluruh warga desa. Zoran pun tidak terkecuali. Ini bukan pertama kalinya baginya, setiap bulan sejak tinggal di sini, ia selalu ikut.

Para laki-laki berkumpul di bagian depan desa, membangun gapura baru sekaligus membersihkan jalan dan rumah-rumah. Sementara itu, para perempuan berbondong-bondong membawa hasil kebun, menyiapkan masakan untuk makan bersama nanti siang.

Zoran bekerja di bagian pembangunan gapura.

Ia tidak asing dengan pekerjaan seperti ini.

Di Bumi, ia pernah membangun rumah kayu sendiri, membuat kursi, meja, bahkan rangka atap sederhana. Palu dan paku bukan benda asing baginya. Dibandingkan pekerjaan kasar yang pernah ia lakukan demi bertahan hidup, membangun gapura bersama orang-orang desa terasa… ringan.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Zoran mengangkat palu, memukul paku dengan ritme stabil.

Namun tiba-tiba,

Krak!

Zoran tersentak. Ia merasakan pegangan palu di tangannya menjadi ringan. Belum sempat berpikir...

Tuk!

Kepala palu terlepas dari gagangnya dan melayang ke depan, menghantam seorang pria yang sedang bekerja tepat di seberangnya.

“Ah!”

Bruk!

Karena mereka sedang berada di ketinggian, pria itu terkejut dan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjatuh ke bawah dengan suara keras yang membuat semua orang membeku sesaat.

Suasana langsung kacau.

Orang-orang berhenti bekerja dan berlari mendekat. Zoran merasakan dadanya mencelos. Tanpa berpikir panjang, ia melompat turun dan menerobos kerumunan.

Pria itu tergeletak di tanah. Darah mengalir dari kepalanya. Matanya terpejam, tak sadarkan diri.

Jantung Zoran berdegup keras. “Ini… ini salahku…” batinnya bergetar.

Rasa bersalah menghantamnya begitu kuat hingga tangannya gemetar. Ia berlutut di samping pria itu, wajahnya pucat.

“A-aku… aku tidak sengaja…” ucapnya terbata, suaranya hampir tenggelam oleh kebisingan di sekeliling.

Namun yang membuat Zoran terdiam… bukan luka itu. Melainkan reaksi orang-orang desa. Tidak ada teriakan marah. Tidak ada makian. Tidak ada satu pun tatapan menyalahkan.

Sebaliknya,

“Tenang, bawa dia ke dalam.”

“Tidak apa-apa, kecelakaan kerja.”

“Zoran, kamu tidak perlu panik.”

Nada mereka… terlalu tenang.

Beberapa orang mengangkat tubuh pria itu dengan hati-hati. Yang lain menepuk bahu Zoran, seolah menenangkan anak kecil yang jatuh.

Zoran menatap wajah-wajah itu satu per satu.

Senyum mereka hangat.

Nada suara mereka ramah.

Mereka membawa pria yang terkena palu itu untuk diobati.

Sore harinya, Zoran datang ke rumah pria tersebut dengan langkah berat.

Sejak siang tadi, dadanya terasa tidak tenang. Ia sudah mendengar kabar bahwa kaki pria itu retak dan kepalanya mengalami luka cukup parah. Itulah yang membuat rasa bersalahnya semakin menumpuk.

Tok. Tok. Tok.

Zoran mengetuk pintu dengan ragu.

Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya, namun masih terlihat muda dan segar, membuka pintu. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum lembut.

“Selamat sore, nyonya,” ucap Zoran sopan. “Aku datang untuk menjenguk suami Anda.”

Wanita itu mengangguk ringan. “Silakan masuk, tuan.”

Zoran melangkah masuk dengan perasaan semakin aneh.

Di dalam rumah, seorang pria paruh baya terbaring di ranjang. Kepalanya diperban, kakinya disangga dengan kayu. Meski begitu, wajahnya tampak… damai. Terlalu damai untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan serius.

Zoran mendekat sambil menenteng buah-buahan dan beberapa sayuran sebagai buah tangan. “Tuan” ucapnya pelan.

Pria itu membuka mata. Begitu melihat Zoran, ia tersenyum lebar. “Oh, kamu rupanya, anak muda,” katanya ramah. “Silakan duduk. Jangan berdiri terus.”

Zoran duduk di sisi ranjang, tangannya mengepal tanpa sadar. “Aku… aku minta maaf,” ucapnya tulus. “Akibat kelalaianku, Anda sampai terluka seperti ini.”

Pria paruh baya itu tertawa kecil, pelan dan ringan. “Ah, itu bukan apa-apa,” katanya. “Hal seperti itu bisa terjadi. Tidak perlu dipikirkan.”

Zoran terdiam. “Namun kaki Anda retak… dan kepala Anda, ”

“Sudah biasa,” potong pria itu sambil tersenyum tenang. “Aku masih hidup, bukan?”

Zoran tidak tahu harus berkata apa. Ia sudah membayangkan kemungkinan terburuk, dimaki, dipukul, atau setidaknya ditatap dengan kebencian. Namun yang ia terima justru... penerimaan mutlak.

Wanita paruh baya itu menaruh secangkir teh di meja kecil di samping Zoran. “Minumlah dulu, tuan,” katanya lembut. “Jangan terlalu membebani dirimu sendiri.”

Zoran terdiam, menatap pria itu lama. Ia tidak menyangka pria itu tidak marah sama sekali, padahal sebelumnya ia sudah bersiap jika harus menerima pukulan.

“Kalau aku melakukannya dengan sengaja…” Zoran berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara pelan, “apa kalian tetap memaafkan?”

“Ya,” jawab pria itu tanpa ragu. “Karena memaafkan adalah pilihan kami.”

“Kalau aku melakukannya lagi?”

“Kami akan tetap memaafkan,” lanjutnya tenang. “Luka adalah milik kami. Hati tetap milik kami.”

Zoran tidak langsung menjawab. Dadanya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Jawaban itu… tidak terdengar salah.

Tapi juga tidak terdengar benar.

\*\*\*

Hari berlalu seperti awan tipis, datang tanpa suara, pergi tanpa jejak.

Malam ini sangat dingin. Keluarga Ruian membuat api unggun di depan rumah. Selain untuk menghangatkan tubuh, mereka membakar daging dan mengobrol ringan, menciptakan suasana yang hangat dan damai.

Terlalu damai.

Prank.

Suara kaca pecah terdengar tiba-tiba.

Ruian, ayah, dan ibunya sontak menoleh. Zoran berdiri tak jauh dari sana. Kakinya mengenai pot bunga hingga terjatuh dan pecah.

“Maaf,” ucap Zoran singkat.

Mereka justru tersenyum, lalu bersama-sama membersihkan pecahan kaca itu dari tanah, seolah tidak terjadi apa-apa.

Zoran berdiri kaku.

Kenapa… tidak ada yang marah?

Apa mereka tidak bisa marah, atau memang tidak mau?

“Sepertinya aku kurang enak badan,” ucap Zoran akhirnya. “Aku izin beristirahat, paman, bibi.”

Ibu Ruian mengangguk sambil tersenyum hangat. “Istirahatlah dengan baik. Angin malam memang sering membuat orang sakit.”

Zoran mengangguk pelan, lalu masuk ke kamarnya.

Saat pintu tertutup, senyum di luar masih terasa…

meski tidak lagi terlihat.

\*\*\*

Desa ini adalah satu-satunya desa yang Zoran ketahui.

Sebelumnya, ia pernah mencoba memeriksa daerah di sekitar desa, namun sejauh mata memandang yang ia temukan hanyalah hutan-hutan lebat yang seolah tidak memiliki ujung.

Zoran tinggal di desa ini bukan tanpa alasan.

Selain karena ia sudah merasa nyaman dengan kehidupan di sini, ada satu hal lain yang tidak bisa ia abaikan, rasa malas, atau lebih tepatnya keengganan, untuk kembali berhadapan dengan binatang-binatang buas di luar sana jika ia memaksakan diri menyeberangi hutan.

Ia masih mengingat jelas bagaimana rasanya dikejar, disudutkan, dan hampir mati di hutan itu.

Perlu diketahui, desa ini benar-benar dikelilingi oleh hutan lebat dari segala arah. Desa itu sendiri hanya terdiri dari padang rumput kecil di beberapa tepinya, serta kebun-kebun milik penduduk yang terawat rapi.

Di luar batas kebun… hanya ada pepohonan rapat dan bayangan gelap yang diam mengawasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!