NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basah-basahan

“Ini baru pertemuan kita yang kedua, tolong jangan bicara seperti itu. Nanti orang lain bisa salah paham,” ujar Mirea sambil membuang muka, nadanya terdengar dingin. B aja.

Kael menatap punggungnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi Mirea sudah lebih dulu melangkah.

“Kalau Tuan Kael ingin tetap di sini, maka aku yang akan pergi dulu,” lanjut Mirea, lalu berjalan mendekat ke arahnya berniat melewati.

Namun tanpa ia sadari, langkahnya terlalu ke pinggir kolam. Ujung hak sepatunya menginjak lantai marmer yang licin.

“Tunggu—” Kael refleks meraih pergelangan tangan Mirea.

Tapi justru di detik itu, keseimbangan Mirea benar-benar hilang.

“Ah—!”

Tubuhnya miring ke belakang, tangannya terlepas dari Kael, dan—

Byurrr!

Air kolam memercik tinggi saat tubuh Mirea jatuh ke dalam. Gaunnya langsung terseret air, membuat gerakannya semakin kacau. Ia muncul ke permukaan dengan napas terengah-engah, rambutnya basah menempel di wajah.

“T-tolong…!” teriaknya panik sambil mengibaskan tangan.

“Aku nggak bisa berenang!” suaranya bergetar.

Tubuhnya mulai tenggelam naik turun, kakinya menendang air tanpa arah, makin panik setiap detik.

Kael langsung membeku sepersekian detik.

Sial.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Air memercik cukup keras saat tubuhnya masuk, membuat riak besar di permukaan air. Ia berenang cepat ke arah Mirea yang masih gelagapan, tangannya menggapai-gapai permukaan.

Tak butuh waktu lama, Kael berhasil meraih pergelangan tangan Mirea lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya agar kepalanya tetap berada di atas air.

Mirea terbatuk keras, refleks memeluk leher Kael.

“Hhh… hhh…” napasnya tersengal, tubuhnya gemetar.

“Tuan Kael… kamu ini ngapain sih!” bentaknya di sela napas, tangannya memukul kecil dada Kael karena kaget dan emosi.

“Aku nggak mungkin diam aja lihat kamu tenggelam,” jawab Kael cepat, suaranya lebih serius dari biasanya. “Tenang, aku pegang kamu.”

Mirea terdiam sejenak, baru menyadari posisinya. Tubuhnya menempel penuh pada Kael di dalam air.

Wajahnya langsung memanas.

“…maaf tadi aku lancang,” lanjut Kael, nadanya lebih rendah. “Aku nggak bermaksud bikin kamu jatuh.”

“Cepat bantu aku naik ke atas,” ujarnya kesal, menahan rasa malu dan panik. “Aku nggak mau lama-lama di sini.”

Kael mengangguk, lalu mengubah posisi tubuhnya di dalam air. Ia merapat ke sisi Mirea, satu tangannya menyelinap menopang punggungnya, sementara tangan lainnya mengangkat tubuh Mirea ke atas dengan gerakan yang tegas tapi hati-hati.

Karena posisi di air yang licin, Mirea otomatis sampai harus duduk di atas bahu Kael, kedua tangannya refleks berpegangan di kepalanya agar tidak terjatuh lagi.

“Eh—?!” Mirea tersentak kaget.

“Tu-tunggu! Kok jadi begini sih?!”

Pakaian mereka sama-sama sudah basah kuyup. Gaun putih Mirea menempel oleh air, membuat siluet tubuhnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu taman. Rambutnya basah tergerai, air menetes dari ujungnya, sementara Kael tetap berjalan di dalam kolam dengan tenang seolah ini hal biasa.

“Tuan Kael! Apa ini sih?! Mau ngapain kamu?!” protes Mirea dengan wajah memerah, antara kesal, malu, dan panik dengan posisi yang sama sekali tidak ia bayangkan.

Kael melirik ke atas sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Tadi yang minta dibantu naik siapa?” balasnya santai, sambil terus melangkah berenang ke arah tepi kolam.

“Bantu naik itu bukan naik di bahu kamu juga kali!” gerutu Mirea, jari-jarinya makin kuat mencengkeram rambut Kael karena takut tergelincir lagi.

“Kalau aku gendong biasa, kamu bisa tenggelam lagi,” jawab Kael ringan.

“Ini posisi paling aman.”

“Aman buat siapa?!” Mirea mendengus, wajahnya panas setengah mati.

Kael hanya tersenyum kecil, jelas menikmati reaksi Mirea,

Di dalam aula, beberapa anak buah Mirea yang sejak tadi mengintip dari balik pilar langsung mengucek mata mereka berkali-kali, menatap ke arah kolam dengan ekspresi seolah baru saja melihat hal mustahil.

“Apa… apa aku salah lihat?” gumam salah satu dari mereka sambil menurunkan teropong kecil di tangannya.

“Bukannya bos kita pernah menyebrangi sungai amazon? Bahkan beranang di tengah laut gak pake apa-apa?”

Yang lain menelan ludah.

“Tapi barusan… hampir tenggelam di kolam taman sedangkal ini?”

Mereka saling pandang. Sunyi beberapa detik.

“…Dunia ini makin nggak masuk akal.”

Mereka semua menatap dengan ekspresi bingung dan tidak percaya.

Kael akhirnya sampai di tepi kolam dan meletakkan Mirea di lantai marmer. Mirea sedikit terhuyung, lalu berdiri sambil mengibas-ngibaskan gaunnya yang basah, wajahnya masam setengah mati.

“Huh… kalau diangkat kayak anak kecil begini,” batin Mirea mengerutu kesal,

“gimana aku bisa disegani di dunia mafia.”

Di belakangnya, Kael baru saja meletakkan kedua tangannya di pinggir kolam, bersiap mengangkat tubuhnya sendiri untuk naik.

Belum sempat Kael benar-benar keluar, Mirea menoleh.

Matanya menyipit, menatap Kael dari atas ke bawah.

“Nggak. Nggak bisa,” gumamnya pelan.

“Ini nggak bisa dibiarin.”

Ia melangkah setengah putar, lalu dengan sengaja

“Uh—!” menginjak tepat di wajah Kael yang baru saja ingin mendongak ke atas menatap Mirea.

Byur!

Tubuhnya langsung jatuh lagi ke dalam kolam, air muncrat cukup tinggi membasahi pinggir lantai marmer.

Mirea berdiri di tepi kolam, menatap ke bawah dengan ekspresi mengejek, lalu mendengus puas.

“Mampus lo.”

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!