Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Dio yang Mencurigakan
#24
“Kenapa, Mas?” tanya Lilis kala ponsel berpindah ke telinganya.
Secubit rasa bersalah mampir di hati Ray, meski ibu tiri, Bu Saodah tetap seorang ibu bagi Lilis. Hanya saja perannya dalam hidup Lilis tak mencerminkan perilaku seorang ibu yang mengayomi anak-anaknya.
“Kamu keberatan dengan tindakan yang ku ambil?” Rayyan balik bertanya.
Kini Lilis yang terdiam, karena ia pun bingung. “Tapi aku ingin mencoba mempercayaimu, Mas.”
Rayyan tersenyum, “Terima kasih, ya, karena sudah percaya.”
“Aku bukan pria jahat, Lis. Tapi aku selalu mempertimbangkan baik dan buruknya setiap tindakan yang ku ambil. Masalah Ibu, dia seenaknya saja menawarkanmu pada pria sebagai calon istri mudanya. Andai kita tidak menikah pada saat itu sekalipun, perbuatannya tetap tidak bisa dibenarkan. Apalagi jika niatnya menikahkanmu agar ia bisa ikut menikmati uang pemberian suamimu.”
“Yang kedua perbuatan Arimbi, segala bentuk kejahatan besar dimulai dari kejahatan kecil yang terus menerus diberi maaf, tanpa diminta bertanggung jawab.”
Diam, sepi, keduanya sama-sama tak berucap. Lilis pun sibuk mencerna dan menelaah ucapan suaminya.
“Sampai di sini, paham maksudku? Mumpung Arimbi masih belia, dia harus belajar menanggung konsekuensi dari hasil perbuatannya.”
“Tapi Arimbi mau ujian kelulusan, Mas— bagaimana jika nanti ia tak bisa melanjutkan cita-citanya?” bantah Lilis pelan.
“Untuk menjawab pertanyaanmu itu, izinkan aku bertanya lebih dulu, boleh?” sahut Rayyan kala meminta persetujuan.
“Silahkan, Mas.” Lilis pun mempersilahkan.
“Lebih baik memiliki anak pintar atau anak sholeh?”
“Tentu saja anak sholeh, Mas,” jawab Lilis cepat.
“Lebih baik memiliki anak yang memiliki budi pekerti baik, atau anak yang hanya pintar dalam hal pelajaran?”
“Tentu saja yang berbudi pekerti baik,” jawab Lilis lagi.
“Good,” puji Rayyan. “Nah, yang terakhir, apakah anak yang lulus sekolah tapi berkelakuan minus, akan terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan anak yang prestasinya biasa saja tapi memiliki akhlak mulia dan budi pekerti yang luar biasa?”
“Tentu tergantung dari sisi mana kita melihatnya.”
“Itulah yang aku maksudkan, aku tak membenci Arimbi, aku hanya tak suka dengan perbuatannya. Mencuri itu bisa jadi penyakit yang sulit disembuhkan, apalagi jika sudah kecanduan. Karena itulah, sebelum Arimbi terlanjur rusak, Mas ingin memperbaikinya sekarang. Agar dia tahu sebab akibat dari hasil perbuatannya.”
Sedikit banyak Lilis mulai paham, “Begitu, ya? Lalu sekolahnya gimana, Mas?”
“Tak memiliki ijazah formal sekalipun, seseorang bisa sukses bila mau bekerja keras. Tapi jika ingin tetap mendapatkan ijazah ada banyak jalur yang ditempuh,” tutur Rayyan sabar, menjabarkan jawaban dari semua pertanyaan istrinya.
“Ray— ayo.”
Di seberang sana, Lilis mendengar seseorang memanggil Rayyan. “Iya, Om. Sebentar lagi.”
“Lis, sudah dulu, ya. Mas mau mulai kerja.”
“Iya, Mas. Hati-hati kerjanya.”
“Hmmm, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Lilis.
Panggilan mereka pun terpaksa berakhir, tapi Lilis sedikit lega setelah mendengar jawaban suaminya. Semoga saja, ini adalah jalan terbaik yang akan menuntun Arimbi dan Bu Saodah untuk mau berubah menjadi diri yang lebih baik lagi.
•••
Sementara itu, di kota.
Rayyan sudah berpakaian formal lengkap, ia berjalan berdampingan dengan Agung memasuki lobi gedung perkantoran PT. Erlangga Niaga Food. Sebuah perusahaan bergerak di bidang pangan, salah satunya adalah pabrik roti yang mereknya cukup terkenal di masyarakat.
Kedatangan mereka langsung disambut asisten Mbah Nuning, sesekali wanita yang usianya sudah lanjut itu masih mendatangi perusahaan demi mengontrol manajemen perusahaan secara langsung. Karena jujur saja ia belum bisa percaya sepenuhnya pada anak lelaki dan cucu lelakinya.
Penyebabnya?
Karena keduanya sama-sama salah memilih istri. Rasyid Erlangga tetap menikahi Fatma meski Mbah Nuning menolak memberikan restu. Dan Dio Erlangga tetap menjalin hubungan dengan Monica kendati sudah memiliki Lilis sebagai istrinya pada saat itu.
Firasat Mbah Nuning tak pernah salah dalam menilai seseorang, dan dua orang wanita yang kini menjadi menantu dan cucu menantunya, sama sekali tak memiliki nilai baik di matanya.
“Silahkan, Tuan Agung, dan Tuan— maaf, siapa, ya? Kalau boleh tahu?”
“Ini asistenku,” jawab Agung singkat, sesuai permintaan Rayyan. Karena yang menerima mandat dari Tuan Gusman adalah Agung.
“Baiklah, semua dokumen yang Anda berdua butuhkan, sudah saya klasifikasikan di atas meja. Bila butuh bantuan, saya ada di luar ruangan.”
“Baiklah, terima kasih.”
Rayyan mulai membuka dokumen satu persatu, mempelajarinya dengan cermat, serta meneliti barang kali ada kesalahan dalam peletakkan angka, serta pengelolaan alokasi dana.
Dua orang itu nampak serius menjalankan pekerjaan yang diamanahkan Mbah Nuning pada mereka. Tiba-tiba—
Brak!
Pintu ruangan terbuka di tengah suasana serius, “Siapa yang menyuruh kalian memeriksa semua dokumen rahasia perusahaan?!” pekik pria arogan itu.
Agung mendongak, “Kami hanya menjalankan perintah.”
“Perintah apa? Perintah dari siapa? Kenapa tidak ada yang memberitahu saya?! Arini!” teriak pria itu pada asisten Mbah Nuning.
Perempuan bernama Arini buru-buru datang, tadinya ia berada di ruang pantry untuk menyiapkan minuman serta beberapa kudapan ringan. “Saya, Tuan.”
“Siapa yang mengizinkan kamu memasukkan orang asing ke perusahaan?!”
“Maaf, Tuan. Ini perintah dari Nyonya besar.”
“Mbah Nuning sudah tidak aktif dalam manajemen, kenapa ia bisa mengambil keputusan seenaknya?!” bentak pria itu.
Jantung Arini berdegup tak karuan, sebagai asisten, tugasnya adalah mematuhi atasannya, yakni Mbah Nuning. Tapi di tengah perjalanan ada hambatan yang sama sekali tak ia duga sebelumnya.
“Dio, apa-apaan kamu, kenapa membuat malu di depan tamu kita?” tegur Pak Rasyid yang baru datang setelah inspeksi di pabrik.
“Tamu? Jadi Papa tahu tentang kedatangan mereka?”
“Iya,” jawab Pak Rasyid.
“Lalu, kenapa tak ada yang memberitahuku?”
“Sudah berapa hari kamu absen tanpa kabar, hah?!” geram Pak Rasyid pada putra tunggalnya itu.
“Ya, kan, ada alasannya, Pa. Istriku sedang mengandung, dan bayi dalam kandungannya tak mau kutinggalkan—”
“Alasan saja, bilang saja kalau kamu malas!” Pak Rasyid melewati Dio begitu saja, kemudian menghampiri Agung dan Rayyan yang sejak tadi menjadi penonton.
“Maafkan kami, Tuan Agung.” Pak Rasyid menjabat tangan Agung, kemudian Rayyan, karena pria itu mengira Rayyan adalah asisten Agung.
“Tidak apa-apa, Pak. Kami paham.”
Rayyan hanya diam, tapi sudut matanya terus mengamati gerak-gerik Dio yang sejak kedatangannya sudah bersikap arogan. Kini pria itu pun mulai tampak mencurigakan, seperti gugup, dan bahasa tubuhnya pun aneh.
“Mari, silahkan kita diskusikan, saya sudah mendengar langsung dari Ibu saya soal kedatangan Anda. Dan saya yakin, Tuan Gusman pasti sangat mempercayai Anda, hingga beliau mengutus Anda untuk datang ke perusahaan kecil ini.” Pak Rasyid mencoba berbasa-basi demi mencairkan suasana.
Namun, tidak demikian dengan Dio yang hanya diam seperti orang yang kebingungan.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭