Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. INFORMASI BARU
Malam itu tidak benar-benar berakhir di gedung lelang bawah tanah wilayah timur.
Bahkan ketika pintu-pintu besi ditutup paksa, ketika obor dipadamkan satu per satu, dan jeritan terakhir teredam di balik dinding batu tebal, udara masih menyimpan bau besi, darah, dan pengkhianatan.
Gideon berdiri di lantai utama gedung lelang dengan mantel hitamnya terbuka, pedang masih basah di tangannya. Matanya menyapu ruangan dengan dingin, menghitung yang hidup, memastikan yang sekarat tak lagi punya kesempatan bangkit.
"Bersihkan sisi barat," perintah Gideon singkat. "Tidak ada yang keluar hidup-hidup tanpa izin," lanjutnya.
Dua orang kepercayaannya bergerak tanpa ragu. Mereka tidak bertanya. Tidak pernah.
Arram muncul dari balik lorong samping, bahunya dipenuhi noda darah yang bukan miliknya. Pedangnya telah disimpan, diganti belati pendek yang berkilat dalam cahaya redup.
"Bagian bawah aman. Kandang monster sudah dikunci. Sebagian besar ... masih hidup," beritahu Arram.
Rahang Gideon mengeras. "Tentu saja. Mereka selalu menjaga barang dagangan lebih baik dari pada manusia."
Gideon mengangkat tangan, memberi isyarat. "Ambil alih komando penuh. Mulai dari sekarang, semua yang bergerak di gedung ini berada di bawah yurisdiksi Duke Alaric Ravens."
Nama itu menggema, bukan sebagai gelar, tapi sebagai ancaman.
Siapa yang tidak mengenal Duke Alaric Ravens. Pria yang dikenal bukan hanya gelar tapi kehebatannya di medan perang; yang tidak terkalahkan.
Di ruang lelang utama, para bangsawan yang tersisa dipaksa berlutut. Jubah mahal mereka ternodai debu dan darah. Cincin-cincin berharga tak lagi berarti apa-apa ketika pedang menempel di leher.
Gideon berjalan di hadapan mereka seperti algojo yang sedang memilih urutan.
"Lelang ini," kata Gideon datar, "bukan hanya menjual budak."
Tak ada yang menjawab.
"Monster muda. Telur yang belum menetas. Spesimen yang seharusnya berada di wilayah terlarang," sambung Gideon.
Gideon berhenti di depan seorang pria berusia lima puluhan dengan lambang wilayah timur tersemat di dadanya.
"Dan kau," lanjut Gideon, "membiarkan semua ini terjadi."
Pria itu gemetar. "Kami ... hanya perantara."
Pedang Gideon berkilat.
"Perantara tidak menyediakan arena."
Satu tebasan.
Tubuh itu ambruk tanpa suara.
Tidak ada teriakan setelahnya. Ketakutan telah mengikat lidah mereka lebih kuat dari rantai mana pun.
Menjelang dini hari, gedung itu sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.
Barang bukti dikumpulkan. Dokumen disita. Beberapa bangsawan penting ditahan hidup-hidup, bukan karena belas kasihan, melainkan karena informasi.
Gideon berdiri di balkon atas, memandang ke arah timur, ke arah wilayah yang secara perlahan sedang dijual sedikit demi sedikit.
"Varkhiel," kata Gideon pelan. "Sialan mereka."
Arram berdiri di sampingnya. "Mereka terlalu berani."
"Bukan berani," Gideon menggeleng. "Mereka yakin kita tidak akan bergerak."
Arram mengepalkan tangan. "Dan mereka terlalu percaya diri jika Alaric terkena panah malam ini, mereka pikir kita akan berhenti."
Markas mereka masih sunyi ketika fajar mulai mengintip.
Lorong batu diterangi cahaya pucat. Bau ramuan obat bercampur darah kering menyelimuti udara.
Di salah satu kamar terdalam, Duke Alaric Ravens terbaring dengan dada telanjang, perban tebal melilit luka bekas anak panah. Racun telah dikeluarkan, tapi sisa-sisanya masih berusaha melawan tubuhnya.
Kelopak matanya bergetar.
Napasnya tersendat ... lalu menguat.
Dan akhirnya ... terbuka.
Alaric menatap langit-langit batu beberapa detik sebelum mendecih pelan.
"Rasanya," gumamnya, "aku sudah bilang jangan biarkan aku tidur terlalu lama."
Alaric duduk, mengabaikan nyeri yang menjalar di dadanya. Perban terasa ketat, tapi tidak cukup untuk menahannya.
Tanpa mengenakan baju, hanya celana panjang, Alaric melangkah keluar kamar.
Penjaga yang berjaga nyaris melonjak kaget.
"T-Tuan Duke!'
"Tenang," potong Alaric. "Kalau aku mau mati, aku tidak akan berjalan sendiri."
Alaric melangkah pergi, langkahnya mantap meski wajahnya pucat.
Di ruang strategi, Gideon sedang berdiri di depan meja peta bersama Arram dan Colton.
Beberapa simbol monster ditandai merah. Jalur perbatasan timur dicoret-coret kasar.
"Jika satu kawanan lolos," kata Colton, "desa-desa ini akan hancur dalam seminggu."
"Dan penguasa wilayah timur akan berpura-pura terkejut," balas Gideon dingin.
Pintu terbuka.
Langkah kaki terdengar.
Gideon menoleh, dan tubuhnya menegang seketika.
Alaric berdiri di ambang pintu, dada telanjang, perban putih kontras dengan kulitnya yang pucat. Bibirnya melengkung tipis.
Gideon langsung berdiri.
Arram tersenyum mengejek.
Colton ternganga.
Alaric menyeringai. "Kenapa kau seolah melihatku bangkit dari kematian?" katanya.
Gideon dan Colton merilekskan wajahnya.
Alaric melangkah masuk, santai. "Hanya panah dan racun seperti itu tidak akan membunuhku. Kalian lupa siapa aku?" katanya.
Gideon mendengus keras. "Anda pikir aku khawatir?" bentaknya. "Tentu saja tidak! Aku hanya menunggu Anda bangun karena aku tidak mau mengambil pekerjaan Anda!"
Alaric mendecih. "Ajudan yang menyebalkan. Jangan buat aku potong gajimu."
"Kalau Anda berani," Gideon langsung naik pitam, "akan aku adukan bahwa Anda hampir mati pada Duchess!"
Senyum Alaric lenyap seketika. Urat kesal muncul di pelipisnya.
"Bagaimana jika aku potong saja lidahmu?" ancam Alaric.
Gideon menyeringai sinis. "Coba saja kalau berani, kalau mau mengurus semua dokumen di ruang kerja Anda sendirian."
Alaric mendecih keras, tahu betul ia kalah di situ.
Arram tertawa lepas, suara itu memecah ketegangan. "Setidaknya kalian berdua masih cukup sehat untuk bertengkar," katanya.
Alaric akhirnya duduk, menyandarkan punggung.
"Baik," katanya. "Bagaimana situasinya selama aku pingsan?"
Arram menjawab lebih dulu. "Lebih buruk dari yang kita tahu."
Gideon menimpali, suaranya kembali serius. "Penguasa wilayah timur bekerja sama dengan Kerajaan Varkhiel. Tidak hanya barang dan budak yang dilelang semalam, mereka mendistribusikan monster."
Colton mengangguk. "Benar. Kami bahkan kaget melihat jumlah monster yang mereka simpan. Mengambil yang masih muda. Dijadikan hewan peliharaan ... atau bahan taruhan di arena Varkhiel."
Gideon melanjutkan, "Dan rata-rata bangsawan yang hadir semalam adalah bangsawan Varkhiel."
Ruangan hening.
"Tentang perbatasan wilayah timur dengan wilayah monster, rupanya penguasa sengaja tidak memberikan pasokan dan dukungan ke penjagaan di sana dengan alasan mereka akan menggunakan monster yang lepas kendali ke wilayah timur hingga wilayah timur tidak dapat ditempati dan penduduk akan mengungsi ke wilayah lain. Dan saat itu terjadi, penguasa akan sepenuhnya menjual wilayah timur ke kerajaan Varkhiel yang nantinya para monster akan dibersihkan oleh mereka" beritahu Gideon.
Alaric diam lama sebelum berkata, "Perbatasan monster?"
Gideon menarik napas. "Mereka sengaja tidak memberi pasokan. Membiarkan penjagaan lemah. Monster dilepas ke wilayah timur sampai daerah itu tak layak huni."
Arram menghela napas berat. "Penduduk mengungsi. Tanah kosong. Itu tujuan mereka."
"Dan saat itu," Gideon menutup, "wilayah dijual penuh ke Varkhiel. Monster akan 'dibersihkan' oleh mereka."
Alaric menyipitkan mata. "Pasti ada yang diincar."
"Pertambangan?" duga Arram.
Gideon menggeleng. "Tidak cukup berharga."
"Pertanian," gumam Alaric pelan. "Tanah timur adalah lumbung. Tapi apa benar mereka hanya sekedar mengincar lahan pertanian?"
Mereka semua menatap peta.
"Kita harus selidiki lebih dalam," kata Alaric.
Gideon dan Arram mengangguk bersamaan.
Alaric lalu menoleh pada Arram. "Pemuda yang kau selamatkan di lelang apa baik-baik saja?"
Arram sedikit terkejut. "Kekurangan nutrisi. Traumatis."
Alaric mengangguk paham.
Arram menatapnya lekat-lekat. "Kau tidak bertanya siapa dia?"
"Bukankah kau bilang itu urusan Oberyn?" balas Alaric tenang. "Aku tahu batasanku."
Arram tertawa kecil. "Kaku seperti biasa."
Alaric mengangkat bahu.
Percakapan mereka terus mengalir; strategi, ancaman, candaan tajam, lalu kembali tegang.
Fajar naik sepenuhnya.
Dan di balik cahaya pagi itu, perang yang lebih besar mulai membuka matanya.
Perburuan Alaric dan yang lain, masih berlanjut.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo