Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Antara Bakti dan Cinta
Reza menutup pintu kamarnya, lalu bersandar di balik daun pintu. "Menikah dengan wanita yang tak pernah kupikirkan," gumamnya tertawa pahit.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan nama Zahra.
Nada sambung terdengar singkat.
“Sayang?” suara Zahra sedikit terengah. Musik samar dan riuh tawa terdengar dibelakangnya.
Reza menutup mata sejenak. “Kamu lagi di mana?” tanyanya.
“Masih di lokasi,” jawab Zahra cepat. “Abis shoot, ini lanjut after-party klien. Ramai banget.”
“Oh.” Reza mengangguk, meski Zahra tak bisa melihat. “Kedengeran.”
“Kenapa? Penting?” Zahra bertanya, tapi fokusnya terasa terbagi. Ada suara seseorang memanggil namanya dari kejauhan.
Reza melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul sembilan.
“Enggak,” jawabnya cepat. Terlalu cepat. “Cuma pengin dengar suara kamu.”
Zahra tertawa kecil. “Sweet. Rindu ya? Tapi aku lagi nggak bisa lama.”
“Iya,” kata Reza. “Santai aja.”
Bukan basa-basi. Ia ingat saat ia rapat dan tak bisa mengangkat telepon Zahra, perempuan itu juga tak pernah marah. Mereka sama-sama sibuk. Sama-sama mengerti.
“Maaf ya, Sayang,” kata Zahra. “Besok aku telepon balik.”
“Oke.”
“Love you. Muaaach.”
“Love you too.”
Bibir Reza melengkung tipis. Panggilan terputus. Reza menurunkan ponselnya perlahan.
Tak ada kecewa apalagi emosi yang meledak. Tak ada drama. Hanya hening dan suara deru AC di dalam kamar.
Di diskotik
Zahra meletakkan ponselnya di meja. Seorang pria tampan mendekat.
“Siapa?” tanyanya.
“Reza.”
“Oh,” katanya sambil tersenyum miring. “Pacar CEO-mu itu ya? Aku cemburu.”
“Apaan, sih,” Zahra tertawa kecil, mendorong dadanya ringan.
Pria itu terkekeh. “Let’s go party, Darling.”
Tangannya sudah melingkar di pinggang Zahra, menariknya ke lantai dansa.
Lampu strobo berputar. Musik menghentak. Mereka bergerak mengikuti irama, ringan, lepas, penuh tawa, tanpa beban.
Di kamarnya, Reza berdiri. Ia membuka kemeja. Meletakkannya di keranjang cucian, lalu mengganti pakaian dengan kaus tipis.
Kebiasaan lama. Semua harus tetap teratur, meski hatinya tidak lagi.
"Dia nggak salah," pikirnya.
Ia tahu, Zahra hidup di dunia yang menuntutnya hadir di banyak tempat sekaligus. Sama seperti dirinya.
Reza duduk kembali di tepi ranjang.
Malam itu berjalan seperti biasa. Hanya saja… untuk pertama kalinya, ia menyadari,
"Ternyata memahami tidak selalu membuat rasa sepi pergi."
Reza membuka laci nakas.
Sebuah album foto lama tergeletak di dalamnya. Sampulnya kusam.
"Aku lupa kapan terakhir kali membukanya."
Halaman pertama foto Siti muda. Rambut hitam tergerai. Senyum lebar.
Ia berdiri tegak di depan rumah lama mereka, menggandeng Reza kecil, sambil menggendong Fahri yang masih bayi.
Reza menelan ludah saat mengingat wajah ibunya di ruang keluarga tadi.
“Sejak kapan…?” gumamnya.
Ia memejamkan mata sejenak.
Ia mengingat angka-angka presentasi di kepalanya. Tepuk tangan klien. Ucapan selamat. Tapi ia tak memerhatikan wajah ibunya.
Reza menghembuskan napas pelan.
“Egois.”
Untuk pertama kalinya, keberhasilannya terasa terlalu mahal.
Kata-kata ibunya kembali terngiang.
“Bunda tidak tahu berapa lama lagi tubuh ini bisa bertahan. Bunda tidak tahu apakah pengobatan ini akan membawa Bunda pulang ke rumah... atau pulang ke tempat lain.”
Reza menghembuskan napas kasar.
“Kenapa harus Ayza?” gumamnya. “Gadis yang…”
Kalimat itu menggantung. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu meraih ponsel.
Nama Ayza ia ketik di kolom pencarian, namun tak ada yang muncul.
Ia mencoba lagi. Menambahkan nama belakang. Mengganti ejaan. Tetap nihil.
Dahi Reza berkerut.
Ia membuka aplikasi lain. Media sosial lain. Hasilnya sama. Akun privat. Tanpa foto. Tanpa unggahan. Tanpa cerita.
Reza menatap layar lebih lama dari seharusnya.
“Serius?” desisnya pelan.
Ia menggeser ponsel di tangannya, kesal.
"Bahkan gak eksis di media sosial," gumamnya tertawa pendek. “Bagaimana caranya hidup dengan perempuan yang bahkan dunia digitalnya pun kosong?”
Reza menjatuhkan ponsel ke kasur.
Dadanya terasa sesak. Kepalanya penuh alasan. "Aku gak bisa membantah permintaan mereka."
Reza melangkah ke dapur. Tenggorokannya kering, butuh air dingin.
Belum sampai ambang pintu, ia berhenti. Suara ayahnya terdengar dari dapur. Pelan, tapi tegang.
“Bagaimana bisa, Pak Kyai…?”
Jeda.
“Astaghfirullah…”
Reza menahan napas.
“Fahri manjat tembok?” suara ayahnya merendah. “Baik. Saya mengerti.”
Beberapa detik sunyi.
“Silakan dihukum sesuai aturan pondok,” lanjut ayahnya.
“Tapi saya mohon… jangan sampai Fahri dikeluarkan.”
Jeda.
“Ujian akhirnya sudah dekat, Pak Kyai,” suaranya lebih rendah. “Kalau sekarang dia dikeluarkan, masa depannya....”
Reza menelan ludah.
“Kalau soal pagar sebelah barat yang hampir roboh, insya Allah saya ikut membantu pembangunannya.”
Telepon ditutup.
Reza tetap berdiri di tempat. Kalimat ayahnya terngiang, entah dari kapan.
"Siapa yang akan mengurus kalian kalau kami tidak ada?"
Dadanya mengeras.
Fahri. Pondok. Orang tua yang mulai kelelahan. Ibunya yang butuh perawatan.
Reza menunduk. "Aku tak bisa membiarkan ayah dan bunda memikul tanggung jawab ini sendirian."
Reza melangkah masuk ke dapur. Ia meneguk air dingin sekali habis.
Ia menatap punggung ayahnya yang berdiri membelakangi meja. Punggung itu sedikit membungkuk dan bahunya sedikit merosot. Pria itu sibuk menyiapkan panci kecil. Beberapa lembar daun obat masih terikat karet. Air belum mendidih. Baru direbus.
“Ayah belum tidur?” tanya Reza pelan.
Rahman tidak menoleh. “Bunda mual sejak sore.”
Reza terdiam.
Kompor menyala kecil, apinya stabil.
“Reza,” panggil ayahnya, suaranya datar. “Duduk.”
Reza menurut.
“Ayah tak bisa menunda pengobatan bundamu, tapi Ayah juga tak bisa mengabaikan adikmu. Selama kami di luar negeri, Ayah serahkan Fahri padamu."
“Yah—” potong Reza.
Rahman mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
“Bunda semakin lemah, Rez,” ucapnya pelan. “Fahri masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Dan suatu hari nanti…”
Rahman berhenti bicara. Air di panci mulai bergetar halus.
“…Ayah mungkin tidak selalu ada.”
Dada Reza terasa sesak.
“Ayah tidak sedang memaksamu memikul tanggungjawab Ayah," katanya lagi. “Ayah tak punya pilihan.”
Reza memejamkan mata. Ia sadar. Ini bukan tentang melimpahkan tanggung jawab, tapi tentang saling menjaga dan membantu dalam keluarga.
Reza kembali ke kamarnya, menjatuhkan tubuh di atas kasur.
"Ya Allah… haruskan aku menikah dengan wanita yang…"
Kalimat itu tak pernah selesai. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Aku terlalu egois jika mengabaikan orang tua dan adikku. Tapi… aku cinta Zahra."
***
Pagi datang, awan menggantung di langit menutup cahaya mentari.
Reza keluar kamar dengan mata sembab. Ayah dan ibunya sudah bersiap pergi. Tas kecil. Jaket. Obat-obatan.
Rahman menatapnya lurus.
“Kalau tiga hari lagi kondisi bundamu stabil, kami akan berangkat.”
Ia berhenti sejenak. “Apa kau sudah memutuskan?”
Reza menarik napas panjang. “Aku akan menikahi... Ayza."
Rahman dan Siti saling tatap, tanpa sadar senyum mereka mengembang. Namun sebelum perasaan lega merayap, suara Reza kembali terdengar.
“Tapi jangan memaksa aku menerima dia sepenuhnya.”
Siti menoleh ke Rahman. Rahman membalas tatapan itu. Keduanya mengangguk pelan.
“Baik,” kata Rahman singkat.
Siti akhirnya angkat suara. "Bunda yakin, dengan berjalannya waktu, kau akan menerima dan merasa bahagia bersamanya.”
Reza tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. Ia menegakkan tubuhnya.
“Tapi aku punya syarat.”
“Syarat?” tanya Rahman dan Siti hampir bersamaan.
"Syarat apa?"
...🔸🔸🔸...
...“Ada pernikahan yang lahir dari cinta, dan ada yang lahir dari ketakutan kehilangan.”...
...“Tidak semua keputusan diambil karena ingin. Sebagian diambil karena tak ada jalan pulang lain.”...
...“Ia tidak memilih pernikahan ini. Tapi ia juga tak sanggup menolak orang-orang yang ia cintai.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍