“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP20
Salah satu dari komplotan menyusuri semak demi menuntaskan hasrat busuknya. Dari kejauhan, ia melihat Dinda yang tergeletak bersandar di batang pohon. Bibirnya langsung menyeringai, menampilkan gigi tonggos berkarang. Pria itu pun berjalan mendekati Dinda.
Ia menggerakkan ujung sepatunya, menendang kaki Dinda dengan kasar, memastikan kondisi gadis itu. Namun, tak ada reaksi.
“Beneran udah mati dia? Ck, mana bisa berkedut lagi itu lubang menuju surga,” decaknya kesal sambil memindai Dinda dari ujung kaki hingga kepala. “Yaahh, apa boleh buat lah, sama mayat pun nggak masalah daripada nggak jadi. Apalagi udah lama kali KIMOY (kecil-kecil gemoy) nggak dikasih jatah desah.”
Setelah menurunkan resleting dan mengeluarkan benda tumpul kebanggaannya, pria jangkung berambut gondrong setengah bahu yang kusut dan berminyak itu duduk jongkok di hadapan Dinda.
Ia mengelus wajah mulus Dinda dengan jari-jari kasarnya, menekan bibir gadis itu sekilas, lalu menyibak helaian rambut yang tergerai menutupi leher.
Gerakannya mendadak terhenti. Ia memiringkan kepala, alisnya mengernyit saat matanya menangkap sesuatu yang tak seharusnya ada.
“Bangsat!” geramnya dengan mata membelalak ketika menyadari ada yang tak beres. Ia buru-buru berdiri.
Namun, sesuatu yang tajam menyambar area vitalnya secepat kilat. Menebas benda mungil berambut gondrong yang bergelantungan di antara resleting celana.
Srrrtttt!
Plek.
Pemilik rambut bak tambang minyak itu menundukkan kepala, menatap batang saktinya yang hanya tinggal setengah saja. Tatapannya segera beralih ke potongan daging kenyal teronggok di atas tanah berlumpur, lalu matanya kembali beralih ke sumber darah menyembur.
Arrrggghhh!
Ia menjerit histeris seperti orang gila, mengumpat sejadi-jadinya.
“Brengsek! Bajingan! Pelacur sialan!”
“Hahaha!”
.
.
Sebelumnya.
Dengan wajah masam, Edwin menyusuri jalan berliku yang sebelumnya dilintasi oleh Abirama dan Dinda.
Moodnya jelek. Pasalnya, ia begitu percaya diri saat menghadang lima anggota sindikat dengan menodongkan senjata api pemberian Abirama, tetapi berakhir wajahnya merah padam karena pistol yang ia tarik pelatuknya hanya berisi dua peluru saja.
“Dasar si bodoh itu, dia sengaja mau bikin aku malu di depan cecunguk-cecunguk itu, ya?” decaknya dengan wajah datar. “Apa karena waktu kecil dulu aku sering menjepit kompengnya ke ketiakku, makanya dia jadi sebodoh itu?”
Ia berhenti sejenak di pinggir jalur setapak, lalu meremas daun-daun semak yang masih basah oleh hujan subuh tadi. Jemarinya menggosok-gosok telapak tangan, menghapus sisa darah yang lengket di kulit dan bilah pisaunya.
“Aku juga bodoh. Kenapa juga nggak aku periksa,” gumamnya sambil menyapu pandang sekitar. “Jangan-jangan ... bodoh itu menular? Pria fosil nan karatan itu memang meragukan, aku harus membatasi komunikasi Bintang dan Langit dengannya.”
Ia kembali melangkah sambil menyelipkan pisau ke dalam saku celana kargonya—ujung pisau itu menyentuh sesuatu yang keras di dalam sana, membuat langkahnya terhenti.
Ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam metalik. Kotak medis darurat. Ia membukanya perlahan, menatap isinya lebih lama dari yang ia sadari. Gulungan benang bedah, needle holder mungil, pisau bedah kecil, gunting lipat, kasa steril, dan botol kecil cairan NaCl. Dadanya menghangat oleh ingatan yang tiba-tiba menyusup—suara Bella mendadak menggema di dalam kepalanya.
“Ke mana pun kamu pergi, kotak ini harus selalu ikut. Hari apes nggak ada yang tau, kalau kamu nggak butuh — mungkin orang lain yang butuh, yaaa meskipun kamu nggak peduli. Tapi, nggak ada salahnya jadi orang baik ‘kan? Soalnya, bumi ini udah hampir penuh sama orang jahat. Dan kamu jangan jadi salah satunya lagi. Okey?”
Edwin menghela napas berat mengenang nasihat sang istri. “Ya ya ya, baiklah.”
Ia menutup kotak medis itu, menyelipkannya kembali ke saku celana—lalu melangkah lagi menyusuri jalur setapak. Tak lama setelah melewati beberapa tikungan, langkahnya pun melambat. Dari kejauhan, ia menangkap pemandangan yang membuat sudut bibirnya terangkat.
Abirama dan Dinda tengah dikepung oleh beberapa komplotan. Alih-alih memberi pertolongan, Edwin justru bersandar santai pada batang pohon, memilih jadi penonton—kesalannya pada Abirama belum reda.
Ia bertepuk tangan pelan ketika Abirama berhasil merobohkan tiga lawan, lalu ikut ‘menyemangati’ saat keduanya berlari mati-matian mencoba menyelamatkan diri.
“Semangat ... semangat ...,” gumamnya riang. Kedua jemarinya menari kecil ala cheerleader, sama sekali tak terlihat berniat turun tangan.
Edwin menutup bibir dengan ujung jemari, matanya membulat saat melihat Galih memukul kepala Abirama dengan kayu balok, berpura-pura syok — padahal sejak tadi ia sudah menyadari keberadaan sekdes mesum itu yang mengendap di balik semak.
“Pasti sakit sekali.” Ia meringis sambil tertawa, kedua tangannya kini terlipat di depan dada. “Pukulan sekeras itu ... dia nggak bakalan jadi makin bodoh ‘kan?”
Edwin sedikit cemas. Jika temannya menjadi semakin bodoh, ujung-ujungnya dia juga yang akan direpotkan. Begitu pikirnya. Edwin terus memperhatikan, sampai akhirnya seorang komplotan menyayat leher Dinda. Sorot mata Edwin berubah serius.
Ia melirik arlojinya refleks. Jarum detik berdetak kejam di balik kaca, dan di kepalanya, Edwin menghitung waktu sejak sayatan itu terjadi—detik demi detik, menit demi menit. Golden time tak boleh terlewat.
Ketika komplotan itu sudah benar-benar pergi, Edwin mendekati gadis yang tengah bertaruh nyawa tergeletak di tanah berlumpur. Ia menyeringai melihat Dinda terus menekan lukanya sendiri.
Pandangan Dinda mengabur karena air mata. Dia hampir tak mengenali siapa yang tengah menatapnya kini.
“S-siapapun, Tuhan, Malaikat bahkan iblis sekalipun ... tolong aku. Tolong selamatkan aku ....” Bibirnya bergetar hebat.
Saat mata Dinda nyaris terpejam, Edwin langsung berkata, “Jika kau tidak mau mati, jangan pejamkan matamu. Tetap jaga kesadaranmu.”
Ia lekas berlutut di sisi Dinda, mengeluarkan kotak medis darurat. Kedua tangannya bergerak cepat, mantap—tanpa ragu sedikit pun. Jemarinya menekan titik tertentu di leher Dinda, tepat sebelum darah kembali menyembur.
“Kau tau ...,” gumam Edwin pelan. “Aku sangat benci ayahku.”
Ia meraih kasa, menekannya lebih dalam, mengatur sudut tekanan dengan presisi mengerikan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi sekacau ini.
“Tapi terkadang,” lanjutnya tanpa mengangkat kepala, “aku bersyukur. Selain kegilaan—keahliannya juga menurun padaku.” Bibirnya tersungging tipis. “Tangan malaikat, begitu para pasien memanggilnya. Dan memanggilku.”
Edwin mengambil pisau bedah dari kotak medis. Benda kecil itu berkilat sesaat sebelum disentuhkan ke kulit. Tangannya berhenti sepersekian detik, melirik wajah pucat Dinda.
“Sayang sekali kau sedikit kurang beruntung.” Senyumnya mengembang. “Karena aku memiliki kelainan, gemar menikmati ekspresi orang-orang saat menahan sakit — aku sengaja membuang anestesi (obat bius) dari kotak medis ini tanpa sepengetahuan My Beb,” katanya santai, seolah sedang membahas hal sepele. “Jadi, kuharap kau bisa menahan sakit. Jangan manja.”
Pisau ditangannya mulai bekerja. Darah kembali merembes, namun segera dikendalikan. Edwin bergerak sangat cepat, menjepit pembuluh yang terbuka dengan alat mungil, fokusnya tajam dan dingin.
“Entah orang yang menyayatmu itu yang tolol,” katanya sambil mulai menjahit, “atau kau memang seorang survivor ....” Ia menarik benang bedah dengan tarikan mantap. “Sayatannya hanya sedikit menggores arteri karotis. Kau akan selamat.”
“Sa-kit.” Dinda meringis.
“Jangan merengek atau akan ku jahit juga mulutmu,” ancam Edwin.
Edwin terus bekerja tanpa jeda—mengontrol pendarahan, melakukan penanganan vaskular darurat dengan peralatan seadanya. Di tengah lumpur, rintik hujan, dan bau darah, tangannya bergerak sempurna.
Benar-benar tangan ajaib.
Setelah menyimpan kembali kotak medis dan menyisakan pisau bedah, Edwin segera menyelipkan satu lengan ke punggung Dinda dan menopang tubuh gadis itu hingga duduk tegak.
“Tahan lehermu,” ujarnya singkat. Ia mengangkat Dinda dengan hati-hati, lalu mendudukkannya bersandar pada batang pohon yang kokoh.
Dinda menutup mata rapat-rapat. Baginya, wajah Edwin terlihat menyeramkan. Sementara Edwin menatap wajah Dinda sambil memiringkan kepala. Pria itu teringat akan mata mesum para komplotan saat menatap Dinda tadi, ia menerka, salah satu dari mereka pasti akan kembali.
“Lindungi dirimu dengan benda ini,” ucapnya singkat. Edwin menyelipkan pisau bedah di tangan Dinda. “Berikan aku sedikit kesenangan, sebagai bentuk balas budi karena telah menyelamatkan nyawamu.”
Setelah berkata demikian, Edwin pun berjalan ke arah balik semak dan memantau dari sana. Awalnya Dinda tak mengerti maksud perkataan pria itu. Namun, ketika ia mendengar derap langkah, ia pun segera menutup mata.
Ia menahan napas sekuat tenaga, jantungnya berpacu liar ketika salah satu komplotan menendang kakinya. Ucapan-ucapan kotor dilontarkan ke wajahnya, membuat darahnya mendidih. Namun, Dinda memilih diam, menelan amarahnya dalam-dalam.
Hingga tatapan pria di hadapannya berubah karena menyadari leher Dinda sudah terjahit sempurna—
“Bangsat!” umpat pria itu tiba-tiba, lekas berdiri.
Dinda langsung membuka mata, pisau bedah dalam genggamannya berkelebat cepat. Menebas benda hitam gondal-gandul di pangkal paha hingga putus.
Arrrggghhh!
“Brengsek! Bajingan! Pelacur sialan!”
“Hahaha!” Tubuh Dinda berguncang. “HAHAHA!”
Dari balik semak, Edwin ikut terkekeh, puas melihat tontonan itu. Namun tawanya seketika lenyap saat pria berambut berminyak itu mengangkat kaki, bersiap menendang leher Dinda—tepat ke arah jahitan yang masih basah.
“Sial!” desis Edwin. Ia tak rela mahakarya nya dirusak oleh orang-orang bodoh.
Edwin melesat keluar dari persembunyian sambil menggenggam pisau. Tanah becek terinjak keras, semak tersibak kasar. Pria di depan Dinda bahkan tak sempat menoleh ketika tubuh Edwin menubruknya dari samping. Keduanya terhempas dan berguling di tanah, napas dan umpatan beradu, sementara pisau di tangan Edwin semakin berkilat.
JLEB!
Ujung pisau itu menancap di bola mata sang lawan, ditekan kuat hingga menembus bagian terdalam. Pria mesum itu menjerit dengan tubuh menggelepar.
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩