Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32# BAYANGAN MASALALU
Kegelapan di dalam ruang kontrol itu perlahan memudar ketika Naya berhasil meretas panel darurat untuk menyalakan lampu redup. Ruangan ini jauh lebih luas dari yang mereka duga, dipenuhi dengan layar-layar monitor raksasa dan tabung-tabung data yang berputar. Bau debu elektronik dan ozon menyengat di udara. Di tengah ruangan, terdapat sebuah konsol melingkar dengan proyektor holografik yang tampak masih aktif.
Dasha dan Lily duduk bersandar di dinding logam, mencoba mengatur napas mereka yang masih memburu. Sementara itu, Cicilia berdiri waspada di dekat pintu, memeluk senapan energi yang baru ia rebut. Tangannya masih gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang belum surut.
"Tempat apa ini?" tanya Tom sambil memperhatikan kabel-kabel raksasa yang merambat ke langit-langit.
"Ini adalah ruang arsip visual utama," bisik Dokter Luz. Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya biru layar. "Semua kejadian penting di fasilitas ini terekam di sini."
Tiba-tiba, sebuah sensor gerak terpicu. Konsol di tengah ruangan berputar, dan sebuah layar proyeksi raksasa di dinding depan menyala dengan suara statis yang nyaring. Semua orang tersentak dan mengangkat senjata mereka, namun yang muncul bukanlah pasukan musuh.
Video itu mulai diputar. Kualitasnya sangat jernih.
Di layar, terlihat sebuah laboratorium mewah yang sangat bersih. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas namun hangat sedang bekerja di depan sebuah meja kerja. Ia memakai jas lab putih dengan lencana nama: Jacob.
"Ayah...?" bisik Arlo lirih. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ingatannya yang selama ini tumpul dan tertutup kabut akibat obat-obatan di Saka, tiba-tiba berdenyut menyakitkan.
Dalam video itu, suasana tenang berubah menjadi kacau. Pintu laboratorium diledakkan. Pasukan bersenjata persis seperti yang baru saja mereka lawan di lorong masuk dengan kasar. Jacob mencoba melindungi sebuah drive data, namun ia dikepung. Dari balik pasukan itu, muncul seorang pria lain dengan setelan rapi yang dingin. Wajahnya tajam, dengan senyum tipis yang mematikan.
"Jacob, berikan kuncinya. Kau tahu kau tidak bisa melawan sistem yang kita bangun bersama," ucap pria di layar itu.
"Ini bukan apa yang kita rencanakan, Lance! Kau mengkhianati kemanusiaan demi kekuatan!" teras Jacob di video tersebut.
Jacob dipukuli hingga tersungkur, darah mengalir dari pelipisnya. Video itu menangkap detik-detik mengerikan saat Jacob diseret keluar, ditangkap seperti binatang buruan. Sebelum video berakhir, pria bernama Lance itu berjalan mendekati kamera. Ia menatap lurus ke lensa, seolah menatap Arlo yang sedang menonton di masa depan.
"Persahabatan adalah kelemahan yang sangat berguna, Jacob," ucap Lance dengan nada dingin. "Dan putramu... dia akan menjadi subjek terbaik untuk menyempurnakan kegagalanmu."
Klik. Video mati. Ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis tertahan dari Naya dan Lira.
"Lance..." gumam Dokter Luz dengan suara bergetar. "Dia adalah kepala proyek Menara Merah ini. Dia dan Jacob... mereka dulu adalah sahabat paling dekat, otak di balik semua ini sebelum Lance terobsesi dengan evolusi paksa."
Arlo jatuh berlutut di depan layar kosong itu. Tangannya mencengkeram kepalanya yang terasa seolah hendak meledak. Fragmen-fragmen ingatan mulai kembali seperti air bah. Ia mengingat aroma kopi di ruang kerja ayahnya, ia mengingat suara tawa Jacob, dan ia mengingat hari di mana pria bernama Lance itu datang ke rumah mereka sebagai "paman" sebelum semuanya hancur.
"Dia yang menangkap ayahku..." suara Arlo rendah dan penuh amarah yang bergetar. "Dia menggunakan kami semua sebagai kelinci percobaan untuk menghina karya ayahnya sendiri."
Selene mendekat, berlutut di samping Arlo dan memegang bahunya erat-erat. "Arlo... lihat aku. Ingatan itu kembali karena kau sudah cukup kuat untuk menghadapinya."
"Paman Lance..." Rayden bergumam dengan wajah linglung, kekonyolannya menghilang sepenuhnya. "Aku... aku ingat wajah itu. Dia yang menyuruh orang-orang berpakaian putih membawa kita ke kapal."
Finn, Rick, dan Tom berdiri mengelilingi Arlo. Kesedihan atas kematian Rony kini bercampur dengan api dendam yang baru. Mereka semua menyadari bahwa keberadaan mereka di sini bukanlah kebetulan. Mereka adalah bidak dalam permainan dendam seorang pria bernama Lance.
Cicilia mengokang senapan energinya dengan bunyi klik yang keras. "Sekarang kita tahu siapa yang harus kita cari. Tidak ada lagi sembunyi. Kita naik ke lantai atas."
"Arlo," panggil Harry dengan nada berat. "Ayahmu membangun tempat ini untuk menyelamatkan dunia, bukan menghancurkannya. Kita harus merebut kembali warisannya."
Arlo perlahan berdiri. Matanya yang tadi penuh duka kini berkilat dengan tekad yang dingin dan mematikan. Ingatannya sudah kembali, dan bersamanya, sebuah tujuan baru terbentuk.
"Kita tidak hanya akan keluar dari sini," ucap Arlo sambil menatap gerbang lift di ujung ruangan. "Kita akan menyeret Lance keluar dari singgasananya. Demi ayahku, demi Rony, dan demi kita semua."
Di luar ruangan, suara derap langkah pasukan terdengar semakin dekat, namun kali ini, tidak ada yang merasa takut. Arlo memimpin mereka keluar, tidak lagi sebagai subjek yang tersesat, tapi sebagai putra dari pria yang membangun Menara itu.
Btw semangat terusss min!!