Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bandit bodoh
Suasana di jalur hutan menuju Kota Utama mendadak mencekam.
Puluhan bandit dengan wajah garang mengepung rombongan Keluarga Xiao.
Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di wajah, memancarkan aura Inti Qi Tingkat 9.
Baginya, rombongan keluarga kecil dari pinggiran benua ini hanyalah dompet berjalan yang mudah dirampas.
"Serahkan semua batu energi dan kereta kuda kalian!" teriak sang pemimpin bandit sambil mengayunkan kapak besarnya. "Atau kepalamu akan menjadi hiasan pohon ini, Pak Tua Xiao!"
Xiao Zhen dan Xiao Da sudah bersiap melompat turun dari kereta mereka untuk bertarung. Namun, pintu kereta kuda paling belakang terbuka dengan perlahan.
Srak...
Jian Feng melangkah turun. Tudung hitamnya menutupi wajahnya, dan cadar sutranya berkibar pelan.
Penampilannya yang misterius sempat membuat para bandit terdiam sejenak, namun segera disambut dengan gelak tawa ejekan.
"Lihat! Mereka mengirim seorang pesulap bercadar untuk melawan kita! Hahaha!"
Jian Feng tidak membalas provokasi itu. Di matanya, para bandit ini bukanlah manusia, melainkan sekumpulan sumber daya yang kebetulan bisa bernapas.
Dengan ranah Penyatuan Roh Tingkat 1, kecepatan dan persepsinya kini berada di dimensi yang berbeda dengan mereka yang masih di ranah Inti Qi.
"Berisik." ucap Jian Feng dingin.
Dalam satu kedipan mata, sosok Jian Feng menghilang dari pandangan.
Cring!
Detik berikutnya, ia sudah berada di tengah kerumunan bandit.
Tanpa menghunus pedang, ia hanya menggunakan dua jari yang dialiri Petir Emas yang sangat tipis namun padat.
Setiap kali jarinya menyentuh leher atau dada para bandit, suara ledakan kecil terdengar, diikuti oleh tubuh yang ambruk dengan jantung yang hangus.
"Apa?! Cepat serang dia!" teriak sang pemimpin bandit yang mulai panik.
Sepuluh bandit di ranah Inti Qi tingkat menengah merangsek maju secara bersamaan.
Namun, Jian Feng hanya berputar di tempat, menciptakan pusaran uap air yang tajam seperti silet.
Uap itu beresonansi dengan listrik, menciptakan area "Medan Statis" yang melumpuhkan saraf siapa pun yang mendekat.
Dalam waktu kurang dari satu menit, tiga puluh bandit terkapar tak bernyawa di atas tanah. Darah merembes ke akar pohon, namun jubah hitam Jian Feng tetap bersih tanpa setetes noda pun.
Keluarga Xiao, termasuk Xiao Zhen, terpaku melihat pemandangan itu. Mereka tahu Jian Feng menjadi kuat, tapi efisiensi membunuhnya ini benar-benar tidak masuk akal. Itu bukan gaya bertarung seorang bangsawan, melainkan seorang predator puncak.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.
Bukannya kembali ke kereta atau mengecek keadaan keluarganya, Jian Feng justru mulai berjalan santai di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.
Dengan ekspresi yang tertutup tudung, ia mulai membungkuk, membalikkan mayat-mayat itu satu per satu, dan merogoh saku serta jubah mereka dengan sangat teliti.
Kring... Kring...
Satu per satu kantong uang, batu energi rendah, hingga perhiasan murah diambilnya dan dimasukkan ke dalam tas kain yang ia bawa. Ia bahkan tidak segan melepas cincin dari jari mayat yang sudah kaku.
"Xiao Feng! Apa yang kau lakukan?!" teriak Xiao Da dengan wajah jijik dan bingung. "Kau adalah Tuan Muda Keluarga Xiao! Kenapa kau berperilaku seperti pemulung mayat yang rendahan? Benar-benar memalukan!"
Xiao Zhen juga mendekat dengan dahi berkerut. "Putraku, martabat keluarga lebih berharga daripada beberapa keping emas dari sampah jalanan ini. Berhentilah."
Jian Feng berhenti sejenak, tangannya masih memegang sebuah kantong koin yang berlumuran darah.
Ia berdiri tegak, menatap ayah dan kakaknya dari balik tudung yang ada penutup sutra dengan pandangan yang membuat mereka merasa kerdil.
"Martabat?" Jian Feng mendengus sinis. "Apakah martabat bisa membeli tanaman herbal tingkat tinggi? Apakah martabat bisa memberiku akses ke artefak yang mampu melacak jiwa yang hilang?"
Ia mengantongi koin tersebut dan menatap ke arah hutan yang gelap, di mana pemimpin bandit itu masih bersembunyi.
"Di dunia yang busuk ini, kekuatan adalah hukum, tapi uang... uang adalah bahan bakar yang menggerakkan hukum itu," ucap Jian Feng datar. "Bagiku, saat ini uang adalah segalanya. Jika aku harus merogoh ribuan mayat untuk mengumpulkan sumber daya demi tujuanku, maka aku akan melakukannya tanpa berkedip."
Xiao Zhen terdiam seribu bahasa. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini memiliki ambisi yang jauh lebih mengerikan dan pragmatis daripada yang bisa ia bayangkan.
"Dan kau..." Jian Feng menoleh ke arah semak-semak besar di ujung jalan. "Kau pikir aku sudah selesai?"
thor lu kaya Jiang Feng