Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7. Acara Penyambutan
“Mereka berada di bawah tanggung jawabku, Paman Gan Che. Paman tidak perlu khawatir.” ucap Ray Zen tenang namun tegas. “Mereka adalah pengawalku.”
“Pengawal?” Permaisuri Mue Che mencibir. “Sejak kapan seorang Pangeran diperbolehkan membawa orang asing sebagai pengawal tanpa izin Kaisar?”
Sebelum Ray Zen menjawab, Kaisar Jack Zen mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Suara Kaisar bergema, membuat halaman istana langsung hening.
Tatapan Kaisar beralih pada Ray Zen. Ia menatap putranya dengan sorot mata yang dalam—menilai, mengamati, dan… sedikit bangga.
Ia memang tidak bisa merasakan energi kultivasi apapun dalam tubuh Ray Zen, sama seperti dulu. Tapi entah mengapa, ia sangat yakin jika sekarang Ray Zen telah tumbuh menjadi orang yang sangat kuat, bahkan lebih kuat darinya.
“Ray Zen,” ucapnya perlahan, “kau telah kembali, Nak.”
Ray Zen menunduk hormat. “Ray Zen telah kembali, Ayah.” Lalu lanjutnya memperkenalkan kedua pengawal barunya. “Dan mereka ini adalah pengawal baruku, Virdrax dan Navhara.”
Virdrax dan Navhara pun menunduk hormat pada kaisar Jack Zen.
Kaisar kemudian menatap Virdrax dan Navhara. Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami siapa mereka, insting seorang penguasa mengatakan bahwa dua sosok itu bukan makhluk sembarangan.
“Kita akan membicarakan semuanya nanti,” lanjut Kaisar. “Untuk sekarang—Pangeran Ray Zen adalah tamu utama istana ini.”
Ia menoleh ke para prajurit. “Persiapkan aula penyambutan.”
Tak seorang pun berani membantah.
Permaisuri Mue Che menahan amarahnya, sementara Jenderal Gan Che menatap Ray Zen dengan pandangan penuh perhitungan.
Ray Zen menyadari itu semua.
Namun ia tetap melangkah maju—menuju istana yang telah lama ia tinggalkan, menuju tujuan untuk melindungi keluarganya dan menuju pusaran konflik yang sudah menantinya sejak lama.
Kepulangannya… baru saja mengguncang kembali Istana Kekaisaran Awan Putih.
...*****...
Aula Utama Istana Kekaisaran Awan Putih hari itu sepenuhnya berubah menjadi sangat megah.
Ratusan hiasan kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan keindahan yang lembut dan elegan. Pilar-pilar marmer putih berukir awan putih diselimuti kain sutra berwarna biru keperakan—warna kebesaran Kekaisaran Awan Putih.
Di sepanjang aula, meja-meja panjang tersusun rapi, dipenuhi hidangan langka: daging roh dari Pegunungan Es Selatan, buah spiritual yang hanya berbuah seratus tahun sekali, serta arak langit yang aromanya saja mampu menggugah jiwa.
Semua kemegahan itu hanya untuk satu tujuan. Penyambutan kembalinya Pangeran Ray Zen.
Di ujung aula, singgasana kekaisaran berdiri megah. Kaisar Jack Zen duduk tegap, mengenakan jubah emas dengan mahkota kekaisaran di kepalanya. Di sisi kanannya duduk Permaisuri Mei Ling, wajahnya lembut namun matanya tak lepas dari sosok putranya. Di sisi kiri, Permaisuri Mue Che duduk dengan punggung lurus dan tatapan dingin, sementara Permaisuri Lou Yi tampak lebih netral, mengamati keadaan dengan tenang.
Ray Zen berdiri di tengah aula, mengenakan jubah hitam dengan sulaman awan perak. Aura di tubuhnya tetap terasa kosong bagi para kultivator—tidak ada fluktuasi energi spiritual sedikit pun. Hal itulah yang membuat banyak mata memandangnya dengan ekspresi bercampur antara bingung, curiga, dan meremehkan.
Di belakang Ray Zen, berdiri para pengawalnya.
Bai Hu dengan sikap santai namun mata tajam seperti singa yang mengintai mangsa. Bear berdiri tegak seperti tembok baja, lengan besarnya terlipat di dada. Tidak jauh dari mereka, Virdrax dan Navhara berdiri berdampingan, tenang dan anggun—terlalu tenang untuk dua orang asing yang berada di jantung istana kekaisaran.
Virdrax menundukkan kepalanya sedikit, sorot matanya yang hijau tua menyapu aula dengan kewaspadaan dan insting naga yang telah melihat banyak orang-orang kuat. Sementara Navhara, dengan rambut panjang kehitaman dan tatapan mata berkilau samar, menyembunyikan aura siluman ularnya dengan sempurna.
Akan tetapi, tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka. Bisik-bisik mulai menyebar seperti angin dingin.
“Benarkah dia pahlawan yang mengalahkan iblis di perbatasan selatan?”
“Mustahil. Aku bahkan tak merasakan aura kultivasi apa pun darinya.”
“Dan dua orang asing itu… siapa mereka sebenarnya?”
Beberapa pejabat tinggi saling bertukar pandang, sebagian menyeringai sinis. Di antara mereka, Jenderal Utama Gan Che berdiri dengan tangan di belakang punggung, ekspresinya keras dan tidak senang.
Akhirnya, Kaisar Jack Zen mengangkat tangannya.
Suasana aula langsung hening.
“Para petinggi, Jendral dan semua orang yang tinggal dilingkungan Istana Kekaisaran Awan Putih,” suara kaisar bergema dengan wibawa yang tak terbantahkan. “Hari ini adalah hari yang patut kita rayakan. Pangeran Ray Zen telah kembali.”
Beberapa orang bertepuk tangan. Yang lain hanya ikut bertepuk sekadarnya.
“Kalian semua telah mendengar kabar,” lanjut sang kaisar. “Lebih dari satu tahun yang lalu, perbatasan selatan kekaisaran kita diserang oleh pasukan iblis. Jika tidak di hancurkan, para iblis akan menguasai wilayah selatan kekaisaran kita. Dalam kondisi genting itu, Ray Zen—putraku—berdiri di garis depan. Berkat tindakannya, serangan iblis berhasil dipatahkan.”
Suara itu memicu gelombang reaksi. Ada yang terkejut, ada yang ragu, dan ada pula yang terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan.
Tidak banyak orang yang berada di lingkungan Istana Kekaisaran yang percaya dengan kabar itu. Banyak di antara mereka yang masih meragukan berita yang beredar, tentang kepahlawanan Ray Zen, karena mereka tidak melihat secara langsung seperti apa Ray Zen bertarung. Di tambah lagi, Ray Zen yang memang tidak memiliki aura kultivasi sama sekali, seperti yang mereka lihat sekarang.
Tentunya, hal itu membuat mereka semakin yakin jika berita yang beredar itu hanyalah omong kosong belaka, berita yang digunakan untuk meningkatkan nama baik Ray Zen saja.
Permaisuri Mue Che menyipitkan mata. Ia bangkit dari duduknya dengan anggun, lalu memberi hormat ringan.
“Yang Mulia Kaisar,” katanya dengan suara lembut namun tajam, “hamba tidak bermaksud meragukan titah Anda. Namun… bukankah seharusnya kita berhati-hati? Banyak laporan yang belum terverifikasi. Bagaimana mungkin seorang pangeran yang—maaf—tidak memiliki aura kultivasi seperti Ray Zen ini, mampu mengalahkan pasukan iblis?”
Sebagian orang langsung mengangguk setuju.
Gan Che melangkah maju, suaranya berat. “Benar, Yang Mulia. Sebagai Jenderal Utama, hamba merasa bertanggung jawab atas keamanan kekaisaran. Kehadiran dua orang asing di sisi Pangeran Ray Zen juga menimbulkan kecurigaan. Kita tidak tahu asal-usul mereka.”
Tatapan tajam diarahkan ke Virdrax dan Navhara.
Bear mendecih pelan, tapi Ray Zen mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia tetap tenang.
Sebelum Ray Zen berbicara, tawa ringan terdengar dari sisi aula. “Jenderal Gan Che masih saja kaku seperti dulu.”
Semua mata beralih.
Tiga sosok berjalan masuk dengan ekspresi ceria: Han Yu, Tiger, dan Trile. Pengawal pribadi Ray Zen, sama seperti Bai Hu dan Bear.
“Yang Mulia Kaisar,” Han Yu memberi hormat dalam-dalam. “Hamba dan kedua saudara hamba memberi hormat.”
Kaisar mengangguk. “Kalian datang tepat waktu, paman Han.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru