Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pagi yang Tak Diundang Dan Nyanyian Gagak
Pagi hari datang terlalu cepat untuk Lunaris yang masih terdiam di samping peti jenazah sederhana sang ibu.
Sinar matahari yang mulai merembes masuk dari celah ventilasi rumah duka terasa seperti tamu yang tidak diundang, memaksa kegelapan malam —satu-satunya selimut yang menyembunyikan kenyataan pahit— untuk pergi.
Mata Lunaris, yang sudah bengkak dan merah, tak lepas menatap wajah Nova yang terbujur kaku di dalam peti kayu itu.
Wajah itu tampak tenang, namun asing. Kulit ibunya yang biasanya hangat kini berwarna putih pucat, hampir transparan seperti kertas tua. Pipi yang dulu sering merona saat tertawa kini tirus dan cekung, menonjolkan tulang wajahnya dengan cara yang menyakitkan. Efek dari exsanguination —habisnya darah di dalam tubuh— membuat jasad Nova terlihat kering dan ringkih, seolah-olah ia adalah bunga yang dikeringkan paksa di antara halaman buku tebal.
Meski begitu, di mata Lunaris, ibunya tetaplah wanita paling cantik di dunia. Lunaris mengulurkan tangan, ingin menyentuh pipi itu sekali lagi, tapi ia menahannya di udara, takut sentuhannya akan menghancurkan sosok rapuh itu.
"Kenapa ibu pergi secepat ini? Aku bahkan belum meminta maaf atas perkataanku yang menyakiti hati ibu kemarin." Bisik Lunaris lirih, suaranya serak. "Luna belum siap sendirian, ibu."
Di sudut ruangan yang sempit itu, suasana hening namun sibuk. Beberapa tetangga dekat dan kenalan Nyonya Lyn mulai berdatangan satu per satu, mengucapkan belasungkawa dengan suara berbisik. Tidak banyak yang datang, hanya segelintir orang yang tahu betapa kerasnya Nova berjuang selama hidupnya.
Aaron berdiri di dekat pintu masuk, bertindak layaknya tuan rumah. Pemuda itu benar-benar tidak pulang untuk istirahat. Ia hanya pergi sebentar subuh tadi untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan jas hitam pekat dan kemeja rapi.
Penampilannya yang mencolok dan mahal terlihat kontras dengan dinding rumah duka yang catnya mengelupas, namun Aaron tidak peduli. Ia menyambut setiap pelayat dengan anggukan sopan, wajahnya keras menahan duka, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Lunaris yang mematung di samping peti.
Melihat Lunaris yang seakan sudah tak bernyawa, Nyonya Lyn yang sedari tadi sibuk mengatur bunga, berjalan mendekati Aaron.
"Nak Aaron," Panggil Nyonya Lyn pelan. "Bisa tolong jaga pintu sebentar? Aku mau bicara dengan Lunaris."
Aaron mengangguk tegas tanpa ragu. "Biar saya yang urus tamu, nyonya. Tolong... tolong buat Luna setidaknya minum sedikit air."
Nyonya Lyn tersenyum tipis, menepuk bahu Aaron sekilas, lalu berjalan menghampiri Lunaris. Wanita tua itu duduk di kursi lipat di sebelah Lunaris, lalu dengan lembut meraih tangan gadis itu yang terasa dingin.
"Sayang..." Panggil Nyonya Lyn lembut.
Lunaris tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada foto ibunya yang tersenyum lebar di atas peti—foto yang diambil saat ulang tahun Lunaris tahun lalu. Kontras antara senyum di foto dan jasad kaku di dalam peti itu merobek hati siapa pun yang melihatnya.
"Nyonya..." Suara Lunaris bergetar. "Kenapa Ibu kurus sekali? Kenapa Ibu terlihat haus?"
Hati Nyonya Lyn mencelos mendengar pertanyaan polos namun menyayat hati itu. Ia menarik Lunaris ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya.
"Dengarkan aku, nak," Bisik Nyonya Lyn sambil mengelus rambut Lunaris yang kusut. "Ibumu sudah tidak sakit lagi. Dia sudah tidak merasa haus, tidak merasa lelah, dan tidak perlu bekerja keras lagi. Lihat wajahnya... dia tidur dengan tenang."
"Tapi aku sendirian, Nyonya..." isak Lunaris pecah lagi, namun kali ini tanpa suara, hanya bahunya yang terguncang hebat.
"Kamu tidak sendirian. Lihat sekelilingmu. Ada aku, ada Nak Aaron di sana yang menjagamu seperti penjaga setia," Nyonya Lyn mengangkat dagu Lunaris, memaksanya menatap mata tua yang teduh itu. "Menangis itu wajar, Lunaris. Tapi jangan biarkan air matamu memberatkan langkah ibumu. Ibumu wanita yang kuat, dia pasti ingin putri kesayangannya melepasnya dengan doa, bukan dengan penyesalan."
Kata-kata Nyonya Lyn perlahan meresap ke dalam benak Lunaris, memberikan sedikit kekuatan pada fondasi jiwanya yang nyaris runtuh.
Waktu bergulir tanpa ampun. Tiba saatnya petugas krematorium memberi tanda.
"Maaf, sudah waktunya," Ucap salah satu petugas dengan nada hati-hati.
Itu adalah kalimat yang paling tidak ingin didengar Lunaris. Saat petugas mulai mengangkat tutup peti, Lunaris merasa seolah separuh nyawanya ikut terangkat.
"Tunggu! Sebentar!" Lunaris maju selangkah, tapi kakinya yang bengkak membuatnya goyah.
"Sudah waktunya, Luna," bisik Nyonya Lyn, menahan bahu Lunaris dengan lembut namun kuat, mencegah gadis itu melakukan hal yang nekat. "Biarkan Ibumu istirahat."
Dengan suara debum pelan yang menyakitkan, tutup peti itu dipasang. Wajah pucat ibunya menghilang dari pandangan untuk selamanya. Suara paku atau kunci yang dikeratkan terdengar seperti palu hakim yang memvonis hukuman seumur hidup bagi Lunaris: hukuman kesepian.
Saat peti mulai diangkat menuju mobil jenazah, Lunaris merasa dunia berputar. Kakinya lemas, nyaris ambruk jika saja sebuah tangan kekar tidak segera menopang pinggangnya dari sisi lain.
Aaron sudah ada di sana. Tanpa bicara, ia mengambil alih tumpuan tubuh Lunaris di sebelah kiri, sementara Nyonya Lyn merangkul bahu Lunaris dari sebelah kanan.
"Ayo," Bisik Aaron di telinga Lunaris. "Kita antar Bibi Nova sama-sama."
Diapit oleh dua orang yang peduli padanya, Lunaris menyeret langkahnya yang berat dan sakit keluar dari rumah duka, mengikuti peti mati ibunya menuju tempat peristirahatan terakhir, di bawah langit pagi yang cerah namun terasa kelabu di matanya.
.
.
.
Perjalanan menuju krematorium terasa singkat, namun setiap detiknya menyiksa. Sesampainya di sana, bangunan beton abu-abu yang dingin itu menyambut mereka dengan cerobong asap tinggi yang menjulang ke langit, siap menghantarkan jiwa-jiwa menuju keabadian.
Prosesi terakhir dimulai. Peti yang berisi tubuh Nova Skyler perlahan didorong masuk ke dalam tungku pembakaran. Suara pintu besi berat yang tertutup rapat bergema, menandakan perpisahan fisik yang mutlak.
Lunaris berdiri terpaku dibalik dinding kaca yang membatasi mereka dengan tungku besar yang melahap peti mati ibunya, matanya menatap nanar pada pintu logam itu, membayangkan api yang kini mulai melahap satu-satunya orang yang ia miliki di dunia.
Namun, di tengah keheningan yang khidmat itu, langit di atas krematorium mendadak berubah.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
Suara serak dan parau memecah kesunyian, bukan dari satu atau dua ekor burung, melainkan ratusan.
Sekumpulan burung gagak hitam pekat entah dari mana datangnya, kini terbang berputar-putar tepat di atas cerobong asap gedung krematorium. Mereka membentuk formasi pusaran hitam yang gelap, persis seperti pemandangan ganjil yang dilihat Lunaris saat berangkat sekolah kemarin pagi—sebuah pertanda buruk yang mungkin terjadi kala itu ia abaikan.
Hanya saja kali ini, suaranya jauh lebih mengerikan.
Kicauan mereka tidak terdengar seperti gagak biasa. Nada yang keluar dari paruh-paruh hitam itu terdengar sumbang, melengking tinggi dengan ritme yang ganjil, seolah-olah mereka sedang menertawakan kematian, atau mungkin... sedang menyanyikan lagu penyambutan bagi jiwa yang baru saja terenggut paksa.
Aaron mendongak, pandangannya jatuh ke luar jendela, alis tebalnya bertaut tajam. Rahangnya mengeras melihat pemandangan itu. Suara bising itu merusak momen hening yang seharusnya menjadi milik Lunaris dan ibunya. Bagi Aaron, keberadaan hama terbang itu adalah gangguan yang tidak sopan.
"Sialan," Umpat Aaron pelan tanpa menghiraukan dimana dia berada sekarang, matanya menyipit karena silau matahari dan rasa jijik. "Kenapa petugas tidak mengusir mereka? Suaranya benar-benar mengganggu. Mereka berisik sekali, tidak tahu tempat."
Ia melirik Lunaris dengan cemas, takut suara mengerikan itu akan membuat gadis itu semakin tertekan. Namun, Lunaris tampak tidak menghiraukan keributan di langit itu sama sekali.
Tatapan gadis itu masih lurus ke depan, kosong dan hampa.
Telinganya seolah tuli terhadap dunia luar, terkunci rapat dalam ruang duka di kepalanya sendiri. Baginya, teriakan gagak itu hanyalah dengung latar belakang yang tak berarti dibandingkan teriakan keputusasaan di dalam hatinya.
Berbeda dengan Aaron yang kesal dan Lunaris yang mati rasa, Nyonya Lyn memiliki reaksi yang lain.
Wanita tua itu perlahan mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah jendela yang sama dengan yang dilihat Aaron. Matanya yang tajam dan berpengalaman menatap pusaran hitam di langit itu dengan intensitas yang sulit diartikan. Tidak ada rasa takut di wajahnya, namun juga tidak ada keheranan.
Nyonya Lyn menatap gagak-gagak itu seolah ia mengenali mereka. Atau lebih tepatnya, mengenali tuan yang mengirim mereka.
Tatapan Nyonya Lyn berubah menjadi dingin, penuh kewaspadaan. Ia tahu, di dunia ini, gagak tidak berkumpul di atas kematian yang wajar dengan suara seaneh itu. Ia tahu bahwa lingkaran hitam di langit itu bukanlah kebetulan alam, melainkan mata-mata bagi kegelapan yang sedang mengawasi hasil karyanya.
Mereka menonton, batin Nyonya Lyn, tangannya tanpa sadar meremas bahu Lunaris lebih erat, seolah ingin melindungi gadis itu dari cengkeraman tak kasat mata yang sedang mengintai dari balik asap kremasi.