NovelToon NovelToon
Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?

Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.

Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.

=-=-=

"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.

"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.

"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.

=-=-=

Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?

=-=-=

Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.

LOVE YOU~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maling?

*

"Hentikan, tidak ada apapun disana!" Bu Indah berusaha menghentikan pria itu mengacak seisi kamar.

"Kamu pasti menyembunyikannya, iyakan? Katakan dimana?" Sentak pria itu bertanya.

"Tidak ada."

"Kamu--..." Pria itu mengangkat tangan ingin menampar Bu Indah.

Bugh!

Terlambat! Tendangan seseorang lebih dulu mengenai perutnya hingga membuat dia terjatuh dan meringis kesakitan.

"Astaga." Bu Indah terkejut, ia menutup mulut.

"Kalo mau maling yang cerdik, siang bolong gini maling. Mikir." Seru Raya menunjuk keningnya berniat mengejek.

Pria paruh baya itu langsung bangkit "Jangan ikut campur bocah!" Sentaknya menampar Raya.

Tangan Raya langsung mencekal dengan cepat, lalu melintir hingga pria itu kesakitan, ia memukul wajahnya dan terakhir--...

Bugh!

Tendangan maut ia berikan hingga pria itu tersungkur, tubuhnya menghantam dinding dengan keras. Sambil memegangi perutnya, ia merintih kesakitan.

"Dasar maling, mau lagi Ha?!" Raya hendak kembali menghajar tapi seseorang menghentikannya.

"Raya jangan, Ibu mohon hentikan." Larang Bu Indah menahan gerakan Raya.

"Kenapa di hentikan? Maling sepertinya memang pantas di hajar sampe masuk neraka." Seru Raya bersungut.

"Dia ayahmu." Seru Bu Indah.

"What?!" Pekik Raya melirik Bu Indah tak percaya, lalu kembali menatap pria itu "Dia? Ayahku? Kok jelek."

Pria itu berdiri menahan sakit sambil memegangi perutnya "Apa maksudmu jelek Ha?!"

"Semuanya." Balas Raya santai membuat ayahnya geram.

Raya menatap ayahnya dari atas sampai bawah. Penampilannya sangat urakan. Rambut berantakan, pakaian kusut, celana jeans panjang yang robek. Gayanya bukan pria baik, itu seperti preman pasar yang suka malak orang. Apa benar dia ayahnya si cupu? Ingin rasanya tidak percaya.

"Ini pasti gara gara kamu, istriku gak punya uang." Sentak pria itu, dia menunjuk Raya.

"Jangan menunjukku!" Tepis Raya, tatapan tajam.

"Kau--..."

"Mas Anton hentikan! Raya baru keluar dari rumah sakit, kamu jangan menyakitinya." Seru Bu Indah berjalan di depan Raya menghadap suaminya.

Raya melirik Bu Indah yang berusaha melindunginya, padahal tadi ia melihat bagaimana takutnya Bu Indah melawan suaminya. Tapi sekarang... Dia memberanikan diri melawan untuk melindunginya? Entah kenapa, ia merasa hangat.

"Anak ini sudah kurang ajar. Dia memukuliku, dasar anak durhaka." Pak Anton ingin menyerang lagi, tapi Bu Indah menghalangi.

"Mas, hentikan!" Seru Bu Indah masih bertahan "Baiklah, aku akan memberikannya."

"Yaudah mana?"

Bu Indah mengangkat ujung kasur, mengambil uang yang ia sembunyikan disana.

"Bu, jangan berikan." Larang Raya.

Pak Anton dengan cepat merebut uang di tangan Bu Indah yang berjumlah lima ratus ribu rupiah. Raya ingin mengambil kembali, tapi melihat tatapan ibunya yang melarang jadi ia urungkan dan memilih diam.

"Begini kan enak, dari tadi kek." Cetus Pak Anton sumringah, ia melirik Raya "Sekali lagi kau melawanku, aku akan membunuhmu." Ancamnya.

Raya diam, tatapannya tajam, tangan mengepal kuat. Dalam hati dia berkata 'Beraninya pria ini mengancam gue. Kalo lo bukan bokapnya Raya, udah gue habisi lo.'

Tak peduli tatapan Raya, Pak Anton memilih pergi dari sana dengan tertawa puas.

"Hah." Bu Indah menghembuskan nafas kasar, ia terduduk lemas di atas kasur.

Raya langsung mendekat, duduk di sampingnya "Ibu baik-baik saja? Seharusnya biarkan aku menghajarnya. Aku bisa." Ucap Raya, ia sangat kesal dan lebih kesal lagi karena di larang menghajarnya.

"Dia masih ayahmu, ibu gak mau kamu jadi anak durhaka." Ujar Bu Indah memberi penjelasan.

Raya mendengus "Anak melawan orang tua di bilang durhaka, lalu orang yang melawan anaknya disebut apa? Ngasih pelajaran doang?" Ucapnya tidak terima.

"Kamu gak bisa melawannya, ibu gak kejadian dulu terulang kembali." Wajah Bu Indah tampak sedih.

"Kejadian apa?" Tanya Raya.

"Dulu kamu coba melawan ayahmu, tapi kamu malah terluka dan harus di larikan ke rumah sakit."

Mulut Raya terbuka, ia tidak menyangka hal itu. Pantas saja ibunya tadi sangat ketakutan dan memilih mengalah karena itu untuk melindunginya.

Raya ingin sekali bertanya lagi lebih banyak tapi itu tidak bisa ia lakukan karena akan menimbulkan kecurigaan jika dia bukanlah Raya yang asli. Jadi memilih diam untuk sekarang, dia akan menanyakan hal ini pada si pemilik tubuh besok pagi saat bertemu.

"Kamu sudah lapar kan? Ayo kita makan." Ajak Bu Indah ingin melupakan masalah ini sejenak.

Raya melirik kamar ibunya yang berantakan, hampir seluruh isi lemari berserakan di lantai. Bu Indah mengetahui tatapan itu "Nanti ibu bisa bereskan, sekarang ayo makan." Ajaknya.

Akhirnya Raya mengangguk pasrah, mereka menuju ruang tengah yang ada meja makan. Makanannya ternyata sudah tersaji rapi.

Wajah Raya lesu melihat makanan yang sama seperti beberapa hari di rumah sakit. Ia muak melihat makanan yang katanya kesukaannya. Tapi pandangannya teralih, keningnya sontak mengernyit "Kenapa ada rumput disini? Ibu memelihara kambing?" Tanyanya cengo.

"Hah? Rumput?" Bu Indah mengerutkan kening, melihat makanan yang di tunjuk Raya "Itu sayuran sayang, namanya kangkung."

"Kung.kang?" Ejanya pelan.

Bu Indah menepuk dahinya, dalam hati frustasi 'Apa kalau hilang ingatan separah itu ya? Kirain hanya lupa orangnya, tapi makanan pun lupa.'

Berusaha tetap sabar, Bu Indah angkat bicara "Sayur kangkung namanya, bukan kungkang. Ini makanan kita, bukan untuk kambing. Ibu gak melihara kambing."

Raya membulatkan mulutnya sedikit mengerti, namun masih tidak dengan makanannya. Beberapa hari di rumah sakit, ibunya selalu membelikan tempe bacem, dia pun terpaksa makan efek lapar tapi sedikit untuk mengganjal perut, lalu sekarang saat di rumah malah diberi sayuran mirip rumput. Fiks... Sebentar lagi lidahnya akan lupa rasa steak.

Bu Indah menuangkan makanan di piring Raya, Raya senyum tertekan. Ia harus kuat menjalani kehidupan baru ini. Dia juga harus mencari agar agar kembali ke tubuh aslinya, bila perlu ia akan menyewa dukun.

*

*

Di sisi lain Jessie sedang menyantap makanan di atas meja dengan lahap dan tenang. Banyak hidangan tersaji di atas meja, mulai dari buah segar, ikan, ayam, steak, seafood, sushi, bahkan minumannya ada tiga yaitu air putih, jus orange, serta eskrim sebagai penutup makan.

Vira menatap kakaknya "Kakak laper banget ya?"

Gerakan Jessie terhenti, apa ia terlihat rakus? Tapi tidak juga. Dia makan santai namun memang banyak porsi. Ia jadi malu sendiri.

"Sudah lama Papa tidak melihatmu makan sebanyak ini. Tapi Papa senang, jadi tidak apa dan kalau mau nambah juga boleh." Ucap Tuan Ardi tersenyum.

Jessie mengangguk canggung.

"Ayo habiskan, ini masih banyak loh." Ucap Nyonya Linda, Jessie kembali melanjutkan makannya.

"Sayang, besok Papa harus pergi ke Italy. Kamu gak masalah kan?" Tanya Tuan Ardi menatap Jessie, ia takut Jessie akan marah. Ia sudah minta ijin pada istrinya juga pada Vira, dan ini baru bilang ke Jessie.

"Italy? Mendadak sekali Pa, berapa lama?" Tanya Jessie.

"Papa tidak tahu, sudah lama Papa tidak mengecek perusahaan cabang papa disana. Kamu tahu sendiri, sejak kemarin Papa disini." Ujar Tuan Ardi berkata jujur.

"Maaf ya, gara gara menemaniku perkerjaan Papa jadi terhambat." Wajah Jessie menunduk lesu.

"Bukan salahmu, ini kewajiban Papa menjagamu." Ucap Tuan Ardi "Jadi, apa boleh?"

Jessie mengangguk "Iya Pa, tapi Papa harus jaga diri disana dan jangan sampai sakit." Pintanya.

Tuan Ardi mengulum senyum, putrinya ini semenjak kecelakaan jadi sangat lembut dan perhatian "Iya sayang."

Jessie tiba tiba teringat sesuatu "Oh ya, besok Jessie boleh pergi gak?"

Mereka yang disana saling tatap, tidak biasanya Jessie meminta ijin jika mau pergi. Biasanya juga main pergi aja meski tanpa persetujuan.

"Kamu baru sembuh, memangnya mau kemana?" Tanya Nyonya Linda.

"Ke rumah temen Ma." Ucapnya "Aku mohon, boleh yaa?"

"Yasudah boleh." Nyonya Linda akhirnya mengalah. Daripada Jessie kembali memberontak, pikirnya. "Tapi kamu jangan naik mobil sendiri, di antar supir aja ya?"

Raya diam sejenak, berpikir jika di antar supir takut akan curiga karena dia ingin ke rumahnya "Naik ojek aja boleh?"

"Hah?! Ojek?" Pekik Vira tak percaya "Sejak kapan kakak mau naik ojek?"

Raya kembali terdiam, ia hampir lupa jika Jessie yang asli tidak pernah baik ojek.

"Di antar supir saja, lebih aman." Ucap Tuan Ardi.

"Baik Pa." Raya pun menurut, berharap supirnya tidak akan curiga nanti.

...----------------...

1
rhenha 123
lanjut thor
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa tak kirainn chatstory🥲 KAPANN BUAT CS LGII THORR🤧
Amha amalia: lagi pengin buat novel kakak😌😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!