Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Resmi Milikku
Sambil menyungging dia di bahu, aku naik tangga, dua anak tangga sekaligus, buru-buru bawa dia ke kamar aku.
Eva tertawa, yang langsung berubah jadi desahan waktu aku melempar dia ke kasur.
Sambil cekal lututnya, aku buka kakinya lebar-lebar. Sedetik kemudian, mulutku menempel di kubangannya yang basah kuyup dengan rasa lapar yang enggak bisa aku kendalikan.
"Ya Tuhan!" desahnya waktu tangannya tersangkut di rambutku. "Aku seneng banget tadi udah mandi dulu, sebelum kamu ngambil aku. Ohhh, mmmmmhhh, Farris." Dia merintih waktu aku melahap kacangnya dan masuk ke celahnya seperti orang kelaparan.
Pinggulnya goyang dan berputar putus asa, aku pakai lidah dan bibirku buat dia menyerah.
Tubuh Eva menegang dan pinggulnya terangkat dari kasur. Melayang dalam erangan, dia berhenti bernapas beberapa detik sebelum tubuhnya kejang-kejang, dan desahan lembut lolos dari bibirnya, yang membuat batangku keras lagi, secepat kilat.
Aku jilat rahimnya sekali lagi sebelum mengecup perut dan payudaranya, sambil merayap naik di tubuhnya. Aku hisap satu kismis ke mulutku dan menggesekkan gigiku ke kulitnya, sebelum menahan tubuhnya di kasur dengan seluruh berat badanku.
Telanjang di atas dia, aku menatap matanya yang masih linglung dan melihat kenikmatannya perlahan memudar.
Aku usap sisi tubuhnya naik turun sebelum menyelipkan tangan ke bawah pahanya dan angkat kakinya ke atas tubuhku, membuat batangku menempel tepat di rahimnya yang hangat.
Dia melingkarkan tangan di leherku, menempelkan mulutnya ke mulutku, lidahnya menyapu lidahku.
Aku jaga ciumannya tetap pelan dan dalam, menikmati betapa enaknya tubuhnya di bawahku.
Beberapa menit berlalu sebelum aku mulai mengelus rahimnya pakai batangku. Napas kami makin cepat dan tangan kami menjelajah tubuh satu sama lain.
Saat rasanya aku mau meledak, aku rentangkan tangan di antara kami dan posisikan batang aku di pintu masuknya. Mataku mengunci matanya, dan dengan satu dorongan keras, aku masuk sepenuhnya ke dalam dia.
Eva terengah. Kalau aku enggak lagi menatap dia, aku bakal kelewatan kilatan rasa sakit itu.
"Kamu enggak apa-apa?" tanyaku.
Dia mengangguk, senyum seksi muncul di bibirnya yang bengkak. "Iya. Aku suka banget ukurannya. Aku bisa rasain kamu di dalam."
"Ya, Tuhan," gumamku sebelum mulutku menabrak mulutnya lagi, sambil mendorong lebih dalam.
"Ohhh, iya. Ahhh, emmmhhh ... Iya. Iya, ahhhh .... Yesss!" dia merintih, dan itu membuatku berlutut di antara pahanya.
Aku meremas pinggulnya pakai dua tangan, tahu dia bisa bikin aku kehilangan kendali, dan aku geber dia sekeras yang aku mau.
Otot-otot tubuhku menegang saat aku terus menghantam dia. Eva menatap tubuhku sambil mencengkeram seprai, punggungnya melengkung.
"Anjing!" teriaknya, wajahnya menegang. "Hajar aku lebih keras, Babby!"
Karena tahu persis apa yang dia butuhkan, aku pakai ibu jari buat menggosok kacangnya dengan kasar. Dalam hitungan detik, dia menjerit terputus-putus saat tubuhnya dihantam klimaks lagi.
aku merayap di atas tubuhnya, menopang tangan aku di kedua sisi kepalanya. Aku menatap pipinya yang memerah dan ekspresi puasnya dengan bangga.
Saat napasnya mulai melambat, dia bertanya, "Kamu udah keluar?"
Aku menggeleng. "Aku belum selesai bikin kamu keluar."
Matanya membelalak. 'Apa? Aku sudah klimaks dua kali. Enggak mungkin aku bisa keluar lagi!"
Sudut bibirku terangkat. "Aku nganggep ini tantangan."
Aku mundur sedikit buat ambil jarak, lalu aku balikkan dia tengkurap dan pakai tubuhku buat menekannya ke kasur.
Pakai tangan kiri, aku kunci pergelangan tangannya di atas kepala. aku buka kakinya pakai salah satu kakiku, sambil menggeser satu jari di belahan bokongnya.
Aku dengar dia menarik napas dalam saat ujung jariku menyusuri rahimnya. Dia gemetar karena masih terlalu sensitif.
Aku pindahkan tanganku lagi ke bokongnya dan memijat kulitnya yang lembut sambil menekan ciuman di bahu dan lehernya.
"Tubuh kamu sempurna. Aku mau hajar kamu semalaman!" kataku di dekat telinganya, nada suaraku penuh hasrat.
"Ya Tuhan, Farris!' Dia mengerang sambil mendorong pantatnya ke telapak tanganku. "Ini enak banget!"
Aku posisikan batangku lagi di pintunya dan masuk dengan tusukan pendek, pinggulku bergerak, dan suara tubuhnya yang lembut itu menyelimutiku.
Aku menekan dadaku ke punggungnya, lalu menyelipkan tangan kananku ke bawah tubuhnya sampai akhirnya bisa meremas dadanya dengan keras.
Eva hampir terengah-engah, dan saat aku mulai bercinta sama dia dengan cara yang menyiksa dan lambat, rasanya dia terisak sambil memohon, "Lebih cepat, please!"
"Aku tahu!" Aku menggeram di dekat telinganya sambil tetap menjaga ritme super pelan sampai bikin aku sendiri di ambang batas.
Aku tarik tanganku dari bawah tubuhnya, lalu aku tarik sampai cuma kepala batang aku yang masih di dalam sebelum aku menampar pantatnya.
Aku merasa rahimnya mencoba menyedotku lebih dalam saat erangan lepas dari mulutnya, diikuti rintihan. "Lagi ...."
Seperlahan mungkin, aku dorong masuk ke dalam. Aku tampar pantatnya lagi, dan aku harus berjuang buat menahan dia tetap diam di bawahku karena dia berusaha bergerak buat tingkatkan ritme.
"Diam atau aku berhenti!" Aku peringatkan.
"Kamu jahat!" Dia merengek.
Aku menunduk dan mencium dagunya sebelum bilang, "Di luar sana, kamu bisa jadi perempuan mandiri dan tangguh, tapi di sini, kamu bakal tunduk sama aku!"
"Iya, Tuan Delaney."
Dengar kata-kata yang seksi banget itu, kendali aku langsung goyah, dan aku menghantam dia beberapa kali sebelum akhirnya bisa tarik diri, buat turunkan tempo.
"Hmmm," godanya. "Kamu suka itu, kan?"
Sebagai jawaban, aku nemplok pantatnya lagi.
Aku terus menyiksa kami berdua dengan tusukan yang super pelan dan menyakitkan sampai Eva jadi berantakan, terengah-engah di bawahku, merengek enggak jelas.
Waktu aku mulai menghantam dia lebih keras dan makin keras, dia langsung hancur, jeritan serak jadi satu-satunya suara yang bisa dia keluarkan.
Aku geber dia sampai napasku habis. Tubuhku jatuh menimpa tubuhnya saat kenikmatan membutakan aku, membuatku sepenuhnya tak berdaya selama beberapa menit.
Saat klimaks dahsyat itu mulai mereda, batangku berdenyut di dalam rahimnya.
Begitu kami berdua turun dari puncak kenikmatan itu, aku turun dari atasnya dan fokus buat mengatur napas.
Eva enggak bergerak sama sekali sambil berbisik, "Aku udah enggak punya tenaga."
Aku tertawa kecil, melingkarkan satu tangan ke tubuhnya, lalu mencium bahunya.
Kami menikmati euforia setelah klimaks sebentar, sebelum aku bangkit dan ke kamar mandi.
Aku ambil handuk dan membasahinya dengan air hangat, lalu balik ke kamar, membersihkan rahim perempuanku, sambil terus mencium punggungnya.
Selesai itu, aku bilang, "Ayo turun biar aku bisa kasih kamu makan."
Kepalanya muncul, rambutnya acak-acakan. "Makanannya kayaknnya enak."
Sambil menunggu dia keluar dari kasur, aku pegang bahunya dan bilang, "Tunggu sebentar. Biar aku lihat kamu!"
Dia memperhatikan saat aku menatap tubuh indahnya dengan tenang. Ujung jariku menyusuri kismisnya yang mengeras dan lekuk pinggulnya.
"Kamu itu sempurna!"
"Hal yang sama juga berlaku buat kamu," gumamnya, nadanya penuh bahagia.
Tatapan kita bertemu dan melihat sorot yang sama seperti waktu aku mencium dia di sofa, aku tarik dia ke pelukan dan mengubur wajahku di rambutnya.
Dia milik aku.
Aku bakal kasih dia waktu buat menerima hubungan kami, tapi setelah malam ini, aku enggak akan pernah melepaskan dia lagi.
JD penasaran Endingnya