"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: SIMFONI DI BALIK KABUT ALPEN
Pagi di Silvaplana selalu diawali dengan kabut tebal yang menyelimuti danau, seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan keberadaan kami dari sisa dunia. Di dalam chalet kayu kami, suhu udara terasa jauh lebih tinggi daripada kristal es yang menempel di jendela. Di sini, di ruang yang terisolasi ini, Dr. Elena Rossi dan Marco tidak lagi sekadar nama di atas paspor Italia yang palsu; kami telah menjadi realitas yang baru, yang jauh lebih intim dan berbahaya daripada yang pernah kubayangkan.
Aku terbangun dengan punggung menempel pada dada bidang Julian. Lengan kekarnya melingkar erat di pinggangku, sebuah pelukan yang protektif sekaligus posesif. Aku bisa merasakan setiap detak jantungnya yang tenang namun kuat, beradu dengan napas halusnya di tengkukku.
“Bangunlah, Elena,” suara Zura bergema di sudut pikiranku, kali ini tanpa nada sinis. Suaranya terdengar malas, seperti kucing yang baru saja kenyang. “Nikmati kehangatan ini. Lihat betapa raga Valerie yang suci ini sekarang meronta ingin berbalik dan memeluknya kembali. Kau sudah kecanduan, bukan? Bukan pada obat-obatan, tapi pada pria ini.”
Aku memejamkan mata, mencoba menyangkal bisikan itu, namun tubuhku mengkhianatiku. Aku berbalik perlahan di dalam dekapan selimut bulu yang tebal, menatap wajah Julian yang sedang tertidur. Garis-garis tegas di wajahnya tampak melembut dalam keremangan fajar. Tanpa sadar, jemariku merayap menyentuh bekas luka kecil di rahangnya.
Julian membuka matanya. Biru matanya yang dalam langsung terkunci pada mataku. Tidak ada keterkejutan, hanya ada pengakuan yang dalam.
"Kau sudah bangun?" bisiknya, suaranya parau khas orang yang baru bangun tidur—nada yang sekarang selalu berhasil membuat perutku bergejolak.
"Udara terlalu dingin untuk tetap diam," jawabku pelan.
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan saat kami masih berada di bawah bayang-bayang Blackwood. Ia menarikku lebih dekat, meniadakan celah udara di antara tubuh kami. Tangannya yang besar mulai menjelajahi lekuk punggungku, mengirimkan gelombang panas yang seketika memadamkan rasa dingin dari luar.
PENERIMAAN YANG MEMBARA
Awalnya, di hari-hari pertama kami tiba di Alpen, setiap sentuhan Julian terasa seperti pelanggaran terhadap prinsip profesionalitasku. Dr. Valerie yang dulu selalu menjaga jarak dua meter dari setiap subjeknya merasa terhina oleh keinginan raganya sendiri. Aku merasa seolah Zura-lah yang memaksaku masuk ke dalam pelukan Julian.
Namun, seiring berjalannya minggu, batasan itu kabur. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak lagi terpaksa. Aku mulai merindukan berat tubuhnya, aroma tembakau dan kayu cendana yang melekat pada kulitnya, dan cara dia menatapku seolah aku adalah satu-satunya kenyataan yang tersisa di dunia ini.
Julian menciumku, awalnya lembut dan penuh selidik, namun dengan cepat berubah menjadi tuntutan yang membara. Lidahnya bermain dengan ritme yang sudah sangat kuhapal, memicu ledakan dopamin yang membuat kepalaku pening. Zura tidak lagi perlu mendorongku; raga Valerie sendiri yang kini menuntut untuk dipenuhi.
Kami bergumul di bawah selimut, sebuah tarian lambat yang dipenuhi oleh bisikan-bisikan tanpa kata. Tanganku yang dulu hanya terbiasa memegang pisau bedah atau pena, kini menemukan tujuan baru: menjelajahi garis-garis otot di bahu Julian, merasakan kekuatannya yang kini didekasikan sepenuhnya untuk melindungiku.
Setiap erangan yang keluar dari mulutku terasa seperti kemenangan bagi Zura, namun juga merupakan pembebasan bagi Valerie. Di saat-saat seperti ini, aku tidak lagi merasa terbelah. Aku merasa utuh sebagai seorang wanita yang mencintai dan diinginkan. Julian mencium setiap inci kulitku, dari bekas luka inversi di pelipisku hingga ujung kakiku, seolah-olah ia sedang menghapus setiap memori buruk yang pernah ditanamkan Adrian Vane pada raga ini.
MENCUCI JEJAK DENGAN GAIRAH
Setelah beberapa jam yang melelahkan namun memuaskan, kami berpindah ke kamar mandi yang memiliki bak mandi besar dari kayu cedar. Uap air panas memenuhi ruangan, menciptakan suasana privat yang sangat intim. Julian duduk di belakangku, jemarinya yang kuat memijat bahuku yang tegang, sementara aku menyandarkan kepala di dadanya.
"Kita harus segera membereskan sisa jejak digital kita hari ini, Marco," kataku, mencoba kembali ke mode Elena Rossi yang analitis, meskipun pikiranku masih melayang akibat gairah tadi.
"Aku sudah melakukannya tadi malam saat kau tidur, Elena," jawab Julian sambil mencium pundakku yang basah. "Aku sudah mengalihkan aliran dana kita melalui bank di Malta, lalu ke Panama. Secara teknis, uang yang kita gunakan sekarang adalah hasil investasi dari seorang 'hantu' di Italia. Vane tidak akan bisa melacaknya kecuali dia ingin menghancurkan sistem perbankan Eropa."
Aku berbalik, menatapnya dengan bangga. "Kejeniusanmu dalam intelijen memang tidak ternilai."
Julian terkekeh, menarikku untuk duduk di pangkuannya di dalam air yang panas. "Dan kejeniusanmu dalam membedah psikologi orang-orang di pasar gelap membuat mereka tidak berani bertanya tentang siapa kita. Kita tim yang hebat, bukan?"
Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Air yang menetes dari rambut hitam pendekku membasahi dadanya. "Valerie... Elena... aku tidak peduli siapa namamu. Di gunung ini, kau adalah hidupku. Aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan dari masa lalu yang bisa menyentuhmu."
Gairah kembali menyulut di antara kami. Di bawah air yang mengepul, sentuhan-sentuhan kami menjadi lebih liar. Julian mengangkatku, memaksaku untuk menatap matanya saat ia menyatukan tubuh kami sekali lagi. Rasanya berbeda dengan yang tadi pagi; ini lebih intens, lebih mendesak, seolah-olah kami sedang berusaha mencuci bersih sisa-sisa kegelapan Blackwood dari pori-pori kulit kami dengan panasnya tubuh satu sama lain.
Aku mencengkeram sisi bak mandi, membiarkan diriku terbuai sepenuhnya dalam sensasi yang diberikan Julian. Zura tertawa bahagia di dalam sana, merayakan kebebasan raga yang kini tidak lagi mengenali rasa sakit, hanya kenikmatan yang murni.
KEHIDUPAN BARU YANG BERSIH
Siang harinya, kami keluar dari chalet untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Kami mengenakan pakaian musim dingin yang elegan—mantel wol panjang dan sepatu bot kulit yang mahal, sesuai dengan citra pasangan kelas atas Italia yang sedang berlibur.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak Silvaplana menuju sebuah kafe kecil di tepi danau. Julian menggandeng tanganku dengan erat, jemarinya bertaut dengan jemariku di dalam saku mantelnya. Kami tampak seperti pasangan yang sempurna, tidak ada yang akan menyangka bahwa kami adalah dua buronan yang paling dicari oleh organisasi rahasia paling berbahaya di dunia.
"Lihat itu," Julian menunjuk ke arah danau yang membeku. "Indah, bukan? Begitu bersih."
"Ya," kataku, menghirup udara dingin yang segar. "Bersih. Tanpa noda."
Kami duduk di teras kafe yang dilengkapi dengan pemanas luar ruangan, memesan dua cangkir espresso dan cornetto. Aku mengeluarkan laptop kecilku, melakukan pemeriksaan rutin terakhir pada jaringan keamanan yang kupasang di sekitar chalet kami. Semuanya hijau. Tidak ada ping dari pelacak Vane, tidak ada aktivitas mencurigakan di satelit biometrik.
Kami benar-benar telah menghapus diri kami sendiri.
Selama makan siang itu, kami berbicara tentang masa depan. Bukan tentang pelarian, tapi tentang rumah yang ingin kami beli suatu saat nanti di pesisir Amalfi, tentang kebun zaitun, dan tentang kedamaian yang permanen. Aku menyadari bahwa aku mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Aku mulai menyukai Elena Rossi—wanita yang cerdas, berani, dan penuh gairah.
“Kau tahu, Valerie,” Zura berbisik lembut saat aku menyesap kopiku. “Aku mulai menyukai Elena juga. Dia tidak membosankan sepertimu yang dulu. Dan pria itu... pastikan kau menjaganya. Dia adalah satu-satunya alasan kita masih memiliki detak jantung yang nyata.”
Aku tersenyum tipis ke arah Julian. Ia membalas senyumanku, lalu mencium telapak tanganku di depan semua orang di kafe itu. Di bawah sinar matahari Alpen yang cerah, aku merasa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah saat kami meledakkan Blackwood, tapi saat kami berhasil merebut kembali hak kami untuk merasa bahagia dan mencintai, tanpa bayang-bayang ketakutan.
Kami adalah Dr. Elena Rossi dan Marco. Dan dunia tidak perlu tahu lebih dari itu.