Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes kejujuran
Keesokan paginya, Yang Chi terbangun bukan karena tarikan rantai, melainkan karena suara bisik-bisik dan gemerincing baki logam. Saat ia mengerjapkan mata, ia tersentak kaget. Kamar Long Wei yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh sekitar lima orang pelayan wanita yang berdiri berjajar dengan kepala tertunduk.
"Tuan Putri, Anda sudah bangun?" tanya salah satu pelayan senior dengan nada yang sangat formal namun terselip ketakutan.
Yang Chi langsung duduk tegak, menarik selimutnya untuk menutupi jubah putih Long Wei yang masih ia kenakan. Ia melirik ke samping; sisi ranjang Long Wei sudah kosong dan dingin. Kaisar itu sudah bangun lebih dulu.
"Ehh... kalian siapa? Kok banyak banget?" tanya Yang Chi dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Kami diperintah oleh Baginda Kaisar untuk memandikan dan merias Anda, Tuan Putri. Ibu Suri telah menunggu di balairung utama untuk sarapan pagi bersama," jawab pelayan itu sambil memberi isyarat kepada pelayan lain untuk menyiapkan bak mandi berisi bunga-bungaan.
Yang Chi menelan ludah. Waduh, ini pasti mau disidang lagi sama Ibu Suri, batinnya panik.
Para pelayan itu mulai mendekat. Ada yang membawa nampan berisi gaun sutra berwarna biru muda yang sangat cantik, ada yang membawa perlengkapan rias, dan ada yang membawa parfum aroma cendana.
"Tunggu, tunggu! Tangan saya masih dirantai begini, gimana mau mandinya?" Yang Chi mengangkat tangannya yang terikat ke tiang ranjang.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Long Wei masuk dengan pakaian kebesaran yang gagah, tampak sudah rapi dan siap untuk memulai hari. Ia berjalan mendekat dan tanpa suara membuka gembok di tangan Yang Chi menggunakan kunci kecil yang dikalungkan di lehernya.
"Mandilah. Pakai pakaian yang sudah kusiapkan," ucap Long Wei datar. Ia menatap Yang Chi sebentar, lalu beralih ke para pelayan. "Rias dia seanggun mungkin. Jangan sampai ada yang meragukan bahwa dia adalah Putri Kerajaan yang terhormat, meski jiwanya sedang... 'sakit'."
Long Wei memberikan penekanan pada kata 'sakit' sambil memberikan isyarat mata kepada Yang Chi untuk tetap melanjutkan akting gilanya jika perlu.
"Tuan, kenapa biru? Saya lebih suka warna pink tahu di tahun 2026—" ucapan Yang Chi terhenti saat Long Wei memberikan tatapan tajam yang seolah berkata: Diam atau aku ikat lagi.
"Ba-baik, Tuan Kaisar. Biru juga bagus, kok. Kayak langit," ralat Yang Chi cepat sambil nyengir.
Setelah Long Wei keluar, para pelayan segera mengerumuni Yang Chi. Mereka mulai membersihkan wajahnya, menyisir rambutnya yang panjang, dan mengaplikasikan riasan tipis namun mewah. Yang Chi hanya bisa pasrah saat tubuhnya digosok dan didandani.
Saat ia melihat cermin perunggu setelah selesai dirias, Yang Chi terpaku. "Wah... ini beneran muka aku? Ternyata kalau di-glow up pakai gaya dinasti begini, aku cantik banget ya," gumamnya takjub.
Yang Chi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Begitu melihat Long Wei berdiri di ambang pintu menunggunya, ia langsung berlari kecil—hampir tersandung gaun birunya yang panjang—dan langsung bergelayut manja di lengan kokoh Long Wei.
"Aaaaa! Aku mau pulang! Nggak mau di sini! Aku mau main sama kamu aja!" rengek Yang Chi dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil, sambil mengerucutkan bibirnya.
Long Wei membeku. Lengan berototnya yang biasanya hanya memegang pedang, kini didekap erat oleh Yang Chi. Ia bisa merasakan kelembutan kain sutra dan aroma bunga dari rambut Yang Chi yang baru saja mandi. Meski wajahnya tetap berusaha datar, telinga Long Wei mulai memerah lagi.
"Xiao Xi, lepaskan. Kita sedang di depan pelayan," bisik Long Wei tegas, mencoba menarik tangannya, tapi Yang Chi justru semakin mempererat pelukannya.
"Nggak mau! Kamu jahat kalau ninggalin aku! Ayo main pelangi lagi!" seru Yang Chi sambil mendongak menatap Long Wei dengan mata bulat yang berkedip-kedip polos.
Para pelayan di kamar itu tertunduk malu, beberapa di antaranya mencuri pandang, tak percaya melihat Kaisar mereka yang ditakuti diperlakukan seperti itu oleh "wanita gila".
Long Wei menghela napas panjang, menyerah. Ia terpaksa membiarkan Yang Chi bergelayut di lengannya saat mereka berjalan keluar kamar menuju balairung utama.
Sesampainya di depan Ibu Suri, suasana langsung tegang. Ibu Suri sedang duduk bersama Mei Lan yang menatap Yang Chi dengan tatapan benci yang sangat dalam.
"Long Wei! Apa-apaan ini? Kenapa kau membiarkan dia bergelayut di lenganmu seperti itu di depan umum?" tegur Ibu Suri dengan nada tajam.
Mei Lan menimpali dengan suara sinis, "Baginda, sepertinya 'penyakit' Xiao Xi ini sangat menguntungkan dirinya ya? Dia jadi bisa menyentuh Baginda sesuka hati."
Yang Chi yang mendengar itu langsung memasang wajah "bingung". Ia melepaskan tangan Long Wei sebentar, lalu berjalan mendekati Mei Lan.
"Wah, Kakak Menor! Kamu punya burung pelangi nggak di baju kamu? Kok warnanya merah-merah kayak abis kejebur saus sambal?" tanya Yang Chi sambil mencoba menarik-narik hiasan rambut Mei Lan yang mahal.
"Aaaa! Jangan sentuh aku, wanita gila!" pekik Mei Lan sambil menjauh ketakutan.
Long Wei diam-diam menarik sudut bibirnya, hampir saja tertawa melihat Mei Lan yang panik diganggu Yang Chi. Namun, ia segera kembali serius saat Ibu Suri menggebrak meja.
"Cukup! Jika dia memang gila, dia harus dites dengan Jarum Kejujuran dari tabib istana. Jika dia berteriak karena takut, berarti dia hanya berakting!" perintah Ibu Suri.
Yang Chi langsung menelan ludah. Waduh, Jarum Kejujuran? Di tahun ini mah adanya detektor kebohongan, ini malah main tusuk! batinnya panik.
Apa yang akan dilakukan Yang Chi?