Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tak Sengaja
Selama ini, Rayyan hanya tahu Ayra seorang perempuan yang lugu dan istri yang tidak berpendidikan. Rayyan tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Ayra adalah mahasiswi Fakultas Hukum yang berprestasi.
Hanya saja Ayra memutuskan untuk cuti kuliah saat sakit Mirah, sang ibu, bertambah parah. Ia ingin fokus merawat wanita yang sudah melahirkannya itu. Ditambah lagi Mirah pun meminta Ayra menikah dengan Rayyan, putra dari kerabat jauhnya.
Kini, setelah tiga bulan masa iddah, Ayra mulai memikirkan untuk melanjutkan kuliahnya.
IA duduk di depan laptopnya dengan tatapan tajam. Di tangannya ada berkas transkrip nilai dengan IPK yang sangat memuaskan.
"Kamu pikir aku bodoh karena aku diam dan menurut, Mas?" Gumam Ayra dalam hati.
WAnita cantik itu mulai memindai dokumen-dokumen kuliahnya untuk dikirimkan ke bagian administrasi kampus. Ia ingin memastikan apakah ia bisa langsung masuk ke semester 6 atau harus mengulang beberapa mata kuliah karena jeda waktu yang cukup lama.
Ia tersenyum tipis melihat saldo rekeningnya. Uang yang dipaksakan keluar dari tabungan Rayyan itu kini ia gunakan untuk membayar biaya pendaftaran ulang dan biaya semester. Ada kepuasan tersendiri saat ia menggunakan uang dari pria yang meremehkannya itu untuk membuktikan bahwa dirinya jauh lebih cerdas dari yang dibayangkan pria itu.
Baginya, gelar sarjana ini bukan sekadar ijazah, tapi cara untuk mengambil kembali harga diri yang selama ini diinjak-injak oleh Rayyan.
***
Pagi ini, Ayra turun dari ojek online tepat di depan gerbang Fakultas Hukum. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya lagi di sini. Suasananya masih sama, ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang membawa buku-buku tebal.
Ayra berjalan menuju bagian administrasi dengan tas di bahunya. Ia merasa sedikit asing, namun ada rasa lega di hatinya. Saat sampai di loket, ia menyerahkan berkas yang sudah ia siapkan.
"Selamat pagi, Pak. Saya ingin mengurus pendaftaran ulang untuk lanjut kuliah. Saya cuti sejak semester lima mau ke semester enam," ujar Ayra.
Petugas administrasi itu memeriksa berkas Ayra dan mengecek data di komputer. "Atas nama Kinayra Calista ya? Ini IPK Anda bagus sekali. Sayang kalau tidak diselesaikan."
Ayra hanya tersenyum tipis.
"Iya, Pak. Saya ingin menyelesaikannya sekarang."
"Karena jeda waktunya cukup lama, ada beberapa mata kuliah penyesuaian, tapi mata kuliah inti Anda sudah aman. Anda bisa mulai masuk minggu depan untuk lanjut ke semester enam," jelas petugas itu sambil memberikan slip untuk aktivasi status mahasiswanya.
Setelah urusan administrasi selesai, Ayra berjalan keluar dan duduk sebentar di koridor fakultas. Ia melihat jadwal kuliah barunya di ponsel. Rasanya bersemangat bisa kembali mengejar cita-citanya yang sempat tertunda. Fokusnya sekarang hanya satu, belajar dengan baik dan segera meraih gelar sarjana hukum.
Ia kemudian berdiri lagi, melanjutkan langkahnya dan terus berjalan menuju halte yang hanya beberapa langkah dari pintu gerbang kampusnya.
Sambil menunggu bis datang, ia duduk di kursi tunggu dan meraih kipas portable mini dari dalam tasnya. Cuaca siang ini memang sangat terik, membuat Ayra sesekali menyeka keringat di keningnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik melambat dan berhenti tepat di depannya. Ayra bersikap cuek, ia menyangka mobil itu berhenti karena sedang menunggu orang lain atau sekadar menepi. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan, berharap bis yang ia tunggu segera muncul.
Namun, mesin mobil itu tetap menyala. Tak lama kemudian, kaca di bagian pengemudi perlahan diturunkan. Ayra menoleh karena penasaran, dan matanya seketika membulat saat melihat siapa yang duduk di balik kemudi.
"Ayra?" panggil Zavian dengan nada sedikit terkejut sekaligus memastikan.
Ayra terpaku sejenak. Ia tidak menyangka akan bertemu pria itu di lingkungan kampusnya, apalagi dalam situasi seperti ini. Zavian menatap Ayra dari balik kacamata hitamnya, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arah jendela.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Zavian lagi, matanya beralih ke arah gedung Fakultas Hukum di belakang Ayra.
"Pak Zavian?" Ayra menyapa dengan nada formal, merasa sedikit canggung bertemu pria itu di sini.
Zavian membuka kacamata hitamnya. "Sedang apa di sini, Ayra? Cuacanya sangat panas, masuklah. Saya antar," ajak Zavian sambil membukakan pintu mobil dari dalam.
Ayra sempat ragu sejenak. Namun, karena mereka sudah saling kenal dan kini ia sudah sendiri, akhirnya Ayra menurut. Ia masuk ke dalam mobil mewah yang terasa sangat sejuk dan nyaman itu.
"Terima kasih, Pak," ujar Ayra sopan.
"Sama-sama. Kamu mau ke mana?" tanyanya sebelum melajukan mobilnya. Ia menatap Ayra lekat.
"Saya mau pulang."
"Kalau kita makan siang dulu gimana? Sekalian ngobrol. Saya tahu tempat yang enak di dekat sini," tawar Zavian.
Ayra terdiam sejenak. Tapi akhirnya mau tak mau ia mengangguk karena sudah terlanjur masuk ke dalam mobil. Zavian pun kemudian melajukan mobilnya menuju restoran yang tadi disebutkannya.
***
Tak perlu menempuh waktu berlama, mereka akhirnya sampai. Meski terlihat banyak pengunjung, tapi syukurnya mereka masih kebagian tempat duduk.
Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Zavian memberikan kesempatan untuk Ayra memesan makanan terlebih dahulu sambil memberikan beberapa referensi makanan yang best seller di restoran itu. Barulah setelahnya ia memilih makanan untuk dirinya sendiri.
"Apa kabarmu Ayra? Sudah lama kita tidak bertemu." tanya Zavian sambil menatap Ayra lekat tanpa kedip.
"Seperti yang Anda lihat Pak, saya baik-baik saja." jawab Ayra agak sedikit rikuh. Zavian mengajaknya ke restoran yang banyak didatangi para eksekutif dengan pakaian formalnya, termasuk Zavian. Sementara dirinya hanya mengenakan pakaian kasual yang santai.
"Hmmm, Ayra, bisa kan jangan panggil saya Pak atau Bapak? Kamu kan bukan pegawai saya atau anak saya. Lagian, saya ngerasa tua banget kalau dipanggil seperti itu." Pinta
Zavian sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Ayra malah terkekeh.
"Ya maaf. Iya deh mulai sekarang saya panggil 'nak' aja." candanya, Tapi hidungnya langsung ditarik lembut Zavian.
"Awww... hahaha..." Tawa keduanya pun pecah. Entah kenapa candaan ringan itu bisa membawa keceriaan di antara mereka. Hingga tawa itu terhenti saat seorang pelayan datang dan menghidangkan makanan yang mereka pesan.
Sambil menikmati hidangan, Zavian sesekali memperhatikan Ayra. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilan wanita itu. Ingatannya kembali pada pertemuan pertama mereka dulu, di mana saat itu Ayra sedang dalam kondisi mengandung.
Tanpa sadar Zavian menatap Ayra dengan saksama, karena menyadari sekarang perut wanita itu sudah rata. Bentuk tubuh Ayra sudah kembali langsing. Malah terlihat seperti gadis ABG. Tapi Zavian dengar dari ibunya kalau Ayra mengalami keguguran.
"Tadi saya lihat kamu keluar dari gedung Fakultas Hukum. Kamu ada urusan di sana?"
Zavian kembali membuka percakapan.
"Saya sedang mengurus pendaftaran ulang, mas. Saya ingin melanjutkan kuliah yang sempat terhenti di semester lima mau ke semester enam. Tadi baru saja selesai mengurus administrasinya."
"Oh ya? Itu bagus sekali. Senang mendengarnya," ucap Zavian tulus, meski di dalam kepalanya ia masih menyimpan tanya tentang perubahan situasi hidup Ayra yang terlihat sangat drastis sejak terakhir mereka bertemu.
"Terimakasih." Jawab Ayra pendek. Lalu kembali hening beberapa saat.
"Ayra..."
Ayra mendongakkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Ay? Bagaimana dengan kehamilanmu?"
Raut wajah Ayra langsung berubah mendapat pertanyaan itu. Rasa sakit kembali berdenyut di hatinya saat mengingat bagaimana ia kehilangan bayinya.
"Bayi saya... Sudah gak ada. Dia tidak bisa bertahan karena saya tak kuat menahan guncangan batin saat itu." bisik Ayra lirih yang refleks membuat tangan Zavian terulur meraih jemari lentik wanita itu, untuk memberinya kekuatan.
"I'm so sorry..." Bisiknya.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"