Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Reno
Selesai menginterview para calon karyawan baru, Sean langsung di panggil ke ruangan papanya.
Baru saja dia masuk ke ruangan papanya, Reno langsung melempar data diri Senja secara kasar ke atas meja.
"Jadi kamu menerima Senja di perusahaan kita?" Tanya Reno emosi.
"Iya, Pa. Menurut ku dia layak diterima. Dia pintar dan punya talenta yang bagus di perusahaan kita ini!" jawab Sean tegas.
"Papa tidak setuju!"
"Alasannya?" Sean menatap papanya.
"Sean.. Kamu mau semua orang tau siapa Senja? Dan kamu mau nanti dia berkoar-koar kalau dia punya anak dari kamu?"
"Ingat Sean bagaimana perjuangan papa dalam perusahaan ini! Kamu juga tau, posisi kamu itu masih dipertanyakan dewan direksi perusahaan!"
"Senja bukan orang seperti itu! Dia bukan tipe orang yang bisa mencampurkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi!"
" Salah satu tujuan aku menerima dia, bukan saja karena kemampuannya. Aku melakukan ini semua agar Senja punya penghasilan untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anakku. " Ucap Sean penuh emosi.
"Karena aku tau pasti, Senja tak akan pernah mau menerima bantuan dari aku untuk anak itu!"
" Lalu bagaimana dengan Rea? Kamu sudah mau menikah dengannya. Jangan rusak hubungan kamu karena masa lalu yang tak penting itu Arsean!" Ucap Reno marah.
" Papa tenang saja! Aku dan Senja hanya masa lalu. Tetapi diantara kami ada anak,pa. Dan aku wajib untuk menyayangi,melindungi dan menafkahi anak itu. Terlepas dari itu semua,Senja tak akan mau."
" Jadi izinkan Senja kerja di sini!" ucap Sean dengan nada memohon.
Reno terdiam sebentar. Nafasnya memburu memendam amarah begitu tinggi terhadap anaknya.
" Baiklah jika itu yang kamu mau. Tetapi ada syaratnya!" Ucap Reno lagi.
" Maksud papa?"
" Selama dia bekerja di sini,kamu harus tetap bersikap menjadi bosnya. Tak ada yang boleh tau dengan hubungan kalian dulu? Dan kamu harus segera menikah dengan Rea!"
" Aku setuju." Angguk Sean dan keluar dari ruangan papanya.
Baru saja dia menutup pintu ruangan papanya, dia langsung bertatap muka dengan sepupunya, Dirgantara. Sepupu yang tak pernah akur dengannya. Sepupunya yang mempunyai sifat dingin dan tak banyak bicara.
"Dirgantara?" Sean menatap heran Dirgantara di depannya.
"Kapan kamu kembali?" Tanyanya lagi.
" Kenapa? Kamu takut kehadiran aku akan merebut posisi kamu dan papa kamu?" Dirga tersenyum miris dan menatap tajam Sean.
" Tenang saja,aku bukan tipe orang perebut seperti kalian! Aku kesini juga berhak,karena aku punya saham cukup besar di perusahan ini!"
"Jadi kamu gak perlu khawatirkan apapun. Aku ke sini hanya mau bertemu sepupu dan paman tercintaku!" Dirga memegang pundak Sean sebelum benar-benar masuk ke ruangan papanya.
Sean hanya bisa menghela nafas. Dia tak ingin berdebat dengan Dirgantara,apalagi saat ini dia mau fokus sama pekerjaannya dan janjinya pada papanya.
***
Sementara itu Senja baru saja mendapat notifikasi pesan di email-nya. Dia mendapatkan pesan dari perusahaannya Sean yang mengatakan kalau dia di terima.
Senja tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Meski ini tak akan mudah untuk nya karena dia akan bertemu dengan Sean setiap hari,tetapi tetap harus dia hadang demi masa depan dirinya dan Angkasa.
Setelah mendapatkan pesan tersebut,Senja bergegas ke warung makannya buk Asni.
"Senja..ada apa?" Buk Asni menatap bingung Senja. Apalagi buk Asni mau tutup karena udah malam.
"Buk... Senja di terima kerja." Ucap Senja terharu. Bahkan tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.
"Alhamdulillah nak.. Ibu senang mendengarnya. Ini semua berkat usaha dan doa kamu yang tak putus." Buk Asni juga terlihat terharu.
"Kamu yang fokus kerjanya. Ibuk yakin, kamu akan menjadi wanita hebat!" sambung buk Asni penuh nada pujian.
"Terimakasih buk. Ini juga berkat ibuk yang selalu bantu Senja. Bahkan ibuk tak keberatan menjaga Angkasa di saat Senja sibuk cari pekerjaan."
"Iya Senja. Ibuk ikhlas membantu kamu. Apalagi ibuk sudah anggap kamu dan Angkasa seperti keluarga sendiri."
" Mungkin Senja akan sering ngerepotin ibuk lagi siap ini. Senja harus kembali menitipkan Angkasa sama ibuk."
" Soal itu kamu gak usah khawatir. Angkasa anak yang baik dan patuh. Dia akan aman bersama ibuk. "
"Sekali lagi terimakasih, buk!"
Buk Asni mengangguk dan tersenyum sambil mengusap pelan bahunya Senja.
**
"Buk..Angkasa pergi bermain sepeda sama yang lain ya?" Izin Angkasa pada Senja yang menyapu depan kedai nasi buk Asni.
" Iya nak.. hati-hati!" Ucap Senja pada Angkasa yang sudah lari duluan mengejar beberapa temannya yang bersepeda.
Senja cukup sedih melihat Angkasa hanya bisa berlari dengan kakinya mengejar teman-temannya yang bersepeda. Untungnya Angkasa merasa tak keberatan,karena dia tau bagaimana keadaan ibuknya selama ini.
" Maafkan ibuk,Nak. Setelah ini,ibuk janji akan beliin kamu sepeda." Senja masih menatap Angkasa yang tertawa bersama teman-temannya.
Ekspresinya Senja langsung berubah,ketika di seberang jalan sudah berdiri Sean yang hendak menyebrang ke arahnya.
"Apa itu anak kita?" Tanya Sean lirih.
" Buat apa kamu ke sini?"
"Aku hanya ingin melihat anak itu,Senja."
"Sudah berapa kali harus aku bilang,kamu bukan siapa-siapa anak itu. Hanya aku walinya,Sean. Dan aku mohon,jangan sesekali kamu hadir di depannya dan membuat dia bingung. Karena yang dia tau,ayahnya sudah lama meninggal!" Senja memilih ingin pergi masuk ke dalam warung.
Sean mengejarnya dan memegang lengannya.
"Apa sebenci itu kamu ke aku,Senja?"
"Betul! Aku sangat membenci kamu,Sean. Dan hal yang paling aku sesali adalah mengenal kamu. Karena jika aku tak mengenalmu,maka anakku tak akan menderita selama ini,karena hadirnya dalam keadaan seperti ini!" Jawab Senja tegas melepas kasar tangan Sean.
Sean tersentak,hatinya terasa di remas mendengar semua ucapan Senja. Bahkan di atas menyangka Senja bisa berkata kalau menyesal mengenalnya. Bahkan selama ini dirinya tak pernah sedetik pun merasa menyesal mengenal Senja. Baginya Senja masih punya arti di dalam hatinya.