Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 bumbu perselisihan dan gadis alkemis
Asap dari Jamur Bayangan Hitam merayap pelan di permukaan tanah, serupa ular transparan yang melilit kaki Wang Lin dan kedua pengikutnya. Di balik batang pohon kuno, Han Shuo menahan napas. Ia mengatur detak jantungnya agar selaras dengan desis angin, sebuah teknik dasar dalam Kitab Rasa Semesta untuk menyembunyikan "aroma" keberadaan seseorang.
Wang Lin mulai mengucek matanya. "Kenapa... kenapa kabut ini mendadak menjadi sangat gelap?" suaranya yang semula angkuh kini bergetar dengan nada kebingungan.
Di mata Wang Lin, pepohonan di sekitarnya mulai meliuk-liuk seperti monster raksasa dengan ribuan tangan yang hendak menangkapnya. Pengikutnya yang lebih pendek berteriak histeris, menebas udara kosong dengan pedangnya. "Ular! Ada ribuan Ular Sisik Perak di bawah kaki kita! Tuan Muda, selamatkan saya!"
Han Shuo melihat kesempatan itu. Ia tidak ingin membunuh mereka—setidaknya belum sekarang. Kematian seorang murid luar seperti Wang Lin akan memicu penyelidikan besar-besaran oleh Aula Penegak Disiplin. Han Shuo hanya perlu membuat mereka tampak seperti sekelompok orang bodoh yang ketakutan oleh ilusi hutan.
Dengan gerakan seringan kucing, Han Shuo menyelinap pergi melalui jalur tikus yang tertutup semak berduri. Tubuhnya yang baru saja melewati tahap pertama Pembersihan Tubuh terasa sangat lincah. Rasa sakit yang tadi menyerang pembuluh darahnya telah mengendap menjadi kekuatan murni yang tersimpan di otot-ototnya.
Satu jam kemudian, Han Shuo tiba di gerbang belakang dapur Sekte Awan Merah. Ia sengaja mengoyak sedikit lengan bajunya dan mengoleskan lumpur ke wajahnya agar terlihat seperti baru saja melarikan diri dari maut.
Koki Liu sedang berdiri di depan pintu dapur sambil memegang sebuah gulungan inventaris. Begitu melihat Han Shuo, matanya membelalak. "Kau... kau masih hidup? Mana jamurnya?"
Han Shuo menjatuhkan keranjang bambunya dengan suara berdebam. Di dalamnya, Jamur Embun Pagi tampak berkilau segar, tertata rapi di atas lapisan daun lebar. "Saya hampir mati diserang binatang buas, Paman Liu. Beruntung saya berhasil bersembunyi di celah batu sampai binatang itu pergi."
Koki Liu memeriksa jamur-jamur itu dengan saksama. Wajahnya yang berminyak menunjukkan ekspresi tidak percaya. Jamur ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada yang biasanya ia terima. "Cukup bagus. Setidaknya kau tidak sepenuhnya tidak berguna. Cepat bawa ini ke dalam dan mulai bersihkan. Sore ini, Aula Pengobatan akan mengirim perwakilannya untuk mengambil bahan-bahan ini sebagai campuran makanan nutrisi para murid elit."
Han Shuo membungkuk dalam, menyembunyikan kilatan di matanya. "Baik, Paman Liu."
Saat ia sibuk mencuci jamur di sumur belakang, ia mulai merenungkan tentang tingkatan kekuatan di dunia ini. Melalui Kitab Rasa Semesta, ia memahami bahwa jalan yang ia tempuh sangat berbeda dengan kultivator biasa. Di sekte ini, para murid mengikuti jalur Sembilan Langit Kultivasi:
* Tahap Pembersihan (Cleansing Stage): Membersihkan kotoran dari tulang dan darah.
* Tahap Penyulangan (Distillation Stage): Mengubah udara yang dihirup menjadi Qi cair di dalam dantians.
* Tahap Inti Kuali (Cauldron Core Stage): Membentuk pusat energi yang stabil dan kuat.
* Tahap Transformasi Jiwa (Soul Transformation Stage): Dan seterusnya hingga mencapai keabadian.
Bagi Han Shuo, setiap tahap ini memiliki istilah kuliner tersendiri. Tahap Pembersihan baginya adalah "Mencuci Bahan". Tanpa tubuh yang bersih, energi sekuat apa pun hanya akan menjadi racun bagi diri sendiri.
"Hei, kau yang di sana."
Sebuah suara merdu namun dingin membuyarkan lamunan Han Shuo. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan ungu di bagian kerah—seragam khusus untuk murid jenius dari Aula Pengobatan.
Rambutnya hitam panjang diikat tinggi, wajahnya memiliki kecantikan yang tegas dengan sepasang mata yang tampak mampu menembus pikiran orang. Di pinggangnya tergantung sebuah kantong sutra kecil yang mengeluarkan aroma herbal yang sangat kuat.
"Saya Han Shuo, pelayan dapur. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Han Shuo segera berdiri, bersikap sopan.
Gadis itu berjalan mendekat, hidungnya sedikit kembang kempis seolah sedang mengendus sesuatu. "Namaku Li Mei. Aku dikirim untuk memeriksa kualitas Jamur Embun Pagi yang baru saja tiba. Tapi... ada aroma lain di tubuhmu."
Jantung Han Shuo berdegup kencang. Apakah gadis ini bisa mencium aroma Buah Jantung Gagak yang ia makan?
Li Mei berhenti tepat di depan Han Shuo. Jarak mereka sangat dekat sehingga Han Shuo bisa mencium aroma bunga krisan dari jubahnya. "Kau baru saja memakan sesuatu yang mengandung energi api yang tidak stabil. Dan kau... kau tidak meledak?"
Han Shuo berpura-pura bingung. "Saya tidak mengerti maksud Nona. Saya hanya makan jatah bubur sisa tadi pagi."
Li Mei menyipitkan mata. Ia meraih tangan Han Shuo dengan cepat. Jari-jarinya yang halus terasa dingin di kulit Han Shuo. Ia memeriksa denyut nadi pemuda itu. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah dari curiga menjadi sangat heran.
"Nadi yang sangat kuat untuk seorang pelayan tanpa akar spiritual," gumam Li Mei pada dirinya sendiri. "Dan aroma ini... ini bukan sekadar aroma tanaman. Ini adalah aroma yang telah 'dimurnikan' lewat proses pemanasan. Kau mengolah bahan medis sendiri?"
"Saya hanya seorang tukang masak, Nona Li. Saya terkadang bereksperimen dengan bumbu untuk membuat makanan saya terasa lebih enak," jawab Han Shuo, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Li Mei melepaskan tangan Han Shuo. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi pil berwarna hijau pucat. "Cobalah ini. Ini adalah Pil Pembersih Debu yang gagal kubuat tadi malam. Rasanya sangat pahit dan energinya kacau. Jika kau benar-benar seorang 'ahli bumbu', katakan padaku apa yang salah dengannya."
Ini adalah jebakan sekaligus ujian. Han Shuo tahu ia harus berhati-hati. Ia mengambil pil itu, menghirup aromanya sejenak, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Rasa pahit yang menyengat segera menyerang lidahnya, diikuti oleh sensasi panas yang tidak selaras. Dalam pandangan "Lidah Dewa"-nya, Han Shuo melihat bahwa pil ini memiliki terlalu banyak unsur tanah yang lembap, yang justru memadamkan potensi energi kayu di dalamnya.
"Terlalu lama di atas api kecil," ucap Han Shuo setelah menelan pil itu. "Nona mencampur Rumput Angin dan Akar Bumi secara bersamaan. Akar Bumi harusnya dipanaskan terlebih dahulu sampai airnya menyusut, baru kemudian Rumput Angin dimasukkan untuk menangkap uapnya. Sekarang, pil ini hanya menjadi gumpalan tanah yang menghambat aliran Qi."
Li Mei tertegun. Kata-kata Han Shuo sangat sederhana, tidak menggunakan istilah alkimia yang rumit, namun sangat akurat mengenai letak kesalahannya. Ia telah mencoba menyempurnakan resep pil itu selama seminggu terakhir dan selalu berakhir dengan hasil yang sama.
"Siapa gurumu?" tanya Li Mei dengan nada yang kini lebih penuh rasa hormat.
"Saya tidak punya guru. Hanya sering memperhatikan bagaimana air mendidih di dapur," jawab Han Shuo sambil tersenyum tipis.
Li Mei terdiam sejenak, menatap Han Shuo dengan tatapan yang sulit diartikan. "Menarik. Sangat menarik. Han Shuo, simpan ini." Ia melemparkan sebuah keping perunggu kecil dengan simbol bunga krisan. "Itu adalah lencana akses ke kebun herbal luar. Jika kau menemukan bahan yang menurutmu menarik, bawalah kepadaku di Aula Pengobatan. Aku ingin melihat apakah 'teori dapurmu' bisa diterapkan pada bahan-bahan yang lebih tinggi."
Tanpa menunggu jawaban, Li Mei berbalik dan pergi dengan langkah anggun. Han Shuo menatap keping perunggu di tangannya. Ia tahu bahwa bertemu dengan Li Mei adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki akses ke bahan-bahan berharga. Di sisi lain, ia kini berada di bawah radar seseorang yang sangat cerdas.
Malam kembali jatuh menyelimuti sekte. Han Shuo kembali ke sudut gudang kayunya. Ia membuka kembali Kitab Rasa Semesta ke halaman berikutnya. Di sana terdapat sebuah ilustrasi tentang sebuah kuali yang dikelilingi oleh delapan naga api.
Bab Dua: Teknik Api Sembilan Lapisan. Energi bukan hanya untuk diserap, tapi untuk diputar dan disaring layaknya menyuling arak yang paling murni.
Han Shuo mulai duduk bersila. Ia teringat pil gagal yang diberikan Li Mei tadi. Meskipun energinya kacau, di tangan Han Shuo, kekacauan itu adalah tantangan. Ia mulai memutar Qi di dalam perutnya, menggunakan teknik penyulingan yang baru ia baca.
Tiba-tiba, rasa panas dari pil itu mulai terurai. Bagian yang "berlumpur" dibuang melalui keringat, sementara sisa-sisa energi kayu yang murni diserap oleh tulangnya.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Suara gaduh terdengar dari arah gerbang asrama.
"Han Shuo! Keluar kau, tikus got!"
Itu suara Wang Lin. Tampaknya pengaruh Jamur Bayangan Hitam sudah hilang, dan sekarang ia datang dengan kemarahan yang berlipat ganda. Wang Lin tidak sendirian; kali ini ia membawa kakaknya, Wang He, seorang murid dalam yang sudah mencapai Tahap Pembersihan Tingkat Lima.
Han Shuo menghela napas, menutup kitabnya perlahan, dan menyembunyikannya di bawah tumpukan kayu. Ia tahu, langkah demi langkah yang ia ambil akan selalu diuji oleh api perselisihan.
"Sepertinya makan malam hari ini akan sedikit lebih keras dari biasanya," gumam Han Shuo sambil mengambil pisau dapurnya yang kini berkilau samar di bawah cahaya bulan.
Pojok Informasi Kultivasi & Karakter
Tingkatan Kultivasi (Versi Han Shuo):
* Mencuci Bahan (Pembersihan Tubuh): Membuang kotoran fisik.
* Menyalakan Tungku (Penyulangan Qi): Mulai menghasilkan energi internal.
* Mengatur Rasa (Inti Kuali): Memantapkan pusat kekuatan.
Karakter Baru:
* Li Mei: Jenius dari Aula Pengobatan. Memiliki obsesi pada kesempurnaan alkimia namun terjebak pada teori kaku. Ia tertarik pada Han Shuo karena perspektif uniknya tentang bahan-bahan alam.
* Wang He: Kakak Wang Lin. Murid dalam yang sombong. Ia menjadi antagonis utama dalam busur awal ini yang akan menguji kemampuan bertahan hidup Han Shuo.