Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Khawatir
"Aku—” wajahnya langsung memerah. “Maaf. Aku tidak… aku tidak sadar aku—”
Ia hendak menarik tangannya, tetapi Valerine justru menggenggam lebih erat, menghentikannya.
“Jangan memutus koneksi secara tiba-tiba,” katanya tegas, kembali ke mode profesional. “Itu bisa menyebabkan hentakan balik lagi.”
“Oh. Ya. Tentu.”
Keheningan canggung menggantung di antara mereka.
Ibu jari Arthur kini benar-benar diam.
Valerine menatap tangan mereka sejenak lagi sebelum menarik napas pelan.
“Lanjutkan latihannya,” perintahnya. “Coba panggil api lagi. Kali ini, sebesar bola tenis.”
“Ya.”
Arthur menutup mata kembali, nyaris bersyukur bisa bersembunyi dari kecanggungan itu.
Ia berkonsentrasi, menarik mana dengan sangat hati-hati.
Api muncul di telapak tangan kanannya. Kecil. Terkendali. Tepat seukuran bola tenis.
“Bagus,” suara Valerine terdengar dengan nada persetujuan tipis. “Tahan selama tiga puluh detik. Pertahankan ukuran konstan.”
Arthur menahannya, fokus menjaga aliran tetap stabil.
Detik demi detik berlalu. Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh.
“Padamkan perlahan.”
Ia melepaskan aliran mana dengan hati-hati. Api padam dengan halus.
Tidak ada hentakan. Tidak ada rasa sakit.
Sempurna.
“Lagi,” perintah Valerine. “Sekarang buat lebih besar”
Mereka terus mengulanginya—berulang kali.
Dua jam berlalu dalam siklus itu—mengendalikan berbagai elemen, menjaga kontrol, dan melepaskan dengan aman.
Setiap kali, Valerine mengoreksi dan menyesuaikan, Arthur bisa merasakan harga yang dibayarkan—ia bisa merasakan kalau aliran mana valerine yang terus terkuras perlahan.
Namun ia tidak pernah mengeluh atau meminta berhenti.
Di sudut ruangan, Sebastian mengamati. Ekspresinya berubah—dari terhibur, menjadi khawatir, dan rasa hormat yang muncul pada dua atasannya itu.
Kepada Arthur yang terus bertahan melewati rasa sakit dan lelah tanpa protes.
Dan kepada Valerine yang mengorbankan energi dan kenyamanannya sendiri demi memastikan Arthur siap.
Ini bukan lagi sekadar pelatihan.
Ini adalah bentuk kemitraan yang lebih dalam daripada yang berani mereka akui.
Pada jam kesepuluh, akhirnya Valerine memberi jeda.
“Cukup untuk latihan kontrol,” katanya, melepaskan genggaman mereka.
Arthur hampir roboh karena lega—tangannya gemetar akibat mempertahankan konsentrasi selama berjam-jam.
Valerine berjalan menuju bangku di sisi ruangan dan duduk dengan gerakan yang sedikit kurang anggun dari biasanya—tanda kelelahan yang tak lagi bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Sebastian bangkit, mengambil kendi air yang telah disiapkan, lalu menuangkan dua gelas.
Satu ia berikan kepada Valerine, satu lagi kepada Arthur.
“Duchess,” ucapnya dengan nada lembut namun sarat kekhawatiran, “mungkin Yang Mulia perlu beristirahat lebih lama—”
“Aku baik-baik saja,” potong Valerine, meneguk air dalam beberapa tegukan panjang.
“Dengan segala hormat, Yang Mulia tidak terlihat baik-baik saja.”
Valerine menatapnya dengan sorot tajam.
Namun Sebastian, yang telah melayani House Vancroft selama puluhan tahun, tidak sedikit pun terintimidasi.
“Ritual ini ibarat pedang bermata dua,” lanjutnya tegas. “Ya, ia menstabilkan Archduke. Tetapi ia juga menguras Duchess secara konstan. Dan jika Duchess tumbang karena terlalu memaksakan diri sebelum pertarungan besok—”
“Aku tidak akan tumbang,” kata Valerine dengan kepastian dingin. “Aku tahu batasanku.”
“Benarkah?” Sebastian membalas tatapannya tanpa gentar. “Karena dari pengamatan saya selama tiga hari terakhir, Yang Mulia hampir tidak tidur lebih dari empat jam per malam, hampir tidak makan karena terlalu fokus pada pelatihan, dan menyalurkan mana tanpa henti—sesuatu yang bahkan akan melelahkan penyihir setingkat Archmage.”
Keheningan jatuh.
Arthur menatap Valerine, rasa bersalah perlahan tumbuh di dadanya.
Ia tahu pelatihan ini berat untuk dirinya. Tetapi ia tidak sepenuhnya menyadari—atau mungkin enggan mengakui—betapa beratnya juga bagi Valerine.
“Sebastian benar,” ucap Arthur pelan. “Valerine, kau tidak perlu memaksakan dirimu sampai—”
“Aku tahu apa yang kulakukan,” potong Valerine tajam, berdiri dengan gerakan tiba-tiba. “Dan aku tidak butuh dua pria yang mengkhawatirkanku seolah aku bunga rapuh yang akan layu.”
Mata peraknya menyala.
“Kau pikir aku tidak tahu risikonya? Kau pikir aku ceroboh?”
Ia melangkah mendekat, menatap Arthur lurus.
“Aku melakukan ini karena taruhannya terlalu besar untuk dilakukan setengah hati. Jika kau gagal besok—jika kau terlihat lemah bahkan sedetik saja—kita kehilangan segalanya.”
Suaranya merendah, namun intensitasnya justru meningkat.
“Jadi ya, aku lelah. Ya, aku menguras energi lebih dari yang nyaman. Tapi itu adalah pilihanku.”
“Dan aku tidak akan berhenti karenanya.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Lalu Arthur berdiri—gerakannya lambat dan pelan.
Ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan Valerine, lalu sedikit menunduk agar tinggi mereka sejajar. Ia menatap langsung ke mata perak yang masih menyala oleh tekad.
“Kau benar,” katanya pelan. “Taruhannya terlalu tinggi. Dan aku menghargai apa yang kau lakukan—lebih dari yang bisa kuungkapkan.”
Ia menarik napas.
“Tapi Sebastian juga benar. Jika kau tumbang, semua pelatihan ini jadi tak berarti. Kami membutuhkanmu dalam kondisi terbaik besok.”
Arthur mengulurkan tangan—sebuah tawaran, bukan tuntutan.
“Jadi… sepakat yah? Kita istirahat dua jam. Kau makan dengan layak. Lalu kita lanjut dengan intensitas yang lebih brutal.”
Valerine menatap tangan yang terulur itu.
Lalu ke wajah Arthur—yang dipenuhi kekhawatiran tulus.
Bukan rasa iba. Bukan sikap meremehkan.
Hanya… kepedulian.
Setelah beberapa saat yang terasa panjang, ia menerima tangan itu.
“Satu jam istirahat,” balasnya. “Dan intensitas tetap sama.”
Arthur tersenyum kecil—senyuman yang entah bagaimana terasa hangat.
“Sepakat.”
Sebastian menghela napas lega.
“Saya akan mengatur makanan untuk kalian berdua.”
Saat berjalan menuju pintu, ia menoleh dengan senyum tipis.
“Dan jika saya boleh berkomentar, Yang Mulia Archduke dan Duchess—kalian bekerja sama dengan sangat baik. Kenapa tidak melakukannya dari dulu saja?”
Ia keluar sebelum salah satu dari mereka sempat menanggapi.
Arthur dan Valerine masih berdiri di tengah ruang latihan, tangan mereka masih saling menggenggam karena “kesepakatan” tadi.
Kesadaran datang bersamaan, dan mereka melepaskan tangan pada saat yang sama.
Canggung.
“Jadi…” Arthur menggaruk belakang kepalanya. “Satu jam istirahat?”
“Ya.”
“Aku akan… ke kamarku?”
“Itu ide bagus.”
Arthur berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Valerine?”
“Ya?”
Ia menoleh sedikit.
“Terima kasih. Untuk semua ini. Aku tahu aku mungkin tidak mengatakannya cukup sering, tapi… terima kasih.”
Valerine menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Lalu ia mengangguk—gerakan kecil dan cepat.
“Pastikan kau benar-benar beristirahat. Jangan gunakan waktu itu untuk mengerjakan dokumen atau hal lain.”
“Aku mengerti.”
Arthur keluar, meninggalkan Valerine sendirian.
Ia berdiri di tengah ruangan, menatap tangannya—tangan yang digenggam Arthur berkali-kali selama tiga hari terakhir.
Tangan yang masih seolah menyimpan sisa kehangatan dari usapan tak sadar itu.
“Bodoh,” bisiknya pelan—tidak jelas ditujukan pada Arthur, pada dirinya sendiri, atau pada situasi yang perlahan menjadi semakin rumit.
...***...
🤭🤭