NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2~Rahasia di balik senyum raka

Sejak pagi, suasana sekolah terasa sedikit... aneh.

Mungkin karena sejak kemarin sore, pikiranku masih dipenuhi wajah Raka dan ucapan terakhirnya di depan gerbang:

|“Tapi sepertinya nggak buruk juga, dijodohin sama kamu.”

Kalimat itu seperti lagu yang terus berulang di kepalaku tanpa izin. Setiap kali aku mencoba fokus ke papan tulis, kata-katanya muncul lagi. Dan setiap kali aku melihat ke luar jendela, aku berharap — tapi juga takut — kalau dia lewat.

“Eh, Ly,” bisik Lina di sebelahku. “Aku lihat kamu tadi pagi bareng Raka, ya? Di depan gerbang?”

Aku langsung tersedak air minumku. “Ha? Nggak, cuma kebetulan lewat bareng aja.”

Lina menaikkan alisnya. “Kebetulan lewat bareng atau kebetulan tunangan bareng?”

Aku hampir terloncat dari kursi. “Ssst! Jangan ngomong keras-keras!”

Dia terkikik pelan. “Jadi beneran?”

Aku menunduk, berusaha terlihat sibuk mencatat sesuatu padahal buku catatanku masih kosong. “Pokoknya jangan ngomong ke siapa pun, ya. Ini… rumit.”

“Wah, wah,” katanya dengan nada menggoda. “Alya yang biasanya cuek, sekarang dijodohin sama cowok paling populer di sekolah. Dunia ini memang kecil banget.”

Aku hanya bisa menghela napas. Dunia ini bukan cuma kecil — kadang terasa terlalu iseng.

Waktu istirahat, aku sengaja makan di taman belakang sekolah biar nggak ketemu siapa pun. Tapi ternyata takdir nggak sepihak denganku.

Seseorang duduk di bangku sebelahku dengan santai sambil membawa kotak bekal. Aku nggak perlu menoleh untuk tahu siapa. Suara langkahnya aja udah khas.

“Sendirian?” suara tenangnya membuatku menoleh pelan.

Dan benar, Raka duduk di sana — masih dengan wajah tenang dan gaya rambut yang berantakan rapi.

“Eh… iya,” jawabku gugup. “Kamu ngapain di sini?”

“Tempat ini tenang,” katanya singkat. “Biasanya aku makan di sini juga.”

“Oh.”

Percakapan berhenti di situ selama beberapa detik yang canggung. Angin semilir lewat, membawa aroma daun basah dan wangi nasi goreng dari bekalku. Aku berusaha makan tanpa menatapnya, tapi mataku seperti punya kemauan sendiri.

Dia makan dengan pelan, rapi, dan sesekali matanya melirik ke arahku.

“Jadi,” katanya tiba-tiba, “kamu udah tahu dari kapan soal… dijodohin itu?”

Aku menelan nasi dengan susah payah. “Pagi sebelum ketemu kamu. Mama tiba-tiba ngomong waktu aku baru bangun tidur.”

Dia mengangguk pelan. “Aku juga baru dikasih tahu pagi itu. Katanya cuma pertemuan keluarga, tapi Mama semangat banget.”

Aku tertawa kecil. “Iya, Mama aku juga.”

Untuk sesaat, suasana jadi nggak terlalu canggung lagi. Kami bicara sedikit tentang sekolah, hobi, dan makanan. Ternyata Raka nggak seserius yang aku kira. Dia bisa bercanda, meski dengan ekspresi datar yang kadang bikin susah membedakan antara serius dan lucu.

“Aku kira kamu orangnya dingin banget,” kataku sambil menatapnya.

Dia tersenyum samar. “Emang iya, kok. Tapi kalau sama orang yang gampang diajak ngobrol, ya bisa juga cair.”

Aku pura-pura sibuk mengaduk nasi biar nggak kelihatan kalau pipiku mulai hangat.

Setelah jam makan siang, gosip mulai menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya. Entah dari mana asalnya, tapi hampir semua anak di kelasku mulai bisik-bisik tentang aku dan Raka.

“Alya dijodohin sama Raka, katanya,” bisik salah satu teman di belakangku.

“Masa sih? Yang bener?!”

“Makanya tadi mereka makan bareng di taman…''

Aku menutup wajah dengan buku catatan. Ya Tuhan, siapa yang nyebarin berita ini secepat itu?

Lina cuma nyengir dari meja sebelah. “Ups, mungkin aku keceplosan tadi ke Nita. Tapi aku sumpah nggak nyangka bakal nyebar segitu cepet.”

Aku menatapnya putus asa. “Linaaaaa…”

Dia nyengir malu. “Maaf, ya. Tapi setidaknya sekarang kamu terkenal!”

Aku menghela napas dalam. Aku cuma berharap Raka nggak denger kabar ini. Tapi ternyata, harapanku terlalu muluk.

Sore itu, di depan gerbang sekolah, dia menghampiriku lagi.

“Kayaknya gosipnya udah nyebar, ya?” katanya tenang sambil menyampirkan tas di bahunya.

Aku menatapnya lemas. “Aku nggak nyebarin, sumpah.”

Dia tersenyum — kali ini lebih lebar. “Aku tahu. Aku nggak masalah, kok.”

“Hah? Kamu nggak malu atau gimana gitu?”

“Kenapa harus malu?” Dia menatapku dengan tatapan lembut yang bikin jantungku berdebar. “Kalau orang tahu, toh mereka juga bakal tahu kamu orangnya baik.”

Aku nyaris nggak bisa balas. Raka lalu melambaikan tangan kecil sebelum jalan pergi. Dan di saat itulah aku sadar — mungkin gosip ini bukan hal yang buruk.

Malamnya, aku duduk di meja belajar sambil menatap pesan baru di HP.

|Raka: Besok pagi ikut upacara bareng, ya? Aku tunggu di depan gerbang.

Tanganku refleks mengetik balasan, tapi aku sempat ragu. Kenapa dia tiba-tiba ngajak?

Tapi akhirnya aku jawab juga:

|Alya: Oke. Tapi jangan nyapa aku kenceng-kenceng, nanti orang makin heboh 😭

Dia balas cepat.

|Raka: Tenang. Aku bukan tipe cowok yang suka bikin drama.

Aku tersenyum kecil melihat pesannya. Tapi dalam hati, aku tahu — sejak dia datang ke hidupku, drama udah mulai tanpa dia sadari.

Keesokan paginya, suasana sekolah makin heboh. Begitu aku datang, aku melihat Raka sudah berdiri di depan gerbang, menunggu dengan santai sambil mendengarkan musik lewat earphone.

“Pagi,” sapanya saat aku datang.

“Pagi,” balasku cepat. Aku mencoba berjalan cepat ke lapangan upacara, tapi dia berjalan di sebelahku. Semua orang yang lewat menatap kami — beberapa bahkan berbisik pelan.

“Lihat, tuh! Mereka bareng lagi!”

“Fix, dijodohin beneran!”

“Cocok banget, sumpah…”

Aku bisa merasakan wajahku panas. Tapi Raka tetap tenang seolah nggak terjadi apa-apa.

“Biasa aja, Ly,” katanya tanpa menoleh. “Kalau kamu kelihatan panik, mereka makin penasaran.”

Aku mendengus kecil. “Kamu gampang banget ngomongnya."

Dia tersenyum kecil. “Aku kan udah biasa diperhatiin orang.”

Aku melotot ke arahnya. “Sombong banget.”

Dia tertawa pelan. “Bercanda.”

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Raka tertawa lepas. Tawa yang tulus, hangat, dan entah kenapa, sedikit menenangkan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti roller coaster. Kadang kami berbicara sebentar di kantin atau di koridor, kadang hanya saling menatap dari jauh. Tapi setiap kali aku melihatnya, aku selalu merasa ada sesuatu yang berubah — bukan di dirinya, tapi di hatiku.

Aku mulai menunggu pesan darinya setiap malam. Mulai memperhatikan hal kecil: cara dia menulis dengan tangan kiri, cara dia memiringkan kepala saat mendengarkan guru, bahkan cara dia nyengir kalau salah jawab.

Dan di antara semua hal yang berubah, satu hal yang paling aku sadari adalah ini:

Aku, Alya, si gadis biasa yang dulu cuma mikirin tugas dan drama kelas, sekarang sedang belajar mengenal arti dari jatuh cinta secara perlahan.

Malam itu, Raka mengirim pesan lagi.

|Raka: Besok ada kegiatan kelompok bareng kelasmu, kan?

Kalau kamu butuh bantuan, aku bisa bantuin.

|Alya: Serius? Kamu nggak sibuk?

|Raka: Buat kamu, bisa disempetin.

Aku menatap layar ponsel lama-lama. Pipiku panas.

Dan sebelum aku sempat membalas, pesan barunya muncul.

|Raka: Eh, maksudku... kan kita calon keluarga, jadi harus saling bantu, kan? 😅

Aku tertawa kecil.

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa bikin jantungku berdetak lebih cepat.

Malam semakin larut, tapi aku masih belum bisa tidur. Aku menatap langit-langit kamar, sambil berpikir… mungkin, hanya mungkin, perjodohan ini bukan hal yang buruk.

Mungkin, Tuhan sedang menulis kisah yang tidak aku duga — kisah tentang dua orang remaja yang tidak saling mencari, tapi malah saling menemukan.

✨ Bersambung ke Bab 3

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!