Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari-hari setelah pesta di The Plaza berubah menjadi babak baru yang penuh dengan ketegangan yang manis sekaligus menyesakkan. Sesuai dengan rencana terselubungnya, Azkara mulai lebih sering menampakkan diri di kantor firma arsitektur Adrian Richard di pusat Manhattan. Ia datang dengan alasan formal, ingin mengintegrasikan teknologi mesin ramah lingkungan buatannya ke dalam proyek gedung pencakar langit futuristik yang sedang dirancang oleh Adrian.
Adrian, yang tidak tahu-menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara Azkara dan putrinya, menyambut pemuda itu dengan tangan terbuka. Ia bahkan sering mengundang Azkara untuk makan malam di penthouse mereka, menganggap Azkara sebagai mentor muda yang cerdas bagi visi masa depan perusahaannya.
Malam itu, di kediaman Richard, suasana meja makan terasa sangat hangat bagi Adrian, namun sangat berat bagi Alana dan Azkara. Briana telah menyiapkan hidangan perpaduan Indonesia dan Barat yang menggugah selera. Azkara duduk tepat di hadapan Alana, mengenakan kemeja kasual namun tetap rapi, berusaha keras menyembunyikan tato di lengannya agar tidak terlihat terlalu mencolok di depan Briana.
"Azkara, aku baru saja membaca jurnal tentang emisi nol yang kau kembangkan," ujar Adrian sambil memotong steak-nya.
"Sangat ambisius. Kau benar-benar mengingatkanku pada diriku sendiri dua puluh tahun lalu."
Azkara tersenyum sopan, namun matanya mencuri pandang ke arah Alana yang sedang sibuk dengan saladnya. "Terima kasih, Tuan Adrian. Tapi saya rasa, visi saya tidak akan sekuat ini tanpa inspirasi dari orang-orang hebat seperti Anda... dan keluarga Anda."
Alana mendongak, matanya bertemu dengan mata Azkara. Ia bisa merasakan ada pesan tersirat dalam setiap kata-kata pria itu. Azkara tidak lagi menatapnya dengan nafsu atau kebencian; tatapannya kini dipenuhi oleh penghormatan yang hampir menyerupai pemujaan.
"Bagaimana dengan pemotretanmu kemarin, sayang?" tanya Briana lembut pada Alana. "Ibu dengar kau akan menjadi duta untuk kampanye global?"
"Iya, Bu. Semuanya berjalan lancar," jawab Alana singkat. Ia secara tidak sengaja menyentuh lehernya yang tertutup hijab tinggi, sebuah gerakan refleks yang membuat Azkara seketika menunduk, menatap piringnya dengan rasa bersalah yang kembali membuncah.
Setelah makan malam, Adrian mengajak Azkara ke ruang kerjanya untuk melihat beberapa maket gedung. Namun, saat Adrian harus menerima telepon penting dari kolega di luar negeri, Azkara meminta izin untuk mencari udara segar di balkon.
Di sana, ia menemukan Alana sedang berdiri sendirian, menatap kerlap-kerlip lampu Manhattan yang seolah tidak pernah tidur. Angin malam menerbangkan sedikit ujung hijab Alana, menciptakan pemandangan yang membuat jantung Azkara berhenti berdetak sejenak.
"Alana..." panggil Azkara pelan.
Alana tidak menoleh, namun ia tahu siapa yang berdiri di belakangnya. "Kau sangat pandai mengambil hati Ayahku, Azkara."
Azkara melangkah mendekat, namun ia berhenti tepat dua meter di belakang Alana. Ia benar-benar menjaga jarak yang ia janjikan. "Aku tidak sedang bersandiwara di depan Ayahmu, Alana. Aku benar-benar mengaguminya. Tapi aku tidak akan memungkiri bahwa tujuanku ada di sini adalah untuk melihatmu."
Alana berbalik, menyandarkan punggungnya pada pagar balkon. "Untuk apa? Untuk memastikan lukanya sudah hilang?"
Azkara menarik napas panjang. Ia menggulung sedikit lengan kemejanya, memperlihatkan tato yang rumit di kulitnya. "Aku ingin kau tahu bahwa sejak malam itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-katamu. Tentang tidak semua wanita itu sama. Tentang martabat."
Azkara mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka. "Ini bukan untuk menyuapmu. Ini adalah permintaan maaf yang tidak akan pernah selesai kukatakan."
Di dalam kotak itu terdapat sebuah gelang perak simpel dengan ukiran bunga kamboja—bunga yang sama dengan yang sering diceritakan ibunya tentang Bali. Azkara telah melakukan riset, ia mencoba menyentuh akar budaya Alana dengan cara yang paling halus.
Alana menatap gelang itu, lalu kembali menatap Azkara. "Kau tahu, Azkara... kau pria yang sangat rumit. Di satu sisi kau bisa menjadi monster, di sisi lain kau mencoba menjadi pangeran."
Azkara terkekeh getir. "Aku bukan pangeran, Alana. Aku hanya pria yang sedang mencoba membersihkan lumpur dari tanganku sendiri. Aku tahu aku tidak pantas menyentuhmu, bahkan mungkin tidak pantas berada di rumah ini. Tapi jika kau memberiku satu persen saja kesempatan untuk menebusnya... aku akan melakukannya."
Azkara maju satu langkah, matanya menatap tajam namun lembut. "Kau tahu kenapa aku benci melihatmu di papan reklame waktu itu?"
"Kenapa?" tanya Alana penasaran.
"Karena kau terlalu bersinar," bisik Azkara. "Kau membuatku sadar betapa gelapnya duniaku. Aku membencimu karena kau adalah pengingat bahwa aku pernah kehilangan arah. Tapi sekarang... aku melihatmu bukan sebagai pengingat luka, tapi sebagai petunjuk jalan."
Alana terdiam. Gombalan Azkara kali ini tidak terasa seperti rayuan murahan di klub malam. Ada kejujuran yang pedih di sana. Sebagai wanita yang dibesarkan dalam cinta, Alana memiliki empati yang besar. Ia mulai melihat bahwa Azkara adalah korban dari pengkhianatan yang sistematis, yang membuatnya memukul rata semua wanita berhijab.
"Azkara," ucap Alana lembut. "Ayahku selalu bilang, seorang pria dinilai bukan dari seberapa hebat dia berdiri, tapi dari seberapa berani dia mengakui kesalahannya dan berbalik arah. Kau sudah mengakui kesalahanmu. Sekarang, buktikan kau bisa tetap di jalur yang benar tanpa harus merusak siapa pun."
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka. Adrian Richard berdiri di sana dengan senyum lebar. "Ah, kalian di sini! Azkara, ayo kembali ke dalam. Aku punya kopi terbaik yang baru dikirim dari Indonesia. Kita harus mendiskusikan bagian fondasi itu."
Adrian merangkul bahu Azkara dan menuntunnya masuk kembali ke dalam rumah. Ia melihat kotak perhiasan di meja, namun ia hanya tersenyum simpul. Ia menganggap itu adalah hadiah pertemanan biasa.
"Alana, temani kami ya?" panggil Adrian.
Sepanjang malam itu, Azkara bersikap sangat manis. Ia membantu Briana merapikan meja, ia tertawa mendengar lelucon Adrian, dan ia sesekali melontarkan komentar cerdas yang membuat Alana terkesan. Kecanggungan di antara mereka perlahan mulai mencair, berganti dengan sebuah ketertarikan yang sangat hati-hati.
Azkara yang urakan dan penuh tato perlahan mulai memperlihatkan sisi "manis" dan "romantis" yang dulu pernah dibicarakan teman-teman Alana di kampus. Namun kali ini, sisi manis itu tumbuh dari rasa hormat yang mendalam, bukan sekadar obsesi masa muda.
Saat Azkara berpamitan untuk pulang, ia menjabat tangan Adrian dan Briana dengan penuh rasa hormat. Saat giliran Alana, ia hanya menundukkan kepalanya tanpa menyentuh tangan wanita itu.
"Selamat malam, Nona Alana. Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Azkara.
"Selamat malam, Azkara," balas Alana.
Azkara melangkah menuju lift, namun sebelum pintu tertutup, ia melihat Alana masih berdiri di ambang pintu, memperhatikannya. Azkara memberikan senyum tipis, senyum yang pertama kali benar-benar mencapai matanya.
Di dalam lift, Azkara menyentuh dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena alkohol atau adrenalin balapan liar, melainkan karena harapan. Ia tahu jalan menuju hati Alana dan restu Adrian masih sangat panjang dan penuh duri. Ia harus menghadapi masa lalunya yang kelam dan mungkin suatu saat nanti, ia harus menjelaskan segalanya pada Adrian jika ia ingin melangkah lebih jauh.
Sementara itu, di dalam rumah, Adrian merangkul Briana sambil menatap pintu yang sudah tertutup. "Dia pria yang luar biasa, ya? Aku merasa Alana aman jika bersamanya."
Briana hanya tersenyum misterius. Sebagai seorang ibu yang juga pernah mengalami drama cinta yang rumit, ia tahu bahwa kisah Alana dan Azkara baru saja dimulai. Dan ia tahu, di New York yang dingin ini, cinta yang paling indah seringkali tumbuh dari tempat yang paling tidak terduga, bahkan dari sebuah permintaan maaf yang dibisikkan di tengah rasa bersalah yang mendalam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku