"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 The Hidden Past
Udara di dalam kediaman keluarga Kim terasa seperti listrik yang siap meledak. Keputusan Jin untuk membawa Hana—sang korban perundungan—ke rumah mereka demi alasan perlindungan ternyata membawa konsekuensi yang tidak terbayangkan. Kehadiran Hana di sana seperti magnet yang menarik paksa seluruh residu emosi negatif yang selama ini tersimpan di sekolah itu.
Shine duduk di ruang tengah, wajahnya tertunduk. Di seberangnya, Hana duduk meringkuk, masih gemetar meskipun sudah mengenakan selimut hangat. Namun, bukan Hana yang menjadi pusat perhatian Shine. Di dalam kepalanya, bayangan Min-hee—si pelaku perundungan yang kemarin hampir dihajar Jungkook—terus berputar seperti kaset rusak.
"Ada yang salah, Shine?" suara Jungkook terdengar rendah di sampingnya. Pria itu baru saja membawakan teh herbal, namun ia segera meletakkan cangkirnya begitu melihat jemari Shine mulai memucat.
"Wajahnya... aku tidak bisa berhenti melihat wajah Min-hee saat kau mencengkeram kerahnya kemarin, Jungkook," bisik Shine. "Matanya... itu bukan mata seorang pemenang. Itu mata seseorang yang ketakutan setengah mati."
Suga yang sedang memeriksa denyut nadi Hana di sudut ruangan, menoleh tajam. "Jangan katakan kau ingin melakukan itu, Shine. Kau baru saja pulih. Mencari tahu masa lalu seseorang melalui mantra Retro-Cognition akan menghisap energimu sampai kering."
"Tapi kita harus tahu akarnya, Suga Oppa," balas Shine, suaranya naik satu oktav. "Jika kita hanya menyelamatkan Hana, Min-hee akan mencari korban lain. Ada sesuatu yang salah dengan kemarahannya."
Tanpa menunggu persetujuan, Shine memejamkan matanya. Ia mengabaikan teriakan Jin yang baru saja masuk ke ruangan.
"Shine! Berhenti!" seru Jin.
Tapi sudah terlambat. Shine telah memasuki fase trans. Namun kali ini, ia tidak hanya diam. Ia menggumamkan mantra kuno yang jarang ia gunakan—mantra untuk melintasi waktu ke belakang, mencari titik balik sebuah jiwa yang rusak.
Zapp!
Dunia di sekitar Shine meluruh menjadi abu-abu. Ia tidak lagi berada di ruang tamu mewahnya. Ia berdiri di sebuah kantor luas yang sangat dingin. Di meja kerja kayu oak yang besar, duduk seorang pria paruh baya dengan lencana pejabat tinggi di jasnya. Tuan Min. Ayah Min-hee.
Shine melihat Min-hee kecil, mungkin berusia sepuluh tahun, berdiri di depan meja itu dengan rapor di tangannya.
"Kenapa ada nilai B di sini?" suara Tuan Min menggelegar, dingin dan tanpa ampun.
"Maaf, Ayah... ujian matematikanya sangat sulit..." jawab Min-hee kecil, suaranya bergetar.
Tanpa peringatan, Tuan Min berdiri dan melayangkan tamparan keras yang membuat Min-hee jatuh tersungkur. Pria itu tidak berhenti di sana. Ia melepaskan ikat pinggangnya.
"Keluarga Min tidak menerima kegagalan. Jika kau lemah di sekolah, kau harus belajar menjadi kuat dengan cara yang pahit," desis pria itu.
Shine terengah-engah. Adegan berubah cepat. Ia melihat Min-hee yang lebih dewasa, berdiri di depan cermin kamar mandi sekolah, menutupi lebam di punggungnya dengan concealer mahal. Ia melihat Min-hee pertama kali merundung Hana—itu adalah hari di mana Min-hee baru saja dipukuli ayahnya karena masalah sepele. Min-hee menyiksa Hana bukan karena benci, tapi karena ia ingin merasa punya kuasa, karena di rumah, ia tidak lebih dari seekor binatang yang dipukuli.
"Hah!" Shine tersentak bangun.
Darah segar mengalir dari hidungnya. Matanya tidak hanya merah, tapi seluruh tubuhnya mendadak lemas seperti benang yang diputus. Ia jatuh ke depan, namun Jungkook sudah lebih dulu menangkapnya dengan pelukan yang sangat erat.
"Sudah cukup! Jangan lihat lagi!" teriak Jungkook. Ia mendekap kepala Shine ke dadanya, mencoba menutup paksa mata batin gadis itu dengan energinya.
"Dia... dia juga korban, Jungkook," rintih Shine di dalam pelukan pria itu. "Ayahnya... ayahnya adalah iblis yang sebenarnya. Dia memukuli Min-hee setiap hari. Min-hee hanya melakukan apa yang ayahnya lakukan padanya."
Suga segera mendekat dengan tas medisnya, namun ia tertegun melihat grafik di tabletnya. Energi Shine berada di titik kritis. Jantungnya berdetak sangat lambat.
"Gawat. Dia memaksakan diri melihat terlalu jauh ke belakang," Suga menatap Jin dengan wajah pucat. "Pelukan biasa tidak akan cukup, Hyung. Resonansinya harus lebih dalam."
Jin mengerti maksud Suga. Ia memalingkan wajah, merasa sesak di dadanya melihat adiknya harus bergantung pada pria lain sedalam itu. "Lakukan apa saja. Selamatkan dia."
Jungkook tidak membuang waktu. Ia mengangkat Shine dengan gaya bridal style dan membawanya ke dalam paviliun, menjauh dari keramaian ruang tamu. Ia membaringkan Shine di sofa panjang, lalu ia ikut berbaring di sampingnya, mendekap tubuh Shine sepenuhnya hingga tidak ada celah udara di antara mereka.
"Shine, dengarkan aku," Jungkook berbisik tepat di depan bibir Shine. "Jangan pikirkan Min-hee. Jangan pikirkan ayahnya. Rasakan aku. Rasakan panas tubuhku."
Jungkook mengambil tangan Shine dan meletakkannya tepat di atas jantungnya sendiri. Ia mulai memberikan pengisian energi dengan cara yang paling intim yang pernah mereka lakukan—skin-to-skin contact yang intensif. Jungkook mencium kening, kedua kelopak mata, dan terakhir, ia menempelkan dahinya pada dahi Shine, menyalurkan frekuensi energinya secara total.
Perlahan, tubuh Shine yang tadinya dingin mulai terasa hangat. Warna merah di matanya memudar, digantikan oleh binar kehidupan yang kembali tenang.
"Jungkook..." suara Shine terdengar lemah.
"Ssh. Aku di sini," Jungkook mengusap pipi Shine dengan ibu jarinya. "Kau terlalu berani. Kau hampir menghancurkan dirimu sendiri demi seseorang yang menyakitimu."
"Aku tidak bisa membiarkannya, Jungkook. Jika ayahnya tidak dihentikan, Min-hee akan hancur, dan Hana akan terus menjadi korban," Shine menatap Jungkook dengan mata yang penuh permohonan. "Kita harus menggunakan bukti yang kulihat. Ayahnya adalah pejabat publik. Jika kasus KDRT ini terungkap, dia akan jatuh."
Jungkook menatap Shine dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa bangga sekaligus posesif yang luar biasa. "Kau benar-benar Oracle yang merepotkan. Tapi itulah kenapa aku ada di sini."
Jungkook berdiri, namun ia tidak melepaskan tangan Shine. Ia menoleh ke arah pintu paviliun di mana RM dan Jin sedang menunggu.
"Tuan Kim," panggil Jungkook dengan nada otoriter. "Shine sudah menemukan kuncinya. Pejabat Min. Kita punya kasus KDRT dan penyalahgunaan kekuasaan. Aku ingin kalian menghancurkan pria itu, sebelum aku sendiri yang datang ke rumahnya dan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan di kantin kemarin."
Jin menatap adiknya yang tampak sangat terlindungi di pelukan Jungkook, lalu ia mengangguk pelan. "Namjoon, siapkan tim hukum dan media. Kita akan menjatuhkan satu pejabat minggu ini."
Di dalam paviliun yang mulai tenang, Shine kembali menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. Ia menyadari satu hal: penglihatannya tentang masa lalu bukan hanya kutukan, tapi sebuah alat untuk memutus rantai kekerasan. Dan dengan Jungkook di sampingnya, ia tidak lagi takut pada kegelapan masa lalu siapa pun.
"Terima kasih sudah menjagaku, Jungkook," bisik Shine.
Jungkook tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mempererat pelukannya, memberikan kecupan ringan di puncak kepala Shine, seolah sedang menandai bahwa mulai sekarang, tidak akan ada satu trauma pun yang boleh menyentuh gadis itu tanpa seizinnya.
...****************...