Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dibawah Hujan
Hujan turun sejak pukul dua siang, tidak seperti gerimis biasa yang cepat reda, tapi deras dan konsisten seolah langit sedang menumpahkan segala isi hatinya. Butir-butir air menghantam aspal, menciptakan riak-riak kecil di genangan yang mulai terbentuk di sana-sini.
Kampus Universitas Gadjah Mada yang biasanya ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, sore itu tampak lengang. Hanya sesekali terlihat beberapa orang berlari kecil mencari perlindungan, atau payung-payung warna-warni yang berjalan tergesa.
Di selasar Fakultas Ekonomika dan Bisnis, seorang gadis berdiri bersandar pada pilar. Rambut panjangnya yang hitam legam terikat ekor kuda sederhana, tapi beberapa helai terlepas dan menempel di pelipis karena udara lembap.
Ia mengenakan kemeja putih oversized yang ia padukan dengan celana jeans hitam high-waist, dan sepatu kets putih yang sekarang sedikit basah di ujungnya. Tas selempang merek ternama tersampir di bahunya, tapi ia tampak tidak peduli dengan barang mahal itu—malah membiarkannya terkena percikan air sesekali.
Kayana Ardhanareswari—atau Kay, begitu teman-temannya memanggil—menghela napas panjang sambil menatap langit kelabu. Matanya yang besar dan dalam, dengan bulu mata lentik, biasanya selalu memancarkan kepercayaan diri seorang putri konglomerat yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Tapi sore itu, sorot matanya kosong, lelah, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
Ia membuka ponsel, melihat layar yang menampilkan foto dirinya bersama ibunya setahun lalu. Ibunya tersenyum manis, tapi Kay tahu senyum itu palsu. Sama seperti rumah mewah mereka yang kini terasa lebih mirip museum—dingin, sunyi, dan penuh barang-barang mahal yang tak pernah disentuh.
Pesan WhatsApp dari ibunya masuk beberapa menit lalu: "Nak, mama meeting sampai malem. Mama suruh Bi Inem masakin ya. Jangan lupa makan."
Kay membaca pesan itu dua kali, lalu menggesernya tanpa membalas. Ia sudah hafal pola itu. Ibunya sibuk dengan perusahaan dan suami baru yang juga sibuk. Ayahnya? Entah di mana. Sejak perceraian dua tahun lalu, ayahnya hanya muncul setahun sekali di hari ulang tahunnya, itupun hanya melalui transfer uang dan ucapan singkat.
"Kay!"
Suara berat itu memecah lamunannya. Kay menoleh dan melihat Rendra Pratama—ketua BEM fakultas yang terkenal ganteng, populer, dan sejak semester lalu gencar mendekatinya—berlari kecil dari arah parkiran.
Rendra mengenakan kemeja flanel merah-hitam yang ia padukan dengan celana chino krem, gaya yang selalu membuatnya terlihat seperti keluar dari majalah pria. Rambutnya yang disisir rapi sedikit basah di bagian depan, tapi ia tetap tampak memesona.
Rendra berhenti tepat di depan Kay, sedikit terengah-engah tapi tersenyum lebar. "Lo dari tadi di sini? Gue liat mobil lo masih di parkiran. Hujan gini, lo mau gue anterin pulang? Gue bawa mobil, aman."
Kay menatapnya sekilas, lalu kembali menatap hujan. "Makasih, Ren. Tapi gue tunggu reda aja. Lagian gue juga belum mau pulang."
Rendra mengerutkan kening, tapi senyumnya tak luntur. "Lo kenapa? Kelihatan sedih. Ada masalah?"
"Enggak. Gue capek aja."
"Tugas numpuk? Gue bisa bantu. Lo tahu kan gue jago bikin PPT."
Kay tersenyum tipis—senyum sopan yang tidak pernah sampai ke mata. "Makasih, Ren. Tapi bukan itu. Gue cuma pengen sendiri bentar."
Rendra mengangguk, meski ada sedikit kekecewaan di wajahnya. Ia sudah terbiasa dengan sikap Kay yang dingin, tapi ia tidak pernah menyerah. "Oke, kalo lo butuh apa-apa, kabarin gue ya. Jangan sungkan."
"Iya. Makasih."
Rendra pergi dengan langkah gontai, sesekali menoleh ke belakang. Kay menghela napas lega. Ia suka Rendra sebagai teman, tapi lebih dari itu? Tidak. Ada sesuatu yang terlalu sempurna dari Rendra, terlalu berusaha, dan Kay muak dengan kepalsuan.
Setelah Rendra menghilang di balik gedung, Kay kembali menatap hujan. Ia membiarkan pikirannya melayang pada rencana malam ini—pulang ke rumah yang sepi, makan sendirian di meja makan panjang yang bisa memuat dua belas orang, lalu tidur. Rutinitas yang membosankan.
Lalu matanya menangkap gerakan di kejauhan.
Sesosok laki-laki berjalan di tengah hujan, tanpa payung, tanpa jas hujan, tanpa terburu-buru. Ia berjalan santai, seolah hujan deras itu hanyalah gerimis biasa. Kepalanya tegak, bahunya rileks, tangannya memegang sesuatu yang terbungkus plastik—mungkin buku atau tugas kuliah yang juga basah kuyup.
Kay menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas. Laki-laki itu mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, biru tua dan putih, yang sekarang basah dan menempel di tubuhnya.
Celana jeans hitamnya juga basah, begitu juga sepatu kets yang kelihatannya sudah usang. Rambutnya ikal, agak panjang hingga menutupi dahi, basah dan jatuh ke samping membingkai wajah yang...
Kay tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari jarak itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berpaling. Cara laki-laki itu berjalan—tidak peduli pada hujan, tidak peduli pada orang-orang yang mungkin melihatnya—memberi kesan bahwa ia sedang dalam dunianya sendiri, dan tidak ada yang bisa mengganggu.
Laki-laki itu semakin mendekat, melewati area parkir, lalu menuju selasar tempat Kay berdiri. Kay merasakan debaran aneh di dadanya. Apa ia akan lewat? Apa ia akan melihat ke sini?
Laki-laki itu berjalan tepat di depan selasar, hanya beberapa meter dari tempat Kay berdiri. Untuk sesaat, Kay bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah yang biasa saja. Tidak setampan Rendra dengan rahang tegas dan senyum memikat, tidak semenarik model-model di majalah. Kulitnya sawo matang, hidungnya mancung tapi tidak terlalu, bibirnya tipis dengan sedikit warna gelap—mungkin karena kedinginan atau kurang tidur.
Tapi matanya... matanya gelap, dalam, seperti sumur yang tak terlihat dasarnya. Dan matanya lurus menatap ke depan, tidak melirik ke kanan atau kiri, seolah Kay tidak ada di sana.
Kay merasakan sesuatu yang asing—sensasi tidak terlihat. Selama ini, di mana pun ia berada, laki-laki akan menoleh, tersenyum, setidaknya melirik. Tapi laki-laki ini berjalan seperti Kay adalah bagian dari tembok, benda mati yang tidak perlu diperhatikan.
Sebelum sempat berpikir, mulut Kay sudah berseru, "Hei!"
Suaranya nyaring memecah suara hujan. Laki-laki itu berhenti, lalu menoleh. Matanya menemukan Kay, dan untuk pertama kalinya, mereka bertatapan.
"Hei, lo kehujanan!" Kay melanjutkan, merasa kikuk karena sudah berseru.
Laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak ada keterkejutan, tidak ada rasa tertarik, tidak ada apa pun. Hanya tatapan kosong yang bertanya, 'Ada apa?'
"Iya," jawabnya singkat. Suaranya dalam, tenang, tanpa emosi.
Kay terperangah. 'Iya'? Cuma itu? Mana 'terima kasih'? Mana senyum malu-malu? Mana setidaknya pertanyaan balik?
"Lo mau masuk angin!" Kay mencoba lagi, entah kenapa ia merasa harus melanjutkan percakapan.
Laki-laki itu mengangkat bahu. "Iya."
Dan tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam selasar, lalu berbelok ke arah lorong menuju fakultas lain. Ia tidak menoleh lagi.
Kay berdiri terpaku, mulutnya setengah terbuka. Hujan masih deras, tapi ia tidak merasakannya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh laki-laki aneh itu dan dua kata singkat yang ia ucapkan.
"Iya," ulang Kay dalam hati. "Dia bilang 'iya' dua kali. Gak nanya balik. Gak minta berteduh. Gak—apa pun!"
Tiba-tiba Kay menyadari sesuatu yang menggelikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia—Kayana Ardhanareswari, gadis yang biasa dipuja dan dikejar—merasa diabaikan. Benar-benar diabaikan, seperti ia tidak berarti.
Dan alih-alih tersinggung, Kay merasakan sesuatu yang lain. Penasaran. Gelitik aneh di dadanya.
Siapa laki-laki itu? Apa namanya? Kenapa dia bisa secuek itu? Apa dia buta? Atau mungkin... mungkin dia memang tidak peduli pada popularitas, pada status, pada semua hal yang membuat orang lain berlutut di depan Kay.
Kay tersenyum kecil. Senyum yang tulus, berbeda dari senyum sopan tadi. "Bangsat," gumamnya pelan, tapi nada suaranya tidak marah. Malah terdengar seperti tantangan.
Ia menatap ke arah lorong yang telah ditelan laki-laki itu, lalu kembali menatap hujan. Sore itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Kay tidak merasa bosan. Pikirannya sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang laki-laki misterius itu.
Hujan mulai reda setengah jam kemudian. Kay berjalan menuju mobilnya, melangkahi genangan air tanpa peduli sepatu mahalnya basah.
Saat masuk ke dalam mobil, ia menyalakan mesin, tapi belum bergerak. Ia mengambil ponsel, membuka grup angkatan, dan mengetik pesan ke Mika—sahabatnya yang selalu tahu segalanya.
Kay: Mik, lo tahu gak laki-laki yang suka jalan sendirian, kemeja kotak-kotak biru, rambut ikal, cuek banget? Kayak gak peduli sama sekitar gitu.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Mika: Banyak banget. Tapi kalo cuek level dewa... ? … Siapa ya? Banyak variabel kay
Kay: …tumben Lo gak tau sih?
Mika: Iya. Cowok dikampus ini banyak tau, Emang kenapa?
Kay menatap layar ponselnya, tersenyum lebar.
Kay: Gak tahu. Cuma penasaran.
Mika: Lo penasaran sama laki-laki? Kayana Ardhanareswari? Dunia mau kiamat.
Kay tertawa kecil, lalu meletakkan ponsel. Ia melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kampus, melewati jalanan basah yang mulai sepi. Di kaca spion, ia melihat gedung-gedung kampus menjauh, tapi bayangan laki-laki itu—dengan kemeja basah dan tatapan kosongnya—tetap tinggal di pikirannya.
Malam itu, di rumah mewahnya yang sunyi, Kay makan malam sendirian di meja panjang. Bi Inem—pembantu setia yang sudah bekerja sejak kecil—menghidangkan sup ayam hangat dan nasi goreng. Tapi Kay tidak benar-benar menikmati makanannya. Pikirannya terus melayang pada pria itu.
"Apa yang membuat seseorang bisa secuek itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Bi Inem yang kebetulan lewat mengernyit. "Nak Kay bilang apa?"
Kay tersentak. "Eh, enggak, Bi. Cuma mikir."
Bi Inem tersenyum lembut. "Mikir apa? Soal kuliah?"
"Bukan. Soal... orang."
"Orang?"
Kay mengangguk, lalu menunduk. "Bi, kalau ada orang yang sama sekali nggak peduli sama kita, padahal kita... ya, kita biasa dapat perhatian, itu artinya apa?"
Bi Inem tertawa kecil. "Nak Kay, mungkin orang itu lagi punya masalah sendiri. Atau mungkin dia bukan tipe yang suka pamer perhatian."
"Tapi dia kayak... nggak lihat aku sama sekali, Bi."
"Atau mungkin dia terlalu sibuk lihat hal lain?"
"Hal lain?"
Bi Inem mengangguk, matanya berbinar bijak. "Dulu, Bapakmu juga begitu pas pertama kali lihat ibu mu. Bukan cuek, tapi terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Tapi lama-lama, dia lihat."
Kay tersenyum pahit. "Lihat? Lihat lalu pergi."
Bi Inem menghela napas, tahu ia menyentuh luka lama. "Maaf, Nak. Bibi nggak bermaksud..."
"Nggak apa-apa, Bi." Kay menegakkan punggung. "Udah malem, Bi Inem istirahat aja. Aku beresin sendiri."
Setelah Bi Inem pergi, Kay duduk termenung. Ponselnya bergetar, notifikasi dari Instagram.
Tasya Namira—mahasiswi Komputer yang aktif di berbagai kegiatan—mengunggah story foto di perpustakaan, dengan caption "Belajar bareng teman spesial 😊". Di foto itu, terlihat ujung meja dan sesosok laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru.
Kay membesarkan foto itu. Ya, itu dia. Laki-laki yang sama. Di foto itu, Bima sedang membaca buku, sama sekali tidak melihat ke arah kamera. Tasya memotret dari samping, dan Bima seperti patung yang tidak terganggu.
Kay merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—sesak, panas, tidak nyaman. Apa ini cemburu? Tidak mungkin. Ia baru bertemu laki-laki itu sekali. Tapi kenapa melihatnya bersama Tasya membuatnya ingin...
Ingin apa?
Kay menutup ponsel, memejamkan mata. Udara malam yang dingin masuk melalui jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.
"Cowok hujan," bisiknya pelan. "Kita lihat aja, seberapa cueknya lo."
Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, Kay tidak merasa kesepian. Pikirannya dipenuhi rencana-rencana kecil, cara-cara untuk mendekati laki-laki aneh itu, tanpa terlihat seperti sedang mendekat.
Dan di sebuah kos-kosan sederhana di daerah Sekip, Bima Wijaya duduk di meja belajar sempitnya. Kemeja kotak-kotak biru yang basah tadi sore kini tergantung di belakang pintu, masih mengering. Ia menatap laptop usangnya, layar menampilkan baris-baris kode program yang harus ia selesaikan untuk tugas besok.
Tapi matanya tidak benar-benar fokus. Pikirannya melayang pada sorot mata gadis di selasar tadi—mata besar yang penuh tanya, suara yang sedikit panik saat berseru, dan senyum kecil yang muncul di ujung bibirnya saat ia menjawab singkat.
"Cewek aneh," gumamnya pelan, lalu menggeleng. Ia kembali mengetik, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi bayangan itu keras kepala, terus muncul di sela-sela baris kode.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Bima merasa terganggu. Dan ia tidak suka merasa terganggu.