Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitek Paling Bulat
Pagi di Brisbane memang selalu punya cara untuk terasa lebih bersemangat, namun bagi Takara, matahari hari ini terasa sedikit terlalu terang, atau mungkin jantungnya saja yang sedang berpacu lebih cepat. Bunyi notifikasi email di ponselnya yang biasanya diabaikan, kali ini menjadi alarm alami yang membuatnya melompat dari tempat tidur.
Panggilan wawancara itu datang lebih cepat dari perkiraannya.
"Aduh, aduh! Jam sepuluh?! Gue harus siap-siap!" serunya panik, mengabaikan rambutnya yang masih berantakan.
Ia membongkar isi lemarinya dengan terburu-buru, hingga tumpukan baju berserakan di atas kasur. Takara mencari satu setelan khusus yang selama ini ia simpan rapi di dalam dry clean bag. Sebuah blazer berwarna abu-abu muda dengan potongan minimalis namun terlihat sangat profesional.
Setelah berpakaian dan mematut diri di cermin, ia melangkah keluar kamar dengan sedikit gugup.
"Ma... gimana? Bagus gak?" tanya Takara sembari memutar tubuhnya di depan Yumi yang sedang menyiapkan sarapan.
Yumi meletakkan sudipnya, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata yang berbinar bangga. "Cantik sekali, Ra. Terlihat sangat berwibawa tapi tetap muda. Eh, sebentar... itu bukannya setelan yang dikirim Jake saat kamu ulang tahun di Amsterdam tahun lalu ya?" tanya Yumi dengan nada menggoda.
Takara tersentak kecil, pipinya mendadak merona tipis. "Haha... Mama hafal aja deh. Iya, Ma. Ini pemberian Jake. Katanya ini lucky suit buat mulai karier nanti. Ternyata beneran kepakai sekarang," jawab Takara sambil merapikan kerah blazer-nya yang terasa pas di tubuh.
"Kelihatan mahal dan berkelas. Jake memang tahu apa yang cocok buat kamu," puji Yumi lagi.
Takara segera meraih ponselnya, mencari pencahayaan yang bagus di dekat jendela ruang tamu yang disinari matahari pagi Brisbane. Ia mengambil foto diri (mirror selfie) yang menampilkan senyum gugup namun antusiasnya.
📲 Takara: [Image sent]
📲 Takara: Wish me luck! Setelan 'keberuntungan' dari lo akhirnya keluar dari lemari. Gue ada panggilan wawancara di firma besar pagi ini.
Takara menatap fotonya sejenak. Ia merasa seolah Jake hadir di sana, mendekap bahunya lewat setelan jas ini. Ia tidak tahu apakah ia akan mendapatkan pekerjaan itu atau tidak, tapi dengan memakai pemberian Jake, ia merasa punya kekuatan tambahan untuk menghadapi para pewawancara nanti.
"Aku berangkat ya, Ma!" seru Takara sembari menyambar tas kerjanya dan mencium pipi ibunya kilat.
———
Ruangan HRD itu tidak seperti yang Takara bayangkan. Alih-alih kaku dan penuh tumpukan kertas, ruangan itu terasa sangat hidup dengan poster-poster estetik dan sebuah speaker berkualitas tinggi yang sedang memutar lagu Bite Me.
Wanita di depannya, Mrs. Sarah, tampak sangat modis dengan kacamata berbingkai besar. Ia tersenyum lebar melihat reaksi Takara yang sempat terpaku menatap poster raksasa Jake yang sedang melakukan point dance.
"Silakan duduk, Miss Takara," kata Mrs. Sarah santai, tangannya memberikan isyarat ke arah kursi empuk di depan mejanya. "Sambil nikmati lagu Enhypen, Miss Takara pasti tahu kan?"
"Tentu, Ma'am. Siapa yang tidak tahu grup seterkenal ini?" jawab Takara seprofesional mungkin. Dalam hati, ia berteriak, "Tahu banget, Ma'am! Bahkan saya tahu dia kalau tidur suka ngigo dan kalau makan donat gula manisnya berantakan ke mana-mana!"
Mrs. Sarah menyandarkan punggungnya, tampak senang menemukan subjek pembicaraan yang santai sebelum masuk ke urusan teknis. "Siapa member yang paling kamu sukai?" tanyanya dengan binar mata penuh selidik khas sesama penggemar.
Takara terdiam sejenak. Jika ia menjawab Jake, ia takut ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong. Ia takut matanya akan memancarkan kerinduan yang terlalu dalam dan membuat Mrs. Sarah curiga. Maka, ia memutuskan untuk mencari jalur aman.
"Hm... aku... Ni-ki sih," jawab Takara iseng, mencoba memasang wajah poker face.
"Oh, Ni-ki! Main dancer kita yang luar biasa itu ya? Selera yang bagus," puji Mrs. Sarah sambil mengangguk-angguk puas. "Kalau saya sih, tetep Jake. Lihat deh foto yang itu," ia menunjuk poster Jake yang sedang memakai jas serupa dengan yang dipakai Takara. "Dia punya aura gentleman yang beda banget. Kayak pangeran dari Brisbane yang akhirnya pulang ke rumah."
Takara meremas tasnya di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa sangat ironis; ia memakai baju pemberian sang "pangeran", duduk di depan penggemar beratnya, dan baru saja mengkhianati namanya sendiri demi kerahasiaan.
"Iya, dia memang terlihat hebat di sana," sahut Takara singkat, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oke, cukup soal idolanya. Sekarang, mari kita bicara soal portofolio kamu di Amsterdam yang luar biasa ini," Mrs. Sarah mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius, namun tetap ramah. "Saya lihat kamu punya ketertarikan pada ruang komunal yang fungsional. Itu sangat cocok dengan proyek besar yang sedang firma kami garap sekarang."
Wawancara pun berlanjut ke tahap teknis. Takara berhasil menjawab semua pertanyaan dengan brilian, namun pikirannya sesekali teralih pada poster Jake yang seolah-olah sedang mengawasinya dari dinding. Ia merasa bersalah karena menyebut nama Ni-ki, tapi ia tahu ini satu-satunya cara agar Mrs. Sarah tidak mencari tahu lebih dalam tentang latar belakangnya di Brisbane.
Selesai wawancara, Takara melangkah keluar kantor dengan perasaan campur aduk. Ia segera merogoh ponselnya begitu sampai di parkiran.
📲 Takara: Jake, lo nggak akan percaya. HRD tempat gue wawancara itu fans berat lo! Ruanganny penuh foto lo!
📲 Jake: HAHAHA SERIUS?! Terus lo bilang apa pas dia nanya siapa member favorit? Pasti lo bilang gue kan? 😎
📲 Takara: Gue bilang Ni-ki. 😜
📲 Jake: APA?! Ra! Tega banget lo! Gue yang beliin bajunya, Ni-ki yang dapet kreditnya?! Gue ngambek 24 jam ya mulai sekarang!
Takara tertawa lepas di dalam mobilnya. Meskipun hatinya sempat perih karena harus bersembunyi, interaksi konyol ini selalu berhasil mengembalikan suasana hatinya.
———
Takara tertegun di depan etalase kaca yang menampilkan deretan donat gula yang masih mengepulkan uap panas. Ia sudah merogoh dompetnya, siap mengeluarkan beberapa lembar dollar, namun Auntie May justru melambaikan tangan dengan senyum penuh rahasia yang membuat kerutan di wajah tuanya semakin manis.
"Simpan uangmu, Sayang," ucap Auntie May lembut sembari memasukkan empat donat ekstra ke dalam kantong kertas Takara.
"Lho, kenapa, Auntie? Mesin kartunya rusak?" tanya Takara bingung.
Auntie May tertawa kecil, suara tawanya serenyah kerupuk. "Tidak rusak. Hanya saja, kemarin ada seorang pemuda menelepon dari Seoul. Dia bicara dengan aksen Aussie yang sangat kental, suaranya sopan sekali. Dia bilang dia ingin membeli 'langganan seumur hidup' untukmu, tapi akhirnya kami sepakat untuk voucer bebas belanja selama setahun penuh. Dia sudah membayar semuanya lewat transfer internasional."
Jantung Takara seolah berhenti berdetak sejenak. Seoul. Aksen Australia. Sopan. Tidak salah lagi.
"Dia bilang apa lagi, Auntie?" suara Takara nyaris berbisik.
"Dia bilang, 'Tolong pastikan gadis arsitek ini tidak kelaparan saat sedang mencari kerja'. Dia juga berpesan agar aku selalu memberikan donat yang paling baru matang untukmu,"
Auntie May mengedipkan sebelah matanya. "Dia pacarmu, ya? Hebat sekali, jauh-jauh di Korea tapi masih memikirkan perutmu di sini."
Takara hanya bisa tersenyum kaku, wajahnya terasa panas. "Bukan, Auntie... dia cuma sahabat lama."
"Ah, sahabat yang membayar donat selama setahun biasanya punya arti lain, Ra," goda Auntie May sebelum melayani pelanggan lain.
Takara berjalan menuju mobilnya dengan perasaan yang meluap-luap. Rasa bersalah karena telah menyebut nama Ni-ki saat wawancara tadi kini berganti dengan rasa haru yang menyesakkan. Jake memang sedang "ngambek" di pesan singkat, tapi tindakannya justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Ia segera mengambil foto sekantong donat itu dan mengirimkannya kepada sang "donatur".
📲 Takara: Voucer setahun, Jake? Serius?! Lo mau bikin gue jadi arsitek paling bulat di Brisbane ya?
📲 Takara: Thank you, honestly. That was so sweet of you. Maaf ya soal tadi... lo tetep favorit nomor satu gue kok, meski di depan HRD lo harus jadi nomor dua.
Tak butuh waktu lama, balasan masuk.
📲 Jake: Nah, gitu dong! Kan enak dengernya. 😎
📲 Jake: Anggap aja itu asupan energi buat lo. Gue nggak mau lo telat makan cuma gara-gara pusing mikirin desain gedung. Kalau lo seneng, gue juga seneng.
📲 Jake: Tapi inget ya, voucer itu cuma berlaku kalau lo makannya sambil mikirin gue! Haha.
Takara menyandarkan kepalanya di setir mobil, menghirup aroma kayu manis yang menyerbak di dalam kabin. Di tengah kesibukan dunia yang mencoba memisahkan mereka, Jake selalu punya cara untuk "hadir" di sudut-sudut kecil hidup Takara.
Begitulah persahabatan mereka selalu terjalin sejak dulu. Menjadi dua orang berbeda di kota Brisbane, membuat mereka bersatu untuk menyesuaikan diri.