Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: ORBIT YANG BERTABRAKAN
Napas Bintang memburu, bukan karena lari, tapi karena hantaman realita yang baru saja meremukkan dadanya. Lorong SMA Cakrawala Terpadu siang itu terasa seperti labirin yang menyempit. Suara riuh siswa yang baru keluar dari kelas, tawa-tawa di koridor, hingga bunyi bel pergantian jam, semuanya terdengar tumpul di telinganya. Fokusnya hanya satu: kertas kusut di genggaman tangan kanannya.
Lembaran itu bukan sekadar kertas. Itu adalah peta harta karun yang selama ini ia cari namun salah ia terjemahkan. Tulisan tangan itu—tegak bersambung yang rapi, dengan huruf 'g' dan 'y' yang melengkung elegan—adalah tulisan yang sama yang selalu menemani malam-malam sepinya. Tulisan yang ia hafal di luar kepala.
Dan pemilik tulisan itu baru saja lari ketakutan darinya.
"Bintang! Sayang, hei!"
Suara itu melengking, memecah konsentrasi Bintang. Vanya muncul dari arah kantin, wajahnya berseri-seri, tangannya siap merangkul lengan Bintang seperti biasa. Namun, kali ini, bagi Bintang, Vanya terlihat seperti polusi cahaya—terlalu terang, terlalu menyilaukan, dan menghalangi pandangannya dari bintang yang asli.
Tanpa sadar, Bintang menepis tangan Vanya yang hendak menyentuhnya. Gerakan itu refleks, kasar, dan penuh penolakan.
Senyum Vanya luntur seketika. "Bin? Kamu kenapa?"
"Minggir, Van," ucap Bintang dingin, matanya liar memindai kerumunan siswa di tangga utama. Ia tidak punya waktu untuk sandiwara ini lagi. Ia tidak punya energi untuk meladeni kepalsuan yang selama ini ia biarkan terjadi.
"Lho? Kok gitu? Aku cariin kamu dari tadi, katanya di perpus, terus—"
"Aku bilang minggir!" Bintang membentak, suaranya cukup keras hingga membuat beberapa siswa di sekitar mereka menoleh kaget. Vanya terpaku, matanya membelalak tak percaya. Seumur-umur pacaran—atau setidaknya dalam status yang Vanya klaim sebagai pacaran—Bintang tidak pernah meninggikan suara padanya.
Tanpa menunggu reaksi Vanya, Bintang kembali berlari. Kakinya membawanya menuju tangga sayap utara. Instingnya bekerja lebih cepat daripada logikanya. Jika Keyla ingin bersembunyi, dia tidak akan pergi ke kantin. Dia tidak akan pergi ke kelas. Gadis itu... Cassiopeia-nya... selalu mencari tempat di mana langit terlihat paling jelas.
***
Keyla merasa jantungnya seperti akan meledak. Ia berlari menaiki anak tangga dua demi dua, mengabaikan nyeri di betisnya. Air mata sudah mengaburkan pandangannya sejak ia keluar dari perpustakaan tadi. Ia bodoh. Sangat bodoh.
Kenapa ia harus menulis di sana? Kenapa ia harus ceroboh menjatuhkan kertas itu? Dan kenapa harus Bintang yang menemukannya?
"Key! Heh, Keyla! Lapo kon mlayu-mlayu ngono? (Kenapa kamu lari-lari begitu?)"
Suara Dinda terdengar dari lantai dua, tapi Keyla tidak berhenti. Ia bahkan tidak menoleh. Jika ia berhenti sekarang, ia akan hancur. Dinda tidak akan mengerti. Tidak ada yang mengerti ketakutan macam apa yang sedang mencekik lehernya saat ini.
Ketakutan itu bukan karena ia malu menyukai Bintang. Bukan. Ketakutan itu berasal dari kenyataan bahwa benteng pertahanan yang ia bangun selama dua tahun—dinding tebal yang memisahkan 'Keyla si Upik Abu' dan 'Cassiopeia sang Dewi'—kini telah runtuh.
Ia sampai di lantai teratas. Napasnya tersengal parah. Di depannya, pintu besi menuju rooftop tertutup rapat. Biasanya pintu ini dikunci, tapi Keyla tahu penjaga sekolah sering lupa menguncinya di jam istirahat kedua karena sering dipakai anak-anak klub fotografi.
Langit Surabaya di luar jendela koridor terlihat kelabu pekat. Awan kumulonimbus menggantung rendah, tebal dan mengancam, seolah mencerminkan kekacauan di dalam hati Keyla. Gemuruh guruh terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Dengan tangan gemetar, Keyla memutar gagang pintu. Terbuka. Angin kencang langsung menyambutnya, menerbangkan rambutnya yang berantakan. Ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya, dan bersandar pada dinding beton yang kasar. Tubuhnya merosot hingga ia terduduk di lantai semen yang dingin.
Di sini, setidaknya ia sendirian.
Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia membayangkan wajah Bintang saat membaca kertas itu. Ekspresi apa yang akan muncul? Jijik? Kecewa? Marah karena merasa ditipu?
"Aku cuma mau menghilang..." rintih Keyla di sela tangisnya. "Tolong, biarkan aku jadi debu kosmik saja."
***
Bintang menaiki tangga terakhir dengan paru-paru yang terasa terbakar. Ia mendengar suara pintu besi berdebum dari lantai atas beberapa saat lalu. Firasatnya benar. Rooftop.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu besi yang dingin, ia berhenti sejenak. Ragu menyergapnya. Apa yang harus ia katakan?
Selama ini ia jatuh cinta pada kata-kata. Pada jiwa yang tertuang dalam tinta biru di atas kertas binder. Ia jatuh cinta pada cara gadis itu melihat dunia—bukan sebagai tempat yang membosankan, tapi sebagai hamparan semesta yang penuh misteri. Dan sekarang, ia tahu bahwa jiwa itu milik Keyla Aluna. Gadis pendiam yang duduk di baris ketiga kelas XI IPA 2. Gadis yang selalu menunduk saat berpapasan dengannya.
Bintang merasa seperti astronom yang baru saja menemukan planet baru yang layak huni setelah bertahun-tahun tersesat di ruang hampa.
Ia menarik napas panjang, lalu mendorong pintu itu terbuka.
Angin kencang menyapanya. Langit sudah berubah menjadi abu-abu tua, siap menumpahkan hujan deras kapan saja. Di sudut terjauh, dekat tandon air, ia melihat sosok itu. Keyla duduk meringkuk, bahunya berguncang hebat.
Bintang melangkah perlahan. Suara langkah kakinya tersamarkan oleh deru angin dan gemuruh guntur yang makin dekat.
"Keyla."
Satu kata itu terucap lirih, tapi efeknya instan. Sosok yang meringkuk itu menegang. Keyla mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya basah oleh air mata, matanya merah dan bengkak. Ada ketakutan murni di sana yang membuat hati Bintang nyeri.
Keyla segera berdiri, panik, berusaha mencari jalan keluar lain, tapi Bintang berdiri tepat di jalur menuju satu-satunya pintu.
"Ja—jangan mendekat," suara Keyla serak, nyaris tak terdengar terbawa angin.
Bintang tidak mendengarkan. Ia maju selangkah lagi, mengangkat kertas kusut itu setinggi dada. "Ini tulisanmu, kan?"
Keyla menggeleng kuat-kuat, mundur hingga punggungnya menabrak pagar pembatas rooftop. "Bukan! Itu bukan punyaku! Aku nemu di perpus!"
"Jangan bohong lagi, Key," nada Bintang melembut, kontras dengan situasi yang tegang. "'Debu nebula'. 'Jarak ribuan tahun cahaya'. Vanya nggak pernah ngomong kayak gitu. Vanya nggak tahu bedanya bintang dan planet. Tapi kamu... kamu tahu."
"Berhenti!" Keyla menutup telinganya. "Aku bilang berhenti!"
"Kenapa?" Bintang terus mendesak, kini jarak mereka hanya tinggal dua meter. "Kenapa kamu sembunyi? Kenapa kamu biarin Vanya ngambil tempat kamu? Kamu tahu betapa bingungnya aku? Aku jatuh cinta sama isi surat itu, Key, dan aku dipaksa percaya kalau itu Vanya. Tapi hatiku nggak bisa bohong. Setiap kali aku sama dia, rasanya kosong. Hampa."
"Karena aku bukan Vanya!" Keyla berteriak, suaranya pecah di tengah gemuruh petir yang menggelegar. Hujan mulai turun, tetes-tetes besar yang dingin menghantam beton rooftop.
"Aku cuma Keyla!" lanjutnya, air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. "Aku nggak cantik, aku nggak populer, aku nggak bisa basket, aku nggak pantes buat kamu, Bintang! Kalau orang tahu Cassiopeia itu aku, mereka bakal ketawa. Kamu bakal malu!"
Bintang tertegun. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada fisik mana pun. Jadi itu alasannya? Rasa tidak percaya diri yang begitu dalam?
"Siapa yang bilang kamu nggak pantes?" Bintang maju lagi, mengabaikan hujan yang mulai deras membasahi seragamnya. "Aku? Apa aku pernah bilang aku cari pacar yang populer?"
"Kamu Bintang Rigel!" Keyla menunjuk dada Bintang dengan jari gemetar. "Kamu bersinar. Semua orang liat kamu. Sementara aku? Aku cuma... aku cuma background yang nggak penting. Kalau kamu sama Vanya, kalian kayak Raja dan Ratu. Kalau sama aku? Orang bakal nanya, 'siapa cewek aneh itu?'"
Bintang meraih pergelangan tangan Keyla sebelum gadis itu sempat menepisnya. Cengkeramannya lembut tapi tegas, menahan Keyla agar tidak lari lagi, tidak menjauh lagi dari orbitnya.
"Dengerin aku," Bintang menatap lurus ke manik mata Keyla yang cokelat gelap, mengabaikan air hujan yang menetes dari rambutnya ke wajahnya. "Aku nggak butuh Ratu. Aku nggak butuh sorakan orang satu sekolah. Yang aku butuh cuma seseorang yang ngerti kalau aku capek jadi 'sempurna'. Seseorang yang bisa diajak ngomongin rasi bintang jam dua pagi. Seseorang yang nulis surat ini."
Ia mengangkat tangan Keyla yang ia genggam, menempelkannya ke dadanya yang berdegup kencang di balik seragam basah. "Jantung ini... dia nggak pernah deg-degan kayak gini waktu sama Vanya. Nggak pernah sekali pun."
Keyla terisak, pertahanannya hancur lebur. Hangat tubuh Bintang menembus dinginnya hujan, membuat lututnya lemas. Ia ingin percaya. Ya Tuhan, ia sangat ingin percaya.
"Tapi Vanya..." bisik Keyla lemah.
Bintang menggeleng. "Aku nggak peduli sama Vanya. Aku pedulinya sama kamu. Cassiopeia-ku."
Suasana hening sejenak, hanya ada suara hujan yang menderu deras, membungkus mereka dalam kepompong privasi yang rapuh. Keyla menatap Bintang, mencari kebohongan di mata itu, tapi ia hanya menemukan ketulusan yang telanjang.
Namun, momen magis itu hancur berkeping-keping oleh suara bantingan pintu besi yang terbuka paksa.
BRAK!
Keyla dan Bintang tersentak, menoleh ke arah pintu.
Di sana, berdiri Vanya Clarissa. Seragam cheerleadernya basah kuyup, rambut indahnya lepek, dan maskaranya luntur mengotori pipi. Tapi yang paling mengerikan adalah tatapan matanya. Tatapan penuh kebencian yang membara, kontras dengan dinginnya hujan.
Ia melihat tangan Bintang yang masih menggenggam erat tangan Keyla. Ia melihat kedekatan mereka. Ia melihat kertas surat di tangan Bintang yang lain.
Dan Vanya tertawa. Tawa pendek yang terdengar sumbang dan menyakitkan.
"Oh..." Vanya melangkah maju, hak sepatunya beradu keras dengan lantai beton. Ia tidak menatap Bintang, melainkan menatap Keyla seperti seekor predator menatap mangsa yang sudah terpojok.
"Jadi ini tikus kecilnya?" desis Vanya, suaranya tajam mengatasi suara hujan. "Gadis bisu dari kelas sebelah? Serius, Bin? Selera lo turun se-drastis ini?"
Keyla reflek berusaha menarik tangannya dari Bintang, ketakutan lamanya terhadap Vanya kembali muncul. Tapi Bintang menahannya. Bintang justru menarik Keyla sedikit ke belakang punggungnya, melindunginya.
"Jaga mulut lo, Vanya," geram Bintang rendah. "Sandiwara lo udah selesai."
"Selesai?" Vanya tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya yang layarnya menyala. "Belum, Sayang. Pertunjukan utamanya baru aja mau dimulai."
Kilatan petir menyambar di langit, menerangi wajah Vanya yang menyeringai licik, membuat Keyla merasakan firasat buruk yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar penolakan.