Cinta, sebuah anugerah yang tak selalu mudah didapatkan. Apalagi ketika harus memilih di antara dua hati yang begitu dekat, dua jiwa yang begitu mirip. Kisah mengharukan tentang cinta, pengorbanan, dan pencarian jati diri di tengah pusaran emosi yang membingungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HniHndyni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
Kemudian Migo mengantar Anya pulang. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam, hanya suara deru hujan dan mesin motor yang menemani mereka. Anya merasa sedikit lebih tenang setelah bercerita pada Migo. Kehadiran Migo, meski hanya diam, memberikannya kekuatan dan rasa aman.
Sesampainya di rumah Anya, Migo memarkir motornya. Ia hendak membantu Anya turun, namun Anya sudah lebih dulu turun dan berjalan menuju rumahnya. Migo hanya bisa melihat Anya dari belakang, merasakan simpati yang mendalam pada Anya.
Saat Anya hendak membuka pintu rumahnya, ia melihat Kanaya, kakak kembarnya, sedang berdiri di teras rumah. Kanaya tampak terkejut melihat Anya bersama Migo. Ia memperhatikan Anya yang terlihat basah kuyup dan Migo yang memegang payung. Ekspresi wajah Kanaya berubah menjadi campuran antara terkejut, sedikit cemburu, dan mungkin sedikit salah paham.
"Anya…?" Kanaya memanggil Anya dengan nada sedikit tinggi, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Kau… kau bersama Migo?"
Anya yang masih merasa lelah dan sedih hanya bisa menatap Kanaya dengan tatapan kosong. Ia tidak memiliki energi untuk menjelaskan apa pun kepada Kanaya saat ini.
Migo, yang menyadari situasi tersebut, segera menjelaskan. "Kanaya, aku hanya mengantar Anya pulang. Ia… ia sedang sedih karena masalah dengan Damar," kata Migo, suaranya lembut namun tegas. Ia berusaha untuk menjelaskan situasi tanpa membuat Anya semakin terbebani.
Namun, penjelasan Migo tampaknya tidak cukup untuk meredakan kecurigaan Kanaya. Kanaya masih menatap Anya dan Migo dengan tatapan yang penuh curiga. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Anya dan Migo. Kedekatan mereka berdua di tengah hujan deras itu menimbulkan rasa cemburu dan salah paham di hati Kanaya. Ia merasa Anya telah mengkhianatinya dengan menjalin hubungan terlarang dengan Migo di belakangnya.
"Anya," kata Kanaya, suaranya terdengar semakin bergetar. "Jelaskan padaku!"
Anya, yang sudah tidak sanggup lagi menahan beban emosinya, menangis tersedu-sedu. Ia merasa sangat lelah dan terbebani dengan semua masalah yang sedang ia hadapi. Ia tidak ingin bertengkar dengan Kanaya saat ini. Ia hanya ingin beristirahat dan melupakan semua kesedihannya.
Migo mencoba untuk menenangkan Kanaya dan Anya. Ia berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan sabar dan tenang. Namun, situasi tersebut semakin rumit dan tegang. Kehadiran Migo yang berusaha membantu malah memicu kesalahpahaman yang lebih besar antara Anya dan Kanaya. Malam itu, rumah Anya dipenuhi oleh kesedihan, kemarahan, dan kesalahpahaman. Hujan di luar masih terus turun, menemani suasana hati mereka yang sedang kacau.Migo merasa ia harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini.
Migo berusaha menenangkan Kanaya dan Anya. "Kanaya, dengarkan aku," katanya, suaranya lembut namun tegas. "Anya sedang sangat sedih karena Damar. Aku hanya mengantarnya pulang karena hujan sangat deras dan dia terlihat sangat terpukul. Tidak ada yang terjadi di antara kami."
Anya, di tengah isak tangisnya, mengangguk lemah membenarkan ucapan Migo. Ia terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya. Kehadiran Kanaya malah menambah beban di hatinya.
Kanaya masih ragu. Melihat Anya yang basah kuyup dan Migo yang tampak begitu perhatian, kecurigaan di hatinya masih membuncah. "Tapi… kalian berdua di bawah satu payung," kata Kanaya, suaranya masih bergetar.
Migo menghela napas panjang. "Hujan sangat deras, Kanaya. Aku tidak mungkin membiarkan Anya berjalan sendiri dalam kondisi seperti itu. Aku hanya ingin membantunya," jelasnya dengan sabar.
Anya, di antara isak tangisnya, menambahkan, "Aku hanya butuh teman bicara, Migo… hanya itu."
Kanaya terdiam sejenak, mencoba mencerna penjelasan mereka. Ia melihat kesedihan yang terpancar jelas dari wajah Anya. Meskipun masih ragu, ia mulai sedikit meredakan kecurigaannya. Ia tahu Anya sangat mencintai Damar, dan kejadian ini pasti sangat menyakitkan baginya.
"Maaf," kata Kanaya, suaranya terdengar lebih lembut. "Aku… aku terlalu cepat mengambil kesimpulan."
Anya memeluk Kanaya erat-erat. "Aku juga lelah, Ka," isaknya. "Aku hanya butuh pelukan."
Kanaya membalas pelukan Anya. Ia merasa bersalah karena telah salah paham. Ia mengerti betapa sakitnya hati Anya saat ini. Kehadiran Migo, meski sempat memicu kesalahpahaman, akhirnya membantu Anya untuk mendapatkan dukungan dan rasa aman.
Migo, melihat Anya dan Kanaya saling berpelukan, merasa lega. Ia diam-diam meninggalkan mereka berdua, memberi mereka ruang dan waktu untuk saling memahami. Ia tahu, peran terbesarnya sudah selesai. Ia hanya berharap Anya bisa melewati masa sulit ini dengan baik. Hujan di luar mulai reda, dan langit mulai menunjukkan secercah cahaya. Sebuah harapan baru mulai muncul di tengah kesedihan yang telah mereka lalui. Mungkin, dari kesalahpahaman ini, akan tercipta pemahaman yang lebih kuat antara Anya dan Kanaya.Dan mungkin juga,akan tercipta sesuatu yang baru antara Anya dan Migo. Waktu akan menjawab semuanya.